7 Wonders of Nature, East Lesser Sunda, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Comment 1

Komodo, My First Seven Wonders of Nature (1)

Evening View from hill top

Duduk tenang menyesap secangkir teh jahe hangat, saya melemaskan ketegangan otot-otot saya setelah kurang lebih satu setengah jam terbang dari Bali ke Labuan Bajo menggunakan maskapai singa udara. Sesekali saya bercengkrama dengan salah satu pekerja di restoran tempat saya menginap seraya menikmati langit Labuan Bajo sore hari. Kala itu mendung dan baru saja hujan deras sesampainya saya disana. Katanya sih hujannya awet dari pagi tadi.

Sejenak saya mulai kawatir, mengingat saat itu adalah awal Januari, dan bulan Januari adalah bulan yang lumayan basah untuk daerah sekitar Bali dan Nusa Tenggara. Pekerja di guesthouse itu bercerita bahwa terkadang ombak bisa naik hingga empat (4) meter kalo lagi apes, dan otomatis kapal-kapal nggak akan ada yang berani berlayar. Ada sih, kapal-kapal besar berkabin yang tetap jalan meski keadaan laut agak nggak bersahabat—berhubung badan kapalnya besar, jadi para penyewa kapal cukup pede dengan ketangguhan kapalnya tersebut. Tetapi berhubung saat itu saya adalah solo traveler, nggak mungkin saya nyewa kapal berkabin yang konon harga sewanya bisa sampai 8 juta itu.

Whatever deh, minimal udah sampai disini. Kalo memang nggak bisa nyebrang ke pulau Komodo yang jaraknya masih sekitar 5 jam perjalanan dari Labuan Bajo itu, berarti memang saya belom berjodoh untuk bisa melihat reptile tertua di dunia itu secara live. Tujuan saya kali ini berkunjung ke Labuan Bajo (akhirnya, destinasi terjauh saya di Indonesia setelah berkali-kali hanya mentok liburan di Bali) memang secara khusus ingin menginjakkan kaki di salah satu dari 7 besar sementara dari 7 Wonders of Nature (Komodo National Park akhirnya secara resmi menjadi salah satu dari  Keajaiban Alam Dunia pada tanggal 16 Mei 2012). Walaupun saat itu hasil perhitungan masih bersifat sementara, namun saya optimis hasilnya tidak akan mengecewakan.

Hari kian malam dan saya mohon pamit untuk ke kamar, istirahat dan bersih-bersih. Suasana di tempat saya menginap cukup sunyi dan tenang, hanya terdengar suara-suara serangga malam yang berderik-derik memecah keheningan. Saya keluar sejenak ke teras untuk merokok, hingga akhirnya setelah melihat ada beberapa tamu berjalan keluar dari pekarangan guesthouse, saya pun berinisiatif mengikuti mereka tak lama kemudian.

Ketika saya bermaksud keluar dari guesthouse, seorang penjaga guesthouse (mungkin satpamnya sana) menanyakan saya mau kemana.

A: Mau kemana, Pak?

Saya: Saya mau ke kotanya, jauh nggak ya, Pak?

A: Oh, tidak terlalu, 5 menit dengan ojek. bayar saja 10 ribu.

Saya: Daerah sini ada ojek, Pak? (saya memandang berkeliling sambil ragu, masa iya di sekitar hutan kaki bukit begini ada ojek?)

A: Teman saya bisa antarkan, bayar saja ke dia sejumlah yang saya beritahu tadi.

Saya pun mengangguk setuju dan bapak itu meninggalkan saya sejenak untuk memanggil

salah satu temannya.

Nggak lama kemudian bapak itu datang lagi, kali ini berdua. Bapak itu menunjuk-nunjuk saya dari jauh sambil berbicara dalam bahasa lokal mereka. Mungkin bapak itu sedang menjelaskan bahwa saya sedang butuh bantuan temannya. Dan benar, teman bapak itu langsung mengambil motor yang diparkir di dekat pos penjaga dan mendekati saya. Saya tersenyum dan menjelaskan kalau saya mau lihat-lihat pusat keramaiannya disini. Orang itu pun mempersilakan saya naik ke motornya dan kami meninggalkan bapak penjaga yang tadi.

Benar saja, perjalanan ke pusat keramaian daerah itu memang tidak terlalu lama. Ojek motor tadi menanyakan saya mau didrop dimana.  Akhirnya saya berhenti di sebuah minimarket dan membayar sesuai dengan jumlah yang diberitahukan bapak penjaga tadi. Saya membeli beberapa botol air mineral dan snack, dan setelah itu berjalan-jalan sebentar di sekitar.

