Chipsy talks
Comments 6

Strangers + Traveling = New Family? (Part 2)

Beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan trip Flores yang berdurasi kurang lebih 10 hari. Bersama seorang teman yang saya kenal dari sebuah jejaring sosial, Biru (nama penanya), saya menjelajah hampir separuh pulau Flores. Dalam perjalanan, saya dan Biru menjumpai beberapa orang yang awalnya sama sekali tidak kami kenal yang berakhir pada sebuah keterikatan sosial bernama “pertemanan”. Dari mereka, kembali saya belajar akan banyak hal, sebagaimana tulisan awal saya https://sayaminggatdulu.wordpress.com/2012/05/22/keluarga-baru-saat-traveling/

Mba Angie, Stevie, Bang Andi, Biru dan Didier, partner traveling saya saat berkunjung ke Air Terjun Cunca Wulang

1. Menerima Perbedaan

Mari kita mulai dengan Biru, partner travel saya. Saya sudah cukup lama mengenal Biru, namun baru kali ini saya berkesempatan bertemu dengan makhluk yang satu ini. Biru, bagi saya, adalah salah satu smart traveler yang pandai memperhitungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan budget perjalanan. Banyak hal positif yang saya pelajari selama menghabiskan waktu bersama. Saya belajar bagaimana me-manage sebuah perjalanan menjadi seefisien mungkin. Saya belajar menjadi kekeuh alias berpendirian teguh setiap kali harus tawar-menawar harga dimanapun dan kapanpun (hal mana yang saya paling malas lakukan setiap kali traveling). Saya juga belajar menghargai setiap momentum untuk diisi dengan hal-hal yang berharga (baru kali ini saya bangun subuh-subuh dan naik ke atas gunung cuma untuk menikmati sunrise).

Well, tentunya nggak setiap kali perjalanan kami berbumbu manis. Kerap kali kami juga harus adu argumentasi untuk banyak hal, mulai dari tempat wisata yang selanjutnya akan dikunjungi, harus makan dimana, harus keluar uang berapa, dan banyak hal lainnya. Hingga puncaknya, hari terakhir kami sedikit diwarnai perang dingin karena satu hal. Namun hal ini hanya berlangsung sebentar karena pada akhirnya kami bertegur sapa seperti sedia kala.

Menerima perbedaan, baik perbedaan pandangan maupun perbedaan sifat, adalah satu hal yang benar-benar diuji ketika harus menghabiskan banyak waktu dengan orang lain. Ide yang timbul dari isi kepala masing-masing pihak, dan watak yang  berbeda satu sama lain membutuhkan sebuah toleransi yang luar biasa agar tidak menimbulkan persinggungan yang berujung pertengkaran. Dan bagi saya, dengan diberikannya kesempatan untuk bertemu orang-orang berbeda karakter seperti Biru ini, saya mempelajari bahwa perbedaan itu ada untuk saling menerima dan melengkapi.

2. Kesetia-Kawanan

Penerbangan saya ke Labuan Bajo dijadwalkan esok dini hari tepat pukul 05.30, tapi sedari jam 4 sore saya sudah stand by di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Hari ini rencananya saya bersama Biru berencana untuk menginap di bandara, dengan pertimbangan agar esoknya kami nggak perlu kalang-kabut ke bandara subuh-subuh.  Awalnya memang kami hanya akan menginap berdua saja karena memang hanya kami berdua yang akan melakukan perjalanan ke Flores.  Namun tiba-tiba salah seorang teman kami, Dimas memberitahukan kami bahwa ia akan ikutan menginap di bandara bersama dengan kami, padahal ia nggak ikutan terbang besok. Ketika saya tanyakan, kenapa mau ikutan nginep, padahal besoknya harus kerja,  dia hanya menjawab, itung-itung mengantar keberangkatan teman-teman.

Biru (putih), Dimas (hitam) dan saya, sedang nongkrong di Terminal 3 Soekarno-Hatta

Seperti halnya Biru, saya mengenal Dimas melalui situs jejaring sosial. Saat itu adalah kali ketiga saya bertemu dengannya, setelah sebelumnya kami sempat bertemu ketika ia sedang berkunjung ke Lampung dan ketika saya sedang berada di Jakarta. Dimas adalah salah satu dari kebanyakan traveler yang memiliki mimpi untuk menakhlukan dunia. Sebagai anggota pecinta alam, sudah banyak gunung yang ia daki bersama teman-teman lainnya.

Satu hal yang saya salut, dia adalah tipe teman yang menjunjung tinggi solidaritas pertemanan. Contoh pertama adalah saat saya sedang berkunjung ke Jakarta, saya menanyakan kemungkinan apakah bisa kopi darat dan ngobrol-ngobrol.  kamipun mengatur janji untuk bertemu di salah satu warung kopi di bilangan Sarinah, Jakarta Pusat. Padahal sepengetahuan saya, jarak dari spot pertemuan kami ke rumahnya terbilang lumayan jauh. Tapi tanpa mengeluh malas ataupun kejauhan, ia menyanggupi untuk bertemu di warung kopi tersebut.

