My Indonesia, Riau Islands, Sumatra
Comments 6

Chinese New Year @ Selat Panjang, FOAM FIGHT!!

Pernah mendengar kota Selat Panjang?

Awalnya saya juga merasa asing akan nama kota ini. Kalo saja sepupu saya nggak menikah dengan orang Selat Panjang, mungkin sampai sekarang saya tidak akan pernah tahu akan keberadaan kota ini (maklum, geografi saya nggak pernah bagus untuk soal hafal menghafal nama kota)

Begitu diberitahukan oleh kakak saya bahwa tahun 2011 lalu kami akan merayakan Imlek di Selat Panjang, dengan penasaran saya langsung googling segala informasi mengenai kota kelahiran suami sepupu saya tersebut. Well, first impression, it is just a small island, part of Kepulauan Riau, yang letaknya sekitar 3 jam lebih berkapal Ferry dari pelabuhan Batam. Saya tidak terlalu antusias awalnya, berhubung yang saya temukan di website, suasana kotanya tidak berbeda dengan suasana kota kecil dimana saya tinggal sekarang. Namun karena saat itu kami akan berangkat ramai-ramai, mungkin akan ada cerita tersendiri nantinya.

Perjalanan dimulai dari Batam dan sempat berhenti di Tanjung Balai Karimun untuk menaik-turunkan penumpang. Saya duduk santai, bermain bersama keponakan-keponakan saya untuk menghabiskan waktu. Di dalam kapal sendiri, dapat saya lihat hampir 90 persen penumpangnya adalah orang Tionghoa. Kata sepupu saya, mayoritas penduduk di Selat Panjang adalah etnis Tionghoa. Setiap kali menjelang tahun baru Imlek, mereka yang bekerja di luar Selat panjang akan beramai-ramai pulang kampung untuk merayakan tahun baru bersama-sama dengan keluarga.

Tak lama kemudian kami sampai dan bersama yang lainnya kami turun dari kapal. Suami sepupu saya (sebut saja namanya Efendi) berjalan paling depan untuk menunjukkan arah. Keluar dari pelabuhan, kami disambut oleh kendaraan khas Selat Panjang, sebuah becak yang dikendalikan oleh motor di sampingnya. Efendi mencarter beberapa becak untuk mengantarkan kami ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan saya melewati beberapa rumah yang masih tampak sederhana dengan dinding-dinding yang didominasi oleh bahan kayu. Tentu saja hiasan-hiasan Cina seperti lampion-lampion, stiker-stiker besar berbentuk batangan emas khas Cina, amplop-amplop merah hingga gapura-gapura buatan berwarna merah bertuliskan ucapan selamat tahun baru dalam bahasa Mandarinpun bertaburan disana-sini.

Begitu sampai di rumah mertua sepupu saya, kami langsung disambut dengan hangat. Sesuai tradisi, orang-orang  tua akan membagikan ampau (amplop merah berisi uang) kepada anak-anak kecil. Keluarga akan saling bercengkrama, kue-kue dan makanan kecil akan dihidangkan, dan biasanya bagi keluarga yang sudah lama tidak bertemu, mereka akan makan bersama-sama untuk merayakan berkumpulnya kembali seluruh anggota keluarga.

Begitu malam tiba, kami berpamitan menuju hotel yang telah di-booking untuk kami. Jarak dari suatu tempat ke tempat lain tidak terlalu jauh karena kotanya yang terbilang kecil. Tetapi untuk mengefisiensikan waktu, kami dipinjamkan motor untuk mempermudah ruang gerak kami. Kami pun diantar menuju hotel yang jaraknya tidak sampai 5 menit mengendarai motor.

Keesokan harinya kami diajak oleh Efendi untuk mencicipi kuliner khas Selat Panjang (ini dia yang saya tunggu-tunggu). Kami memasuki sebuah kedai makan yang lumayan ramai. Efendi memesankan kami makanan yang dari namanya saja kami nggak mengerti bentuknya akan seperti apa. Namun demikian, pilihan Efendi nggak salah, makanan yang ia pesan nggak hanya nampak menggoda, tapi juga rasanya unik dan “nendang”.

Hoana Mie atau dalam bahasa Indonesianya mi orang lokal. Mi ini dimasak seperti mi basah pada umumnya, yang kemudian dibaluri dengan saus kacang yang telah dibumbui dengan berbagai rempah-rempah. Rasanya mirip-mirip mi kari dengan rasa sweet but spicy yang dominant

Lo Mie, hampir mirip dengan lo mie pada umumnya, masakan khas selat panjang ini menggunakan kuah uang dicampur maizena dan putih telur sebagai pengental.

