Chipsy talks
Leave a Comment

Shit Happens when Traveling

Karena belum juga bisa tidur malam ini, akhirnya saya memutuskan untuk menghidupkan leptop dan cek-cek FB. Bosan membaca-baca status, wall dan blogs teman-teman sesama traveler, saya iseng membuka foto-foto trip saya yang sebelumnya.

Tiba-tiba, entah mungkin kerasukan roh Charles Dickens, saya jadi kepengen nulis notes baru. Sempat bingung awalnya mau nulis apa, kemudian timbul ide untuk membahas tentang satu hal yang, yah, walaupun saya nggak pernah pengen ini terjadi tiap kali traveling, tapi mau nggak mau, biasanya akan terjadi.

Shit Happens.

Alias kesialan.

Well, saya adalah salah satu contoh dari ribuan traveler yang terbilang cukup ceroboh, alias careless. Terlalu banyak hal bodoh yang terjadi selama saya melakukan trip “sendirian”. Entah kenapa, saya juga nggak tau, kebiasaan ini nggak pernah bisa hilang, bahkan hingga trip terakhir kemarin waktu hendak menikmati Nyepi di Bali. Ya, positif yang saya ambil dari setiap hal yang saya alami adalah, kita nggak pernah tau dan shit happens bukanlah sesuatu yang baru…

1. Boarding pass kebawa orang lain di Batam

Tepatnya kebawa kakak saya.

Hal ini bermula saat saya dan keluarga berada di Hang Nadim sekitar setengah satu siang) untuk bertolak ke tujuan masing-masing usai trip Imlekan kami di Selat Panjang (artikel bisa dibaca di link berikut https://sayaminggatdulu.wordpress.com/2012/05/18/chinese-new-year-selat-panjang-foam-fight/) . Saya kembali ke Jakarta, dan kakak saya beserta yang lainnya pulang ke Lampung. Kebetulan saat itu saya yang mengurusi segala tetek bengek cek in di loket. Boarding pass plus tiket semuanya saya pegang.

Semuanya tampak baik-baik saja sampai akhirnya keponakan saya mengeluh kelaparan–padahal sekitar  45 menit lagi pesawat kakak saya sudah harus take off (jadwal penerbangan saya jam 4). Saya pun memutuskan untuk menemani kakak saya untuk keluar membeli nasi padang. Lokasi warung Padang cukup jauh dari gate departure, sehingga butuh sedikit waktu untuk kesana. Nggak sampai disitu, kami juga harus mengantri untuk memesan nasi padang karena sedang jam makan siang.

Bungkusan-bungkusan nasi sudah ada di tangan dan dengan waktu tersisa yang sangat mepet (sekitar 20 menit), saya dan kakak saya agak berlari kecil untuk kembali ke pintu masuk keberangkatan. Setelah berpamitan, cipika-cipiki dan pelukan beberapa detik, saya berikan semua boarding pass dan tiket yang ada di tangan saya ke kakak saya. Ia pun menemui yang lainnya yang menunggu di dalam.

Berhubung pesawat saya masih akan berangkat 3 jam lagi, saya memilih untuk bersantai di ruang tunggu di luar sambil merokok. Awalnya saya masih santai-santai sampai jam tangan saya menunjukkan angka 3, dan saya berniat untuk masuk ke dalam. Saat saya merogoh kantong saya untuk menyiapkan boarding pass, saya tertegun.

Nggak ada apa-apa di kantong saya.

Nah, lho! kemana boarding pass saya?? Saya obrak-abrik isi tas saya untuk mencari boarding pass tersebut. Setiap sela ruangan dalam tas saya rogoh. Lipatan pakaian-pakaian kotor saya pun saya buka satu-satu, dengan harapan boarding pass akan nyelip disana.

Saat semua barang-barang saya keluarkan, saya baru teringat. Astaga! boarding passnya kebawa ke Lampung sama kakak saya! Di kepala saya seperti terputar kembali scene dimana saya baru selesai cek in, lalu semua boarding pass saya satukan, dan di gate kedatangan, saya serahkan semua boarding pass berikut tiketnya ke kakak saya.

So what did I do then?

Saya langsung ke loket maskapai penerbangan saya dan menjelaskan kesialan (baca: Kebegoan) saya saat itu. Dengan memasang wajah berempati tapi tetap nggak ngasih solusi sesuai yang saya inginkan, sang petugas (saat itu cewek) mengatakan bahwa berhubung tiket saya adalah tiket manual, saya nggak bisa minta diberikan kopi tiket lagi seperti jika booking via online yang bisa dire-print (nggak tau deh, akal-akalan petugas atau beneran). Terpaksa saya harus beli tiket lagi dan me-refund tiket yang terbawa kakak saya di kantor pusat sesampainya di Jakarta. ARGGGHHH!

