East Asia, Hongkong
Leave a Comment

Meet up the Giant Budha at Ngong Ping (Hongkong-Shenzhen-Macau part 2)

MTR (Kalo di Singapur namanya MRT. Kalo di Shenzhen namanya Metro. Intinya sama-sama kereta bawah tanah) melaju dengan kencang, sesekali berhenti di beberapa stasiun untuk menaik-turunkan penumpang–dan kami adalah salah satu penumpang yang naik dari stasiun TST. Hari ini, dengan semangat baru, saya bersama keluarga melanjutkan tur kami. Tujuan perjalanan kami hari ini adalah bertemu Budha raksasa dan mengambil kitab suci untuk menyebarkan kebenaran dan kebajikan kepada seluruh umat manusia… Ok, yang pertama memang benar, saya akan pergi menemui Budha Raksasa, tapi bukan untuk mengambil kitab suci. Kami kesana untuk menanyakan alamat biksu Tong Sam Cong dan pergi ke barat untuk mengambil kitab suci  bersamanya (tetep jayus zzz).

Rute MTR di Hongkong

Perjalanan, seperti yang saya ungkap sebelumnya, dimulai dari stasiun MTR Tsim Sha Tsui. Cukup mudah menemui stasiun MTR di setiap daerah di Hongkong. Kita hanya cukup mencari tanda di samping ini. Untuk menggunakan jasa MTR, kita cukup membeli tiket di loket-loket eletronik di tiap stasiun atau men-tap kartu Oktopus di card scanner setiap gate, dan otomatis kredit yang tersimpan di kartu akan terpotong sebesar harga sekali perjalanan. Normalnya sih kalo cuma berhenti sekitar satu sampai dua stasiun, kredit yang kita miliki hanya terpotong sekitar 3-4 HKD. Tapi kalo sudah pindah jalur MTR (Silahkan lihat peta rute MTR di atas. Contoh pindah jalur adalah dari jalur merah ke jalur oranye), biasanya kredit yang terpotong akan lebih dari itu. Apalagi kalo sampe menyebrangi tunnel (menuju ke jalur biru, yakni ke HK Island), biasanya akan dikenakan biaya tambahan sekitar 8 HKD . Kurang lebihnya sih pertahun 2011 kemarin fare untuk MTR nya segitu. Saya kurang tahu apakah sekarang atau nanti ke depannya akan naik berapa.

Perhentian kami adalah stasiun Lai King, untuk kemudian pindah ke jalur oranye ke stasiun Tung Chung, stasiun terakhir yang kelak akan menghantarkan kami menemui sang Budha Raksasa. Awalnya saya bulak-balik melihat peta yang saya rampok di airport untuk memastikan saya tidak salah turun stasiun ataupun salah pindah kereta. Tapi setelah saya sadar terdapat running text berikut sebuah peta elektronik rute MTR di atas pintu masuk kereta, untuk perjalanan-perjalanan berikutnya di dalam MTR saya tidak pernah lagi mengeluarkan peta saya yang sebesar papan mading sekolah itu. Saya hanya cukup melihat di peta elektronik. Lampu yang menyala sudah sampai dimana, pertanda kereta akan berhenti di stasiun tersebut. Tidak hanya itu, di running text juga tersedia informasi pemberhentian selanjutnya.

Tak lama, kami tiba di stasiun Tung Chung. Tidak hanya kami yang turun disini, ternyata banyak juga yang bermaksud menemui Budha raksasa. Di dalam catatan yang saya baca, Budha raksasa bersemayam di atas gunung yang berada di daerah Ngong Ping. Dengan demikian, dari Tung Chung, kami masih harus melakukan perjalanan mendaki ke Ngongping. Dalam benak saya, saya berinisiatif memanggil kumpulan arak-arakan awan untuk menghantarkan kami sekeluarga terbang ke daerah tersebut selayaknya dewa-dewi khayangan yang hendak bertemu dengan kaisar langit. Tetapi berhubung itu cuma bisa terjadi di film Kera Sakti, maka saya hanya bisa menggunakan fasilitas setempat yang lebih real dan logis.

