East Lesser Sunda, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Comments 8

Kampung Bena dan Wogo (Pulang ke Flores, part 2)

“Bapak calon Frater?” Tanya bapak-bapak yang sempat duduk di sebelah saya dalam perjalanan menuju Ruteng dari Bajo

Saya bengong, “Eh?? Bukan, Pak, hehe. Saya cuma menumpang  saja di Biara”

Yup, agenda saya sesampainya di Bajawa adalah menginap di Bruderan sebuah Biara bernama ST. Yosef Bogenga. Saya mendapatkan referensi ini dari teman jejaring sosial saya yang kebetulan tahun lalu pernah menginap di kesusterannya. Tidak dipungut biaya apapun untuk menginap disini berhubung memang Biara ini tentunya bukan merupakan penginapan umum, tetapi mereka membuka tangan bagi siapa saja yang membutuhkan tumpangan menginap (tentunya pada saat berpamitan saya memberikan sekedar ungkapan terima kasih berupa sejumlah tertentu untuk mendukung pelayanan para Pater dan Frater yang tinggal disini). Dan sebelum menginap pun saya mengontak terlebih dahulu salah satu Pater untuk meminta ijin menginap.

Bruderan ST Yosef Bogenga sangat tenang dan sejuk. Karena letaknya berada di dataran yang lebih tinggi daripada daerah lainnya di Bajawa, temperatur baik malam mapupun pagi tidak jauh berbeda dinginnya. Air di kamar mandi pun terasa menusuk tulang sehingga malam seketika saya sampai, saya hanya memberanikan diri untuk mencuci muka dan gosok gigi.

Kebekuan suhu udara di Bogenga perlahan lumer begitu saya bertemu dengan salah satu Pater (saya lupa, namanya Pater Abdul atau Pater Adam, karena saat itu Pater yang saya hubungi mengatakan bahwa saya akan bertemu dengan salah satu dari dua nama tersebut). Sang Pater menyambut saya dengan jabatan tangan dan senyuman yang hangat. Beliau mempersilahkan saya dan Biru untuk menempati salah satu kamar yang lumayan besar (bisa dihuni sekitar 4 orang) dan memiliki kamar mandi dalam. Tidak sampai disitu, beliau juga memberitahukan bahwa kami dipersilahkan untuk bergabung makan malam pada pukul setengah delapan (kami sampai di Biara sekitar jam 6 sore) dan bahkan kami dipinjamkan motor untuk sedikit berkeliling kota malam itu.

Saya tidak terlalu lama keliling kota Bajawa malam itu karena tulang saya masih berasa remuk redam setelah 8 jam perjalanan duduk manis di dalam mobil sepanjang perjalanan Labuan Bajo-Ruteng-Bajawa. Setelah sebentar membeli simcard salah satu provider yang memang lebih manusiawi sinyalnya disini ketimbang simcard yang sedang saya pakai, saya langsung pulang ke Biara untuk makan malam.

Saat makan malam, Pater yang tadi meminjamkan saya motor dengan setia menemani saya makan malam. Kami mengobrol cukup lama hingga akhirnya makanan di piring saya tandas. Kemudian sang Pater mengajak saya menuju ruang rekreasi yang penuh dengan makanan camilan (katanya kalau tiba-tiba pada malam hari saya dan Biru kelaparan, kami boleh kemari dan menyantap apa saja yang tersedia disini) dan ruang kantornya (dimana kami diperbolehkan untuk nonton TV apabila kami belum bisa tidur).

***

Sekitar jam 6 pagi, saya dan Biru sudah rapi dan siap meninggalkan Biara. Rencana kami hari itu mengunjungi kampung adat Bena dan Wogo terlebih dulu sebelum jam 12 kami dijemput oleh bus Gemini untuk melanjutkan perjalanan ke Riung. Satu jam kemudian, setelah menunggu misa pagi berakhir, saya berpamitan dengan Pater dan melangkah keluar dari Biara menuju pasar untuk menyewa ojek.

Berfoto bersama sang Pater

Sepanjang perjalanan menuju pasar (berjalan kaki), saya baru menyadari, ternyata terdapat makam keluarga di depan hampir setiap rumah yang kami lewati. Meski demikian, suasananya tidak terasa mencekam karena makam-makam justru terlihat cantik dengan keramik dan hiasan lampu penerang.

Tidak sampai 15 menit berjalan kaki, saya dan Biru sudah sampai di pasar Bajawa. Pasar ini mengingatkan saya akan jalan protokol di Jakarta Pusat dimana berdiri megah masjid Istiqlal dan Kathedral. Yap tepat sekali, di persimpangan jalan di pasar Bajawa berdiri pula berseberangan sebuah Masjid dan Gereja yang menunjukan sebuah toleransi antar umat beragama di Flores. Kata tukang mie ayam yang berjualan di samping masjid, masjid tersebut adalah masjid satu-satunya yang ada di Bajawa dan mayoritas warga Bajawa yang beragama Katholik sangat menghormati dan menghargai keberadaan umat Muslim yang tinggal disana.

