East Asia, Hongkong
Comments 6

Symphony of Light, Symphony of Glamour (Hongkong-Shenzhen-Macau part 1)

Jam tangan sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Beberapa orang sudah ramai berkumpul di Tsim Sha Tsui Water Front, begitu pula saya dan keluarga. Sesuai dengan wejangan-wejangan para traveler senior bahwa haram hukumnya apabila kami tidak menonton pertunjukan Symphony of Light saat berlibur di Hongkong, maka saya berinisiatif mengajak keluarga untuk tidak ketinggalan menonton.

Yap, kisah ini bermula Juni 2011 lalu. kami sekeluarga berlibur ke Hongkong. Selain memang ingin merasakan vacation yang agak jauh, kami memang memiliki kerabat keluarga. Pesawat kami mendarat di Hongkong International Airport sekitar pukul 1 siang, dan Bibi saya sudah menunggu di ruang tunggu kedatangan. Setelah bertegur sapa, kami segera mengikutinya keluar mencari public bus. Tujuan pertama kami adalah Tai Po Plasa, tempat tinggal bibi kami.

Tai Po Plasa adalah sebuah distrik yang letaknya di utara Hongkong, hampir mendekati perbatasan menuju Shenzhen. Perjalanan dengan public bus berlangsung kurang lebih dua jam dengan tiket sekitar 40 HKD (maklum, jauh banget, hehe). Tujuan kami kesini adalah bersilaturahmi dengan keluarga kami yang tinggal disini–supaya besok-besok kami bisa fokus berkeliling HK. Bibi saya sebelumnya pernah tinggal di Indonesia, di Palembang, bersama ibu saya dan keluarganya yang lain. Sampai akhirnya sekitar tahun 1965 ketika etnis Tionghoa secara massal melakukan mobilisasi keluar Indonesia, Baik nenek, bibi saya dan kerabat yang lain–kecuali ibu saya yang memutuskan untuk menetap di Palembang karena sudah menikah dengan ayah–ikut beremigrasi. Hongkong menjadi tujuan kepindahan mereka (sampai sekarangpun saya belum tau sebabnya kenapa mereka memilih Hongkong).

Cara membayar jasa penggunaan bus umum disini tidak seperti di Indonesia, tidak ada kondektur yang akan menagih uang kepada kita. Kita hanya perlu memasukan sejumlah uang tertentu ke dalam sebuah box elektronik yang disediakan di samping sopir. Atau kalo ingin lebih mudah lagi, kita cukup men-tap kartu Oktopus di atas scanner di dekat mesin pembayaran tadi. Bagi yang ingin tahu apakah kartu Oktopus itu dan apa saja kegunaannya, kurang lebih mirip dengan kartu Flazz BCA. Selain untuk membayar jasa kendaraan angkutan umum seperti bus dan MTR, kartu ini dapat digunakan di beberapa mini market atau toko-toko tertentu  untuk transaksi pembayaran.

Kartu ini dapat disewa di counter-counter stasiun MTR dan ditop up dengan sejumlah uang tertentu di mesin top up yang tersedia (cukup memasukan sejumlah uang saja dan balance yang anda miliki akan langsung bertambah). Kartu Oktopus ini disewakan seharga 1oo HKD (dengan kredit sebesar 75 HKD) untuk dewasa dan 50HKD (dengan kredit sebesar 25 HKD) untuk anak-anak.  Apabila kita hendak meninggalkan HK, kartu ini harus dikembalikan ke counter MTR mana saja, dan sisa kredit yang terdapat dalam kartu akan dikembalikan kepada kita dalam bentuk cash.

Pejalanan tak terasa berlalu dengan cepat. Kami sampai di Tai Po Plasa dengan sedikit takjub. Apa yang kami dengar sepanjang perjalanan dari bibi saya bahwa daerah tempat tinggalnya hanyalah sebuah kampung, nggak ada mal, nggak ada hiburan apa-apa ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Tai Po lebih menyerupai sebuah kota yang meski kecil namun lumayan ramai. Suasananya pun jauh dari kesan kampung, dengan pertokoan yang berjajar layaknya butik-butik yang memajang barang-barang jualannya dan apartemen-apartemen yang menjulang dimana-mana.

Sama seperti kebanyakan penduduk lainnya, bibi kami tinggal di sebuah apartemen. Dengan padatnya jumlah penduduk, yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan untuk tinggal, membuat harga tanah menjadi super mahal. Orang-orang pun memilih menyewa ataupun membeli flat-flat untuk tinggal ketimbang mencari tanah untuk dibangun rumah. Namun demikian, kata bibi saya, harga sewa flat di Tai Po ini jauh lebih murah, berikut dengan biaya hidupnya, ketimbang di kota seperti Tsim Sha Tsui ataupun Mongkok.

