East Asia, Macau
Leave a Comment

Bem Venido a Macau (Hongkong-Shenzhen-Macau part 7–End)

Setelah serangkaian tur yang bermula dari Hongkong dan berlanjut ke Shenzhen, saya dan keluarga mengakhiri tur kami di Macau, sebuah negara yang terkenal sebagai Las Vegas of the East itu. Dari Shenzhen, pagi-pagi sekitar pukul 8 kami sudah berangkat menggunakan Metro ke stasiun She Kou. Dan dari She Kou lah, kami naik public Ferry ke Tai Pa (pelabuhan sementara yang ada di Macau).

Seperti biasa, setelah membeli tiket Ferry sesampainya di pelabuhan, kami harus mengantri untuk keluar dari imigrasi Shenzhen dan minta stempel permit to remain di imigrasi Macau. Kami harus bergerak cepat karena kapal kami akan berangkat sekitar setengah jam lagi.

Ada cerita menarik saat saya sedang mengurus keimigrasian di pelabuhan ini. Saat giliran saya untuk pengecekan travel dokumen di loket imigrasi, saya tertahan hampir sekitar 15 menitan karena foto di paspor yang saya buat 5 tahun lalu jauh berbeda dengan penampakan saya sekarang.

Beberapa kali petugas imigrasi berusaha mencocokan secara detail seluruh organ di wajah saya dengan yang ada di foto. Sampai-sampai, ia memanggil sekuriti untuk memastikan apakah yang ada di paspor itu benar-benar saya atau bukan. Petugas pun menyuruh saya untuk memasang senyum yang sama seperti foto yang ada di paspor (adoooh, ada-ada saja) Stres, saya langsung mengeluarkan segala identitas yang ada di dompet saya, dari KTP, SIM, sampai kartu mahasiswa untuk meyakinkan mereka. Saya tanya ke mereka, “Gimana, mirip, kan? ini benar-benar saya!” (dalam bahasa Mandarin saya yang lagi-lagi super terbatas).

Petugas hanya menggeleng-geleng manyun.

Akhirnya petugas meminta saya untuk menanda tangani sebuah kertas kosong untuk mencocokkan tanda tangan yang ada di paspor. Dan untuk kesekian kalinya, ia memelototi lagi foto paspor saya dan muka saya secara bergantian sampai akhirnya ia memperbolehkan saya untuk lewat. Saya bernapas lega dan buru-buru lari menyusul keluarga saya yang sudah menunggu di luar dengan cemas. Astaga, benar-benar pengalaman gila. Mungkin bisa menjadi pelajaran bagi pembaca agar tidak terlalu merubah penampilan wajah secara ekstrim dari yang ada di foto paspor, kalau nggak ingin terkena masalah seperti saya.

Sambil berjalan masuk ke kapal, kakak saya sempat panik dan marah-marah. “Kamu sih pake potong rambut sampe botak segala”. Lha, siapa juga yang tau kalo petugas imigrasi bakal seteliti itu?

Ok, singkat cerita, setelah sekitar satu setengah jam terombang-ambing di kapal, kami sampai di pelabuhan Tai Pa, Macau. Ketika kami keluar dari pelabuhan, kami sudah melihat banyak sekali shuttle bus berbagai hotel sudah terparkir. Dengan pede kami menaiki salah satu shuttle bus tersebut (saat itu kami naik shuttle bus hotel Venetian yang terkenal itu). Kami menuju hotel Venetian tanpa dipungut biaya oleh bus tersebut. Shuttle bus hotel-hotel di Macau memang biasanya disediakan bagi para penumpang untuk mengantarkan mereka ke hotel dengan gratis. Oleh karena itu, kami hanya perlu membayar ongkos taksi yang relatif tidak terlalu mahal dari hotel Venetian ke hotel kami yang tidak jauh dari sana (jauh juga sih kalo jalan kaki).

Sesampainya di hotel kami, kami cek in sebentar (disini bahasa Inggris saya kepake lagi, hehe), menaruh barang-barang kami di kamar, dan keluar untuk makan siang sebelum jalan-jalan lagi. Kami hanya memiliki sisa waktu sampai nanti malam, mengingat kami hanya akan tinggal sehari di Macau. Besok kami sudah harus kembali ke Hongkong (Kami terlanjur beli tiket PP Kuala Lumpur-Hongkong-Kuala Lumpur dan terpaksa pulang ke Indonesia via HK lagi karena sebelumnya nggak ada agenda ke Shenzhen dan Macau).

