7 Wonders of Nature, East Lesser Sunda, Komodo Dragon, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Comments 11

Komodo, My First Seven Wonders of Nature (end)

Hari ketiga, entah pukul berapa itu, yang pasti masih sangat subuh, saya mendengar motor mesin sudah menyala dan perlahan kapal kembali bergerak. Saya masih bermalas-malasan di dalam dek karena semalam nggak terlalu nyenyak tidur (berhubung baru pertama kali tidur di kapal semalaman, walaupun beralaskan matras berseprei lengkap dengan bantal dan guling, tapi rasanya belum terlalu terbiasa). Roh saya baru berkumpul lengkap dan siap terbangun utuh ketika kapal mulai bergerak pelan, dan dari kejauhan terlihat sebuah dermaga.

Kamel ikutan terbangun ketika saya bangun. Ia tersenyum dan mengatakan pada saya bahwa kami sudah sampai di dermaga pulau Komodo.  Saya agak bingung, pagi-pagi buta begini trekking? Bukannya sepi yah? Memangnya Komodonya udah pada bangun?

Kami pun bergantian cuci muka dan gosok gigi untuk siap-siap sarapan. Sarapan pagi ini lumayan sederhana tapi cukup mengisi perut, segelas teh manis/ kopi dan beberapa tumpuk roti isi (saya nggak tahu itu isi apa, markisa mungkin ya? Baru pertama kali makan soalnya). Selain kami, sudah ada sekitar 3 kapal lain yang merapat  di dermaga. beberapa turis (lagi-lagi) bule–sama seperti kami–juga sedang menikmati sarapan paginya. Salah satu dari mereka tersenyum dan bertegur sapa dengan kami.

Usai sarapan, saya bersiap-siap untuk memulai Komodo trekking. Berbekal sunblock, sebotol air dan pocket cam, saya bersama Kamel turun dari kapal dan berjalan menuju entrance. Perlu diketahui bahwa dari gugusan pulau-pulau disekitar sini, hanya terdapat 2 pulau  yang dihuni oleh hewan purba bernama latin Varanus Komodoensis ini. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah pulau utama, yakni pulau Komodo, atau masyarakat setempat menyebutnya Loh Liang, dan pulau berikutnya bernama pulau Rinca atauLoh Buaya.

Nama pulau Komodo mulai bergaung keras sejak terpilih menjadi nominasi “Seven Wonders of Nature”. Ribuan bahkan mungkin jutaan vote yang mengalir masuk serta promosi besar-besaran yang dilancarkan baik dalam negeri hingga ke dunia internasional membuat nama pulau Komodo kini kian terkenal. Hingga akhirnya 16 Mei kemarin, secara resmi akhirnya diumumkan bahwa Taman Nasional Komodo menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Alam Dunia.

Sebelum menikmati beberapa hasil jepretan amatir kamera saku saya, saya akan sedikit membagikan sebuah legenda yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Konon, pada jaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang dikenal dengan nama putri Naga Komodo. Ia menikah dengan seorang pria bernama Majo dan dikaruniai sepasang bayi kembar, yakni bayi laki-laki yang diberi nama Gerong dan bayi komodo yang diberi nama Ora. Gerong dibesarkan sebagaimana layaknya hidup di lingkungan manusia, sedangkan Ora dibiarkan hidup di dalam hutan.

Pada suatu kali, ketika beranjak dewasa, Gerong tidak sengaja bertemu dengan seekor kadal raksasa yang mencoba merebut hasil buruan Gerong di hutan. Saat Gerong berusaha membunuh kadal tersebut, tiba-tiba muncul putri Naga Komodo. Beliau mencoba memisahkan Gerong dan kadal tersebut. Ungkapnya pada Gerong, kadal raksasa itu adalah saudari perempuan Gerong yang bernama Ora dan putri Naga berharap agar Gerong memperlakukan kadal itu selayaknya saudara karena mereka berdua

memang terlahir sebagai saudara kembar. Sejak saat itu masyarakat setempat tidak berani mengusik keberadaan Komodo dan membiarkan komodo hidup tenang di alam bebas.