Moral message: Jangan beli nasi padang kalo udah mau departing

2. Ketinggalan Pesawat ke Bali

Tiket pesawat JKT-Bali yang saya book menunjukan bahwa saya akan berangkat pukul 2 PM. Dan karena saya orangnya kelewat santai, saya putuskan untuk berangkat ke bandara jam setengah 12 siang. Saya pikir, kan biasanya juga perjalanan nggak akan lebih dari 1,5  jam, toh saya masih punya waktu satu jam untuk mengurusi gono-gini di bandara (cek in bisa dengan mobile check-in, abis itu tinggal scanning bar code di mesin self-check in dan boarding pass keluar deh. Nggak usah ngantri lama-lama di loket).

Tetapi, fatalnya, ada 3 hal yang saya lupakan.

a. Saat itu adalah jam makan siang dan macetnya bisa kayak kampret (biasanya saya dapat flight pagi terus, jadi lalu-lintas Gambir-Cengkareng nggak kejam-kejam amat macetnya)

b. Saya lupa kalo abis self-cek in saya masih harus ke loket, ngurusin docs-verification dan pembayaran airport tax

c. Saya lupa kalo terminal tiga itu terminal super ujung dan tiap terminal, busnya bakalan berhenti-berhenti untuk menaik-turunkan penumpang

Dan sukses banget, jam di tangan udah menunjukkan pukul 13.00, saya baru sampai di Damri’s check in spot yang letaknya di pinggir jalan itu. Keringat dingin saya langsung mengucur deras. Sialll, macetnya jalur masuk ke Tol Bandara adalah yang terparah yang pernah saya alami. Saya udah super belingsatan di dalam bus, menengok-nengok keluar jendela, berharap busnya bisa berubah jadi auto-bot dan terbang langsung mengantar saya ke gerbang terminal 3.

Bus pun kembali melaju, begitupun jarum jam saya. Jarum panjang menempel di angka 3 dan saya baru masuk terminal 1.A!  Saya cengkeram erat lengan ransel saya sambil berdoa dalam berbagai keyakinan. Siapapun yang di atas sana, please, stop the time!

Dan berlanjut ke 1.B, 1.C, bus kemudian agak tersendat-sendat di persimpangan jalan ke terminal 2. Jam menunjukkan pukul 13.30, sang kondektur baru meneriakkan, “Terminal 2.A, penerbangan bla bla bla dan bla” (saya udah nggak lagi mendengarkan). Sampai akhirnya, lagi-lagi bus yang saya tumpangi terjebak macet sekitar 5 menitan di persimpangan menuju terminal 3. Rasanya saya sudah ingin mendorong sang sopir keluar bus dan saya kendarai itu bis (saking leletnya ini sopir).

Detik-detik kematian saya:

13.45, saya sudah berdiri di depan entrance terminal 3, bersama rombongan antrian yang panjang (hadoooh, apalagi sih ini!!).  Sambil menunggu giliran masuk, saya langsung sibuk membuka tablet saya untuk mencari file barcode yang akan saya scan nanti. Bisa saya lihat di depan sekali tampak rombongan keluarga yang sedang absensi untuk masuk satu-persatu.

13.50, Saya pun berhasil masuk, melewati scanner X’ray untuk baggage sebentar, lalu berlari lagi menuju mesin self-check in, lalu berlari lagi ke loket untuk verifikasi data dan bayar airport tax, lalu berlari lagi ke atas menuju last gate untuk masuk pesawat.

13.58, Saya sudah sampai di body scan machine sebelum masuk gate. Petugas membaca print out itinerary saya dan… “Wah, kayaknya udah nggak bisa masuk nih, Mas…”

Saya pasang wajah memelas ala Puss in Boots, “Please dong, Mbak, tadi flight saya delay (ngebokis dikit biar agak dramatis). Saya dari Lampung, Mbak. Tolong dong.”

Si mbak petugas terenyuh melihat mata saya yang berkaca-kaca (not really berkaca-kaca sih). Ia mengambil walkie-talkie di mejanya dan mencoba berkomunikasi dengan bagian Pesawat. Ia menjelaskan keadaan bahwa ada satu penumpang yang baru sampai dan ngarep banget bisa ikut berangkat.

