7 Wonders of Nature, East Lesser Sunda, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Leave a Comment

Komodo, My First Seven Wonders of Nature (2)

Kalo lagi traveling ke alam terbuka, matahari adalah salah satu hal yang paling mempengaruhi mood. Misalkan matahari bersinar begitu cerah, nggak perduli teriknya kayak apa, pasti orang-orang rela berjam-jam terbakar langsung . Tapi kalo tiba-tiba muncul awan-awan gelap, apalagi diikuti oleh hujan, rasanya pengen makan orang karena nggak bisa kemana-mana, seharian tiduran aja di hotel.  Pokoknya kalo nggak ada matahari, liburan serasa super berantakan.

Ini yang menjadi ketakutan saya. Saya berlibur kesini bulan Januari, bulan-bulannya musim penghujan. Beberapa hari kemarin, selama masih di Bali, hampir beberapa jam sekali, gerimis menemani hari-hari saya, sehingga saya harus beberapa kali mampir ke beberapa tempat untuk berteduh (dan terpaksa memesan entah itu makanan atau minuman). Begitu pula dengan kedatangan saya hari pertama di bandara Komodo, Labuan Bajo disambut dengan hujan deras. Hujan saat itu membuat langit senja Labuan Bajo yang konon kayanya sangat indah itu menjadi muram karena mendung.

Dan hari ini, keajaiban terjadi, mendadak matahari buka cabang dimana-mana. Hari kedua di Labuan Bajo sangat-sangat cerah. Sedari pagi sampai sore, matahari nggak berhenti tersenyum kepada  belahan barat Flores ini. Senyum saya dan beberapa turis yang menginap disini pun ikut mekar sumringah. Beberapa turis, termasuk saya tidak melewatkan kesempatan berharga di musim penghujan tersebut.

Selesai sarapan di resto, beberapa dari kami langsung bermigrasi ke kolam renang. Beberapa ada yang langsung menggelar handuk dan sun-bathing di kursi. Sedangkan saya, selesai mengatur perabotan di kursi dan meja saya (handuk, buah-buahan sisa breakfast tadi, plus sepoci teh hangat), saya langsung menyemprot sunblock spray saya ke badan dan berbaring seperti yang lainnya.

Hari ini agenda saya nggak kemana-mana. Saya hanya ingin memanjakan diri di guesthouse dan beristirahat menikmati hari, karena saya tahu besok saya akan butuh kondisi tubuh yang ekstra fit untuk melakukan trekking di pulau Komodo. Ya, terkadang, kita perlu suatu waktu tertentu dimana kita hanya memanjakan diri kita di penginapan, nggak melakukan apa-apa, full rest. Kedengarannya sih agak sayang, membuang waktu sia-sia. Namun kalo direnungin lebih lanjut, bukankah the sweetest quality time adalah ketika kita hanya seorang diri, mengisolasikan diri dan nggak diganggu oleh aktifitas apa-apa?

Berhubung hari kedua nggak terlalu banyak aktifitas, ada baiknya kita langsung lompat ke hari ketiga, hari dimana perjalanan yang sebenarnya baru dimulai. Hari ketiga ini, sama seperti hari kedua, matahari tampak sangat bersahabat dan nggak malu-malu bersinar. Tentu saja cuaca yang seperti ini yang menjadi dambaan setiap traveler yang hendak menjalankan ritual trekkingnya.

Saya dijemput oleh tour guide saya yang bernama Kamel, orang asli Flores, dari daerah Ruteng (tempat yang terkenal dengan spider web rice field nya itu). Kami langsung menuju pelabuhan sekitar jam 1 siang, menyewa peralatan snorkeling untuk dua hari dan mencari boat yang telah disewakan oleh travel agent untuk saya.

Yakk… The adventure is officially begun…

Satu nilai plus yang bisa saya dapatkan dengan melakukan wisata ke Flores pada musim penghujan yakni saya dilimpahi dengan  gugusan-gugusan pulau yang hijau subur—bukan gersang seperti pada umumnya. Saya sering mendengar cerita dari teman saya yang kebetulan orang Flores, katanya jangan kaget melihat kondisi Flores yang kering gersang. Nah sekarang saya tambah kaget ketika disuguhkan pemandangan yang berbeda dari yang saya ketahui sebelumnya. Hati saya sangat terhibur karena sebelumnya saya merasa datang di waktu yang salah.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 5 jam kalau cuacanya bagus. Awalnya saya pede cuaca akan terus cemerlang seperti saya berangkat. Tapi 2 jam kemudian, awan-awan hitam mendadak kumpul arisan di depan sana. Hujan rintik-rintik turun, gelombang laut pun perlahan meninggi dan kapal yang kami tumpangi ikut bergolak kanan kiri.