So, readers, welcome to Komodo National Park…

Saat membayar tiket di office, saya ditawari untuk memilih antara short, medium atau long track. Saya memilih medium track agar tidak terlalu melelahkan tapi juga tidak terlalu cepat. Selain membeli tiket, saya juga diharuskan membayar jasa ranger (yang akan menemani kami selama trekking) dan tiket penggunaan kamera. Setelah membayar segala sesuatunya, saya, Kamel dan sang ranger menuju sebuah papan petunjuk yang menyerupai peta trekking. Sang ranger menjelaskan rute kami sebentar dan lalu mengambil sebuah tongkat yang ujungnya bercabang dua. Menurutnya tongkat ini digunakan untuk men

Menurut ranger yang menemani kami selama trekking, komodo dewasa bisa mencapai panjang tubuh sekitar 3 meter. Penciumannya pun sangat tajam dan mampu mengendus bau hingga 10 km. Jadi jangan heran apabila terdapat kaum hawa yang sedang datang bulan, ia tidak dianjurkan untuk turut ambil bagian dalam trekking karena berpotensi memancing agresifitas para komodo yang berkilo-kilometer jauhnya.

Sepanjang perjalanan memasuki kawasan hutan di pulau tersebut, kami  menjumpai beberapa ekor komodo. Biasanya pada jam jam pagi begini mereka sedang asik berjemur (ternyata komodo tanned freak juga ya, hehe). Menurut ceritam, hewan ini sangat rentan terhadap perubahan suhu di sekitarnya. Oleh karena itu, untuk menjaga kestabilan suhunya, terkadang kita bisa menjumpainya sedang asik berjemur di tengah lapangan terbuka, lengkap dengan sebotol sunblock, kacamata hitam, dan segelas Pinacollada (Ok, tiga hal terakhir itu bohong)

Sebagai pengunjung pertama dan paling depan, saya mendapat kesempatan untuk berfoto beberapa kali dengan komodo. Dengan sedikit waswas—takut kalo-kalo mood si komodo berubah jelek), saya mengambil tempat di belakangnya dan berfoto bersama. Setelah muncul beberapa turis di belakang kami, kami melanjutkan perjalanan dengan mendaki perbukitan untuk melihat pemandangan yang luar biasa indah—and again, photo session.

Puas berkeliling di dalam hutan, akhirnya kami mengakhiri tur kami di pulau Komodo. Saya berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada si Ranger untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya, pulau Rinca.  Perjalanan ke pulau Rinca berlanjut kurang lebih sekitar 2 jam. Beberapa kali saya jumpai hewan-hewan laut berenang di dekat kapal kami, baik itu penyu, ikan terbang, dan sekali saya melihat dua ekur lumba-lumba melompat ke permukaan (andai saja saya punya DSLR..) . Sembari menanti tiba, saya disuguhkan segelas jus buah dan makan siang yang lezat oleh koki kami. Kami makan dengan lahapnya, mengembalikan energi yang sempat terkuras pada saat trekking tadi.

Sesampainya di pulau Rinca, kapal merapat ke dermaga dan kami bergegas masuk. Disini kami tidak perlu membayar entrance fee dan penggunaan kamera lagi karena semuanya sudah menjadi satu paket yang dibayarkan pada saat di pulau Komodo. Perjalanan dari pintu masuk dermaga sampai pada pintu masuk utama melewati lapangan gersang terbuka. Disini mungkin saya baru melihat pemandangan asli Flores, tanah-tanah retak, rumput-rumput coklat dan udara yang cukup kering.

Sepanjang jalan, saya menemukan beberapa potongan kayu yang ditancapkan di sebuah pekarangan. Awalnya saya pikir pekarangan itu adalah sebuah pemakaman. Namun setelah saya lihat lagi lebih dekat, ternyata pekarangan itu merupakan tempat dimana program penanaman bibit pohon oleh tamu-tamu dilakukan. Terlihat beberapa nama tercantum  ditiap potongan-potongan kayu yang saya kira papan nisan itu. Mereka adalah orang-orang yang ambil bagian dalam penanaman pohon.

Sampai di pintu masuk utama, saya menjumpai beberapa bangunan rumah yang dijadikan kantor dan hunian bagi para petugas maupun ranger setempat. Seorang ranger yang seusia saya datang menghampiri  saya dan Kamel.  Sama seperti di pulau Komodo, kami mengambil medium track di pulau Rinca. Ranger tersebut pun berjalan mendahului kami untuk menunjukkan jalan.

Pertama-tama, kami dibawa ke sebuah bangunan menyerupai rumah panggung dimana di bawah kolongnya berkumpul sekitar 10 Komodo yang sedang bermalas-malasan. Menurut ranger, dapur adalah tempat nongkrong favorit para komodo. Mereka bisa berjam-jam berbaring disana menantikan sayur-sayur sisa yang dilemparkan ke bawah. Hal ini mengingatkan saya akan cerita ranger sebelumnya bahwa komodo bisa tahan berminggu-minggu menunggui korban gigitannya yang perlahan-lahan mati (setelah digigit, simangsa akan dibiarkan kabur sampai akhirnya mati karena keracunan liur komodo yang mengandung jutaan bakteri berbahaya. Apabila sudah mati, barulah si komodo dengan penciumannya mencari bangkai mangsanya dan melahapnya).

