East Asia, Hongkong
Comment 1

Re-call Childhood Memory at HK Disneyland (Hongkong-Shenzhen-Macau part 3)

Pernahkah terbayangkan oleh anda, betapa excitingnya apabila anda mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan idola anda ketika kecil? Hal itu yang saya rasakan di hari ke empat ini, Dalam perjalanan dengan MTR menuju Disneyland, mata saya sudah berbinar-binar, tidak sabaran ingin segera sampai. Yah, walaupun usia saya yang menjelang senja (fitnah! saya masih 26 tahun), gejolak spirit kekanak-kanakan saya tidak bisa dipungkiri masih meluap-luap dengan hebat apabila mendengar kata Disney.

Saya adalah penggemar berat seluruh karya Disney, mulai dari kisah Alladin, Little Mermaid, Toys Story, Hunchback of Notre Damme, Mulan, Lilo and Stitch, Monster Inc, hingga film-film terbarunya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu karena saking banyaknya. Saya nggak pernah ketinggalan untuk menonton. Tema cerita yang sangat earthy, ditambah dengan pengkarakteran tokoh yang variatif tapi kuat dan konsisten, membuat saya selalu bisa menonton sebuah film yang sama berulang-ulang.

Untuk itulah sekarang saya dan keluarga sudah berada di atas MTR khusus yang akan membawa kami ke kastil Sleeping Beauty seraya memanjakan imajinasi. MTR khusus ini walaupun bentuknya sama seperti pada umumnya, namun memiliki desain yang unik khas Disney, yakni kepala Mickey. Dimulai dari bentuk frame jendela, hingga pegangan untuk berdiri di dalam kereta, semuanya dihiasi dengan desain tersebut. Disini saya tidak perlu malu-malu untuk berfoto ria, karena nggak cuma saya, banyak dari pengunjung yang juga mencari spot-spot bagus untuk mengambil gambar.

MTR ini baru bisa kita jumpai apabila kita berhenti Stasiun Sunny Bay (satu stasiun sebelum Tung Chung–perhentian akhir untuk menuju Giant Budha Ngong Ping). Di Sunny Bay, kita tinggal melihat papan petunjuk. Jalur ke HK Disneyland sangat mudah dikenali karena terpampang jelas (seperti biasa) kepala Mickey di papan petunjuknya.

Sebenarnya selain menggunakan MTR, Hongkong Disneyland bisa diakses dengan bus. Tapi bagi saya pribadi, rasanya kurang “Disney” banget kalo kesini nggak naik MTR khusus Disneylandnya. Ibarat kata di film Harry Potter, kayaknya kurang “Hogwarts” banget kalo balik ke sekolah nggak naek kereta dari peron 9 3/4, hehe.

Stasiun Disneyland

Laju MTR tak lama kemudian memelan. Semua penumpang yang mulanya sibuk sendiri berfoto-foto ataupun mengobrol secara serempak menoleh ke jendela. Perjalanan satu stasiun jaraknya itu memang sangat tidak terasa, tau-tau muncul tiang-tiang peron stasiun di luar jendela. Senyum-senyum mengembang di bibir hampir seluruh penumpang, menunjukkan gairah mereka untuk lekas keluar dari MTR.

Benar saja, ketika MTR benar-benar berhenti dan pintu otomatis terbuka, para penumpang berbondong-bondong keluar denganpenuh semangat, baik anak-anak maupun dewasa. Termasuk saya dan keluarga, kami ikutan mengantri secara teratur dalam satu line untuk men-tap kartu oktopus kami (info mengenai kartu ini bisa dibaca di notes sebelumnya) sebelum masuk ke arena Disneyland. Sambil menunggu giliran, kami disuguhkan alunan lembut orkestra soundtrack-soundtrack film Disney yang sudah pasti akrab di telinga siapa saja. Mulai dari When You Wish upon a Star-nya Pinnocio, hingga Part of Your World-nya Little Mermaid membuat kami semakin tidak sabaran untuk sampai di Disneyland Theme Park.

Usai me-tap kartu Oktopus, kami berjalan menaiki tangga. Di ujung pintu keluar stasiun, kami sudah disuguhkan hamparan taman cantik. Lagu-lagu khas Disney semakin santer terdengar. Langkah kaki saya percepat berhubung saya nggak mau mendapatkan antrian tiket yang terlalu panjang. Saat itu saya baru memegang voucher booking tiket yang saya print setelah direservasi via online melalui official websitenya. Di loket nanti, saya baru menukarkan voucher tersebut dengan tiket yang asli.

Dan, tibalah kami di depan pintu gerbang masuk HK Disneyland Theme Park, mata saya hampir keluar saking antusiasnya. Disana, menyambut kami dengan anggun, sebuah air mancur dengan karakter-karakter Disney yang saya kenal. Karakter-karakter tersebut dengan berbagai gayaย  mengelilingi sang karakter utama yang berada di tengah. Saya langsung menarik keponakan saya untuk menuju air mancur tersebut.

