My Indonesia, South Sumatra, Sumatra
Comments 2

Cap Go Meh ala ala Pulau Kemaro, Palembang

Pada jaman dahulu kala, datanglah seorang putra raja negeri Cina yang bernama Tan Bun Ann ke Sumatera Selatan untuk mencoba peruntungan dagang. Tak lama tinggal disana, ia berjumpa dengan Siti Fatimah, putri raja setempat dan jatuh hati. Tan Bun Ann pun memberanikan diri menghadap ayah Siti Fatimah, raja Sriwijaya, untuk meminang putrinya tersebut. Raja Sriwijaya menyetujui permintaan Tan Bun Ann, dengan syarat Tan Bun Ann harus membawa 9 guci berisi emas ke hadapan sang raja.

Tan Bun Ann menyanggupi permintaan raja dan bergegas mengirimkan kabar kepada ayahnya di seberang lautan sana. Mendengar berita tersebut, raja Cina segera memenuhi permintaan anaknya dan mengirimkan guci-guci berisi emas tersebut. Namun tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, ayahnya menyembunyikan batangan-batangan emasnya di bawah tumpukan sawi agar terhindar dari bahaya bajak laut.

Begitu kapal kiriman dari Cina sampai di pelabuhan, Tan Bun Ann bersama Siti Fatimah langsung memeriksa guci-guci yang Tan Bun Ann butuhkan untuk melamar pujaan hatinya itu. Ia terkejut dan marah besar mengetahui isi guci-guci tersebut hanyalah tumpukan sawi-sawi yang telah membusuk. Dengan kesal ia membuang semua guci itu ke sungai tanpa menyadari bahwa di bawah tumpukan sawi yang membusuk tadi terdapat batangan-batangan emas. Pada saat guci terakhir hendak dibuang, ia tersandung dan terjatuh. Guci yang ia bawa sontak pecah dan batang-batang emas berhamburan di lantai. Menyadari bahwa ada yang disembunyikan dibalik sawi-sawi busuk di dalam guci, Tan Bun Ann memutuskan untuk menceburkan diri ke sungai bersama pengawal setianya untuk mengambil kembali guci-guci yang ia buang barusan.

Tak lama Tan Bun Ann melompat, Siti Fatimah pun ikut melompat ke sungai karena kekasihnya tak juga muncul ke permukaan. Sebelum melompat, Siti Fatimah menitip pesan kepada orang yang berada di atas kapal. Ia mengingatkan bahwa jika nanti ada gundukan tanah muncul di tepian sungai, berarti itu adalah kuburannya. Dan beberapa hari setelah peristiwa tersebut, muncullah gundukan-gundukan tanah di tepian sungai Musi yang lama kelamaan menumpuk menjadi sebuah pulau. Pulau itulah yang kemudian kelak dinamakan pulau Kemaro, atau dalam bahasa Indonesianya disebut pulau Kemarau. Dinamakan pulau Kemarau karena daratan ini tidak pernah tenggelam ataupun digenangi air walaupun permukaan air sedang naik.

Demikianlah kurang lebih legenda yang dipercaya sebagai kisah munculnya pulau Kemarau. Tapi terlepas dari benar atau tidaknya, pulau ini tak henti-hentinya menyedot ribuan pengunjung tiap tahunnya. Kebanyakan pengunjung kemari tidak hanya bertujuan untuk rekreasi semata, tetapi juga mencari peruntungan baik untuk kehidupannya. Dapat lihat, mayoritas orang-orang yang datang kemari langsung menuju kuil dan bersembahyang.

Untuk menuju ke pulau Kemaro, kita bisa menggunakan jasa kapal tongkang gratis menyebrangi sungai Musi maupun melalui Pusri yang sudah dibangun jembatan untuk jalur daratnya. Malam pertama pembukaan festival Cap Go Meh, saya dan keluarga saya berinisiatif untuk menggunakan jalur air. Kata kakak saya, suasana Cap Go Mehnya akan lebih berasa apabila kita ikutan antri menanti kapal kemudian mengarungi sungai Musi dengan kapal tongkang ketimbang lewat jalur darat. Hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan nostalgia masa lalu.

Benar sekali, sebelum dibangunnya jembatan untuk mempermudah, para pengunjung pulau Kemaro sejak dulu selalu berbondong-bondong menuju pusat perhentian tongkang, entah itu di daerah Sayangan ataupun yang lainnya. Mereka akan bersabar menunggu keberangkatan kapal tongkang sembari sesekali bertegur sapa dengan orang-orang yang dikenalnya. Untuk jasa penyebrangan dengan kapal tongkangnya sendiri, penumpang tidak dipungut biaya sama sekali karena biasanya terdapat donatur-donatur yang bermurah hati menyumbang penyewaan kapal tongkang demi terlaksananya festival Cap Go Me di pulau Kemaro.

Kira-kira beginilah suasana di dalam pulau Kemaro setibanya kami disana:

Seusai berkeliling, kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah terlampau larut dan esok hari kami masih memiliki sejumlah agenda perjalanan di Palembang. Kami pun kembali ke dermaga bersama puluhan orang yang juga akan pulang. Perjalanan kali ini cukup menyenangkan karena saya merasakan nostalgia ketika masih kecil berkunjung kemari pertama kalinya bersama dengan keluarga saya. Suasananya pun tidak ada yang berubah, masih ada pertunjukan wayang orang, masih ada deretan-deretan kios penjual makanan khas Palembang, masih ada kepulan-kepulan asap dupa yang memerihkan mata, dan masih ada keramaian yang tampak tidak habis-habisnya walaupun malam menjelang.

Tradisi Cap Go Meh di pulau Kemaro ini, menurut saya tidak akan pernah lekang tergerus waktu. Konsistensi pemerintah, bersama dengan beberapa orang berpengaruh di Palembang sangat patut diacungi jempol. Dengan semangat loyalitas untuk mempertahankan budaya yang ada, orang-orang ini berusaha memfasilitasi suksesnya perayaan yang selalu dinanti setiap tahunnya tidak hanya oleh warga Palembang, tapi juga oleh pengunjung-pengunjung dari daerah lain. Semangat membangun dan melestarikan yang seperti inilah yang sebenarnya harus dipupuk terus oleh setiap pemerintah setempat guna mengembangkan sektor pariwisatanya.

This entry was posted in: My Indonesia, South Sumatra, Sumatra

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s