East Lesser Sunda, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Comment 1

Bali’s Subak Irigation Recognized, Sawah Lingko di Ruteng kapan?

Saya nggak nyangka kalo hamparan sawah bertingkat-tingkat yang baru saya kunjungi Maret lalu di Bali officially akan menjadi salah satu warisan budaya. Surprised and excited tentunya, begitu saya membaca kabar tersebut dari  beberapa mass media. Saya masih teringat Maret lalu saat saya dan teman-teman mengunjungi Tegal Alang, Bali. Kami menghabiskan sore hari dengan di sebuah restoran yang menghadap langsung ke sawah adat Bali tersebut. Hijaunya padi-padi yang masih muda tersusun-susun cantik di tiap undakan-undakan sawah membuat kami betah berlama-lama walau hanya ditemani oleh beberapa cangkir minuman di tangan kami.

Subak adalah sistem pengairan tradisional sawah-sawah di Bali. Dengan kekhasannya yang dibangun bertingkat-tingkat di lereng perbukitan, sistem ini menyuguhkan sebuah pemandangan yang menarik banyak wisatawan lokal maupun mancanegara untuk sejenak menghentikan aktifitasnya dan menikmati keindahannya. Subak akhirnya diakui sebagai salah-satu warisan alam oleh UNESCO dan secara resmi akan dikukuhkan dalam sidang KTT di St. Petersburg, Rusia Juni nanti. Dari Jakarta Post (http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/21/subak-farming-world-heritage-listed.html), saya baru mengetahui bahwa sudah 12 tahun sistem pengairan ini menunggu pengakuan dari UNESCO. Sungguh sebuah perjuangan yang cukup panjang dan indeed, Subak deserves for the recognition.

Berbicara soal sawah, saya juga teringat akan salah satu konsep sawah yang desainnya nggak kalah cantik, yakni sawah Lingko (masyarakat lokal menyebutnya sawah Lodok), atau dikenal dengan nama “Spider Web Rice Field”. Sesuai namanya, sawah tersebut memang menyerupai jaring laba-laba. Sawah ini terletak di Flores, khususnya di daerah Ruteng, desa Cancar.

Diunduh dari http://tuanviolet.wordpress.com/2012/01/13/sawah-laba-laba-lingko-lodok-di-manggaraiflores/#more-63

Dibalik nilai estetisnya yang  menawan, tersimpan pula nilai kultural pada desain sawah ini. Menurut informasi yang saya baca dari situs resmi Visit Indonesia (http://www.indonesia.travel/id/destination/701/ruteng/article/124/cancar-di-manggarai-sawah-jaring-laba-laba-raksasa), Lingko adalah sawah yang pembagian lahannya dilakukan oleh para tetua berdasarkan ketentuan adat setempat. Pembagian ini dapat kita lihat dari lingkaran-lingkaran yang diberi garis batas lurus menyerupai jari-jari. Garis batas ini berkonsentrasi pada titik pusat lingkaran yang dipancangkan sebuah kayu ataupun sejenis pohon bernama Teno. Pembagian besar kecilnya lahan (jaring-jaring) bergantung pada kedudukan seseorang di desa tersebut (Pemilik tanah ataupun tetua adat biasanya mendapatkan bagian yang lebih besar)

Januari lalu, saat saya sedang berlibur ke Labuan Bajo, ingin rasanya mengunjungi sawah Lingko. Namun setelah sempat berdiskusi dengan pemilik tempat saya menginap, saya terpaksa mengurungkan niat saya. Menurut pemilik guesthouse,  perjalanan ke Ruteng dari Labuan Bajo tidak bisa ditempuh oleh perjalanan pulang hari. Saya harus menginap sehari di daerah Ruteng karena medan perjalanan yang lumayan berat dan akan memakan waktu. Selain itu biaya menyewa mobil kesana PP pun lumayan agak berat buat saya yang hanya traveling sendirian saat itu. Lain kali, saya berjanji, bila saya berkunjung kembali ke Flores dengan waktu yang lebih panjang, saya harus menginjakkan kaki disini.

Buat saya sawah ini sangat layak untuk didaftarkan menjadi salah-satu warisan alam dunia seperti halnya Subak, mengingat hanya di desa Cancar inilah satu-satunya sawah di dunia yang berpola spider web. Namun sayangnya sampai sekarang saya belum pernah mendengar adanya wacana pendaftaran sawah adat ini ke UNESCO. Pengenalan orang-orang Indonesia mengenai keberadaan situs ini pun masih minim sekali, meskipun sudah mulai banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung untuk menyaksikan sendiri betapa menakjubkannya desain sawah adat tersebut. Sangat besar harapan saya melihat sawah ini menjadi bagian dalan situs warisan budaya dunia. Karena dengan demikian, semua orang akan semakin mengenal betapa kayanya negara kita akan keindahan alam dan budaya.

1 Comment

  1. Pingback: Pura Uluwatu Bali, Great Combination of Kecak Dance and Sunset (Bali Never Ending Stories, part 1) « Saya Minggat Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s