Mickey and Minny

The Surfing Goofy

The Sexy Daisy

The Loyal Pluto

The grumpy Donald

Puas berfoto, saya baru ingat kalo saya harus mengantri penukaran tiket. Kamera kembali saya masukkan ke dalam tas. Lalu saya memanggil keluarga saya yang lainnya agar mengikuti saya dan menunggu di dekat counter tiket. Saat itu Pintu gerbang baru akan dibuka sekitar setengah jam lagi, dan antrian pengunjung memang sudah memanjang layaknya mengantri audisi Idol.

Saat mengantri saya melihat banyak sekali anak-anak kecil yang digandeng orang tuanya–walaupun di antrian-antrian lain juga banyak terdapat remaja-remaja dan muda-mudi seusia saya. Berbeda dengan Disneyland theme park di negara-negara lain, HK Disneyland memang disetting lebih seperti taman bermain untuk anak-anak ketimbang orang dewasa, menurut blog-blog yang saya baca. Salah satu teman saya yang tinggal di HK pun mengungkapkan pendapat yang sama ketika saya memberitahu dia bahwa saya akan pergi ke Disneyland. Mungkin karena HK Disneyland adalah Disneyland theme park yang paling kecil, makanya segmentasi pengunjungnya pun lebih diperuntukkan bagi anak-anak.

Setengah jam berlalu, pintu gerbang pun perlahan dibuka. Para petugas dengan sigap melayani kami para pengunjung yang hendak masuk. Empat tiket yang sudah saya pegang, ujungnya dirobek oleh petugas, penanda kami sudah boleh masuk ke dalam. KYAAA, saya histeris dan melakukan gerakan koprol di udara berkali-kali seperti cheerleader di film Bring It On saking senangnya, akhirnya sampai juga di Disneyland.

Sleeping Beauty Castle

Pertunjukan Mini Orkestra dari salah satu Sekolah

HK Disneyland Theme Park dibagi menjadi 4 area permainan, yakni:

1. Main Street USA. Ini adalah area pertama yang akan kita lewati begitu masuk ke dalam gerbang. Disini berjajar toko-toko suvenir khas Disney dan toko dimana kita bisa berfoto ala Disney. Toko-toko yang terdapat disini didesain dengan arsitektur Amerika jaman koboy

Salah satu toko Souvenir

2. Adventure Land. Di tempat ini kita bisa mengunjungi rumah pohonnya Tarzan dan menonton pertunjukan Lion King. Sangat saya rekomendasikan untuk menonton show teater musikal ini karena kita bisa nostalgia mendengarkan lagu-lagu khas film Simba seperti “I just cant Wait to be King”, “Cant You Feel the Love Tonight”, dan lagu kebangsaan para fans “HAKUNA MATATA”.

Tarzan Tree House. Untuk mengakses kesini, kita harus naik rakit yang sangat besar bersama pengunjung lain, menyebrangi sungai besar

Tarzan and Mom. You will love this so touchy scene. Kala menunjukan sebuah foto-foto orang tua Tarzan yang sesungguhnya melalui sebuah pigura besar, diiringi dengan alunan instrumen “You’ll be In My Heart”

Tarzan and Jane

Pumba dan Timon dalam Teatrikal Lion King

Closing pertunjukan. Saya nggak berani mengambil terlalu banyak foto pada saat pertunjukan karena selain Blitz tidak diperbolehkan menyala, night mode kamera saya juga hasilnya nggak terlalu memuaskan

3. Tomorrow Land. Di area ini terdapat beberapa permainan futuristik seperti Shooting the Monster bersama Buzz dari Toys Story dan berinteraksi bersama Stitch. Selain itu disini juga terdapat permainan jet coaster indoor bernama Space Mountain. Permainan ini lumayan membuat jantung berdebar karena jalurnya yang sangat berliku-liku, ditambah dengan ruangan gelap yang hanya diterangi oleh kerlap kerlip lampu selayaknya di luar angkasa, dan kecepatannya yang super.

4. Fantasy Land. Disinilah sebagian besar permainan anak-anak berkumpul. Memang benar apa yang saya baca dari beberapa blog, wahana permainan yang disuguhkan kebanyakan diperuntukan bagi anak-anak. Tapi ya berhubung saya sudah sampai disini, nggak ada salahnya dong mencoba semua permainan yang ada?

Every body loves Dumbo, si gajah terbang ^_^

Tiba-tiba disini saya melihat ada Tinker Bell nongkrong, berinteraksi dengan pengunjung. Sebenarnya di beberapa spot pada jam-jam tertentu, kita akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan beberapa tokoh Disney (saya sempat melihat kerumunan antrian untuk berfoto bersama Mickey dan Minny di gazebo dekat gerbang masuk, kemudian Goofy, Chip n Dale di Main Street USA, Tinker Bell, Snow White dan Sleeping Beauty di Fantasy Land, dan Buzz di Tomorrow Land), tetapi saya lebih memilih menggunakan waktu yang saya miliki untuk mengantri berbagai wahana (nggak mau rugi, udah bayar mahal-mahal hehe)