Ada dua pilihan untuk menuju ke Ngong Ping, naik bus atau naik cable cart. Berhubung saya sudah kangen dengan sensasi melayang-layang dalam sebuah kotak di atas ketinggian ribuan meter (terakhir naik cable cart yakni saat sedang jalan-jalan ke Genting Highland, Malaysia sekitar 4 tahun yang lalu), maka saya memilih menggunakan cable cart. Kami keluar dari stasiun Tung Chung, berjalan sebentar mengikuti papan petunjuk arah “Cable Cart Ngong Ping 360”, menaiki eskalator yang lumayan tinggi, dan mengantri untuk membeli tiket cable cart.

Ada beberapa pilihan cable cart untuk kami naiki. Yang pertama adalah cable cart biasa, yang kedua cable cart dengan desain kabin yang mewah (kabarnya sih menggunakan sentuhan kristal-kristal swarovski gitu) dan yang ketiga cable cart dengan lantai kaca (disebut crystal cabin) dimana lantainya transparan dan kita bisa melihat pemandangan di bawah kaki kita (untuk lebih detailnya, bisa dicek langsung baik harga maupun bentuk penampakan cable cartnya disini http://www.np360.com.hk/html/eng/np360_exp/cablecar_index.html). Awalnya saya bermaksud untuk membeli tiket keberangkatan dengan crystal cabin dan tiket pulang dengan cable cart biasa. Sayangnya kakak saya parno ketinggian dan mati-matian menolak naik cable cart yang memberikan sensasi “ekstra” melayang di udara itu.

Mengantri giliran cable cart nggak kalah capek dibandingkan mengantri wahana Tornado dan Histeria di Dunia Fantasi. Dengan barisan super panjang, ditambah lagi jalur yang dibuat meliuk-liuk, pemisahan jalur antri sesuai dengan jenis cable cart yang dihire tetap saja tidak membantu meringankan beban konde yang bertumbuh di betis kami.

Dan akhirnya tiba giliran kami untuk menaiki cable cart kami. Saya memasang tampang datar pura-pura tidak excited, seolah naik cable cart sama seperti naik angkot (supaya nggak terlalu kelihatan dusunnya. Padahal, kalo saja disana sepi nggak ada orang, saya bakalan heboh meminta petugas untuk memfoto saya dalam berbagai angle dan gaya sebelum menaiki cable cart, haha).

Setelah perjalanan kurang lebih 6 km, cable cart pun menurunkan kami di sebuah perhentian dan kembali ke bawah untuk menjemput penumpang lainnya. Kami berjalan mengekor pengunjung lainnya yang pasti memiliki tujuan yang sama dengan kami, menemui sang Budha raksasa. Tidak sampai beberapa menit, kami sudah disambut oleh dua patung kera yang lucu dan menggemaskan sedang berdiri tepat di depan gerbang desa Ngong Ping (rasanya ingin saya gotong mereka dan dibawa pulang untuk pajangan di depan pintu kamar).

Langkah kami sesekali terhenti untuk sekedar melihat-lihat apa saja yang disajikan di desa Ngong Ping ini. Beberapa toko-toko cinderamata, rumah makan, kedai teh, hingga gerai Starbucks menjadi hidangan pembuka tur kami. Diikuti oleh gedung pertunjukan atraksi kera, kemudian ada pula gedung pertunjukan kisah perjalanan Budha, dan kemudian toko souvenir lagi. Terbersit ingin saya membeli sedikit oleh-oleh dari Ngong Ping, minimal gantungan kunci. Tapi mengingat harganya yang lumayan, saya jadi agak urung dan memilih untuk memfokuskan pembelian oleh-olehnya di Disneyland saja besok.

Diujung desa Ngong Ping, sudah mulai terlihat menyembul kepala Budha dari balik pepohonan, pertanda bahwa kami sudah sampai dan siap bertemu dengan sang Budha raksasa, atau Giant Budha. Giant Budha adalah sebuah patung raksasa yang berukuran kurang lebih… Untuk mencapai Patung ini, kita terlebih dulu harus melewati 12 buah patung-patung panglima (setiap patung mewakili satu persatu shio atau chinese zodiac) yang disebut twelve divine generals. Saya yang kelahiran April 1986 ini tentu saja berfoto bersama panglima yang bernama Kimnara (perlambang shio Macan).