Kendaraan yang lewat pun tidak terlalu padat. Boleh dikatakan hampir semua orang lebih memilih untuk berjalan kaki ketimbang menaiki kendaraan bermotor.  Bisa saya amati melalui pengalaman “serba” berjalan kaki kami untuk pertama kalinya ini. Bayangkan, kami harus berjalan sekitar kurang lebih 3km dari stasiun bus ke rumah salah satu anak bibi kami, dan kami masih harus berjalan kaki lagi sekitar 1km menuju restoran.

Kesimpulan saya adalah, orang HK hobi jalan kaki.

Setelah berpeluh-peluh keringat (maklum, orang Indonesia kebanyakan dimanja oleh fasilitas kendaraan. Beli gorengan di dekat rumah aja naek motor, hehe), tibalah kami di sebuah rumah makan di dekat pasar rakyat (jangan mmbayangkan dengan pasar rakyat yang ada di Indonesia. Pasar rakyat disini modelnya  hampir mirip dengan ITC, dengan kios-kios tertata dan ruangan yang full AC). Rumah makan ini sangat ramai, kalo aja nggak dibooking, mungkin kami harus menunggu di waiting list (bayangkan, kota yang katanya kampung ini, mau makan aja harus ngantri di waiting list).

Sebagai tamu yang baik—dan yang ditraktir—kami hanya duduk manis mendengarkan sepupu saya memesankan makanan (dalam bahasa Kanton yang sama sekali saya nggak ngerti). Menu makanan disini, dan di kebanyakan rumah makan di HK, memang menggunakan huruf-huruf model kanji begitu. Jadinya kami hanya mesam-mesem waktu ditanya mau makan apa. Dan satu lagi kebiasaan sebelum makan, seorang waiter/ress akan memberikan sebuah mangkuk besar kosong, dimana pembeli akan memasukan semua perkakas makan, dari mangkuk, sendok, sumpit sampai piring kecap, ke dalamnya dan kemudian dituangkan teh/air panas. Mungkin hal ini dimaksudkan untuk mensterilkan sebelum dipakai untuk makan.

After all, selamat makan ^_^

Seusai makan pun, kami diantar menuju stasiun terdekat. Hari sudah makin sore dan bibi kami menyarankan agar segera menuju penginapan untuk beristirahat. Setelah mengobrol sebentar sambil menunggu busnya berangkat, kami berpamitan meninggalkan mereka dan menuju Tsim Sha Tsui, tempat dimana saya telah membooking penginapan. Dengan perut lumayan kenyang saya dan yang lainnya tertidur sejenak di dalam bus.

Jalan-jalan di HK jangan takut nyasar. Semua petunjuk dari petunjuk jalan, papan penjelasan nomor bus dan rute, hingga running text di dalam bus yang senantiasa mengingatkan lokasi perhentian selanjutnya akan membuat perjalanan kita terasa nyaman tanpa harus was-was tujuan kita akan kelewatan. Kalo masih kurang, kita juga bisa mengandalkan peta yang bisa diperoleh di airport. Petanya cukup lengkap, baik peta jalan-jalan di HK, rute MTR (kereta bawah tanah), maupun semua nomor bus dan rute yang dituju.

Hari hampir menjelang malam, kurang lebih sekitar jam 5 sore, kami sampai di Tsim Sha Tsui (TST).Tidak sulit untuk menemukan penginapan kami karena plang gedungnya yang sangat besar. Kami turun di sekitar Nathan Road dan bergegas menuju penginapan kami. Perlu diketahui, disekitar Nathan road, banyak sekali guesthouse-guesthouse lain yang bertebaran, sehingga kalo kita sedang berjalan kaki melewatinya, akan banyak sekali orang-orang yang memanggil bahkan mengikuti kita untuk menawarkan penginapan. Tolak saja secara halus tapi tegas, jangan sampai mengadakan kontak mata untuk meyakinkan mereka bahwa kita tidak tertarik akan tawarannya.

Usai cek in, kami beristirahat sejenak sembari mengantri bergantian bersih-bersih. Kamarnya sangat kecil (maklum, namanya juga guest house di HK, kalo mau mencari penginapan dengan budget cost, kita harus maklum dengan ukuran kamar yang disediakan—mengingat kata-kata teman saya, di HK apa-apa MAHAL, hehe).