Cukup unik buat saya. Entah mungkin karena saat itu sedang bulan Januari, atau karena bukan long weekend, saya tidak menjumpai satupun turis lokal berkeliaran disana. Di sepanjang jalan, baik itu rumah makan, kafe, bar, maupun tempat-tempat penyewaan alat diving dan snorkeling, saya hanya menemukan ras ras kaukasoid, alias bule bertebaran. Saya akhirnya merasakan apa yang traveler-traveler lain katakan, “merasa asing di negeri sendiri”. Walaupun hal ini juga saya rasakan di Bali, namun kali ini nuansanya agak berbeda, karena disini, nggak cuma turis aja yang bule, tapi hampir seluruh usaha hotel, kafe, resto, penyewaan alat selam, dan agen perjalanan dipegang oleh bule.


Saya pun berhenti di sebuah kafe dan resto, namanya Made in Italia. Well, nggak tau kerasukan apa, saya masuk ke dalam dan memesan makan malam. Sama seperti suasana di luar, di dalam pun, sama seperti kafe resto masakan non lokal lainnya, dipadati dengan turis-turis bule yang sedang asik bercengkrama ataupun menikmati wine dan bir setelah dinner. Sedang saya? Hehe sepiring pasta dan secangkir Cammomile tea (masih agak susah nelen wine sambil makan pasta).

Selesai makan, saya pulang (bayar dulu tentunya). Saya coba susuri perjalanan pulang dengan berjalan kaki, mengingat selain rutenya tadi hanya lurus dan jarak yang dekat, saya nggak bisa membedakan yang mana ojek yang mana orang-orang lokal sedang iseng nongkrong.  Awalnya lumayan menyenangkan, karena saya melewati  keramaian warung-warung tenda pinggir pantai khas Lamongan dan Jawa sekitarnya (salut, ayam goreng dan pecel lele bisa hijrah sampe sejauh ini). Tapi lama kelamaan, keramaian mulai menyusut dan tersisa kegelapan plus bentangan pepohonan dan jalan raya yang mendaki.

Saya mendadak ingat, tadi kalo nggak salah saya belok keluar dari salah satu mulut gang. Dan saya lupa, itu mulut gang yang mana dan dimana. Dengan berbekal senter handphone, saya terus berjalan mendaki di jalan raya yang benar-benar gelap karena tidak ada penerangan apapun.  Mobil dan motor pun hanya lewat sesekali.

Ok, I started to freak out saat itu.

Berusaha menghibur diri yang was-was dan horror membayangkan hal-hal yang tidak-tidak di sepanjang jalan, saya terus menusuri kegelapan yang makin lama makin membuat saya berpikir, tadi nggak sejauh ini deh?? Saya khawatir saya nyasar.

Dan saya memang nyasar…

Sebuah mobil melewati saya dan berhenti memanggil-manggil saya. Saya pun mendekati mobil tersebut dengan putus asa. What could be even worse deh, mau orang jahat atau bukan, saya hanya berpikir, saya butuh tumpangan pulang ke hotel.

Miracle!!

Ternyata mobil itu adalah mobil pemilik guesthouse saya. Sopirnya menanyakan apakah saya hendak menuju guesthouse tersebut? Saya langsung bernafas lega dan cepat-cepat menerima tawaran sang sopir untuk menuju guesthouse bersama-sama.

Mobil itu berjalan melawan arah perjalanan saya, yang artinya, mulut gang yang saya cari memang kelewatan. Sopir menjelaskan bahwa memang kejadian ini sering terjadi, banyak turis yang bingung jalan pulang ke guesthose pada malam hari karena minimnya penerangan. Saya nggak bisa membayangkan, apa jadinya kalau nggak bertemu dengan mobil itu.

Nggak sampai 5 menit menembus kegelapan super pekat (maklum, jalanan mendaki ke guesthouse saya memang nggak ada penerangan sama sekali), saya sampai di guesthose dengan selamat. Setelah mengucapkan terimakasih pada pak sopir, saya segera masuk ke kamar dan merebahkan badan saya.  Isi kepala saya masih berkutat soal perjalanan barusan hingga akhirnya saya terlelap sendiri.

_______________________________________________________________________________________________

Review Penginapan:

Golo Hill Top is a guesthouse ran by two Dutch ladies who could fluently speaks Indonesia. Trust me, you will love the place as I do. Not only this place gives us breath taking scenery (you can see some pics above), but also its hospitality will make you comfy as if you are in your own home (they will help you with anything you need during the stay)

There are several types of room based on its facilities and its view (If you want better view from the room which is located at the higher spot, You shall book for the deluxe room ).  The room is always clean and neat because the house keeper always get the room tidied up every morning.  They also provide pick up service from and to airport.

CP: 62-385-41337/62-81339255535 (cell)

Web: http://golohilltop.com/

1 Comment

  1. Pingback: Sailing Komodo, a Simple Footprints (Pulang ke Flores, part 7) « Saya Minggat Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s