Setelah puas berfoto bersama para Twelve Divine Generals, saya berjalan ke arah ticket counter di samping entrance Giant Budha. Untuk masuk ke dalam, memang kami diharuskan untuk membeli tiket. Tiket itu nantinya bisa ditukar dengan sebotol air mineral dan es krim di kantin atas (waktu itu sih begitu, nggak tau deh sekarang masih berlaku apa nggak). Selain tiket, kami juga ditawarkan paket makan siang vegetarian ala ala para biarawan di kuil Po Lin.Tetapi berhubung saat itu kakak saya belum lapar, kami melewatkan acara vegetarian lunch tersebut.

Perjalanan mendaki pun dimulai. Kurang lebih sekitar 270 anak tangga kami tapaki satu persatu. Apabila mulai kelelahan, kami berhenti sejenak untuk melemaskan otot-otot kaki, minum, dan–yang selalu wajib, nggak boleh terlupakan–foto-foto. Spot berfoto di anak tangga memang menjadi spot favorit para banci kamera karena dari atas nampak sang Buddha yang seolah sedang memberkati kita dengan telapak tangannya yang terbuka.

Dan anak tangga yang terakhir akhirnya kami jejaki. Kepala kami mendongak ke atas, beradu pandang dengan sang Buddha raksasa.

Hey, We made it, where is the holy Sutra?

Patung Buddha raksasa yang terbuat dari perunggu ini ternyata merupakan bangunan rumah abu. Terdapat sebuah pintu masuk lengkap dengan sebuah lobi di dalam. Salah seorang petugas mengecek tiket kami dan mengingatkan kami untuk menukar air mineral dan es krim di kantin dalam. Setelah itu, kami berputar mengelilingi isi rongga sang Buddha raksasa sebelum akhirnya menaiki tangga ke atas. Disini saya harus diam-diam memotret berbagai objek karena di setiap ruangan dipasang peringatan untuk tidak memfoto aset-aset yang ada di dalam. Salah satu foto yang saya sukai adalah foto di bawah ini:

Mungkin teman-teman ingat dengan artis Hongkong yang satu ini. Almarhum tidak hanya tenar sebagai penyanyi, namun juga telah membintangi banyak sekali film-film berbagai genre, baik drama, komedi hingga action. Yap, Anita Mui, artis yang meninggal pada tanggal 30 Desember 2003 karena kanker serviks ini beristirahat untuk terakhir kalinya disini. Saking tenarnya beliau, saya dapat melihat masih banyak notes-notes, bunga, dan hasta karya dari para fans-fans setianya bertaburan di atas meja dimana fotonya terpajang.

Bangunan di dalam didesain untuk berjalan berkeliling, baik di lantai dasar hingga tingkat teratas. Di lantai dasar, kami melihat puluhan bahkan mungkin ratusan foto-foto orang yang telah meninggal dan abunya disemayamkan disini, berikut beberapa alat-alat sembahyang,dan  pernak pernik berornamen Buddha yang dijual di beberapa stan–kantinnya juga ada di lantai ini, di sisi luar. Di tingkat berikutnya kami disuguhkan beberapa lukisan-lukisan yang disertai dengan kaligrafi yang sangat indah. (sebenarnya saya ingin memotret beberapa lukisan tersebut, tapi saat itu sedang ada beberapa petugas yang berlalu lalang. Jadinya saya urungkan niat saya dengan sedikit kesal.)

Sebenarnya ada satu ruangan lagi yang belum saya kunjungi di dalam. Tetapi berhubung saat itu antrian di tangga menuju ruangan itu sangat ramai oleh kerumunan anggota tur, kami pun memutuskan untuk nggak ikut-ikutan berdesakan dan menjemput es krim kami di bawah.

Selesai mengambil es krim dan air mineral, kami keluar dari Giant Buddha dan istirahat sejenak disalah satu tempat duduk.Viewdari ketinggian ini sangat memukau, memancing saya untuk sesegera mungkin menghabiskan es krim saya dan mengeluarkan kamera. Angin yang bertiup kencang sesekali menimbulkan efek dramatis ala ala blower photo session meniup helaian-helaian rambut kakak saya (saya agak kecewa karena saat itu saya sedang botak, jadi nggak bisa mendapatkan hasil jepretan ala rambut berurai-urai).