Macau adalah bekas koloni Portugis. Peninggalan masa kolonialisme tersebut pun masih dapat kita lihat dari digunakannya bahasa Portugis untuk penyebutan kata jalan (misalnya Rua de Cunha, atau jalan Cunha), arsitektur bergaya eropa, dan tentunya penggunaan bahasanya yang masih diberlakukan hingga sekarang oleh beberapa kalangan.

Usai makan siang, kami mencari bus station untuk naik bus ke Senado Square. Disini memang nggak seperti HK atau Shenzhen yang memiliki subway, tetapi public busnya pun nggak kalah nyaman dan akurat. Cukup mencari tau nomor bus yang akan kita tuju dan stasiun tempat biasanya ia berhenti (setiap bus memiliki rute masing-masing dan nggak berhenti di sembarang stasiun. Lagi-lagi, membawa peta adalah hal yang sangat disarankan disini).

Setelah melewati jembatan dan beberapa kasino megah, sampailah kami di Senado Square. Senado Square sendiri adalah awalnya adalah sebuah kawasan gedung senat yang dibangun dengan konsep arsitektur dan tata kota bergaya Portugis (kita bisa lihat di beberapa spot, terdapat gang-gang kecil seperti di Eropa). Tempat ini merupakan salah satu ikon pariwisata favorit di Macau. Saya bisa melihat kerumunan orang menyebar disana sini, mengambil beberapa gambar sekaligus menikmati suguhan bangunan-bangunan berwarna-warni yang menaungi lapangan tersebut (mungkin bisa dikatakan, ini seperti Kota Tua di Jakarta).

Beranjak dari sini, kami mengikuti arah petunjuk peta untuk membawa kami ke reruntuhan St. Paul. Jarak tempuhnya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Dan yang menariknya dari sepanjang jalan menuju St. Paul, kami melewati beberapa butik terkenal seperti Gucci dan Bossini. Tak hanya itu, toko-toko souvenir dan oleh-oleh snack seperti kue kering juga menghampar menjamur disana. The best part yang paling saya sukai adalah, kita bisa mencicipi sample snack yang dijajakan di luar toko oleh beberapashop keeper-nya. Coba bayangkan, kalo kita mampiri tiap toko, dan toko yang ada disitu jumlahnya lebih dari 10, kan lumayan menghemat uang makan malam? haha…

View dari atas Ruin of St. Paul

St. Paul kini ada di depan mata saya. Bangunan yang hanya menyisakan bagian depan gereja tersebut–setelah terbakar hebat pada tahun 1835–tampak masih terlihat kokoh dan megah. Memasuki lebih dalam, kami menemukan tangga yang membawa kami turun ke bawah melihat beberapa ruangan gereja yang masih ada. Suara lantunan khas gereja pun menggema syahdu di dalam saat kami memperhatikan mimbar yang pernah dipakai saat ibadah dulu, ruangan penyimpanan pusaka-pusaka gereja, dan tulang-belulang para biarawan yang dibaringkan di dalam lubang tembok berkaca.

Sebenarnya di samping reruntuhan St. Paul terdapat sebuah museum bernama Monte Fort, namun karena hari sudah menunjukan pukul 5 sore, museum sudah ditutup. Maka, puas berfoto-foto, kami kembali ke Senado Square untuk melanjutkan agenda terakhir kami, Venetian Hotel. Namun sebelum mencari bus untuk menuju Venetian Hotel di Tai Pa, kami sempatkan diri untuk membeli oleh-oleh jajanan khas Macau. Salah satunya adalah Egg Tart.

Keliatan nggak Egg Tartnya?

Egg Tart adalah makanan khas Portugis yang juga masih ada sampai sekarang di Macau. Dengan pinggirannya yang renyah dan garing, namun lembut, sedikit juicy dan aroma harum khas telur dan vanila di tengahnya membuat kami ketagihan untuk membeli agak banyak (untuk dimakan di hotel nanti). Kalo kata senior traveler lainnya dalam blog mereka, namanya belum ke Macau kalo belum mencoba kue khas negara tersebut.