Benar saja, ketika saya sedang asing mengambil gambar dan berfoto bersama para komodo, tiba-tiba saja mereka berdiri dan berlari ke satu spot dimana baru saja seseorang membuang makanan. kontan saya kaget dan panik begitu mereka stand by position dan buru-buru berlari (Wajar saya takut, seekor komodo bisa berlari 20 km/jam dan kita nggak pernah tau kapan mereka akan iseng mengajak kita kejar-kejaran. Saya diberitahukan oleh si ranger, apabila seekor komodo tiba-tiba menegakkan kepalanya, tandanya dia sedang dalan standby position siap untuk beraksi)

Sebelum kami menyusuri hutan, ranger memberitahukan bahwa sedari pagi ia membawa tamu, ia tidak menemukan satupun komodo berkeliaran di dalam hutan. Jadi ia menawarkan apakah kami tetap ingin melanjutkan  trekking  atau berkeliling sekitar pemukiman saja. Pikir saya, sudah terlanjur sampai sini, nggak ada salahnya kami melakukan trekking. Toh nggak setaun sekali juga kami mampir kemari. Siapa tahu, keadaannya berubah ketika kami masuk ke hutan nanti.

Apa yang dikatakan oleh si ranger ternyata benar. Hampir 45 menit kami berkeliling hutan, kami hanya bertemu dengan anak komodo yang masih kecil (lebih menyerupai biawak ketimbang komodo). Tapi ya lumayan lah, daripada nggak ketemu apa-apa. Alhasil kami harus puas dengan berkali-kali mengambil foto di sekitar dapur.

Setelah Rinca, kami melanjutkan perjalanan kami ke tujuan terakhir, Pink Beach, atau pantai Merah. Dinamakan pantai Merah karena pasir di pantai ini memang tampak kemerahan akibat bercampur dengan serpihan-serpihan terumbu karang merah yang terhempas ke pantai. Disini saya berpuas-puas snorkeling. Airnya sangat jernih sehingga terumbu karang dan ikan-ikan warna-warni nampak jelas dari permukaan air. Saya agak menyesal karena tidak bisa mengambil gambar disini karena kapal kami harus membuang sauh agak jauh dari pantai (mungkin karena takut akan merusak terumbu karang yang ada di dasar). Kamera saku saya yang tidak waterproof megurungkan niat saya untuk membawanya serta ke tepian pantai.

Disinilah pertama kalinya saya menyadari diri saya bisa berenang. Berbekal pengetahuan bahwa kandungan garam di laut akan selalu menekan tubuh kita untuk selalu terangkat ke permukaan, saya nekad menceburkan diri ke laut tanpa pelampung. Saya cukup beruntung karena ternyata teori yang saya tidak salah. Air laut terus saja membuat tubuh saya mengambang dan hal ini cukup membuat saya bangga karena ada beberapa turis lain yang berenang menggunakan pelampung, hehe.

Dengan berakhirnya bermain air di pantai Merah, berakhir pula tur Komodo island saya. Ini pertama kalinya saya berjalan-jalan sangat jauh dari rumah sendirian. Perjalanan ini nggak akan pernah terlupakan oleh saya, baik tempat-tempat wisatanya, teman-teman baru yang senantiasa berada di sekitar saya, dan pengalaman-pengalaman seru dan lumayan mendebarkan bagi saya.

Tidak lupa saya mengungkapkan rasa bangga saya melalui blog ini, bisa menjadi bangsa Indonesia dan memiliki salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia.  Pulau Komodo memang layak dipilih menjadi bagian Seven Wonders of Nature. Tidak hanya Komodo sebagai icon utama yang mampu menarik perhatian  pengunjung dari berbagai belahan dunia, tetapi keindahan alamnyaturut menyihir siapa saja yang melihatnya untuk sejenak menahan nafas dan menikmati pemandangan yang tersuguh di hadapannya

11 Comments

  1. Pingback: Underground River, My Third Seven Wonders of Nature (Mabuhay Philippines, part 3) | Saya Minggat Dulu

  2. syahfamawati says

    mas,minta data/artikel tentang pulau komodo dong,dari awal pemilihan sampai terpilihnya pulau komodo sebagai new seven wonders,hehe makasih 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s