Contoh kedua adalah malam saat saya dan Biru bermaksud menginap di Bandara. Bagi saya, sangat jarang bisa ada orang yang iseng atau nggak ada kerjaan menemani orang lain menginap di Bandara semalam suntuk dan pulang lagi ke rumah subuh-subuh tanpa memperoleh imbalan apapun.  Namun Dimas setia menemani saya dan Biru mengobrol ngalor-ngidul sampai pagi tiba dan menghantar kami ke pintu keberangkatan.

3. Ketulusan dan Kepercayaan

Niuk adalah putra daerah asli Riung, Flores yang kami temui di Bajawa. Ia kebetulan saat itu sedang menjemput dua teman kuliahnya (Andro dan JJ) yang memang bermaksud liburan di kampung halaman Niuk. Niuk menawarkan diri untuk menjamu kami dan mengundang kami untuk menginap selama kami berkunjung ke Riung. Tentu saja saya dan Biru sangat kegirangan menerima ajakan Niuk tersebut. Memang impian kami untuk bisa tinggal bersama dan mengenal lebih dekat warga lokal acap kali kami sedang traveling.

JJ, Andro, Saya dan Niuk saat mengunjungi kampung adat Wogo

Sesampainya di rumah Niuk, kami disambut oleh beberapa gelas kopi Flores, pisang goreng yang masih mengepul uapnya, dan tentunya senyum hangat dari bapak dan ibu Niuk. Sembari melepas lelah kami mengobrol dan beristirahat sejenak di ruang keluarga. Satu hal yang saya sangat kagumi dari Niuk dan keluarganya, mereka tidak memiliki sedikitpun prasangka buruk kepada saya dan Biru. Kami baru saja bertemu kemarin tidak sampai satu jam, tapi hari ini kami sudah duduk semeja dan bersenda gurau selayaknya teman yang memang sudah kenal lama.

Tidak sampai disitu, pada malam hari, saya kembali dikejutkan oleh kegiatan keluarga Niuk. Malam itu bapak, ibu dan salah seorang teman Niuk sedang asyik membuat ketupat. Penasaran, JJ bertanya, ketupatnya untuk apa? Ibu Niuk dengan lembut menjelaskan bahwa ketupat-ketupat ini nantinya akan kami bawa sebagai bekal saat sedang berlayar di taman laut, bersama dengan pisang rebus yang terlebih dulu sudah digodok di dapur. Astaga, saya benar-benar terenyuh saat itu. Bagaimana mungkin ada keluarga yang segitu tulusnya mau membuatkan bekal perjalanan untuk orang asing?

Menurut cerita teman saya, keluarga Flores memang berhati besar dan sangat tulus. Mereka nggak sedikitpun menyimpan prasangka buruk terhadap siapa saja yang bahkan belum mereka kenal. Mereka akan semaksimal mungkin membuat siapa saja yang bertamu ke rumah mereka merasa nyaman dan diterima. Itu yang saya rasakan selama tinggal 2 malam di rumah Niuk. Keluarganya yang senantiasa memperlakukan saya dan yang lainnya seperti bagian dari mereka. Sedikitpun mereka nggak merasa curiga apakah kami akan berniat jelek kepada mereka.

Bapak dan Ibu Niuk, menghantar kepergian saya dan Biru

Saya dan Biru berfoto bersama salah seorang Pater di Biara St. Yosef Bogenga

Saya dan Wempy, tidak sengaja berkenalan di sebuah warung gado-gado

Baik sebelum maupun saat dalam perjalanan saya dan Biru ke Flores, banyak teman-teman baru yang saya temui. Sebut saja mba Angie, bang Andi dan Did (berkewarganegaraan Belgia) yang bersama kami menghabiskan 2 hari satu malam di atas boat berkeliling Komodo-Rinca-Pink Beach-Manta Point dan Pulau Bidadari. Atau Pater Abdul (atau Adam, saya agak lupa) yang mengijinkan saya dan Biru untuk menginap semalam di Biara St. Yosef Bogenga Bajawa dan tiba-tiba menawarkan motornya untuk kami pakai. Atau Wempy yang beritikad mengantar kami mencari penginapan saat di Ende. Semua tentunya memberikan kenangan tersendiri bagi saya dan perjalanan saya.  Dan saya harap, silahturahmi yang terjalin tidak akan pernah berputus walaupun kami tidak memiliki kesempatan untuk sesering mungkin bersua.

This entry was posted in: Chipsy talks

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

6 Comments

  1. anggek says

    qqqqqqqqq nice to meet you in real world, thanks to the time on boad and at labuan bajo… c u in next trip buddy!!!

    Like

  2. Pingback: “Berjemur” di Riung, Surga 17 Pulau (Pulang ke Flores, Part 3) « Saya Minggat Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s