Phuket
Comment 1

Sa Wa Dee Khrup, Phuket! (Phuket part 1)

Phuket adalah salah satu destinasi ketiga yang saya tuju dalam rangka go internasional (Agnes Monica mode on) setelah Singapura dan Malaysia. Juni 2010 lalu Saya dan keluarga tiba di bandara internasional Phuket sekitar pukul 3 siang. Langsung saja kami menghire taksi menuju Patong, daerah dimana kami akan tinggal. Bagi teman-teman yang berpergian bersama keluarga sekitar 4-5 orang memang lebih baik menghire taksi (kalo saya hitung-hitung, ongkosnya kurang lebih sama dengan naik mini shuttle bus. Selain lebih nyaman, kita bisa langsung berangkat tanpa harus menunggu penuh seperti halnya bila menggunakan bus). Namun apabila ingin mencoba sedikit berhemat, setahu saya, di luar bandara banyak bus-bus dengan budget rate.

Dalam perjalanan menuju Patong, tiba-tiba taksi kami berhenti di depan sebuah gedung. Kami diminta untuk turun dan masuk ke dalam. Saya kira hal ini adalah prosedur umum setiap taksi untuk mengedrop penumpang sejenak di pool mereka. Ternyata itu bukanlah pool taksi dan mengedrop penumpang tidak pada tujuan sebenarnya juga bukan prosedur umum. Taksi itu mengedrop kami di sebuah kantor travel agent yang dengan segala daya upaya menawarkan berbagai paket tur berikut akomodasinya kepada kami. Dan setelah saya mati-matian menolak segala macam tawaran yang ia lontarkan (karena kebetulan saya memang sudah membooking hotel dan paket tur kami), kami pun kembali ke taksi untuk melanjutkan perjalanan.

Saya memilih untuk tinggal di Patong karena menurut yang saya baca, Patong adalah pusat keramaiannya Phuket (bisa kita analogikan seperti Bali, Patong adalah Kutanya Phuket). Perjalanan pun tak lama kemudian berakhir di depan hotel kami. Kami cek in, mendapatkan kunci kamar kami dan bergegas menuju kamar kami di lantai 3. Saya sangat menyukai pemandangan di sekitar hotel kami karena dari atas kami dapat melihat beberapa hut-hut bar kecil yang atapnya dihiasi lampu berwarna-warni.

Usai bersih-bersih dan istirahat sebentar, Sekitar pukul 7 kami pun keluar untuk mencari makan. Di dekat hotel kami banyak berjajar kedai yang menyajikan masakan-masakan khas Thailand, seperti Tom Yum noodle dan menu menu lain yang saya nggak tahu apa namanya. Makanan-makanan disini pun harganya lumayan standar, berkisar 12 ribu-15 ribu rupiah untuk semangkuk mie dengan potongan daging-daging yang beraneka olahan (digoreng, di tumis ataupun di bakar). Untuk minuman, tentu saja saya langsung memesan Thai Tea. Saya ingin merasakan langsung Thai tea di kampung halaman minuman tersebut (ya kurang lebih rasanya sama dengan yang pernah saya minum di Jakarta).

Dengan perut kenyang, kami melanjutkan acara kami dengan berkunjung ke Bangla road. Bangla road adalah sebuah jalan kecil yang menjelang sore disulap menjadi pasar malam.Sebagai icon night life di Phuket, Bangla road menyajikan tidak hanya deretan bar-bar dengan dentuman musik-musik dan penari di luar untuk menarik minat pengunjung, namun juga stan-stan yang menjualย  jajanan-jajanan khas Thailand dan pernak-pernik dan souvenir. Namun karena ini masih hari pertama, kami hanya mencicipi jajanan-jajanan kecil. Oleh-oleh seperti kaos, gantungan kunci maupun patung-patung yang memanggil-manggil setiap kali lewat tidak kami hiraukan.

Satu hal yang khas di Thailand pun dapat kita temui disini, lady boy. Dengan kostum yang bermacam-macam, dan terkadang sangat minim dan seksi, mereka akan memanggil siapa saja yang melewatinya untuk ditawarkan foto bersama. Kita bisa berfoto bersama dengan mereka dengan hanya membayar beberapa baht (saya nggak sempet nanya, jadi nggak tau berapa harga sekali fotonya, hehe).

Foto diambil dari http://thebestofthailand.wordpress.com/2011/07/15/phuket-island/

Puas cuci mata, kami pun pulang ke hotel menyusuri jalan yang lain, yakni melewati pinggiran pantai. Di sekitaran sini juga banyak sekali rstoran-restoran Seafood yang berlomba-lomba mengundang perhatian pejalan kaki dengan suguhan binatang-binatang laut yang masih berenang-renang di akuarium. Berhubung kami masih kenyang, kami hanya melihat-lihat Lobster yang asik berjalan di dasar akuarium dan tiram-tiram yang dijejerkan di atas rak ber es batu.

Sebentar, kami mampir ke pantai untuk duduk-duduk dan mengobrol. Melihat ada spot-spot bagus untuk berfoto disana, saya langsung menghidupkan kamera saya dan meminta keponakan saya untuk memfoto (lumayan ada yang bisa disuruh-suruh). Hari pertama kami akhiri dengan berfoto-foto di taman dekat pantai.

