Bali, My Indonesia
Comments 3

Eat, Pray and Love di Ubud ala Saya (Bali Never Ending Stories, part 2)

Kalo lagi nongkrong somewhere di Bali, terus kenalan sama bule dan kita tanya, “what’s your plan in Bali?”, mayoritas pasti akan menjawab, “We will go to bla-bla-bla, then will spend couple days in Ubud”.

Ubud? Ada apa dengan Ubud?

Well, tulisan kedua “Bali Never Ending Stories ini saya mulai dengan sedikit cuplikan yang saya ambil dari film Eat, Pray and Love yang diperankan oleh Julia Roberts. Kita tentu masih ingat, hamparan hijau sawah dengan bulir-bulir padi muda yang melekat di tangkai bergoyang-goyang tertiup angin, seolah menyoraki Julia Roberts yang sedang bersepeda santai melintasi jalan raya. Kita tentu juga ingat ketika Julia Roberts sedang duduk di hadapan seorang palm reader dan mendengarkan ramalan mengenai hidupnya?

Yap, Ubud, salah satu tujuan wisata wajib berwujud perkampungan seni. Namun, nggak seperti perkampungan seni seperti tetangganya, desa Lodtunduh, yang masih asri dan sepi ala-ala desa pada umumnya, Ubud sudah disulap menjadi sebuah lokasi wisata berbutik-butik, toko suvenir dan kafe (kayaknya cuma Ubud satu-satunya desa di Indonesia yang punya Starbucks!). Pengunjung yang bertandang pun nggak tanggung-tanggung, bisa bermini bus-mini bus.

Namun tenang saja, meski setiap hari jalan utama selalu dipadati kendaraan dan turis pejalan kaki, kita masih bisa menikmati sisi lain Ubud yang masih perawan sebagaimana layaknya sebuah perdesaan. Di jalan Suweta, Ubud tengah, dan beberapa daerah lainnya saya masih menjumpai hamparan persawahan dengan pemukiman warga yang masih belum tersentuh oleh pertokoan apapun.

Di Ubud, saya mencoba sedikit napak tilas perjalanan yang dilakukan oleh Elizabeth Gilbert, penulis Eat, Pray and Love. Ya, nggak semirip yang di film sih, tapi hampir beberapa tempat yang dikunjungi oleh Liz, saya coba cari dengan bertanya kesana-sini. Salah satu tempat yang saya datangi adalah rumah Ketut Liyer, the Holywood famous Balinese Palm Reader.

Saya bisa melihat ketenaran Ketut Liyer ini memang nggak bisa dipungkiri.  Entah mungkin sebelum atau sesudah buku dan film Liz dirilis, palm reader ini memang sudah lumayan terkenal disini, saya juga nggak tahu. Rumah Ketut Liyer siang itu sudah ramai dengan turis-turis mancanegara yang ingin diramal olehnya. Saya sendiri awalnya juga penasaran dan ingin diramal oleh beliau (iseng-iseng aja). Tetapi begitu mengetahui bahwa saya bisa ngantri sampai sore (saking ramainya), saya langsung mengurungkan niat saya dan hanya memfoto-foto TKP.

Tampak depan rumah Bapak Ketut Liyer

Inget nggak sama ibu-ibu yang suka ngejudesin Julia Robert di film Eat, Pray and Love? Kayaknya beliau ini orangnya deh, hehe

Suasana antrian di dalam

Mayoritas turis yang dateng adalah turis mancanegara

Pak Ketut Liyer yang tengah, yang nggak pake Udeng (topi khas Bali)

Selain rumah pak Ketut Liyer, saya mencoba menyusuri tempat-tempat lain yang dijadikan lokasi syuting. Saya agak kesulitan mencari sawah tempat pertama kali Liz bertemu dengan kekasihnya (berhubung banyak sekali bisa saya jumpai daerah persawahan),  berikut dengan lokasi syuting dimana Julia Roberts beradu akting dengan Kristin Hakim. Alhasil, saya hanya berputar-putar sekitar Ubud dan menciptakan Eat, Pray and Love versi saya sendiri 😀

EAT

Satu hal yang menarik saat berburu kuliner di Bali bukan hanya ditilik dari menu masakannya saja, tetapi suasana yang disajikan. Saya betah nongkrong berlama-lama di kafe atau rumah makan yang ada di Bali, walau hanya ditemani oleh segelas minuman ataupun camilan.

Nomad Kafe

Nasi Goreng dan Capucinno ala Nomad Cafe

View di luar kafe Nomad

Bebek Bengil

Main tanem-taneman padi pun bisa disini

Menu meja sebelah (meja saya juga nggak kalah heboh kok, hehe. Fotonya ada di “Bali, Always Pengen KemBALI”)

Warung Murni letaknya tepat di sebelah jembatan Campuhan. Uniknya ruang-ruang makannya berada di beberapa lantai ke bawah. Semakin turun ke lantai paling dasar, kita akan semakin dekat dengan river view dan menikmati sajian ditemani gemericik arus sungai di luar sana.

