Chipsy talks
Comments 3

Jalan-Jalan Gratis itu Kalau…

1. Menang kontes traveling

Entah itu kontes foto, kontes menulis (blog, cerpen, travel notes dll), sampai dengan kontes pengetahuan umum. Hadiahnya biasanya berlibur berapa hari berapa malam dimana , tiket gratis pulang pergi kemana, bahkan jalan-halan bersama artis terkenal. Saya pernah beberapa kali mengikuti kontes semacam ini, dan alhamdullilah Tuhan itu baik, saya nggak pernah menang, hahaha. Awal-awalnya saya selalu giat dan gencar meminta vote dari teman-teman untuk me-like atau mengkomen foto yang saya ikut sertakan dalam lomba, atau gencar menulis testimoni perjalanan impian saya kalau saya berkesempatan liburan bersama artis yang menjadi brand ambassador produk tersebut.

Namun lama-kelamaan, setelah saya, again and again, nggak pernah menang, saya jadi nggak terlalu berapi-api mengikuti kontes tersebut. Ikutan sih ikutan, tapi nggak terlalu banyak berharap. Pemikiran positif yang selalu stuck di kepala saya acap kali saya melihat pengumuman dan nggak ada nama sayanya, “Mungkin Tuhan tau, saya masih bisa mengusahakan trip ini dengan usaha saya. Jadi Tuhan memberikan kesempatan itu kepada orang lain yang lebih berhak” –sebenarnya ini hanya usaha saya untuk menghibur diri :’| (foto diunduh dari https://www.facebook.com/photo.php?fbid=452248011463495&set=a.452247741463522.102777.301011603253804&type=3&theater)

2. Lolos Seleksi Beasiswa

Dulu, saat saya masih kuliah di salah satu universitas negeri terkemuka di Indonesia, saya selalu rajin mencari tahu berbagai informasi yang memungkinkan saya untuk memperoleh beasiswa melanjutkan kuliah di luar negeri. Hingga saya lulus kuliah dan bekerjapun, saya nggak pernah ketinggalan mengupdate program beasiswa mana yang sedang maupun akan dibuka dalam waktu dekat. Program-program yang sering saya tengok kala itu adalah BGF (Bourse Gouvernement Francais–Program beasiswa  Perancis), British Chevening (diselenggarakan oleh British Council), AMINEF (program milik US), Erasmus Mundus (program beasiswa bagi yang ingin kuliah di daratan Eropa). Maklum, berhubung saya menekuni jurusan Kajian Wilayah Eropa, jadi saat itu pemikiran saya totally dibrainwash menjadi Euro-minded.

Satu program yang nggak pernah saya absen untuk mendaftarkan diri, yakni BGF. Program ini memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin melanjutkan studi di Perancis. Program ini juga memberikan kursus intensif selama 6 bulan (senin-jumat, 6 jam per pertemuan) untuk membekali calon peraih beasiswa sebelum berangkat ke Perancis. Prosedur aplikasinya susah-susah gampang, kita harus memperoleh surat referensi dari dosen yang mengajar di kampus yang kita tuju, atau lebih baiknya lagi bila kita sudah memperoleh acceptance letter dari kampus tersebut. Kita juga harus mempersiapkan berbagai dokumen yang dipersyaratkan sebelum akhirnya diserahkan untuk diseleksi. Apakah saya pernah lolos? boro-boro. Sepengetahuan saya, program ini diperuntukkan bagi siapa saja yang sudah memiliki rencana matang beberapa tahun ke depannya akan melakukan apa, penerapan ilmu yang dipelajarinya akan kemana dan bagaimana, dan bagaimana kontribusi kita terhadap perkembangan ilmu baik di tanah air maupun di negara pemberi beasiswa. Dan saya sendiri saja masih bingung, masa depan saya mau dibawa kemana, hehe. (foto diunduh dari http://www.indonesiaberprestasi.web.id/?p=4926)

3. Diajak Keluarga Jalan-Jalan

Dengan penghasilan minim ala karyawan seperti saya, rasa-rasanya liburan ke luar negeri itu memerlukan niat yang kuat dan tekad yang membara untuk mengumpulkan uang. Meski sudah banyak low cost airlines yang berbaik hati memberikan tiket-tiket murah bahkan kursi gratis (nggak gratis-gratis amat sih), namun akomodasi sepanjang perjalanan kan masih harus dipertimbangkan.

Saya termasuk orang yang sangat beruntung. Di keluarga saya (keluarga inti ya), hanya saya yang fasih berbahasa Inggris, ditunjang dengan sedikit Perancis dan Mandarin yang super minim. Alhasil, kalau misalkan keluarga ingin berlibur keluar negeri, pasti nama saya nggak pernah absen untuk diikut-sertakan. Tentu saja, baik tiket return, hotel, dan makan tiga hari sekali sudah nggak perlu saya pusingkan lagi karena ada yang menanggung. Saya nggak perlu sampai menggembel tidur di airport ataupun menekan biaya makan sehemat-hematnya seperti yang biasa saya lakukan kalau trip sendirian. Saya hanya perlu mengeluarkan uang untuk jajan-jajan kecil dan oleh-oleh.

4. Teman Ada yang Kawinan di Luar Kota (bahkan Luar Negeri)

Dan memaksa kita untuk wajib datang, walaupun kita sudah bilang kalau kita sedang nggak punya kelebihan budget untuk biaya tak terduga semacam itu. Saya sih belum pernah bertemu dengan peruntungan semacam ini. Tapi menurut beberapa kenalan saya, mereka pernah mengalami hal tersebut. Dari tiket pulang pergi, penginapan di hotel berbintang, fasilitas antar jemput, sampai 3 times meal, semuanya diakomodir oleh yang punya hajat. Tugas dia cuma datang dan menongolkan muka.

5. Punya Pacar di Luar Kota/ Negeri

Yang ini biasanya berlaku bagi perempuan, walaupun nggak menutup kemungkinan para pria juga bisa memiliki privillege serupa. Pekerjaan saya sebelumnya memungkinkan saya untuk bertatap muka dengan orang-orang yang memiliki rencana keluar negeri (gampangnya, kita sebut saja agen perjalanan). Ada beberapa kesempatan dimana saya berhadapan dengan aplikan yang tujuan perjalanannya untuk bertemu istri/suami/keluarga/pacar/teman dekat/teman saja yang kebetulan tinggal di luar negeri. Nggak jarang juga saya temui seorang turis non lokal datang bersama aplikan lokal untuk mengurusi dokumen perjalanan si lokal ini. Alasan perjalanannya sih sederhana, dari liburan bareng, sampai bertemu keluarga si non lokal.

Enaknya punya pacar di luar negeri (baik pacar lokal maupun non lokal) itu, selain kita bisa mendapatkan kunjungan berkala dari dia dan dihujani dengan berbagai macam oleh-oleh khas negara tempat dia tinggal, kita juga berkesempatan untuk liburan ke negaranya dengan gratis, hehe. Jarang-jarang kan pacar tega mengundang kita untuk mengunjungi dia tapi kita disuruh urus gono gininya sendiri. Kecuali kita mau kesana atas inisiatif kita sendiri, tentunya kita yang sadar diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Karena itu, terkadang saya ingin bisa punya pacar di luar negeri yang rela mengurusi ijin tinggal untuk saya, membuatkan surat undangan buat saya, kadang kalo perlu membelikan saya tiket gratis pulang pergi haha.

6. Ada Ide yang Lain Lagi Mungkin?

This entry was posted in: Chipsy talks

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s