Chipsy talks
Comments 5

Strangers + Traveling = New Family ? (part 1)

One interesting point yang biasanya sering dialami oleh seorang traveler adalah meeting strangers. Kita nggak akan pernah tau siapa yang akan kita temui dan apa yang dapat saling kita bagikan kepada teman baru tersebut. Pada tulisan kali ini, sejenak saya break dulu dari menulis tentang perjalanan Hongkong-Shenzhen-Macau (sekedar intermezzo singkat). Secara khusus, saya akan membahas pengalaman saya bertemu dengan teman-teman baru di sepanjang perjalanan saya di beberapa tempat dan apa saja yang dapat saya pelajari dari setiap pertemuan tersebut.

Jesu dan pacarnya yang saya temui secara nggak sengaja dua kali, di pulau Komodo, dan di Bandara Komodo

1.Surprise!

Tulisan pertama kita awali dengan pertemuan saya dengan Ritza di Starbucks terminal 3 Soekarno-Hatta maret lalu. Saat itu menunggu pesawat tujuan Denpasar departs, saya memutuskan untuk santai sejenak sambil numpang ngecas pc tablet saya disana. Sayangnya saat itu semua bangku yang memiliki colokan sudah di-occupied orang-orang. Yang tersisa hanyalah kursi-kursi di tengah ruangan. Dengan nekad saya mendekati seorang wanita yang sedang serius membaca novel Supernova Petir. Pikir saya, toh ia tidak akan terganggu oleh kehadiran saya dan bakalan terus asik membaca.

Sesuai dugaan, gadis itu mempersilakan saya untuk berbagi meja dengannya. Saya pun meletakkan pesanan saya di atas meja dan mulai sibuk men-charge tablet saya. Basa-basi berikutnya saya lontarkan kembali dengan membahas novel yang ada di tangannya. Sampai akhirnya obrolan ngalor-ngidul dan saya mengetahui bahwa ternyata tujuan penerbangannya adalah Lombok, tempat dimana ia tinggal (Harusnya ia berada di Terminal 1 sekarang. Berhubung Starbucks cuma ada di Terminal 3, maka ia tahan pindah kesini sambil menunggu penerbangannya).

This surprises me karena sebenarnya tujuan utama liburan saya kali ini memang ke Lombok (via Bali dengan jalan darat, supaya lebih murah). Otomatis pembicaraan kian mengalir. Saya langsung antusias menanyakan ini itu mengenai spot wisata di lombok beserta aksesnya. Ritza pun tidak kalah semangat menjelaskan.Kami mengobrol tanpa canggung lagi sampai akhirnya kami bertukar kontak pribadi karena harus berpisah mengejar jadwal penerbangan masing-masing yang semakin dekat.

Kebetulan saya nggak punya foto berdua sama Ritza, jadi saya ambil foto di samping ini dari pp dia (numpang majang poto ya mba Ritz, hehe)

Well, sering kita bertemu orang baru, entah itu di bandara, di penginapan, maupun di tempat-tempat yang tidak diduga, merasakan kegembiraan meluap begitu mengetahui ternyata kita memiliki satu destinasi yang sama. Jadi jangan sungkan untuk bertegur sapa dengan mereka, karena kita nggak akan pernah tahu kalo ternyata mereka akan menjadi travel partner kita.

2.Sincerity

Selama tinggal di Labuan Bajo, saya sempat berkenalan dengan dua pria yang bekerja sebagai freelance guide. Yang pertama Kamel (baju putih), tour guide saya selama perjalanan ke pulau Komodo. Dan yang kedua bernama Carli (baju kuning), yang saya kenal pada saat diundang makan malam di rumah seorang organisator tur di Labuan Bajo bernama pak Don.

Pada malam itu, sekitar beberapa jam setelah saya sampai di Labuan Bajo dan menyelesaikan tur Komodo saya, Carli dan pak Don mendatangi hotel saya. Pak Don bermaksud mengucapkan terima kasih dengan mengajak saya makan malam di rumahnya karena telah mempercayai beliau untuk mengatur perjalanan saya selama disini. Tentu saja saya merasa tersanjung dan tidak melewatkan tawaran tersebut. Sedari pertama kali sampai di Labuan Bajo memang saya ingin sekali merasakan suasana saat berada di tengah-tengah masyarakat lokalnya. Pak Don memberitahukan saya bahwa sebentar lagi Kamel akan datang dan saya bisa menumpang motornya  untuk berangkat sama-sama ke rumah pak Don.

Setelah Kamel datang, kami bersama-sama berangkat. Sepanjang jalan saya kembali menikmati suasana malam di Labuan Bajo sambil sesekali mengobrol dengan Kamel yang sedang menyetir. Saya dan Kamel lumayan menjadi akrab setelah dua hari terombang-ambing bersama di Kapal ke pulau Komodo. Dan dari Kamel lah saya banyak belajar berbagai hal tentang budaya Flores dari barat sampai ke timur.

