Phuket, South East Asia
Comments 2

Phuket Fantasea (Phuket part 2-end)

Hari ketiga, kurang lebih pukul 8, kami sekeluarga sudah terbangun. Rencananya saya dan keponakan hendak berenang sebentar di Patong beach sebelum mencari sarapan dan berburu oleh-oleh.  Hanya berbekal baju yang melekat di badan, dan celana Speedo, saya bersama keluarga berangkat ke pantai yang jaraknya hanya lima menit berjalan kaki tersebut. Selama berjalan kaki menuju pantai, saya melihat banyak sekali guesthouse yang bertaburan, terkadang lengkap dengan kafe di terasnya. Well, mungkin next time kalo saya kesini sendirian, saya akan tinggal di salah satu guesthouse ini.

Patong Beach, diunduh dari http://www.tourist-destinations.com/2011/06/patong-beach-thailand.html

Patong beach masih sepi ketika saya sampai (atau mungkin saya berada di spot yang salah?). Tapi itu malah memberikan saya dan keponakan saya more space untuk bermain air sepuas-puasnya. Pantainya lumayan  bersih, dengan beberapa kursi berjemur yang masih kosong di atas hamparan pasir (mana ada ya, yang berjemur jam 8 pagi, hehehe).

Setelah bosan, kami mulai mencari sarapan. Nah, this is one of the hardest part that we experienced in Patong. Patong mungkin sedikit banyak sama dengan Kuta dan Legian yang baru hidup setelah pukul 8 malam. Namun Patong nggak sepenuhnya  mirip dengan Kuta yang tiap pagi selalu ada penjual nasi campur berkeranjang ataupun bersepeda yang mangkal di pinggir jalan. Patong juga nggak punya 24/7 rumah makan Padang yang siap menyambut kita jam berapa aja kita lapar. Patong is more like Seminyak, dengan kafe-kafe dan resto yang baru buka sekitar jam 8-an dan nggak menyediakan sarapan ala Indonesia pada umumnya, NASI. Mungkin karena kebanyakan turis adalah kaukasian yang jarang makan nasi, jadi kebanyakan tempat makan hanya menyediakan sandwich, omlet, potongan-potongan sosis dan buah (Heloo? mana bisa perut kuli macam kami cuma makan sandwich dan omlet di pagi hari??).

Sedikit kesulitan mencari kedai yang pagi-pagi sudah menanak nasi, akhirnya kami berhenti di salah satu kafe yang di dalamnya ada beberapa turis asia sedang sarapan (sambil berharap, mungkin sesama orang Asia, ia akan mencari nasi). Dan dugaan saya salah. Mereka memesan scrambled egg dan pancake!). Namun karena udah terlanjur duduk dan disodori menu oleh waitressnya, kami jadi sungkan untuk meninggalkan tempat tersebut.

“Ada nasi nggak, Hen?” Kakak saya bertanya pada saya yang khusuk melafalkan isi menu berbahasa Inggris di tangan saya. Saya menggeleng-geleng.

“Mau makan serabi nggak? kayak yang di sebelah itu?” tawar saya.

“Mana kenyang lah, pagi-pagi cuma makan itu??” Kakak saya mengernyit.

Saya berusaha mencari makanan terberat yang ada di dalam menu. “Nggak ada makanan berat nih, paling cuma sandwich aja. Nanti kita coba cari di tempat laen lagi aja kalo masih laper.”

Dengan terpaksa, kami memesan apa saja yang berpotensi mengganjal perut lebih lama, Sandwich, pancake, dan beberapa porsi scrambled egg. Susah memang kalo adat sarapan ala Indonesia dibawa-bawa waktu liburan ke negeri orang, belom kenyang kalo belom ketemu nasi, hehe.

