East Lesser Sunda, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Comments 4

From Bajo to Bajawa (Pulang ke Flores, Part 1)

Pulang adalah kata yang tepat, dibanding berlibur. Setidaknya itu yang saya rasakan selama menghabiskan waktu di Flores beberapa pekan lalu. Tidak hanya karena ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di tanah Flores, tetapi karena memang saya selalu merasakan penerimaan yang sangat hangat ketika berkunjung kemari. Bagi saya Flores tidak hanya sekedar tempat wisata, tetapi lebih merupakan rumah kedua yang selalu membuat saya ingin pulang lebih sering dan lebih lama lagi.

Sore itu, seolah dejavu, saya bersama travel partner saya yang bernama Biru berjalan keluar dari Bandara Komodo Labuan Bajo. Menjumpai orang yang sama yang akan mengantar saya ke penginapan, saya sedikit merasa tersanjung karena ternyata orang tersebut masih mengenal saya. Bersama dengan dua turis Kanada yang juga satu penginapan dengan saya, mobil yang kami tumpangi pun menderu dan meluncur di sepanjang jalanan mendaki menuju Golo Hilltop Guest House, penginapan yang pernah saya tinggali sekitar 8 bulan lalu.

Wajah Flores agak berbeda ketimbang pertama kali saya berkunjung. Apabila bulan Januari lalu saya melihat penampakan bentang alam Flores yang hijau nan subur karena sedang berada pada musim penghujan, kali ini saya melihat Flores yang kuning kecoklatan, gersang. Selain itu, jalan raya satu arah yang dulu saya lewati sedang mulus rupawan, kali ini sedang mengalami perluasan, dengan beberapa lubang dan bebatuan di kiri kanan jalan.

Well, nggak sampai 15 menit, kami tiba di Golo Hilltop Guest House. Seperti biasa, saya langsung menuju restoran yang merangkap resepsionis untuk cek in dan mengambil kunci. Lagi-lagi saya dibuat takjub karena pemilik guesthouse masih hafal muka saya dan ingat di kamar mana saya pernah tinggal. Usai basa-basi sebentar, salah seorang porter–yang ternyata masih kenal dengan saya–mengantarkan saya dan Biru ke kamar yang letaknya paling atas, kamar deluxe seharga IDR 450k yang sengaja saya pesan karena saya merindukan pemandangan sepotong Labuan bajo yang nampak sempurna bila dilihat dari sana (sebenarnya terdapat pilihan kamar standar seharga IDR 350k, namun saat saya mencoba booking, ternyata semua kamar standar tidak ada yang vacant) .

Pemandangan dari atas

Narsis sejenak

Setelah beristirahat sebentar di kamar sambil menikmati pemandangan Labuan Bajo, kami bergegas turun ke bawah menuju kolam renang (berenang adalah agenda utama kami sore itu untuk memanjakan diri seraya menanti matahari tenggelam). Seperti biasa, saya harus melewati restoran merangkap resepsionis terlebih dulu yang berada tepat disamping kolam renang. Saya pun memesan sepoci teh jahe hangat favorit saya. Spot favorit saya kebetulan baru saja kosong karena bule-bule yang sebelumnya duduk disana tampak berkemas dan kembali ke kamar. Hal yang saya sukai dari spot ini (foto di bawah ini) adalah saya bisa menikmati sepotong kecantikan Bajo yang tidak terhalang oleh apapun.

Sunset… set… set…

Saya dan Biru beranjak dari kolam renang menuju restoran untuk makan malam sekitar pukul 7. Kami memesan nasi goreng seafood yang harganya menurut saya worth dengan rasa dan kuantitas potongan ikan, udang dan cumi-cuminya (IDR 25k). Sambil duduk tenang di restoran, kami memanfaatkan fasilitas wi-fi yang alhamdulilah lancar jaya. Restoran tutup sekitar jam 9 malam dan tentu saja tidak ada lagi aktifitas setelah jam tersebut. Semua orang masuk ke kamar masing-masing untuk tidur, tidak terkecuali kami.

***

Subuh-subuh benar, sekitar pukul 5, saya dan Biru sudah bersiap-siap untuk packing. Kami harus mengejar bus ke Bajawa sebelum jam 7. Setelah mandi dan cek out, kami berjalan kaki menuju jalan raya, kearah persimpangan jalan yang dimaksud oleh salah satu pekerja di Golo Hilltop. Semalam ia menjelaskan bahwa di pertigaan jalan tersebut biasanya bus ke Bajawa lewat, jadi kami tidak perlu ke terminal segala.

Pemandangan yang dapat kami jumpai saat menuju persimpangan yang dimaksud

Pertigaan satu arah tempat kami menunggu bus

Tidak sampai setengah jam, berhenti sebuah auto bus di hadapan kami. Bis tersebut hanya melayani rute ke Ruteng. Awalnya kami tidak berminat untuk menaikinya, berhubung tujuan utama kami langsung ke Bajawa. Sayangnya, ujar kondektur bis, bis yang langsung ke Bajawa sudah berangkat sedari pagi tadi dan kami terlambat. Jadi terpaksa kami naik ke bus tersebut untuk kemudian melanjutkan perjalanan dari Ruteng.