Yap, Kami sudah berada dalam bus lagi, kembali ke distrik Tai Pa untuk mengunjungi Venetian Hotel. Kalo mengutip lirik lagu ciptaan teh Melly Goeslaw, Venetian Hotel ini “bukan hotel biasa”. Hotel yang tampilan depannya saja sudah super mewah dan megah ini merangkap mal dan salah satu kasino terbesar di Macau. Oleh karena itu, saya hendak mencoba mencari tahu, seberapa spektanya tempat tersebut.

Lobi Venetian Hotel

Suasana di dalam Mal. Di belakang saya terdapat sungai buatan tempat gondola biasa lewat (mirip di Genting Highland)

Selesai berputar-putar di Venetian Hotel, kami membeli makan malam sebentar di food hall untuk kami makan di hotel nanti (Seperti biasa, dua menu nasi campur, dan dua porsi nasi putih. Harganya MAHALLL banget soalnya, sekitar 60 ribu persatu porsi makanannya, hehe). Seluruh anggota keluarga saya sudah sangat kelelahan (mungkin karena capek yang terakumulasi sejak dari Hongkong), dan malam semakin larut. Kami pun menyetop taksi di depan lobi untuk kembali ke Hotel.

Well, teman-teman, dengan berakhirnya agenda kami malam itu di Venetian Hotel, berakhir juga seluruh rangkaian tur HK-Shenzhen-Macau yang kami lakukan beberapa hari ini (jadi dejavu… kayak penutup siaran berita TV ya? hehe). Meski esoknya kami kembali ke HK, kami hanya berkunjung sebentar ke apartemen sodara kami di Tai Po Plasa untuk berpamitan. Buat saya, tur ke tiga negara, ini seperti halnya tur-tur ke tempat lainnya, mengajarkan saya akan satu hal. Kita mungkin sudah terlalu sering mendengar peribahasa “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Hal ini berlaku bagi siapa saja yang tengah berpergian ke negeri orang. Saya harus mematuhi segala peraturan ekstra disiplin yang diberlakukan di Hongkong, saya juga harus memaklumi beberapa orang yang tidak terlalu fasih berbahasa Inggris di Shenzhen, dan saya harus sedikit behave untuk tidak mencicipi semua sample makanan yang ditawarkan setiap toko di sepanjang jalan menuju reruntuhan St. Paul (hehe).

Thanks buat teman-teman yang udah setia membaca full notes sedari awal perjalanan saya di Hongkong. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja yang mungkin akan melakukan trip serupa.

_____________________________________________________________________________________________

Review Penginapan:

Saya dan keluarga menginap di Best Western Hotel. Menurut saya, untuk liburan keluarga, hotel ini adalah salah satu hotel yang tepat untuk dipilih. Selain lokasinya yang tepat berada di pusat keramaian distrik Tai Pa (dikelilingi oleh toko-toko, rumah makan dan dekat dengan stasiun bus), kenyamanan menjadi alasan utama saya menginap disini.

Dari yang saya baca dari beberapa travel blog dan dari trip advisor, banyak traveler yang juga merekomendasikan tempat ini. Walaupun saat itu family room kami reserve dengan harga sekitar IDR 800 ribu (termasuk lumayan murah loh, mengingat hotel-hotel lain yang ada disini kebanyakan super mewah dan mahal), pelayanan yang kami dapatkan sangat memuaskan. Dengan kamar yang sangat besar, 2 kasur plus ekstra bed yang (di luar dugaan saya) juga berukuran king size, air cond dan berbagai fasilitas penunjang lainnya, plus wifi gratis di sekitar lobi hotel, membuat kami merasa betah di hotel (jangan betah-betah juga kali ya, nanti saking betahnya malah nggak kemana-mana, hehe). Selain itu, hotel ini juga menyediakan jasa pick up service dari dan menuju airport dengan gratis (sayangnya waktu kami tiba di Macau, shuttle bus hotel ini sedang nggak ada di parkiran. Jadi kami terpaksa menggunakan shuttle bus hotel lain)

Alamat: Estrada Governador Nobre Carvalho No.822, Taipa, Macau SAR-China

This entry was posted in: East Asia, Macau

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s