Beberapa menit kemudian kami sampai di rumah pak Don. Rumah pak Don memang sederhana, tapi saya sangat merasakan kehangatan terpancar dari rumah itu. Keharmonisan keluarganya dan kepolosan anak-anaknya ketika menyapa saya merupakan  sambutan yang begitu tulus buat saya. Kami duduk mengobrol, makan malam bersama, dan menutup malam dengan tuak Flores yang cukup membuat kepala saya berat. Dan buat saya, justru hal-hal seperti inilah yang sering hilang dan tidak dijumpai di kota-kota besar seperti Jakarta. Saya sangat bersyukur karena diberikan kesempatan yang sangat indah untuk menikmati kebersamaan tersebut.

3. Cerita Menarik

Dalam liburan saya di Phuket bulan Juni tahun 2010 lalu, saya bertemu dengan pasangan muda asal Afrika Selatan yang saya lupa namanya. Kami berbincang-bincang seru selama perjalanan menuju James Bond island. Dari mereka, saya memperoleh sebuah cerita yang cukup menarik.

Kita tentu ingat pada saat itu di Afrika Selatan sedang diadakan perhelatan akbar ala WAKA-WAKA E-E alias World Cup. Hal ini membuat saya bertanya kepada mereka.

“It’s World Cup moment in your country. And you two are here, in Phuket, now??” Saya memasang wajah tidak percaya. “When many people spend their money to go there??”

Mereka berdua hanya tertawa dan menjawab enteng, “We will just watch the final”.

Menurut pengakuan mereka, mereka tidak terlalu menyukai atmosfir Piala Dunia yang terlalu hingar-bingar. Rumah mereka yang hanya beberapa blok dari stadion, dan sepanjang hari mereka harus mendengarkan teriakan yell-yell, terompet, sirene, petasan dan segala bunyi-bunyian yang tak henti-henti. Jalan-jalan juga sangat padat, penuh dengan bus-bus dan penggemar bola dari seluruh penjuru dunia. Untuk itulah selama Piala Dunia berlangsung, mereka memilih untuk escape ke tempat lain yang–menurut mereka–lebih tenang.

Namun tetap saja, saya masih nggak habis pikir. Hey, it’s World Cup!

Dan seolah mereka santai nggak perduli, So what’s with World Cup? haha

4. Passion

Hal ini saya pelajari dari Marius dan Natalie, pasangan dari Jerman. Saya bertemu dengan mereka saat sedang asyik nongkrong di Circle K Kuta. Bermula dari tawaran asbak kepada Natalie yang baru saja menghidupkan sebatang rokok, pembicaraan kami dimulai dari topik darimana mau kemana. Natalie dan Marius menjelaskan semuanya pada saya. Bahwa mereka baru saja tiba dari Surabaya–setelah tur Jakarta-Jogja-Solonya, bahwa mereka akan tinggal selama dua minggu di Bali.

Dan bahwa mereka sangat nggak sabaran–terutama Marius untuk belajar surfing di Bali.

Menurut Marius, Ia pernah membaca, Bali adalah salah satu destinasi terbaik untuk belajar surfing. Ini akan menjadi kali yang pertama bagi mereka berdiri diatas papan selancar dan bermain-main dengan gulungan ombak. Marius banyak bertanya kepada saya, dimana saja spot-spot bagus untuk surfing.

Saya terdiam sejenak dan berpikir keras (lha wong saya bukan surfer, mana saya tau dimana spot-spot terbaik untuk berselancar di Bali). Namun saya mencoba untuk menjawab dengan pengetahuan saya yang minim. Saya beritahukan pada mereka bahwa saya sempat melihat beberapa orang berselancar di pantai Padang-Padang (disana ombaknya memang besar-besar). Dan Echo beach, salah satu pantai terkenal di dunia (seenggaknya itu yang saya baca dari papan petunjuk jalan, “Echo Beach, World Famous Beach”) itu juga menjadi salah satu sasaran nongkrong para surfer.  Dan satu lagi, kata saya, pantai Kuta yang ada di depan kita ini, banyak loh coach yang menawarkan diri mengajarkan selancar dari nol dengan harga yang terjangkau (asal bisa nawar).

Usai mendengarkan pemaparan saya yang apa adanya itu, Marius bergegas membujuk Natalie agar segera meluncur ke Kuta dan mencari coach-coach yang saya maksud tadi. Natalie yang awalnya ragu dengan kegiatan baru ini, mau tak maupun menuruti permintaan kekasihnya.

5. Take and Give

Saya berkenalan dengan Ouissam, orang Perancis yang bekerja di Hongkong, melalui sebuah situs jejaring sosial antar traveler. Ia mengirimkan pesan pada saya bahwa ia akan berkunjung ke Jakarta bersama teman-temannya. Kurang lebih setelah dua bulan kami berkorespondensi lewat email, akhirnya kami bertemu di jalan Jaksa (lokasi favorit para backpacker). Ia memperkenalkan tiga teman lainnya, yakni Joanne berkebangsaan Inggris, Lan-Lan dan Austin dari Taiwan.