Setelah makan-makan, Efendi mengajak kami berkumpul kembali ke rumah orang tuanya untuk menunggu sore tiba.

Memangnya ada apa kalo sore tiba?

Efendi menjelaskan, tradisi di Selat Panjang sangat menarik. Tujuh hari berturut-turut, terhitung dari tahun baru Imlek, seluruh warga selat panjang akan turun ke jalan utama, berarak-arakan merayakan tahun baru. Bagian serunya adalah semua orang akan membawa berkaleng-kaleng busa kocok, senapan-senapan angin, sampai berember-ember air untuk melakukan penyerangan terhadap siapa saja yang mereka inginkan, kenal nggak kenal. Dan perang semprot-semprotan busa dan air itu akan berlanjut sepanjang arak-arakan mengitari kota.

WOW! Sounds exciting!

Mendadak gairah liburan saya kembali membara. Ini nih baru namanya jalan-jalan, menemukan sesuatu hal baru yang menarik. Saya dan keponakan saya jadi tidak sabaran untuk menunggu sore tiba. Sebelumnya Efendi membeli dua buah watergun yang cukup besar untuk keponakan saya dan anaknya. Saya sendiri memilih untuk melakukan foam fight karena lebih praktis membawa kaleng-kaleng kecil daripada menenteng-nenteng watergun (mungkin pengaruh umur juga kali ya, udah nggak cocok lagi membawa-bawa pistol air).

Sore pun menjelang. Benar saja, saya sudah bisa melihat beberapa orang, baik anak kecil, remaja hingga dewasa berduyun-duyun menuju jalan utama. Efendi langsung mencarter sebuah becak yang kapnya dibuka, sehingga saya, keponakan saya, Efendi dan anaknya bisa berdiri leluasa di atas becak saat battle berlangsung.

Becak yang dicarter pelan-pelan bergerak. Kami siap menuju medan perang…

Luar biasa, bisa saya pastikan, mungkin sekitar 70 persen warga disini tumpah ruah ke jalanan. Ada yang menggunakan motor pribadi, ada yang naik becak, ada juga yang berjalan kaki di pinggiran, dan ada juga yang stand by berdiri menanti korban untuk diserang. Kuncinya adalah, kamu nggak perlu saling kenal untuk saling menyemprotkan busa. Have fun adalah inti dari perayaan ini. And indeed I have sooo much fun!!

Kemacetan benar-benar parah saat itu, kendaraan-kendaraan hanya bisa merayap pelan-pelan. Dan tepat ketika penumpang kendaraan sedang lengah, itulah saat dimana orang-orang yang ada di jalanan dengan beringas keroyokan menyerang tiap kendaraan dengan menyemprotkan busa ataupun menyiram dengan air. Tidak jarang ada yang sampai turun dari becak untuk mengejar sipenyerang dan balas menyemprot.

Bagaimana dengan saya? Tentu saja badan saya sudah basah kuyup oleh air dan lengket oleh busa-busa.

Sore itu adalah perayaan Imlek yang paling berkesan buat saya. Jika biasanya Imlek hanya dirayakan dengan berkunjung ke rumah-rumah kerabat atau teman-teman, kali ini saya harus berterima kasih karena telah diperkenalkan dengan sebuah tradisi tahun baru yang sangat menarik. Sebuah kota kecil yang mungkin tidak terlalu banyak dikenal orang ini berhasil membuat saya merubah persepsi saya  yang awalnya mungkin terkesan tidak terlalu apresiasif terhadap sebuah kesederhanaan.

Saya jadi belajar satu hal, selalu ada hal menarik yang akan ditemukan setiap kali kaki kita menjejak, tidak perduli seberapa jauh-dekatnya atau besar-kecilnya daerah yang kau tuju tersebut. Dan ketika kita diberikan kesempatan untuk menikmati setiap detiknya, kita pasti akan bersyukur oleh karena kita tidak melewatkannya begitu saja.

This entry was posted in: My Indonesia, Riau Islands, Sumatra

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

6 Comments

  1. yokehedwig says

    wahhhh kerenn bgt =) jd inget songkran festival d bangkok..mirip bgt
    makanan nya looks so yummy ^^…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s