Kelar makan, semangat untuk beranjak dari kafe belum juga muncul. Mungkin karena efek cuma kemasukan roti, jadinya asupan karbohidrat kami menjadi minim energi. Kami pun lanjut berjalan lagi, sedikit berputar-putar di sekitar Bangla road, berharap ada tukang nasi campur keliling macam di Bali. Dan Bangla road di pagi hari pun tak ubahnya Bangla road di malam hari, walaupun nggak ada stan-stan yang berjejeran di tengah jalan (karena dari pagi sampai sore, jalanan terbuka untuk kendaraan), tapi di beberapa pub, sudah ada bule-bule yang nongkrong menenggak Carlsberg ataupun Sinha (WTF, pagi-pagi sarapan bir??)

Seakan menjawab doa anak-anaknya yang sedang teraniaya, Tuhan menunjukkan sebuah gang kecil, masih di sekitaran Bangla road, yang dipenuhi oleh meja-meja makan. EUREKKAAAA! kami menemukan nasi!!

Dengan semangat, saya menarik kakak saya untuk masuk ke dalam gang tersebut. Tepat sekali, meja-meja makan itu digelar bukan untuk striptis show seperti yang saya takutkan (this is Bangla road, no? Anything could be possible.) Dari mulut gang, kami sudah mencium aroma masakan khas Thai, dan dapat kami lihat di sisi lain gang tersebut terdapat warung-warung prasmanan dengan beraneka menu kuliner. Tanpa menunggu persetujuan kakak saya apakah mau makan disini atau nggak, saya mendekati si penjual sambil me-scanning menu yang tersaji. Dari belakang, kakak saya dan yang lain, dengan muka sumringah karena melihat nasi yang mengepul, langsung memutuskan, “kita makan disini aja, ya”.

Satu-persatu, penjual melayani kami. Tiap piring yang penuh oleh nasi dan lauk-pauk di tangan kami dipatok harga sekitar 50 baht, atau sekitar 15 ribu rupiah (maklum, saat itu kami lumayan kesetanan, jadi hampir setiap orang memesan berbagai macam menu). Kami pun makan dengan lahap di salah satu meja. Sesekali kami nambah lauk ini itu, berhubung menu-menu khas seperti ini nggak akan sering kami temukan di Indonesia nanti, dan besok kami sudah harus pulang).

Yes, kenyang! Piring-piring kami nggak sampai setengah jam sudah kosong semua. Pertanda kami sudah siap untuk melanjutkan agenda kedua kami hari ini, berburu oleh-oleh di Thai Siam (basement nya Jungceylon) dan Jungceylon mal. Usai membayar, kami meninggalkan gang tersebut dengan perasaan super puas. Perut yang terisi penuh membuat semangat belanja kami menggebu-gebu.

Jarak dari Bangla road ke Thai Siam dan Jungceylon nggak begitu jauh, karena letaknya berada tepat di seberang mulut jalan. Saat itu sudah sekitar pukul 11, jadi pusat perbelanjaan tersebut sudah pada buka dan ramai pengunjung. Tujuan pertama adalah mengelilingi Thai Siam. Karena genre belanja saya, kakak saya, kakak ipar saya, dan keponakan saya lumayan berbeda-beda, akhirnya kami berpencar dan janjian akan ketemu di suatu spot.

Saya menarik keponakan saya agar menemani saya berkeliling (dia nggak boleh dekat-dekat dengan orang tuanya, karena bakalan minta mainan yang macem-macem). Kurang lebih berikut hasil belanjaan saya disana (cuma dikit sih, karena nggak pinter nawar, hehe).