Berhubung Ouissam dan yang lain hanya tinggal satu hari di Jakarta (besok pagi mereka langsung berangkat ke Jogjakarta naik kereta dari Gambir), saya dan teman saya berinisiatif mengajak mereka ke ikon kota Jakarta (Monas), dilanjutkan ke Masjid Agung dan Kathedral yang saling berseberangan, dan berakhir nongkrong di sebuah kafe di Sarinah.

Pertemuan kami tidak berakhir pada malam itu, meski Oussam dan yang lain akan meninggalkan Jakarta. Saya bertemu mereka kembali tiga bulan kemudian di Hongkong. Dan seolah membalas hal kecil yang saya lakukan di Jakarta, di Hongkong ia mengajak saya makan malam bersama teman-temannya. Tak hanya itu, ia masih saja menraktir minum ketika kami sedang nongkrong di sebuah pub di daerah Lan Kwai Fong. Dia benar-benar memperlakukan saya seperti sahabat yang sudah lama bertemu.

6. Apresiasi

Renaud adalah remaja berkebangsaan Kanada yang tinggal di Quebec City dan sedang mengambil summer course di Singapura. Saya diperkenalkan kepadanya oleh Ouissam yang lebih dulu bertemu dengannya di jalan Jaksa. Bebeda dengan Ouissam yang akan berangkat pagi ke Jogjakarta, Renaud akan menyusul yang lainnya pada malam hari karena terlebih dahulu ia ingin berkunjung ke Kota Tua pagi harinya. Kebetulan besok hari Minggu, saya pun menawarkan diri untuk menemaninya berkeliling Kota Tua dan sekitarnya. Renaud dengan senang hati menerima tawaran saya dan mengatur temu janji untuk esok hari.

Pada hari Minggunya, saya sudah stand-by satu jam sebelumnya untuk sarapan di kafe tempat kami janjian. Renaud tak lama muncul dan mengajak saya ke penginapannya sebentar untuk packing (sekalian cek out).

Usai beres-beres, Renaud menitipkan tasnya di resepsionis dan kami siap untuk berpetualangan. Agar suasana city tour lebih terasa earthy, saya mengajak Renaud untuk menggunakan busway TransJakarta. Walaupun saat itu di dalam bus sangat sarat penumpang, Renaud masih bisa bercanda dengan saya tanpa menghiraukan betapa gerah dan sumpeknya busway pada saat itu.

Kami tiba di perhentian terakhir di stasiun Kota. Darisini kami akan berpanas-panasan keliling Kota Tua, Musium Fatahillah, Jembatan Kota Intan, Menara Syah Bandar hingga pelabuhan Sunda Kelapa (tentunya untuk menghemat waktu, kami naik bajai dari Jembatan Kota Intan ke Menara Syah Bandar). Sejenak kami beristirahat sambil makan siang di rumah makan Padang di Sunda Kelapa dan saya bisa melihat betapa tertariknya Renaud sama Rendang dan Perkedel, haha.

Meski seharian kami lalui hampir 70% nya dengan berjalan kaki, Renaud sama sekali tidak pernah mengeluh capek, panas, sumpek, amis, kotor, atau apa saja (Setelah dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kami masih lanjut ke Kafe Batavia untuk ngopi sebentar, ke Gereja Sion untuk foto-foto, dan ke Grand Indonesia untuk ngadem), Ia senantiasa menikmati setiap atmosfir yang berubah-ubah seiring dengan pergantian tempat

Masih banyak lagi teman-teman yang saya jumpai. Hans dan pacarnya yang saya temui di Jogjakarta selalu siap menampung saya kalau saya berlibur ke Brussel (haha, kapan ya?), Pasangan dari Madrid, Jesu dan Pacarnya yang menceritakan perjalanan darat super melelahkan namun menyenangkan dari Bali sampai Labuan Bajo, atau pula Chandar dari Belanda yang sedang mampir di rumah makan saya dan sedikit menyadarkan saya dengan kisah perjalanannya (bahwa usia nggak menghalangi kemampuan seseorang untuk keliling dunia). Kisah bersama mereka yang sangat singkat akan selalu menjadi bagian lembaran berkesan dalam catatan hidup saya. Saya masih berhubungan dengan beberapa dari mereka dan berjanji akan saling mengunjungi bila ada kesempatan.

Bagaimana dengan kamu? Apa pengalamanmu bersama teman-teman barumu?

This entry was posted in: Chipsy talks

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

5 Comments

  1. Pingback: Strangers + Traveling = Keluarga Baru? « Saya Minggat Dulu

  2. Pingback: Strangers + Traveling = Keluarga Baru? (Part 2) « Saya Minggat Dulu

  3. Pingback: Backpacker Kere?? | Saya Minggat Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s