Di hari yang kedua, pagi-pagi sekitar pukul 8, kami dijemput oleh mini bus travel yangย  mengarrange tur James Bond Island kami pada hari ini. Di dalam mobil sudah ada beberapa penumpang lainnya dengan agenda yang sama dengan kami. Tidak sampai setengah jam, mini bus yang membawa kami berhenti di sebuah dermaga. Dari sini kami akan melanjutkan perjalanan menuju James Bond island dengan kapal.

Kami semua dikumpulkan di suatu lapangan dengan beberapa pondok untuk menunggu giliran kami menaiki kapal. Dan setelah giliran kami tiba, kami dipanggil sebentar, mengambil seutas tali (waktu itu tali saya berwarna kuning. Mungkin tali itu digunakan sebagai identitas agen perjalanan masing-masing), dan siap menaiki tuk-tuk menuju dermaga dimana kapal berada. Sesampainya di dermaga, perlahan kami naik ke kapal, bersama rombongan yang lainnya. Sekitar beberapa menit setelah semua turis lengkap, kapal bergerak perlahan-lahan menjauhi dermaga. Perjalanan kami dimulai.

Tur James Bond adalah serangkaian tur menuju Phang Nga Bay, dimana kami akan mengunjungi 4 buah pulau. Yang pertama adalah Kohย  atau yang dikenal dengan nama James Bond island. Dinamakan James Bond island karena pulau ini sempat dijadikan lokasi syuting film James Bond, The Man with Golden Gun, yang diperankan oleh Roger Moore. This island is merely an island karena bentuknya yang menyerupai botol terbalik di tengah perairan. Selain berfoto disini, kita juga dapat berfoto di beberapa spot yang menarik.

James Bond island

Saya masih agak bingung dengan spot ini. Saat itu salah satu jari saya sedang masuk ke dalam sebuah lubang kecil yang ada di dinding tersebut. Dan sampai sekarang saya masih nggak ngerti, kenapa semua orang sibuk berfoto dengan jari yang diselipkan di lubang tersebut? (saya sih ikut-ikutan aja).

Perjalanan kami lanjutkan ke pulau berikutnya, yakni Hong island dan Panak island. Di kedua pulau ini kami melakukan kayaking menelusuri gua-gua kecil. Menariknya adalah, saking rendahnya celah gua yang harus kita masuki, kami harus berbaring di kayak agar bisa masuk ke dalam. Gua-gua di dalam sangat gelap, hingga kamipun dibekali dengan senter-senter untuk melihat dinding-dinding terjal yang ada hanya beberapa senti dari wajah kami (kami diminta untuk tidak mengangkat anggota badan kami sedikitpun agar tidak terluka tergores dinding-dinding gua).

Di Panak island, setelah sekian menit berbaring di dalam kayak, akhirnya kami melihat ujung gua dan seberkas cahaya. Sebuah laguna yang tersembunyi di tengah pulau menghampar di hadapan kami membuat kami terhenyak sejenak. Dinding-dinding tebing terjal yang dirambati oleh akar-akar dan dahan pepohonan yang hijau rimbun, serta jernihnya air yang tingginya hanya semata kaki, mengundang kamera saya untuk menyala. Kami turun dari kayak untuk sejenak bermain air dan berfoto-foto.

Puas bermain-main, kami naik kayak kembali dan lanjut ke Lawa island Di perhentian terakhir ini, kami diperbolehkan untuk berkayak sendiri atau berenang sebentar. Tentu saja saya yang belum bisa berenang ini memilih untuk berkayak berkeliling pulau. Selain itu saya baru saja melihat ada rombongan ubur-ubur sedang asik berenang ke tepian, jadi niat berenang pun benar-benar saya coret (siapa juga yang mau berenang bareng ubur-ubur?)

Begitu peluit tanda acara bebas berbunyi, semua orang yang asyik berenang diminta untuk naik ke kayak. Dan kami yang sedari tadi mendayung kayak kesana-kemari dipandu untuk kembali ke kapal. Tur James Bond island berakhir saat itu juga dan kapal siap mengembalikan kami ke dermaga untuk pulang ke penginapan kami masing-masing.

_________________________________________________________________________________________

Review Penginapan:

Di Phuket, saya tinggal di Bel Aire Hotel. Hotel bertingkat 3 (atau 4 ya, saya agak lupa) ini lumayan cozy dan affordable untuk liburan keluarga. Ruangan di dalam hotelnya juga sangat comfy dan spacious. Fasilitas seperti safety box, TV, air con hingga freezer pun disediakan di Family suit. Selain eskalator, hotel ini pun menyajikan akses internet di lobi (kayaknya sih semacam warnet, harus bayar perjamnya). Lokasinya sangat strategis, hanya perlu berjalan 5 menit untuk menuju Bangla road ataupun ke pantai Patong. Untuk mencari makanan pun nggak sulit karena di sekitar hotel terdapat banyak sekali kedai makanan, gerobak-gerobak jajanan kecil dan minimart 711. (Gambar diunduh dari http://tailim.blogspot.com/2010/03/bel-aire-resort-patong-phuket.html)

This entry was posted in: Phuket

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

1 Comment

  1. Pingback: A night at the Khao Sarn Road (Sawadee Krup Bangkok, Part 2) | Saya Minggat Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s