Beginilah kalo belanja sama ibu-ibu, otomatis sebagai gentleman sejati, saya harus membawakan tasnya (tapi di foto kenapa saya jadi berasa maho lagi pamer koleksi terbaru ya? wkwk). Btw, ini adalah entrance Thai Siam, pusat oleh-oleh yang konon harganya lebih murah (kalo pinter nawar)

Hasil belanja yang minim. Gelang berisik ala India, gantungan kunci gadis berbusana adat Thai, gantungan kunci gajah, dan hiasan dinding bermanik-manik

Berbeda lagi dengan hasil belanjaan anggota keluarga saya yang lain. Bila kakak saya (perempuan) sukses menawar beberapa pakaian, kakak ipar saya puas membeli berbagai macam snack-snack khas Thai yang biasanya akan dia konsumsi sendiri di rumah nanti. Barang-barang yang dijual di Thai Siam memang terbilang lebih murah dibandingkan di Bangla road yang kebanyakan menjual barang yang sama. Dengan suasana perbelanjaan yang bersih, rapi dan teratur ala kios-kios di ITC, dan air con yang selalu siap menyejukkan, Thai Siam memanjakan para pengunjung untuk betah berlama-lama keliling mencari apa saja yang mereka inginkan.

Beranjak dari Thai Siam, kami naik ke lantai berikutnya dan berjalan lebih ke dalam. Next adalah Jungceylon, mal terbesar yang ada di Phuket. Konsepnya mirip dengan La Piaza-Mal Kelapa Gading, dimana sepanjang jalan menuju Jungceylon, kami disuguhkan taman yang lumayan luas, dengan tempat-tempat beristirahat dan spot berfoto-foto.

Salah satu spot favorit berfoto di Jungceylon.

Di Jungceylon, kami nggak berniat membeli apa-apa karena memang pada dasarnya sebuah mal, barang-barang yang dijual pun sama seperti yang kami temui di mal-mal yang ada di Indonesia. Kami hanya cuci mata sebentar, lalu mampir ke Carrefour untuk membeli makanan kecil untuk di hotel. Ya, nggak ada yang terlalu istimewa dengan Carrefour yang ada disini, sama seperti Carrefour yang ada di Indonesia.

Setelah seharian berkeliling di sekitaran hotel, agenda utama kami yakni berkunjung ke Phuket Fantasea baru akan dimulai sore hari. Mini bus travel menjemput kami sekitar jam lima sore, berhubung Phuket Fantasea baru akan buka pada jam setengah 6. Perjalanan nggak berlangsung terlalu lama. Sedikit menanjak kearah dataran tinggi kurang lebih 20 menit, kami akhirnya tiba di depan gerbang masuk. Mini bus berhenti dan mengedrop kami. Sopir memberitahukan bahwa loket pembelian karcis ada disebelah kanan entrance.

Saya menuju loket sendirian untuk menukar voucher yang kami miliki dengan tiket masuk (Kami sudah membooking tiket via official webnya). Karena loket yang dibuka lumayan banyak, maka saya nggak perlu mengantri terlalu lama. Saya segera menemui kakak saya yang menunggu depan entrance. Sebelum masuk, tentunya kami berfoto-foto dulu di depan sampai ke dalam (one great spot, one picture, haha. We never know when we will be back again, ait?)

Saat itu kami hanya sempat berkeliling sebentar, mulai dari ke sebuah mini zoo yang isinya beraneka ragam fauna serba putih (harimau putih, kupu-kupu putih dan burung berbulu putih) dan game zone ala ala time zone di Indonesia. Langkah saya terhenti di sebuah toko yang lumayan ramai dipadati orang. Nahhh! ini yang saya cari, toko dimana kita bisa menyewa busana adat ala Thailand untuk berfoto-foto di beberapa spot.

Awalnya kakak saya nggak berminat, berhubung satu paket (4 foto unuran 4 R atau 2 lembar ukuran 10 R) harganya sekitar  1000 baht perorangnya. Namun karena saya memaksa (untuk kenang-kenangan, kapan lagi foto pake busana adat), kakak saya pun mengalah dan masuk ke dalam toko (kakak ipar saya dan anaknya menunggu di luar karena nggak minat foto–lumayan sih, jadinya nggak ngeluarin ongkos lebih besar, hehe). Di dalam sudah banyak antrian orang yang ingin berfoto. Kami mendaftar dulu di resepsionis dan menunggu giliran untuk di-make over di lantai atas. Disana berderet rak-rak pakaian dan aksesoris-aksesoris baik untuk pria maupun wanita, seperti topi, mahkota, baju, kain-kain yang dililitkan sebagai sarung, celana, sampai senjata dan kuku-kuku buatan untuk dipakai para wanita.

