Travel Gastronomy
Comments 3

Berburu Kuliner Unyu-Unyu

Jalan-jalan dan jajan-jajan, ibarat Sampek dan Engtay, adalah dua hal yang nggak bisa terpisahkan. Kalo souvenir dan snack-snack adalah oleh-oleh untuk teman-teman, Kuliner adalah oleh-oleh pengalaman yang akan selalu terkenang walau kelak akan dibuang. Dan saya adalah jenis homo sapien travelerensis yang hobi berburu makanan lokal tiap kali saya berkunjung ke suatu tempat. Tapi nggak seperti ras -ras saya yang lainnya, saya termasuk spesies yang paling ekstrim dalam hal perburuan makanan.

Kalo temen-temen biasanya suka mampir di resto-resto normal ala “Bebek Bengil Ubud”, atau “Pindang Meranjat Palembang”, saya lebih suka masuk ke pelosok-pelosok sudut kota dan mencari masakan-masakan seperti berikut ini:

1. Gulai Kuda

Kuda? Ya, kuda. Binatang yang kita lihat kalo sedang naik delman itu dimasak dengan rempah-rempah dan voila… jadilah Gulai Kuda. Masakan ini saya temukan di daerah Denpasar Barat, Bali, di sebuah warung. Cukup mudah menemukan warung ini karena pada papan namanya terpajang gambar siluet kuda. Warung ini nggak hanya menyajikan Gulai ataupun sate kuda, tetapi juga makanan-makanan wajar seperti nasi campur dan sate ayam

Kalo ditanya apa rasa daging kuda? Hmm, gimana ya… Agak kenyal-kenyal empuk, mirip perpaduan daging sapi dan ikan. Wangi dan rasa bumbunya benar-benar tajam, untuk menghilangkan bau amis khas kudanya mungkin. ya maklumlah, namanya juga binatang pekerja keras, hehe

2. Pie Oh (Daging Bulus, sejenis kura-kura yang bermoncong)

Masakan ini banyak ditemukan di China Town, Glodok, tepatnya di sebuah gang dekat gedung Gloria. Biasanya dijual oleh gerobak-gerobak kecil dan disajikan di dalam sebuah mangkok. Terdapat dua jenis masakan Pie Oh, yakni Pie Oh yang dimasak dengan tauco dan Pie Oh yang dimasak dengan racikan rempah obat-obatan khas Cina. Biasanya semangkoknya dijual seharga 35 ribu rupiah. Dagingnya seperti kikil sapi, tapi dengan bau yang khas. Entah amis atau apa, saya nggak menemukan kata yang tepat. Namun dengan dibumbui , bau amis ala bulus itu bisa tercover oleh rempah-rempahnya. (gambar diunduh dari http://horemakan.wordpress.com/2011/11/14/eksotisme-labi-labi/)

3. Rujak Shanghai (Dengan daging Ubur-Ubur)

Rujak ini cukup unik, saya baru ketemu satu yang menjual menu tersebut. Masih di kawasan Glodok (sanaan lagi gang Gloria), seorang ibu-ibu keturunan Tionghoa membuka sebuah kedai sederhana. Kalo dilihat-lihat, tampilan dari luar, kedainya nampak seperti kedai biasa. Tapi kalo kita masuk ke dalam, kita akan terkagum-kagum karena ternyata kedai sesederhana ini sudah lumayan terkenal di beberapa media massa kuliner (banyak potongan-potongan artikel majalan terpampang di dinding. Chef setenar Rudi Choiruddin pun pernah berkunjung ke kedai ini.

Yang membedakan Rujak Shanghai dengan rujak-rujak lainnya adalah kuah saus tomat yang disiramkan di atas sayur-mayurnya, berikut taburan kacang tanah dan tentunya irisan-irisan daging ubur-ubur. Ubur-ubur?? apa rasanya?? Ya seperti kikil aja. Rasanya nggak terlalu dominan karena sedikit tawar dan teksturnya kenyal . Gambar diunduh dari http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=35642)

4. Cannay Tissue

Mungkin makanan ini yang paling manusiawi di lidah. Rasanya seperti krepes yang ditaburi oleh susu coklat bubuk ataupun parutan keju. Yang membuat makanan ini istimewa adalah bentuknya yang seperti cone pembatas jalan, besar dan tinggi. Kalo misalnya teman-teman baru pertama kali memesan snack ini, munggin agak bingung, “Makannya darimana??” Ya, makannya dari mana aja boyehh, hehe. Tinggal sobek, mau dari atas atau bawah, dan nikmati kerenyahannya.

Cannay Tissue ini dapat ditemukan di buku menu KL Village, di jalan Jaksa. Kalo saya sedang nongkrong dengan teman-teman, biasanya snack ini nggak pernah ketinggalan untuk berdiri menjulang di atas meja kami. Cannay Tissue paling enak dipesan sebagai appetizer sambil menunggu menu utama tiba

Gimana, teman-teman? ada yang tertarik untuk mencicipi kuliner-kuliner unyu di atas? Nggak ada salahnya loh dicoba, once in a life time, hehe.

This entry was posted in: Travel Gastronomy

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

3 Comments

  1. Pingback: Berburu Kuliner Unyu-Unyu (season 2) « Saya Minggat Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s