CIMG3768

On My Way to Phnom Penh (Hi Cambodia, part 1)

Setibanya di dermaga, seusai melakukan tur Halong Bay, saya diantar oleh minibus tur kembali ke penginapan. Setibanya di penginapan, saya langsung berkemas dan cek out karena malam ini saya akan terbang ke Ho Chi Minh City (HCMC) kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja keesokan harinya.

Saya memilih menggunakan moda angkutan shuttle bus airport yang tersedia di kawasan Hoan Kiem district, tepatnya di seberang kantor Vietnam Airlines (Dekat Katedral San Joseph). Setelah membeli tiket di konter, saya bersama beberapa penumpang lainnya menunggu kedatangan shuttle bus.  Dan tidak sampai setengah jam, shuttle bus berupa minivan datang menurunkan para penumpang yang berasal dari airport dan menaikkan kami.

Untungnya pesawat saya delay hingga jam delapan malam dari jadwal yang semestinya (pukul enam), kalau tidak, bisa-bisa saya harus menikmati perjalanan dua hari dua malam dengan kereta api–kembali–ke HCMC. Sore itu, lalu lintas dari Old Quarter menuju bandara Noibai nampak super macet. Kata pak supir, kami harus menggunakan jalan alternatif karena jalan yang biasa dilewati tidak bergerak sama sekali. Well, saya sih tenang-tenang saja, karena saya masih punya waktu setidaknya sekitar tiga jam sebelum check in time berakhir.

Setelah meliuk-liuk di jalanan kurang dari satu jam, tibalah kami di bandara Noibai. Semua penumpang turun dan bergegas menuju terminal kedatangan. Tidak sulit menemukan konter maskapai yang akan menerbangkan saya nanti malam. Petugas cek in mengingatkan kembali bahwa pesawat saya akan berangkat on time jam delapan malam, which is berarti tidak akan ada lagi keterlambatan (semoga saja).

noibai_83981

Foto diunduh dari http://virginmojito.wordpress.com/2013/02/05/hanoi-on-a-shoestring/

Saya pun berjalan menuju ruang tunggu untuk beristirahat sejenak sambil menunggu jadwal take off. Ruang tunggu gate keberangkatan ke HCMC sudah ramai. Saya menaruh ransel saya dan langsung bersandar lemas. Meskipun acara tur Halong Bay kemarin terbilang sangat santai, namun tetap saja rasanya badan saya  terasa remuk. Mungkin hal ini diakibatkan oleh akumulasi lelah yang bertumpuk dari hari-hari sebelumnya.

Tak lama kemudian, panggilan boarding pun bergaung di seisi ruang tunggu. Saya bersama penumpang lain langsung mengantri untuk masuk ke pesawat. Antrian walaupun tampak begitu panjang, namun tetap teratur dalam satu baris. Saya mendadak teringat antrian yang biasa terjadi di negara saya sendiri, yang seharusnya hanya terdiri dari satu sampai dua baris, mendadak muncul barisan diagonal lainnya yang berusaha menyerobot line up utama. Cape deh…

Singkat cerita, saya sudah berada di dalam pesawat terbang, pesawat membawa saya ke HCMC dengan durasi waktu sekitar dua jam, saya turun dari pesawat, dengan taksi saya menuju Pham Ngu Lao (distrik 1) untuk menginap semalam, hari berganti dan siang pun menjelang sehingga saya sudah berada di depan pool bus yang akan membawa saya ke Phnom Penh, Kamboja. Pukul tiga sore, bus menderu pelan dan membawa saya pergi meninggalkan distrik satu. Di dalam bus, kondektur meminta paspor-paspor penumpang untuk pengisian kartu embarkasi. Selain saya dan beberapa pemegang  paspor ASEAN citizen, penumpang lain diwajibkan untuk membayar USD 20 untuk VOA alias Visa On Arrival.

Bus berhenti di perbatasan antara Vietnam dan Kamboja. Kami semua diminta untuk turun dan mengikuti kondektur yang memegangi paspor kami. Seolah digiring, kami bersama-sama mengekori kondektur masuk ke kantor imigrasi. Kantornya lumayan mungil dan sore itu tidak terlalu banyak antrian, sepertinya cuma dari rombongan bus kami saja. Begitu memperoleh stamp keluar dari Vietnam, saya bersama yang lainnya satu-persatu keluar dari kantor imigrasi Vietnam dan naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke kantor imigrasi Kamboja yang terpisah oleh sebuah jembatan. Sama seperti yang dilakukan di kantor imigrasi Vietnam, Saya dan yang lainnya mengantri tidak terlalu lama. Saya pun tidak menghadapi kendala apapun untuk memperoleh cap masuk negara Kamboja.

