Chipsy talks
Leave a Comment

How the World Appreciates Our Indonesia

Sedikit selingan, sebelum saya menulis kembali beberapa travel notes yang masih dipeti-es di kepala, saya mencoba menulis sebuah artikel ringan. Tulisan kali ini berisi tentang bentuk penghargaan selebritis-selebritis dunia terhadap negeri kita tercinta Nusantara ini. Saya mecoba mengingat-ingat sebentar beberapa artikel yang pernah saya baca sebelumnya, berkaitan dengan topik di atas, dan “This is it! Article of World appreciation toward our Country” ala amateur writer, Hendra 😀

1. Geef Mij Maar Nasi Goreng

Diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/File:Wieteke_van_Dort,_Den_Haag_

Veteranendag_2009,_by_FaceMePLS.jpg

Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd
Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht
Maar ‘t ergste was ‘t eten.
Nog erger dan op reis
Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij

Geen lontong, sate babi, en niets smaakt hier pedis
Geen trassi, sroendeng, bandeng en geen tahoe petis
Kwee lapis, onde-onde, geen ketella of ba-pao
Geen ketan, geen goela-djawa, daarom ja, ik zeg nou

Ik ben nou wel gewend, ja aan die boerenkool met worst
Aan hutspot, pake klapperstuk, aan mellek voor de dorst
Aan stamppot met andijwie, aan spruitjes, erwtensoep
Maar ‘t lekkerst toch is rijst, ja en daarom steeds ik roep

Kalo kita membaca lirik di atas, kita akan menemukan beberapa menu makanan yang biasa kita temukan di Indonesia. Yap, lagu bergenre keroncong yang dilantunkan oleh Wieteke Van Dort atau tante Lien, wanita kebangsaan Belanda yang lahir di Surabaya ini memang menceritakan tentang makanan-makanan khas Indonesia yang selalu ia rindukan semenjak kepindahannya ke Tanah airnya.

Ibu Wieteke adalah salah satu dari sekian banyak warga Negara asing yang turut memberikan kontribusi dalam melestarikan budaya Indonesia di luar sana. Di Belanda, ia sempat membawakan acara berjudul Late Lien Show, sebuah acara yang memperkenalkan budaya Indo (Indisch) dan men-set tidak hanya interior ruangan dengan tema Indo, tetapi juga ia selalu konsisten mengenakan kebaya di setiap pertunjukannya.

2. Panorama Bali di Eat, Pray and Love

Film yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Elizabeth Gilberth ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang wanita ke tiga negara untuk mencari makna keseimbangan hidup. Liz, yang diperankan oleh Julia Robert, memulai petualangannya menikmati berbagai santapan lezat di Italia, bermeditasi di India, dan akhirnya menemukan cinta sejatinya di Bali.

Di film ini kita bisa menyaksikan betapa indahnya panorama pantai Padang-Padang dan betapa hijaunya hamparan sawah bertingkat-tingkat di Ubud.

3. Gamelan dalam I See You nya Leona Lewis

Kalo kita notice, Dalam lagu I See You, original soundtrack dari film Avatar karya James Cameroon ini, kita akan mendengarkan iringan instrumen gamelan khas Bali. Ketika saya mencoba googling, ternyata pendengaran saya memang nggak sedang bermasalah. “Klanang-klonong kletang-klentung” khas Gamelan memang sengaja disisipkan di beberapa bagian lagu (terutama di bagian intro dan awal lagu).

Berikut saya kutip pernyataan yang saya petik dari sebuah situs majalah film Empire:

 “You probably thought you had the Avatar score pegged before you saw a frame of the film: ethnic percussion, choral chanting and a drippy song at the end. Well, that’s only half the story, for while James Horner’s score does tick all those boxes, it does it with breathtaking breadth and depth. So we get bizarro instrumentation (gamelan bells) next to traditional scoring (some beautiful stretches of solo violin), gorgeous enchantment (The Bioluminescence Of The Night), juxtaposed with raw battle music (The Destruction Of Hometree, War)”

 http://www.empireonline.com/reviews/reviewcomplete.asp?SID=10234

4. Hollywood Celebs and Batik

Batik dikukuhkan oleh UNESCO sebagai World Heritage yang berasal dari Indonesia pada tahun 2009. Hingga kini, peminat Batik semakin merambah nggak hanya di negara kita sendiri, tetapi juga di dunia Internasional. Di bawah ini beberapa foto yang saya unduh dari http://chez-space.blogspot.com/2012/01/gaya-artis-hollywood-dengan-kostum.html dan http://lockerz.com/gallery/1249342.

Jessica Alba

Drew Barrymore dengan tas batiknya

Sigourney weaver dan Scarf Batiknya dalam film Abduction

Lenka dan Pasmina Batik

Paris Hilton and her long dress Batik

Apresiasi yang menurut saya nggak ternilai harganya. Mereka yang ada di luar sana aja begitu tertarik dan mau membagikan sedikit pengenalan akan kekayaan negara kita. Kita sebagai warga negara Indonesia seharusnya nggak cuma bangga akan keaneka-ragaman yang kita miliki tersebut, tetapi selayaknya kita turut melestarikan dan menjaga segala karunia yang sudah diberikan 😀

Saya sendiri paling males kalo ngeliat beberapa orang (bangsa saya sendiri) yang suka lemot dan latah. Lemot disini dalam artian telat nyadar, alias nunggu budaya kita diklaim orang lain baru deh berkoar-koar. Dan latah disini saya gambarkan sebagai orang yang cuma bisanya ikut-ikutan menghujat bangsa lain karena dianggap mencuri budaya dan kekayaan negara kita. Padahal orang-orang lemot dan latah ini nggak nyadar, kenapa budaya kita bisa diklaim oleh negara lain.

Kemana mereka waktu ada pertunjukan wayang kulit? lagi nonton konser Suju.

Kemana mereka memilih menghabiskan liburan musim panas? Australia.

Kemana mereka membeli pakaian-pakaian untuk acara-acara resmi? Armani Exchange

Ya, nggak ada salahnya sih dengan nonton konser Suju, saya juga pengen nonton kalo ada kesempatan. Nggak ada salahnya juga dengan berlibur keluar negeri, karena saya pun punya destinasi-destinasi internasional yang ingin saya tuju. Dan nggak ada salahnya juga dengan membeli barang-barang brand impor, toh saya juga kadang suka belanja itu (kalo lagi midnight sale, hehe).

Yang ingin saya sampaikan adalah, nggak ada salahnya kan sesekali kita menyempatkan waktu menonton pagelaran tari tradisional saat sedang berkunjung ke suatu daerah. Nggak ada salahnya juga bila kita mencoba mengeksplore potensi keindahan alam negeri kita sendiri. Dan nggak ada salahnya juga kita lebih mengutamakan baju-baju batik, kain tenun Sumba, Tapis ataupun Sasirangan yang memenuhi lemari pakaian kita. Membuka diri terhadap masuknya budaya lain memang bisa dijadikan sarana pembelajaran untuk meningkatkan perkembangan diri. Tetapi keseimbangan antara domestic dan international favor juga tetap harus kita jaga. Jangan jadi orang lemot dan latah yang akhirnya hanya menunjukan kalo kita nggak punya kesadaran berbudaya.

This entry was posted in: Chipsy talks

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s