Selesai dimake over, kami berfoto sebentar di dalam toko (ada beberapa sudut yang didekor seperti layaknya tempat duduk pelaminan khas Thailand), kemudian berlanjut di luar, dengan berbagai background yang menarik seperti Palace of Elephant dan Hanuman’s Lair. Selagi asyik berfoto-foto, terdengar pengumuman bahwa pertunjukan Phuket Fantasea Show di Kingdom of Elephant akan segera dimulai. Gawat deh, sesi foto-foto outdoor kami baru saja dimulai. Rencananya akan di-take beberapa foto untuk kemudian kami pilih empat lembar yang dicetak. Ekspresi panik yang ditahan-tahan mulai bermunculan di wajah kami. Saya segera meminta fotografer untuk mempercepat sesi foto-foto kami karena kami nggak ingin ketinggalan opening. Apalagi saat itu, rombongan pengunjung sudah berbondong-bondong menuju istana Gajah.

Berfoto di depan Palace of Elephant

Entah sepertinya ada lebih dari 20 kali shoots kami difoto di luar. Mengetahui kami yang sedang terburu-buru, sang fotografer memohon diri untuk duluan ke toko dengan berlari agar bisa segera menyetor data hasil jepretannya terlebih dulu. Kami jadi ikut-ikutan lari karena masih harus ganti baju, memilih-milih foto dan menunggu hasil cetakan. Waktu makin mepet dan kami harus memperhitungkan jumlah antrean yang juga akan menonton pertunjukan–semakin banyak yang ngantri, semakin besar kemungkinan kami untuk telat masuk T__T

Setelah terakumulasi hampir 15 menit, kami sampai di toko yang tadi lagi, berganti pakaian, memilih-milih foto yang kami suka, dan menerima hasil cetakan. Dengan langkah seribu ala-ala sprinter, saya dan kakak saya menyusul kakak ipar saya yang sudah lebih dulu berjalan menuju istana Gajah. Lumayan agak jauh sih dari toko foto ke istana Gajah karena harus menyebrangi lapangan yang lumayan luas. Kami pun tersengal-sengal kehabisan nafas begitu sampai di depan istana Gajah.

Diunduh dari http://www.phuket.com/attractions/all-attractions.htm

Tiket nonton Phuket Fantasea Show

Bersama antrian yang lainnya (thanks God, kami bukan baris antrian terakhir), kami masuk ke dalam istana, menuju entrance pengecekan tiket dan loket penitipan segala atribut. Perlu diketahui, saat itu peraturan Phuket Fantasea Show sangat ketat dalam perihal show protection-nya dari berbagai bentuk piracy. Kami diwajibkan untuk menitipkan HP berkamera, kamera, handy cam dan segala bentuk gadget yang berpotensi merekam pertunjukan. Tapi teman-teman tenang saja, penitipan itu sangat aman dan jauh dari kemungkinan tertukar dengan gadget milik orang lain. Kami diberikan seperti nomer loker penitipan oleh petugas untuk nantinya mengambil kembali gadget kami (ya, seperti biasa kita nitip barang di swalayan, kira-kira).

Selagi mengantri, saya melihat beberapa stan dibuka, menjual souvenir (kaos, gantungan kunci Phuket Fantasea) dan VCD/DVD pertunjukan Phuket Fantasea. Mungkin ini maksudnya mengapa mereka begitu strict dalam hal pembajakan. Mereka mungkin ingin supaya yang ingin menonton, kalo nggak nonton disini ya beli DVDnya.