Semua penumpang sudah lengkap duduk di bangkunya masing-masing ketika urusan keimigrasian terselesaikan, bus pun melaju. Satu hal menarik yang saya temui, banyak sekali kasino-kasino mewah dan megah yang dibangun di sepanjang jalan saat meninggalkan perbatasan. Tidak sedikit mobil mewah yang keluar-masuk pekarangan kasino tersebut dan tidak sedikit orang-orang berpakaian rapi yang lalu-lalang di sana.

Hari semakin gelap dan waktu sudah menunjukkan pukul enam petang. Menurut kondektur, kami akan tiba di Phnom Penh kurang lebih pukul delapan malam. Oleh karena itu, kami berhenti kembali di sebuah rumah makan tidak jauh dari perbatasan. Layaknya rumah makan Padang di jalur lintas provinsi, rumah makan ini juga ramai dengan pembeli. Bus-bus dan minivan terparkir di luar dan rombongan penumpang berbondong-bondong masuk ke dalam untuk bersantap malam.

Di rumah makan ini, kita bisa memesan cup noodle, atau masakan prasmanan yang siap saji. Saya yang agak kebingungan karena beberapa karyawan disini tidak begitu fasih berbahasa Inggris, saya hanya mampu menunjuk beberapa menu masakan yang tersaji tanpa saya ketahui itu menu apa dan daging apa (untungnya saya predator dan tidak ada pantangan makan apapun :D).

Acara makan malam singkat berakhir dan saya beserta yang lainnya kembali ke bus. Kami melanjutkan perjalanan menuju Phnom Penh. Sebentar, kami berhenti di tepian sebuah sungai. Awalnya saya kira kami akan berhenti disana, mengambil barang-barang kami dan naik kapal untuk menyebrangi sungai tersebut. Ternyata ajaib, tiba-tiba jembatan dimana bus kami berada sekarang perlahan bergerak dan menyebrangi sungai tersebut. Beberapa orang turun keluar dari bus, entah untuk mencari angin segar, ataupun sekedar melihat, ataupun bahkan buang air kecil -__-” Saya sendiri hanya duduk malas di dalam bis sambil menyaksikan betapa majunya teknologi yang dimiliki negara ini. Andai saja Indonesia memiliki ide yang sama untuk membangun jembatan semacam ini sebagai alternatif penyebrangan antar pulau yang jaraknya berdekatan.

36180905

Foto diunduh dari http://www.panoramio.com/photo_explorer#user=4469659&with_photo_id=36180905&order=date_desc

Jembatan bergerak pun tiba di sisi lain  sungai. Dengan demikian, seluruh penumpang kembali menaiki bus. Bus terus melaju tanpa henti hingga ke tujuan akhirnya, kota Phnom Penh, ibukota Kamboja, Saya langsung menyerahkan alamat penginapan yang saya tuju ke kondektur seraya meminta bus untuk menurunkan saya di lokasi yang terdekat dengan alamat tersebut. Kondektur memberitahukan saya bahwa kami sudah berada di jalan raya (disebut Boulevard) yang dimaksud oleh alamat di kertas yang saya pegang. Ia menjelaskan bahwa ia akan menurunkan saya di sekitar jalan (disebut street/ St.) yang saya tuju.

phnom-penh-bkk1-map

Beginilah kira-kira penampakan peta kota Phnom Penh. Untuk jalan raya utama digunakan kata Boulevard, sedangkan untuk jalan-jalan arteri diberikan nama sesuai urutan angka. Peta diunduh dari http://new.canbypublications.com/phnom-penh/maps/bkk1.php

Benar saja, bus kemudian berhenti di pinggir jalan. Kondektur memberitahukan, di sepanjang jalan inilah terdapat 280th st. dan seterusnya. Saya hanya perlu menyusuri Boulevard ini sambil memperhatikan petunjuk jalan, dimana kah 302nd St. Begitu turun, serasa anak ilang, saya berjalan mengikuti petunjuk kondektur. Seperti belajar berhitung, saya coba hafal urutan jalan yang ada di Boulevard tersebut, mulai dari 280th sampai akhirnya saya temukan 302nd St. Tidak hanya sampai disitu, saya masih harus berjalan kaki menembus kegelapan 302nd St. sendirian sambil menebak-nebak apakah mungkin ada penginapan di jalan segelap ini.

Puji Tuhan, di ujung jalan, saya melihat sekelebat keramaian dan cahaya benderang. Disanalah saya menemukan kembali kehidupan, mini market, termasuk penginapan saya. Saya menghembuskan nafas lega, finally…

CIMG3894

About these ads

10 thoughts on “On My Way to Phnom Penh (Hi Cambodia, part 1)”

  1. Di beberapa blog tetangga banyak cerita kejadian gak enak saat di perbatasan Kamboja. Walaupun harusnya bebas Visa eh masih ada aja yang kena palak, bahkan USD 25. Wheeww. Ditunggu bagian ke-2 ya Hen :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s