Pemandangan dari atas

Perjalanan tidak berakhir sampai disini. Baru saja sebentar beristirahat, menikmati es krim dan berfoto-foto, ternyata sang Buddha Raksasa membisikan sebuah petunjuk bagi saya. Kitab sutra yang saya cari tidak ada disana. Ia telah menyegel kitab tersebut di sebuah tempat bernama Wisdom Path, tidak jauh dari sini.

Dengan kondisi super fit setelah makan es krim, kami langsung turun ke bawah mencari-cari papan petunjuk menuju Wisdom Path. Kakak saya dan suaminya memilih untuk stay di taman di dekat Po Lin ketimbang bergabung bersama saya dan keponakan saya untuk berburu kitab Sutra (efek umur).

Saya dan keponakan saya mengikuti petunjuk jalan, memasuki sebuah kawasan hutan berjalan setapak. Hutan ini sangat rimbun dan asri. Saya dapat menikmati setiap koor serangga-serangga dan kicauan burung-burung yang bersembunyi di antara dedaunan dan ranting pohon. Kami sempat melewati sebuah warung makan yang suasana sekitarnya jauh dari kesan manis walaupun dipasangi boneka-boneka yang tampak usang di batang-batang pohon dan beberapa spot lainnya–menurut saya malah terkesan agak horor. Tidak hanya itu, di sepanjang jalan, kami harus pasang mata baik-baik ke segala penjuru. Mungkin karena saat itu adalah musim panas, kami menjumpai banyak sekali kepompong-kepompong yang bergelantungan dan ulat bulu yang tersebar di dahan pohon. Saya cukup memaklumi, namanya juga perjalanan menuju kebaikan dan kebajikan, pasti akan selalu ada aral rintangan yang menghadang.

Sekitar 15 sampai 20 menit kami menelusuri hutan, sampailah kami di tempat dimana kitab Sutra berada, Wisdom Path. Wisdom Path tak lain adalah potongan-potongan kayu besar yang diukirkan kata-kata bijak yang dikutip dari kitab Sutra, berdiri kokoh di atas tanah . Saya tidak mengerti arti dari setiap tulisan yang ada, tapi entah kenapa ketika berada di antara kayu-kayu tersebut, hati saya berasa tenang. Mungkin aura-aura kebajikan yang terpancar dari goresan-goresan kutipan Sutra itu telah menyelubungi hati saya. Saya pun duduk  bersila sebentar menikmati sensasi ini seraya menarik-hembuskan nafas saya pelan-pelan. Hijaunya perbukitan sebagai backdrop Wisdom Path ini turut mengosongkan pikiran saya barang beberapa detik. Saya terdiam membisu sampai akhirnya keponakan saya memanggil untuk minta difoto.

Dengan membawa ketenangan diri dan hati yang dipenuhi oleh aura kebajikan petikan-petikan kitab Sutra, saya dan keponakan saya meninggalkan Wisdom Path dan menemui kakak saya. Kali ini saya baru merasa, perjalanan bertemu Buddha raksasa kali ini baru benar-benar berakhir. Saya cukup puas dengan setiap detik perjalanan spiritual ini dan siap kembali ke penginapan untuk beristirahat sebelum melanjutkan aktifitas dengan city tour kami nanti malam. Kami tidak mengunjungi spot-spot wisata lain seperti Po Lin Monastery karena kami sudah terlanjur kecapekan (mendaki 270an anak tangga dan menyusuri hutan selama kurang lebih 20 menit dengan berjalan kaki, ditambah dengan perjalanan hari sebelumnya yang juga serba jalan kaki, what do you expect?). Kami kembali ke stasiun cable car untuk turun dari langit khayangan (maksudnya Ngong Ping yang jauh tinggi di atas gunung) dan pulang ke guesthouse dengan sejuta cerita baru untuk dibagikan seusai liburan nanti.

___________________________________________________________________________________________________

Peringatan: Mohon jangan terlalu serius sama blog kali ini, beberapa bagian cuma bumbu lebay supaya agak kelihatan dramatis aja, hehe. Kecuali part makan es krimnya emang bener-bener terjadi loh ^_^

This entry was posted in: East Asia, Hongkong

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s