Bali, My Indonesia
Leave a Comment

Sunset at Pura Luhur Uluwatu, (Bali Never Ending Stories, part 1)

Sebagai wujud apresiasi saya terhadap dikukuhkannya Subak (sistem pengairan di Bali) sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada pertengahan Juni ini, kali ini saya bermaksud merangkum perjalanan saya beberapa pekan lalu ke Bali dalam 5 buah artikel bertajuk “Bali Never Ending Story”. Meski sebelumnya saya sempat merilis 3 buah notes singkat tentang Bali (“Bali’s Subak Irigarion Recogized, Sawah Lingko di Ruteng kapan?“, “Pawai Ogoh-Ogoh pada Malam Nyepi“, “Selalu Ada Alasan untuk KemBALI“), namun menurut saya Bali has way-way too much stories to be told in just one or two notes.

Kelima artikel ini akan membahas tentang beberapa buah tempat wisata. Nggak ada alesan spesifik yang idealis atau filosofis sih. Mungkin alasan yang paling gampang saya lontarkan adalah, tempat-tempat inilah yang menurut saya merupakan tourism sites paling juara dan must visit places when in Bali. Well, pastinya sudah jutaan bloggers yang menulis tentang kelima tempat ini. Namun demikian, saya mencoba untuk menyajikan tulisan tentang tempat-tempat tersebut dalam kacamata saya sendiri.

Adapun tulisan pertama yang saya posting adalah mengenai keindahan Pura Uluwatu. Kenapa Pura Uluwatu? Mungkin jawabannya bisa teman-teman temukan begitu melihat foto-foto amatiran yang saya sisipkan di bawah nanti 😀

Pura Uluwatu adalah salah satu tujuan wisata di Bali  bagian barat daya, selain Garuda Wisnu Kencana, pantai Dream Land, Tanjung Benoa, dan pantai Padang-Padang.  Pura ini letaknya di dataran tinggi desa Pecatu. Saya sendiri sudah dua kali mengunjungi tempat ini. Pertama dengan teman-teman kuliah saya Juni tahun lalu, dan yang kedua dengan rekan kerja saya Januari kemarin (dan mungkin akan ada yang ketiga kalinya, pertengahan Juni ini dengan keluarga saya). Well, kalo ditanya, nggak bosen kesini terus? Ya, saya cuma bisa menjawab, yaaa bosen nggak bosen sih. Saya senang aja menemani siapa pun yang tertarik untuk berkunjung ke suatu tempat wisata, baik dibayarin ataupun bayar sendiri (pengennya sih dibayarin, haha). Ada sensasi kepuasan tersendiri rasanya, bisa berbagi pengalaman menarik yang pernah dialami sendiri.

Di loket, kami membayar tidak hanya entrance fee, tapi juga jasa penggunaan kamera. Usai membayar, kami mengambil sehelai selendang lengkap dengan tali pengikat untuk kami lempitkan di pinggang kami (khusus yang bercelana pendek, wajib menggunakan kain-kain penutup ini, berhubung kita akan memasuki kawasan sekitar pura yang dianggap sakral.

Kami pun berjalan masuk. Sepanjang jalan setapak yang rindang, kami disambut oleh belasan kera-kera yang asyik nongkrong di beberapa spot. Beberapa ada yang jahil ngisengin pengunjung, ada juga yang sibuk sendiri dengan teman-temannya. Kalo kata sopir yang kami hire selama di Bali, kami harus waspada terhadap kera-kera yang ada disini karena suka tiba-tiba merebut apa saja yang mudah diraih dari tubuh pengunjung, entah itu kacamata, ataupun aksesoris lainnya.

Dan ternyata benar, tak lama kami mendengar teriakan salah seorang pengunjung. Kacamata yang tersangkut di kepalanya baru saja diambil oleh salah seekor kera. Ketika pengunjung tersebut hendak mengambil kembali kacamatanya dari tangan kera tadi, si kera mendesis galak sambil berusaha menepis tangan si pengunjung. Akhirnya pengunjung tersebut terpaksa membeli buah dari penjaja makanan keliling dan dibantu oleh sipenjual makanan, membarter makanan itu dengan kacamata pengunjung. Si kera pun melemparkan kacamata jarahannya, merebut buah yang disodorkan dan kabur.

Serentak, saya dan teman-teman langsung mengamankan printilan-printilan yang ada di sekujur tubuh kami, entah itu anting, kalung, kacamata, dll. Sopir kami menghimbau agar kami membawa sebatang ranting untuk berjaga-jaga dan menakut-nakuti kera yang berniat iseng pada kami. Masing-masing segera mencari ranting yang mudah dibawa-bawa, supaya nggak terlalu ribet juga.

Sopir kami, yang juga bertugas sebagai guide (kami paksa ikut masuk ke dalam) berjalan paling depan, mengantarkan kami ke beberapa spot yang ok untuk berfoto.

Perjalanan menuju spot terbaik untuk berfoto-foto. Dari sini aja, kami sudah nggak sabaran untuk menghidupkan kamera. Kata pak sopir, “Sabar mas-mas, mbak-mbak, masih ada yang lebih bagus lagi di depan”

And this is it… the magnificent view… Kami sempat terbengong sekian detik saking kagumnya dengan panorama di hadapan kami

Another awesome scenery

Photo Session Begins..

Tongkat sakti penghalau kera bandel

IMG_0826

And the sunset…

Baiklah teman-teman, demikianlah catatan saya tentang “Bali Never Ending Stories, part 1” ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya ^_^. Dalam catatan perjalanan berikutnya, saya akan membahas sebuah kawasan wisata yang sudah melegenda hingga ke Hollywood. Tentunya teman-teman nggak merasa asing dengan tempat yang saya maksud tersebut.

This entry was posted in: Bali, My Indonesia

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s