Petualangan Winnie the Pooh. Kurang lebih mirip dengan Istana Boneka di Dunia Fantasi. Kita diajak menaiki kendaraan menyerupai honey pot untuk menelusuri apa yang dilakukan oleh Winnie the Pooh (Disini kita bisa menemui Owl, Tigger, Eeyore, dan tentunya lil Piglet)

Cinderella Carousell

Sword of Escalibur milik King Arthur. Sebenarnya ini bukan permainan. Tugu ini hanyalah pajangan bagi yang berminat foto-foto

Golden Disney Show, Satu lagi aksi teater musikal yang mempertunjukan tarian dan nyanyian dari berbagai karakter Disney

The Host

Tale as old as time, song as old as rhyme…

Lilo and Stitch

Puncak Pertunjukan Golden Mickey

You will never be able not to love them…

Selama seharian bermain di theme park ini, kita jangan khawatir kehausan. Di dekat toilet setiap wahana selalu disediakan keran air minum dimana kita bisa langsung minum di tempat atau mengisi botol-botol minum kita. Tapi meski letaknya di dekat toilet, airnya steril dan higienis loh. Mungkin keran air minum ini sengaja diletakkan disana untuk mempermudah pencarian.

Tetapi untuk soal kelaparan, kita tetap harus mengeluarkan sejumlah uang yang cukup menguras dompet. Ya, normalnya theme park, pastinya makanan-makanan, baik snack maupun makanan berat akan dijual dengan harga berapa kali lipat. Idealnya kita memang tidak diperbolehkan untuk membawa makanan dan minuman dari luar. Saya pun akhirnya tetap harus membeli makan siang di sebuah foodcourt karena semuanya saat itu sedang kelaparan. Kalo nggak salah nasi campur harganya 50 ribu (Untuk mensiasati, kami membeli dua nasi campur dan dua piring nasi putih. Alhasil, kami berempat kenyang dengan semangat, haha)

Keasyikan main, kami nggak sadar kalo hari semakin gelap. Beberapa permainan pun mulai sepi dari antrian. Kebanyakan dari pengunjung sudah mulai duduk-duduk berkumpul di depan Sleeping Beauty Castle, menantikan puncak dari pertunjukan yang akan dimulai sekitar setengah delapan malam, Fire Works Show.

Sekarang sudah pukul tujuh dan saya pun memberitahukan keluarga bahwa sebentar lagi ada pertunjukan kembang api di depan istana. Memimpin yang lainnya, saya berjalan di depan menerobos kerumunan yang sama-sama hendak menuju kastil putri tidur. Rupanya disana sudah sekitar ratusan orang-orang yang duduk di tengah-tengah lapangan yang menghadap langsung ke istana. Beberapa yang lainnya berdiri di kanan-kiri seraya bersabar menanti dimulainya fireworks show.

Dan tibalah pukul setengah delapan. Terdengar prolog dari speaker-speaker yang memberitahukan sebentar lagi acara akan dimulai. Para penonton yang semakin ramai jumlahnya itu bersiap-siap dengan kamera dan cam cordernya. Beberapa–termasuk saya dan keluarga–berusaha menerobos kerumunan yang berdiri di depan kami agar kami mendapatkan spot menonton yang lebih dekat.

Tak lama, teerdengar mengalun lembut lagu khas opening Disney, “When You Wish Upon a Star”, diikuti sebuah pijaran kembang api yang melayang membentuk busur di atas istana (tentunya kita tau, scene ini adalah scene yang biasa kita lihat setiap kali film Disney dimulai). Dan kemudian, mengikuti alunan lagu-lagu soundtrack seperti A Whole New World hingga Can You Feel the Love Tonight, beberapa kembang api seolah menari, meluncur, tembak-menembak kesana sini.

Selama kurang lebih 15 menit nafas kami terhenti sejenak. And I do really feel the love tonight.. simfoni orkestra Disney dan langit malam yang dipenuhi oleh ledakan-ledakan cantik kembang api membuat nafas kami terhenti sejenak kurang lebih 15 menit.

Sleeping Beauty Castle menjelang fireworks show

And the party begins

Can you paint with all the color of the wind?

Dengan berakhirnya pertunjukan kembang api yang spektakuler tersebut, berakhir pula edisi perjalanan flashback ke masa kecil ini. Saya, keluarga, dan ratusan pengunjung lainnya pulang dengan wajah ceria dan puas setelah seharian memanjakan sisi kekanak-kanakan kami. Lumayan lelah memang, seharian mengitari theme park dan mengantri berlama-lama untuk sebuah wahana. Tetapi kalau dilihat dari sisa energi yang ditunjukan para pengunjung pada saat menceritakan kembali kepada keluarganya tentang pengalamannya saat bermain tadi, saya rasa buat mereka–dan juga saya tentunya–rasa capek mereka cukup terbayarkan disana.

Kami semua kembali ke stasiun MTR, siap memasuki MTR yang sudah siap menanti untuk membawa kami pulang.

This entry was posted in: East Asia, Hongkong

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s