Sayangnya upaya saya nggak berhasil. Kata si mbak petugas, pintu pesawatnya udah ditutup (emangnya nggak bisa digedor supaya dibukain ya? pikir saya saat itu 50% panik dan 50% bego). Dengan langkah gontai, saya berjalan membelakangi mbak-mbak petugas tadi sambil tetap berharap si mbak bakalan manggil dan bilang, “Aku akan usahain kamu berangkat sekarang juga, gimanapun caranya!” Tapi si mbak nggak manggil-manggil.

Saya jadi bingung, gundah dan gelisah. Gimana ini, masa udah siaran kemana-mana kalo saya bakalan Nyepi di Bali terus nggak jadi? Iseng-iseng saya coba cek harga tiket keberangkatan hari ini di jam-jam berikutnya. Voila! ada tiket murah! masih ada tiket 300 ribu buat keberangkatan nti malam jam 8. Perduli setan deh, nunggu sampe jam 8, yang penting tiketnya murah dan saya jadi berangkat. Tiket itu langsung saya book, sembari berpikir, anggaran mana ya yang harus dipotong buat membayar flight plan B yang exactly unplanned ini T.T

Moral Message: Lain kali, make up more dramatized story kalo kepepet. Mungkin bisa dicoba dengan, “Mbak, kucing saya mau melahirkan dan saya harus ada di sisinya saat ini!”

3. Miss the train di Pekalongan. 

Yang ini adalah pengalaman paling bego dan kocak buat saya. Saya sudah standby menunggu kereta yang akan mengantarkan saya pulang ke Jakarta dari jam tujuh. Di tiket saya, kereta akan berangkat jam 8 malam. Oleh karena itu, setiap kereta yang berhenti di depan saya tidak saya hiraukan.

Sekarang, tepat setengah delapan malam, di hadapan saya sedang nongkrong sebuah kereta yang tempat duduknya berhadap-hadapan, terhalang oleh sebuah meja. Saya melihat kereta itu sebentar dan berkomentar dalam hati, capek nggak ya duduk di kereta itu selama beberapa jam? Biasanya saya selalu memberanikan diri untuk mengeluarkan kocek lebih menggunakan jasa kereta eksekutif. Bukan bermaksud bagaimana-bagaimana, saya hanya ingin perjalanan berlangsung senyaman mungkin (buat saya, terkadang perlu untuk berkorban lebih untuk memanjakan diri sejenak, setelah berhemat-hemat ria di Jakarta naik kendaraan umum yang super sadis pengalamannya–berdiri berhimpit-himpitan, plus macet berkepanjangan).

Tak lama keretapun bergerak dan meninggalkan stasiun. Saat itu menunjukkan pukul 7.45, dan nggak ada lagi kereta yang lewat sampai setengah sembilan. Saya bingung. Kereta saya delay ya?

Saya pun mencari petugas untuk bertanya apa kabarnya kereta saya, kok sudah setengah jam belum muncul juga. Saya menunjukkan tiket kereta api bisnis saya pada petugas tersebut (kali ini pulang saya sengaja naik kereta api bisnis karena yang eksekutif nggak ada yang keberangkatan malam).

Gantian petugasnya yang bingung sehabis melihat tiket saya.

“Lho pak, kok nggak naik kereta yang tadi?”

Awkward moment comes, saya dan petugas sama-sama terdiam.

“Lho, bukannya kereta saya jam 8? kok tadi datengnya setengah 8?” kata saya membela diri.

“Iya, keretanya datang lebih awal, Pak”.

Saya terdiam lagi. Mampus deh gua!

Singkat cerita, saya disarankan untuk naik bis saja pulang ke Jakarta, karena kereta yang berikutnya baru akan datang jam 2 subuh nanti. Saya pun menuruti bapak petugas dengan panik. Besok pagi saya harus ngantor, dan nggak mungkin saya menunggu kereta subuh. Mau sampai jam berapa saya di Jakarta??

Moral message: jangan keasikan ngeliatin penampakan yang nyu-nyu kalo lagi nunggu jadwal keberangkatan

Cukup tiga cerita itu dulu yang saya bagikan mengenai pahit getirnya berwisata sendirian ala saya yang serampangan ini. Semoga cerita di atas, berikut pesan moralnya dapat dijadikan panutan untuk perjalanan teman-teman. Dont do that even once deh, sensasinya bukan lagi kayak ada butterfly in my stomach, tapi udah kayak ada tomcat on the entire body.

Sambil mengetik notes ini, saya panjatkan doa-doa buang sial, jangan lagi terjadi hal-hal bodoh seperti di atas. Amin… (finger crossed)

This entry was posted in: Chipsy talks

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s