Suasana di dalam bus, lengkap dengan manusia, koper, tas-tas, sekarung bawang merah dan berkarung-karung ikan kering

Bis bertarif IDR 40k tersebut mengantarkan kami ke Ruteng dalam waktu kurang lebih 4 jam. Jalanan mendaki dan berkelok-kelok khas jalan Trans Flores mengatup mulut kami rapat-rapat saking terkagum-kagumnya. Perbukitan yang menghijau, lembah yang menjurang, sabana yang tandus, pemukiman warga yang jarang jaraknya satu sama lain, dan  deretan hutan-hutan silih berganti seperti rol film yang berputar di luar jendela. Pelebaran jalan yang cukup memperlambat laju bis tidak terlalu mengganggu kekhusukan saya menyatu dengan alam di sekeliling saya (walau debu keringnya cukup mengganggu).

Pelebaran jalan Trans Flores

Salah satu pemukiman warga

Sawah Lodokh di desa Cancar. Kalau kita lihat dari ketinggian, kita akan melihat wujud pola sawah yang berbentuk sarang laba-laba

Perjalanan benar-benar memakan waktu kurang lebih 4 jam. Bis kami pun berhenti di sebuah perempatan jalan raya di Ruteng. Layaknya selebritis baru turun dari Limo, saya dan Biru dikerubuti oleh travel-travel yang menawarkan diri mengantarkan kami ke Bajawa. Setelah disepakati harga IDR 60k dengan salah seorang travel agent, saya dan Biru meletakkan tas kami di mobil dan menunggu mobil berangkat.

Ruteng

Sekitar satu jam dari ketibaan kami, mobil akhirnya berangkat. Mobil kali itu berisi 5 orang penumpang, saya dan Biru, seorang bapak-bapak, dan dua orang teman baru kami yang bernama JJ dan Andro yang ternyata juga akan ke Riung esok harinya (destinasi kami selanjutnya). Suasana yang sebelumnya dingin dan asing perlahan mencair seiring dengan bergulirnya roda mobil menembus setiap liku perbukitan menuju Bajawa.

Ada sekitar dua kali mobil kami berhenti. Yang pertama untuk mengunjungi danau Ranamese, sebuah danau yandapat kami lihat dengan mudah tanpa harus trekking berkilo-kilo. Kami hanya perlu menghentikan mobil, berjalan sedikit ke tepian jalan dan voila, danau Ranamese tampak membentang dengan indahnya.

Danau Ranamese

Perhentian kedua kami adalah ketika Andro mendadak mules dan panik mencari toilet umum. Sontak seisi mobil terpingkal-pingkal melihat kepanikan Andro. Wajar saja, siapa yang bisa mengira-ngira keberadaan sebuah wc umum di atas jalan perbukitan dengan hutan dan jurang di kanan kiri. Namun ajaibnya, Tuhan masih sayang sama Andro. Tak lama dari bukaan satunya Andro, kami menemukan sebuah wc umum. Wc yang sangat sederhana, dengan seng yang secara manual diangkat dan digeser untuk menutup pintu.

Selagi menunggu Andro menunaikan hajatnya, saya dan yang lain iseng-iseng berjalan ke suatu spot dimana kami  sempat melihat ada seorang ibu dan anak kecil sedang mengumpulkan kayu bakar. Merasa kagum dan tertarik, kami pun berfoto-foto sejenak dengan mereka. Bagaimana tidak kagum, mereka (dan orang-orang yang biasa mencari kayu bakar di hutan) sudah terbiasa berkali-kali naik-turun bukit dan lembah dalam sehari–yang mana hal ini nggak mungkin diterapkan kepada saya yang baru trekking sebentar saja sudah anfal.

Begitu Andro kelar dengan urusan hidup dan matinya, kami mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman baru kami tersebut dan kembali melanjutkan perjalanan. Sore itu kabut sudah mulai turun dan temperatur di luar mobil semakin sejuk-sejuk bikin menggigil. Bajawa yang letaknya memang di atas perbukitan memang terkenal akan temperatur rendah ala ala di puncak. Sebelumnya saya sudah diingatkan oleh kenalan saya yang tinggal di Bajawa agar membawa jaket, celana panjang dan kalau perlu sarung tangan atau kaos kaki.

Beberapa menit kemudian, muncul pemandangan menakjubkan lainnya. Sebuah gunung berbentuk kerucut yang ujungnya benar-benar masih melancip. Seisi mobil–kecuali sibapak-bapak yang duduk di depan–sibuk mengeluarkan kameranya untuk mengambil gambar. Pak sopir hanya tersenyum sambil menenangkan kami yang grusak-grusuk nggak karuan. Kata beliau, besok kami bisa puas berfoto-foto dengan gunung yang bernama Inerie itu karena gunung itu adalah background kampung adat Bena, kampung adat yang memang menjadi tujuan wisata kami.

Gunung Inerie, gunung dimana kampung adat Bena berteduh di bawah kakinya

Dengan munculnya gunung Inerie di kejauhan sana, kata pak sopir lagi, berarti kita tidak lama lagi akan sampai di Bajawa. Dan benar saja, tidak lama dari itu, mobil kami berhenti di sebuah pertigaan. Menjulang gagah sebuah tugu selamat datang menyambut kami. Dengan sumringah, seolah beban lelah 4 jam yang kami rasakan dari Ruteng ke kota ini menguap begitu saja. Welcome to Bajawa…

4 Comments

    • aminnn, semoga tlaksana. pgnnya next trip: Larantuka, Rote, Lamalera dan Alor mba. tp ga tw d kapan bs dpt tiket promo yg pas sama paskahan hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s