Lampung, My Indonesia, Sumatra
Comment 1

Elephant Trekking di Way Kambas, Lampung

Sebagai salah seorang penduduk provinsi Lampung, saya termasuk orang yang sangat jarang menikmati indahnya panorama alam Lampung (dan patut diakui, ini sedikit memalukan, ketika banyak orang luar kota yang sebenarnya ingin mengunjungi banyak tempat pariwisata di Lampung). Begitu pula dengan Taman Nasional Way Kambas. Saya baru 3 kali seumur-umur berkunjung kesana. Pertama saat dulu sekali saya masih kecil (baru mencicipi atraksi gajah dan naik kereta yang ditarik gajah berkeliling-keliling), kemudian saat saya beranjak memasuki bangku perkuliahan dimana saya sudah mulai nekad melakukan “elephant trekking” pertama saya, dan yang terakhir saat liburan lebaran kemarin, dimana saya mulai berani melepaskan pegangan saya dari sang pawang gajah dan menikmati ayunan langkah si mamalia besar itu.

Perjalanan dari kota tempat saya tinggal–Metro–menuju Way Jepara (lokasi Way Kambas) memakan waktu sekitar satu setengah jam mengendarai mobil pribadi. Saya sendiri belum pernah menggunakan kendaraan umum berhubung akses ke Way Jepara memang agak sulit menggunakan kendaraan umum (tidak setiap saat ada). Begitu sampai di depan gerbang Taman Nasional pun kita masih harus menyusuri jalan yang sedikit berbatu (waktu itu beberapa bagian jalan beraspal banyak yang berlubang) menuju tamannya sendiri. Di kiri kanan saya membentang padang rumput yang tidak terlalu hijau, namun tidak juga gersang. Harapan saya sih, saat itu bisa melihat sekawanan gajah-gajah liar sedang merumput disana, sayangnya nggak satupun saya jumpai pemandangan itu.

Sesampainya di taman nasional dan selesai memarkirkan kendaraan, saya dan keluarga langsung berjalan kaki menuju kerumunan orang-orang. Gajah pertama yang saya lihat sedang asik ngemil serabut kelapa tanpa merasa terganggu oleh belasan orang-orang yang mengelilinginya. Sayapun menekadkan diri berdiri di depannya untuk berfoto bersama si gajah

Puas berfoto-foto, saya melanjutkan acara melihat-lihat ke spot yang lain. Saya melihat ada sebuah kereta gajah yang sudah ramai dengan para penumpang yang siap berkeliling. Saya nggak sempat bertanya tarif pada sopir kereta gajah itu karena saya sudah nggak sabaran untuk melakukan trekking, jadi saya ambil beberapa foto dan melangkah meninggalkan kereta yang sempat saya naiki waktu kecil dulu.

Saya pun berjalan menuju sebuah lapangan yang penuh dengan orang-orang sedang menonton gajah-gajah yang berputar berkeliling lapangan. Awalnya saya agak shock, masa iya trekkingnya sekarang begini doang? muter-muter lapangan ga jelas? Saya segera menghampiri loket pembelian teket untuk trekking. Saya bertanya pada petugas tiket, apakah bisa melakukan long trekking? Pak petugas menerangkan agar saya langsung menemui salah satu pawang gajah di lapangan. Tarif yang harus dibayar untuk setengah jam trekking sebesar IDR 75.000,-

Saya kembali ke lapangan dan berbicara dengan salah satu pawang. Setelah sedikit bernegosiasi, sang pawang menetapkan bahwa harga trekkingnya perorang tetap IDR 75.000,- karena saya nggak berhasil nego diskon tarif , namun dengan catatan, waktu trekkingnya ditambah menjadi 45menit. Lumayan deh…

Bersama keponakan, saya menaiki tangga untuk bisa mencapai punggung gajah. Bersama satu gajah lagi yang ditumpangi oleh sepupu saya, kami memulai perjalanan kami…

Naik gajah itu bikin deg-deg serr. Gimana nggak, kita sedang berada di atas ketinggian yang lumayan bikin salah satu tulang patah kalau kita jatuh dari sana. Belum lagi kalo tiba-tiba waktu kita jatuh, kita nggak sengaja keinjek sama si gajah. Banyak lagi parno-parno yang berkeliaran di kepala saat berada di punggung gajah. Seperti misalnya saat kami sedang melintasi sebuah sungai (atau rawa ya namanya?) yang cukup lebar, saya sudah panik, kalau-kalau sungai ini dalam dan si gajah salah menapak. Atau jika tiba-tiba si gajah mendadak ngambek dan menghempaskan kami ke air.

Tapi ternyata perjalanan mulus-mulus saja dan lambat-laun saya menikmatinya. Kalau kata si pawang, ikuti pergerakan sendi si gajah, dan duduk serileks mungkin, dijamin deh kita akan ketagihan untuk berada selama mungkin di atas punggung gajah. Saya pun mulai berani melepaskan pegangan saya dari si pawang, dan mengusap-usap daun telinga gajah yang sesekali dikibas-kibas lembut di kaki saya.

Saat saya sedang trekking, sedang berlangsung atraksi gajah di salah satu lokasi. Kebetulan anggota keluarga saya yang nggak berani melakukan elephant trekking berkesempatan menonton pertunjukkan dengan membayar tiket masuk sebesar IDR 30.000,-. Menurut kakak saya, atraksi gajahnya lumayan menarik, seperti gajah yang melakukan hula hoopΒ  dengan menggunakan belalainya, gajah yang pandai berhitung, dan gajah yang berjoget. Sayangnya saya nggak sempat ikut menonton saat itu.

This entry was posted in: Lampung, My Indonesia, Sumatra

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

1 Comment

  1. Ada paket wisata utk menginap/camping di kawasan Way Kambas gak? Atau safari malam gitu keliling taman nasional? Pengen yg lebih adventure..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s