Lagi-lagi parno saya muncul. Imajinasi tingkat dewa saya memaksa saya untuk berhalusinasi ada ombak setinggi 10 meter siap menghajar kapal saya layaknya film the storm. To be honest, saya nggak bisa berenang, dan kayaknya pelampung pun nggak akan membantu kalo sampe mendadak kapal kebalik. Kami semua diajak masuk ke dalam ruang kemudi yang cuma muat 3 orang sampai akhirnya perlahan-lahan gelombang-gelombang tinggi itu mereda dengan sendirinya dan hujan berhenti.

Perjalanan pun berlanjut mulus dan nahkoda kapal kami memberitahukan bahwa sekitar satu jam lagi kami akan sampai di pulau Kalong untuk menginap semalam. Well, setidaknya saya sudah diberitahukan bahwa hari pertama tur ini saya akan tidur di atas kapal, jadi saya nggak terlalu berharap di atas hamparan pulau bernama kalong itu akan berdiri sebuah cottage kecil untuk saya istirahat.

Dan benar, sesampainya saya disana, saya nggak melihat keberadaan cottage di atas pulau Kalong. Bahkan pulaunya sendiripun lebih menyerupai daratan kecil yang ditumbuhi oleh mangrove-mangrove rambat yang isinya katanya bisa sekitar ribuan kalong-kalong berbeda ukuran.  Kapal pun membuang jangkarnya di dekat pulau, mesin dimatikan, dan perjalanan hari pertama berakhir senja itu (sekitar pukul 6 malam).

Tak  lama dari itu, terdengar decit-decitan kalong dari rerimbunan mangrove di pulau Kalong. Decitan itu semakin berisik dan diiringi dengan satu persatu hingga akhirnya ratusan kalong berterbangan keluar dari pulau. Saya hanya bisa berdecak kagum melihat kerumunan kalong di atas langit yang menyebar.  Niat hati ingin mengabadikan fenomena alam tersebut, namun apadaya kamera digital saya yang nggak seberapa ini hanya bisa menangkap gambar gelap langit.

Kami –saya, Kamel dan nahkoda kapal–mengobrol sejenak sambil menunggu koki kapal memasak makan malam untuk kami semua. Saya lupa bilang kalo di perjalanan ini, kapal kami hanya dihuni oleh 4 orang, saya, Kamel si guide, pak nahkoda dan koki. Kapalnya kapal motor yang tidak terlalu besar, namun ada sebuah dek di belakang ruang kemudi untuk saya dan Kamel tidur (sempat saya berpikir kami akan tidur di atas meja makan).

Sembari mengobrol, entah darimana, tiba-tiba kapal kami sudah dikelilingi oleh beberapa penjual souvenir yang menggunakan sampan-sampan kecil. Mereka menjual berbagai macam oleh-oleh, mulai dari ukiran patung komodo beragam ukuran, hingga mutiara-mutiara yang teruntai menjadi gelang maupun kalung. Sebenarnya saya agak malas menanggapi mereka, namun menurut info Kamel, harga oleh-oleh yang dijual di atas sampan jauh lebih murah ketimbang kita membeli langsung di pulau Komodo.

Saya pun mencoba menanyakan harganya. Awalnya sebuah patung komodo berukuran 15cm dijual seharga 100 ribu rupiah. Dengan sedikit sadis, akhirnya tawar-menawar yang serba pelik itu berakhir dengan kesepakatan beli dua patung harganya 50 ribu rupiah. Belum beberapa menit patung itu saya masukan k etas, datang lagi penjual yang lain menawarkan oleh-oleh jualannya. Kali ini ia menjual patung ukiran komodo yang sama tapi dengan ukuran yang lebih kecil (sekitar 10 cm). Pikir saya, kalau yang besar bisa 25 ribu perpatung, harusnya yang kecil bisa lebih murah. Dengan pede saya tawar 50 ribu empat buah, dan sedikit saya acuhkan setiap kali penjualnya minta harganya dinaikan sedikit. Hasil akhirnya, tentu saja saya yang menang. 4 patung yang lebih kecil saya kantongi dengan harga 60 ribu rupiah (tega ya? Hehe)

Ajang forum jual beli pun berakhir saat koki keluar dari dapur dengan membawa beberapa piring masakannya. Saya belum pernah melihat model masakan seperti itu dan saya lupa menanyakan apa saja nama masakannya. Tetapi saya rasa itu adalah masakan khas flores dan rasanya memang sangat lezat untuk perut kami yang 5 jam terombang ambing di atas laut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s