East Asia, Shenzhen
Leave a Comment

On My Way to Shenzhen (Hongkong-Shenzhen-Macau part 5)

Baiklah, perjalanan kita lanjutkan kembali. Setelah 4 hari saya dan keluarga mengeksplor Hongkong, sekarang kami sudah berada di atas MTR menuju negara selanjutnya, Shenzhen. Kalo dari tempat kami tinggal, Tsim Sha Tsui (TST), akses ke Shenzhen nggak terlalu susah. Kami cukup naik MTR, transit di stasiun East TST untuk berganti jalur menuju ke stasiun Lo Wu (perbatasan Hongkong-Shenzhen).

Untuk memasuki Shenzhen, kita harus memiliki visa China yang dapat kita apply baik di Kedutaan Besar PRC (People Republic of China) ataupun langsung go show apply di Imigrasi Shenzhen (tapi menurut yang saya baca, selain lebih mahal, permohonan aplikasi visa di tempat langsung biasanya lumayan memakan waktu). Saya sendiri mengurus visa China di Kedutaan, dengan bantuan teman saya yang bekerja di bagian dokumen sebuah travel agent besar di Jakarta.

Permohonan visanya sendiri nggak terlalu sulit (waktu itu sih, nggak tau kalo sekarang. Gosip-gosipnya pusat aplikasi visa China  akan menerapkan sistem yang lebih ketat dari biasanya). Saya hanya perlu mengisi formulir aplikasi, menyediakan satu lembar foto 4×6 latar belakang putih, dan visa fee sebesar 350 ribu IDR pada teman saya (normalnya kalo kita apply sendiri tanpa  bantuan pihak ketiga, kita hanya perlu membayar 300 ribu IDR. Tapi ya harus sabar-sabar nunggu antrian). Untuk prosedur lebih lanjut, apabila teman-teman ingin mengurus visanya sendiri langsung ke kedutaan, teman-teman bisa klik langsung di  http://id.china-embassy.org/indo/lsqw/qz/t341100.htm

Perjalanan dengan MTR ke Lo Wu hanya memakan waktu kurang lebih 45 menit. Tiba di stasiun, kami berjalan bersama penumpang lainnya ke bagian Imigrasi Hongkong dan imigrasi Shenzhen yang dipisahkan oleh sebuah jembatan. Dengan tidak ditemuinya kendala bagi kami pada saat pengecekan di kedua imigrasi, kami pun melenggang dengan santai ke stasiun Luo Hu (mohon diperhatikan, walaupun terdapat kemiripan nama, Lo Wu dan Luo Hu adalah dua stasiun yang berbeda. Apabila Lo Wu adalah stasiun yang terletak sebelum memasuki imigrasi Hongkong, Luo Hu adalah stasiun yang akan kita jumpai begitu keluar dari imigrasi Shenzhen).

Keluar dari stasiun Luo Hu. kami mencari penginapan kami yang katanya hanya beberapa meter jaraknya darisana. Dan benar, kami bisa melihat papan namanya dari luar stasiun. Sedikit berjalan dan sedikit menyebrang, kami tiba di penginapan kami. Saya pun menghampiri resepsionis untuk cek in.

Berhubung saya hanya sedikit sekali bisa berbahasa Mandarin, maka saya memilih untuk menggunakan bahasa Inggris. Ketika saya berhadapan dengan seorang resepsionis pria dan menjelaskan padanya kalo saya ingin cek in, ia berbisik pada teman di sebelahnya dalam bahasa Mandarin, “Dia ngomong apa?”

Saya spontan menepuk jidat.

Saya bertanya pada resepsionis perempuan yang di sebelah pria tadi dengan kemampuan bahasa Mandarin saya yang terbatas, “Ni hui jiang Ing wen, ma?”–bisa bahasa Inggris, nggak?

Gadis itu menggeleng dengan wajah dingin.

Mampus deh resepsionis hotel ga bisa bahasa Inggris.

Lalu saya menyeret kakak saya agar bicara dengan kedua resepsionis itu, karena cuma dia yang fasih berbahasa Mandarin. Setelah dialog non sub-title yang makin panjang dan saya makin nggak ngerti itu, akhirnya kakak saya diserahi sebuah kunci kamar. Kami diantar oleh roomboy ke kamar kami yang letaknya di lantai 11.

Sensasi membuka pintu kamar di Shenzhen sangat jauh berbeda dengan membuka pintu kamar di Hongkong. Dengan harga yang sama (sekitar 400 ribu IDR kalo dikonversikan), kami mendapatkan sebuah kamar yang luasnya berkali-kali lipat luas kamar di Hongkong. Jika di Hongkong, kami harus berdesak-desakan dalam satu ruangan, di Shenzhen, saya sampai bisa koprol dan kayang (literally koprol dan kayang loh). Kamar mandinya aja bisa untuk konser tunggal.

Beberapa dari kami beristirahat, sedangkan saya dan kakak saya memilih untuk keluar dari hotel, keliling-keliling di sekitar, dan mampir ke mal yang berada di atas stasiun Luo Hu tadi (kami nggak mau langsung jalan-jalan ke mall dengan travel bag di tangan-tangan kami). Lokasi penginapan kami sangat strategis, karena begitu keluar dari sana, kami langsung menjumpai keramaian toko-toko yang menjual berbagai macam makanan. Mulai dari mini mart yang berjajar, kedai mie langganan kami, sampai dengan rumah makan Seafood. Sayang sekali waktu itu kamera saya lupa dicharger malamnya (gara-gara kecapekan dari Disneyland), jadi saya nggak bisa merekam suasana sekitar penginapan.

Puas berjalan-jalan, saya dan kakak saya kembali ke penginapan untuk mengajak yang lainnya turun ke bawah dan makan di kedai mie di samping. Teman-teman harus mencoba pangsit udangnya, enak banget!! dan jangan lupa dimsumnya, lembut dan wangi. Kalo untuk rasa mie nya, mungkin teman-teman agak sedikit kecewa karena rasanya seperti makanan chinese food di singapura, semi-semi tawar-asin nanggung yang harus dilumuri lagi dengan ekstra kecap).

Hari ini kami akhiri dengan tidur super nyenyak. Kalo biasanya di HK, koreografi tidur kami sangat terbatas oleh ruang dan ukuran kasur, disini kami bisa bebas mengekspresikan diri kami di atas kasur king size. Kami pun terlelap, menyiapkan tenaga untuk esok hari ke Splendid China dan China Folk Village.

______________________________________________________________________________________________

Review Penginapan:

Saya menginap di Prince Inn Hotel, letaknya bersebelahan dengan Shangrila Hotel. Seperti informasi di atas, sangat mudah untuk menemukan hotel ini. Papan reklamenya saja sudah kelihatan dari kejauhan Stasiun Luo Hu.

Selain murah, hotel ini sangat strategis (saya juga sudah jelaskan sebelumnya). Kamar hotelnya lumayan nyaman dan luas.  Namun mohon diperhatikan, di luar hotel banyak sekali orang-orang (seperti sales) yang menawarkan kamar hotel. Sama seperti di Tsim Sha Tsui, gunakan jurus wajah datar disertai dengan “talk to my hand” mode on untuk meninggalkan sales-sales tersebut. Lebih baik bila pembaca berniat menginap disini tapi belum sempat booking dari Indonesia, langsung aja masuk dan reservasi di hotelnya.

Gambar diunduh dari http://www.chinatraveldepot.com/H297837-Prince-Inn-%28Shenzhen%29-Shenzhen

This entry was posted in: East Asia, Shenzhen

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s