Starbucks Ubud, konon kabarnya merupakan Starbucks termahal se Indonesia. Waktu saya coba membeli Ice Green Tea Latte favorit saya, ternyata benar. Harganya lebih mahal 5 ribuan dari harga normalnya kalo saya beli di Jakarta.

Suasana di dalam Starbucks Ubud

Pemandangan di luar Starbucks

PRAY

Sebagai provinsi dengan penganut agama Hindu terbesar di Indonesia, tentunya menjadikan Bali daerah wisata yang sarat akan keeksotisan. Saya pribadi sangat mengagumi tata cara ibadah maupun upacara-upacara keagamaan yang dijalankan oleh mereka.

Seorang ibu-ibu bersembahyang di pura yang terletak di pemandian Tirta Empul

Beberapa pengunjung mandi di pemandian ini percaya bahwa air yang mengalir dari setiap sumber mata air ini mampu menyucikan diri ataupun membawa rejeki

Salah satu pura sembahyang

Beberapa orang tampak sembahyang

Pengunjung menerima air suci yang diberikan oleh Pedande

LOVE

Pernah mendengar tentang pelukis berdarah Italia-Spanyol terkenal bernama Antonio Blanco? Kisah perjalanan hidupnya pernah diadaptasikan ke dalam sebuah sinetron delapan episode berjudul “Api Cinta Antonio Blanco” yang di putar di salah satu stasiun tv swasta. Sinetron ini menceritakan tentang perjalanan hidup Antonio muda ketika menginjakan kaki di tanah Ubud dan bertemu dengan ni Ronji, seorang penari tradisional yang kemudian dinikahinya.

Bagi saya kisah cinta ini cukup menyentuh  karena tidak hanya menceritakan tentang hubungan dua sosok manusia berbeda kewarganegaraan, tetapi juga tentang besarnya kecintaan Antonio Blanco terhadap Ubud dan budaya Bali. Antonio hingga akhir hayatnya memilih untuk menetap di Ubud bersama istri dan keempat anaknya, menganut agama hindu dan meminta agar kelak ia meninggal jasadnya dibakar sesuai dengan adat Bali—Ngaben.

Di Ubud, kita dapat mengunjungi Museum yang dibangun sesuai dengan keinginan Don Antonio. Museum Antonio Blanco yang terletak di jalan Tjampuhan ini merupakan perluasan dari pondok kecil lamanya yang dirombak menjadi sebuah galeri yang menyimpan hasil karya lukisan Blanco semasa hidupnya. Konon kabarnya, saking cintanya Antonio terhadap desain arsitektur museum ini, Antonio Blanco menjadi terlalu betah dan enggan keluar-keluar dari rumahnya kalo nggak mengurusi hal-hal yang penting.

Menurut saya sih wajar Antonio kelewat betah. Begitu saya memasuki pekarangan museum, mata saya langsung mendelik takjub. Sebuah taman yang berhiaskan warna-warni rupa bunga, dengan sebuah area dimana bertanggar beberapa ekor burung hias yang cantik. Saya sempat memberi makan si burung dan berfoto-foto tentunya.

Gerbang Museum Antonio Blanco dari dalam

Pintu masuk

Foto Ni Ronji, Istri Antonio Blanco yang dipajang di dekat pintu masuk

Berfoto dengan bule cilik yang sempat ketakutan untuk memberi makan si burung

Berfoto bersama petugas yang bekerja di Museum. Di belakang saya adalah lukisan hasil karya putra Antonio Blanco, yakni Mario. Pengunjung memang tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar di beberapa ruangan dimana lukisan karya Antonio Blanco dipajang. Jadi saya hanya bisa berfoto bersama lukisan Mario.

Beberapa karya Antonio Blanco yang sempat saya foto diam-diam, hehe

Lukisan Michael Jackson yang ditanda tangani oleh modelnya langsung.

Saya tinggal kurang lebih lima hari di Ubud sebelum kembali ke Kuta. Saya nggak heran apabila Antonio memutuskan untuk tinggal di Ubud ketimbang kembali ke negara asalnya. Bagi saya, dan mungkin juga bagi Antonio Blanco, Bali, terutama Ubud, memang merupakan perwakilan dari perpaduan keindahan alam dan budaya yang sempurna.  Sama seperti Elizabeth Gilbert yang mengabadikan Ubud dalam tulisannya, saya rasa siapapun nggak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmatinya walau sebentar.

This entry was posted in: Bali, My Indonesia

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s