Mengejar pukul 8 malam (sekarang sudah pukul 7), saya segera mengajak keluarga keluar dari hotel untuk menuju water front, menonton pertunjukan Symphony of Light. Kami berjalan (lagi) menyusuri jalan , sesekali  mengambil foto (maklum, turis lokal ke luar negeri, haha). Suasana sore menjelang malam di TST memang sangat ramai, orang-orang (sama seperti halnya di kota besar lainnya) baru saja pulang bekerja. Di setiap perempatan dapat saya lihat barisan puluhan manusia yang menunggu teratur di tepian jalan ketika lampu merah menyala, dan menyebrang dengan tertib ketika giliran lampu hijau yang menyala.

And now, kami sudah berdiri di seberang HK Island, tepatnya di Water Front bersama orang-orang lain. Dari kejauhan, kami dapat menyaksikan beberapa bangunan pencakar langit sudah mulai menyalakan lampu-lampunya. Uniknya lampu-lampu yang terpasang membalut gedung-gedung tersebut hanya membentuk pola-pola normal. Ada yang lampu di tepian gedungnya berwarna hijau tetapi di jendela-jendelanya berwarna-warni. Ada pula yang membentuk segitiga, ada yang tampak kerlap-kerlip berubah-ubah warna, dan ada pula yang seperti sinar yang berkejar-kejaran satu sama lain. Beberapa gedung pun memasang lampu tembak laser menembus pekatnya langit malam kala itu.

Tiba-tiba lampu-lampu tersebut mati sejenak. Terdengar prolog berbahasa Inggris yang diikuti dengan bahasa setempat, tanda pertunjukan akan dimulai. Beberapa orang dengan seksama mendengarkan suara tersebut, beberapa sudah siap dengan kamera dan video camnya, dan beberapa mulai berpindah dari tempat duduk yang tersedia menuju pagar pembatas Water Front. Tak lama, setelah prolog mengucapkan selamat menyaksikan, mulai terdengar alunan lagu menggema, diikuti dengan menyalanya kembali lampu-lampu di pulau seberang.

Dan sekitar setengah jam, semua penonton terhenyak kagum menyaksikan tarian-tarian sorot lampu tembak berikut laser yang berputar-putar di atas langit. Cahaya lampu warna-warni yang berpendar-pendar di  setiap tubuh gedung-gedung perkasa di seberang mengikuti ritme instrument lagu yang diputar. Pancaran-pancaran sinar tersebut seolah melompat-lompat dari satu gedung ke gedung lain, berlarian kesana-kemari dan kemudian berbaur menjadi satu warna baru, bermetamorfosis menjadi sebuah atraksi cantik.

Sayang sekali, saat itu, lagi-lagi dengan keterbatasan kemampuan kamera saku saya, saya tidak dapat menangkap momen-momen  indah pertunjukkan tersebut.  Alhasil  saya berhenti memfoto dan memilih merekam pemandangan menakjubkan tersebut dengan mata dan otak saya saja. Tapi disini saya suguhkan foto yang saya ambil dari salah satu sumber di google.

Hasil Jepretan kamera saya  (>.<)

Hasil gooling dan ngunduh dari http://dutchisgreen.blogspot.com/2011/12/hk-rocks.html kurang lebih gambaran pertunjukan Symphony of Light kayak gini nih

Yang ini dari http://hkhsbc.deviantart.com/art/Hong-Kong-Symphony-of-Light-41577064

Hari pertama di HK ditutup dengan pertunjukan yang gratis tapi terlihat super MAHAL. Saya nggak bisa membayangkan, berapa tariff listrik yang harus dibayarkan tiap-tiap gedung untuk sebuah pertunjukan spektakuler tersebut. Tapi that’s not my problem sih hehe, yang penting saya cukup puas bisa menonton. Sekarang saatnya kami mencari makan malam dan kembali ke hotel untuk istirahat. Hari kami masih panjang disini, kami harus siapkan ekstra tenaga untuk perjalanan-perjalanan berikutnya.

(To be Continued)

This entry was posted in: East Asia, Hongkong

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

6 Comments

  1. Maria says

    Dear Hendra, nice info. Btw boleh tau waktu itu menginap dimana saat di hk? Thx ya

    Like

  2. Mas info lengkap guesthouse di hk,macau and shenzen dunk. Q backpckeran ke sana sktar tgl 11 juni mas mpe 17 juni.lumayan lama kan.. bisa bagi itin nya gak mas.
    Salam kenal dari traveller pemula
    Come and visit my blog.
    Regard
    Enry mazni

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s