Kemudian kami memasuki entrance menuju ruangan pertunjukan. Ruangannya sangat besar dan dingin. Nomor tempat duduk kami sudah ditentukan dengan nomor yang tercantum di tiket. Di dalam sudah sangat ramai. Orang-orang sudah menempati bangkunya masung-masing. Kami sendiri duduk sekitar empat baris dari depan, dan agak ke tengah (spotnya lumayan ok).

Ternyata, di dalam ruangan kami masih harus menunggu sekitar 10 menit lagi sebelum pertemuan dimulai. Ya, setidaknya kami sudah aman, berada di dalam. Lebih baik menunggu di dalam daripada ngantri was-was takut ketinggalan opening show di luar, toh?

Pertunjukan pun tak lama kemudian dimulai. Setelah beberapa kalimat pembuka dari narator, lampu serentak dimatikan semua, mengalun instrumen lagu dan mendadak dari belakang kami muncul konvoi gajah-gajah berjalan menuju panggung. Phuket Fantasea adalah sebuah pertunjukan teater musikal yang dipenuhi dengan atraksi tarian-tarian tradisional, akrobatik di udara dan main shownya tentu saja pawai gajah yang akhirnya kompak berdiri dengan kedua kakinya.

Salah satu adegan pertunjukan, diunduh dari http://panduanwisata.com/2012/04/19/phuket-fantasea-taman-budaya-beribu-warna/

Diunduh dari http://www.phukethotel-booking.com/Phuket-Fantasea.php

Pertunjukan pun berlangsung sekitar 1 jam lebih. Memang nggak akan kerasa sih, karena mereka mengemas acara dengan konsep yang sangat menarik, variatif dan penuh kejutan. Terkadang dari belakang kami muncul penari-penari, tiba-tiba dari atas langit-langit turun atraksi akrobatik glow in the dark yang menari-nari dengan dua utas selendang, tiba-tiba juga kami disuguhkan intermezzo kocak tentang bagaimana satu persatu barisan ternak, dari kambing sampai ayam bisa teratur berlarian dalam satu line (saya sih herannya dengan ayamnya, gimana cara itu ayam bisa ditraining begitu, hehe). Nggak hanya itu, penguasaan panggungnya pun benar-benar cantik. Mereka nggak menyia-nyiakan setiap jengkal panggung, hingga aisle pun mereka gunakan untuk spot menari.

Puncak acaranya adalah parade gajah yang berkeliling di tengah panggung, disusul dengan arak-arakan para penari di depannya (beberapa penari turut berdiri di aisle, mengajak kami untuk bertepuk tangan bersama-sama memberi semangat). Gajah-gajah yang berjalan berbaris tadi tak lama kemudian berdiri dengan kedua kaki depannya ditautkan ke punggung gajah yang ada di hadapannya, disertai dengan formasi penutup ala sebuah pertunjukan oleh para pementas. Hal ini menandakan bahwa pertunjukan officially berakhir.

Diunduh dari http://www.phukettravelhound.com/tours/phuket-fantasea-show-and-dinner.html

Selesai pertunjukan, kami keluar ruangan satu-persatu dengan tertib menuju tempat pengambilan kamera. Tempat pengambilan kamera berbeda dengan tempat penitipan (lokasinya berada dekat dengan pintu keluar). Begitu mengetahui ponsel dan segala gadget kami lengkap, kami meninggalkan gedung menuju halte tempat mini bus kami akan menjemput kami.

Guys, trip ke Phuket berakhir malam ini. Besok pagi-pagi sekali (sekitar pukul 7) kami sudah harus berada di bandara Phuket untuk kembali ke Jakarta. Walau cuma sebentar, buat saya Phuket adalah salah satu tempat favorit yang layak untuk dikunjungi lebih dari sekali. Ya, meskipun jika bicara soal spot-spot wisata alam, Indonesia is still number one in my heart, nggak ada salahnya kita menikmati cita rasa berbeda yang ditawarkan oleh negara tetangga ini.

This entry was posted in: Phuket, South East Asia

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s