Gereja di persimpangan pasar Bajawa

Masjid yang berada tepat berseberangan dengan Gereja diatas. (foto oleh teman saya Biru)

Sementara saya asyik melihat-lihat sekeliling saya, Biru mendekati beberapa tukang ojek untuk negosiasi harga. Melalui tawar-menawar yang cukup alot, akhirnya disepakati IDR 70k untuk penyewaan motornya (berikut bensin). Dengan berkendara motor, saya dan Biru menancap gas menuju kampung Bena terlebih dahulu.

Perjalanan menuju kampung Bena memakan waktu kurang lebih 45 menit. Kami melewati sebuah jalan kecil beraspal, dengan pemukiman warga di kanan kiri, kemudian pemandangan berubah menjadi bentangan savana dan sesekali lembah di sisi lainya, dilanjutkan dengan serimbunan hutan bambu yang sangat sejuk udaranya. Gunung Inerie yang kemarin sore samar-samar kami lihat dari mobilpun kini semakin nampak menjulang dengan gagahnya. Sesekali tentunya kami berhenti untuk mengambil gambar.

Gunung Inerie nampak dari pemukiman warga

Jalanan menuju Kampung Bena yang beraspal mulus. Salut bagi pemerintah daerah yang konsisten mengembangkan infrastruktur pariwisata setempat

Gunung Inerie yang tampak semakin dekat

Selang beberapa lama, saking keasyikan menoleh kanan-kiri, tiba-tiba saja kami tertegun menahan napas. Dihadapan kami menghampar sebuah pemukiman tradisional beratapkan ijuk yang tertata teratur dengan corak megalitik yang masih sangat kental. Yap, akhirnya kami sampai di kampung Bena…

Untuk memasuki kawasan wisata ini, kami tidak dipungut biaya apapun. Kami hanya diwajibkan mengisi buku tamu (data diri berikut testimoni mengenai Kampung Bena) dan memberikan sumbangan seikhlasnya untuk pengembangan dan pelestarian warisan budaya tersebut. Dari data pengunjung yang saya lihat di sebuah papan di rumah tempat kami mengisi buku tamu, saya temukan bahwa  perbandingan jumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik terpaut sangat jauh. Apabila jumlah wisatawan mancanegara pada suatu tahun mencapai 2000 orang, maka wisatawan domestik hanya mencapai sepersepuluhnya saja. Ironis memang…

Berfoto di depan penjemuran biji kopi, di belakang saya tampak gunung Inerie

Makam Keluarga

Mama sedang menenun kain

Satu hal yang menarik, warga Bena adalah satu-satunya warga yang menganut garis kekeluargaan perempuan alias Matrilinial. Laki-laki Bena akan meninggalkan kampung dan tinggal dengan keluarga istri, sedangkan laki-laki asing yang bermaksud mempersunting wanita Bena akan ikut istri dan masuk ke dalam rumah istri

Meja Batu untuk persembahan

Bukti nyata sebuah akulturasi budaya. Meskipun warga Bena kini telah memeluk agama Katholik dan dibangun sebuah gua Maria di puncak bukit tempat mereka tinggal, mereka masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka

Kampung Bena dari atas nampak menyerupai badan sebuah kapal. Menurut legenda kepercayaan setempat, jaman dulu, kampung bena merupakan sebuah kapal yang besar. Nenek moyang mereka berlayar dan terdampar di daratan dimana kampung Bena saat ini berada. Lambat laun air laut pun surut sehingga menyisakan pemukiman Bena.

Sebuah pondok yang berada tepat di belakang gua Maria. Dari sini kita bisa menikmati Gunung Inerie dan lembahnya yang menghijau

Narsis Sejenak

Perjalanan kami lanjutkan ke kampung adat Wogo. Dari Bena kami membutuhkan kurang lebih sekitar 45 menit untuk tiba di kampung Wogo. Kampung ini lumayan lebih modern ketimbang kampung Bena karena selain dibangun sebuah tugu selamat datang sederhana, disini listrik sudah mulai masuk (terlihat dari kabel-kabel yang menjuntai di atas rumah).
Sama seperti di kampung Bena, di Wogo kami kembali mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan seikhlasnya.

Secara tak sengaja,begitu memasuki kawasan pemukiman warga, saya dan Biru bertemu dengan Andro dan JJ (dua teman baru yang kami temui di mobil travel menuju Bajawa), ditemani oleh seorang temannya yang bernama Niuk (warga asli Riung, destinasi kami berikutnya). Andro dan JJ menawarkan agar kami berangkat bersama-sama siang ini ke Riung (mereka sepakat untuk naik bis yang sama dengan kami). Saya pun setuju dan mengirimkan sms kepada sopir bus bahwa akan ada tambahan tiga penumpang lagi menuju Riung. Kemudian bersama-sama kami berkeliling kampung Wogo sambil berfoto-foto bersama

Kampung Wogo dengan untaian-untaian kabel listrik di tiap atapnya

Berfoto di depat tempat penyembelihan hewan kurban

Berfoto bersama tiga teman baru saya, JJ, Andro dan Niuk

Seorang mama tua sedang menawarkan hasil kerajinan tangannya untuk suvenir

Berfoto bersama warga Wogo

Usai berfoto-foto, kami berpamitan dengan beberapa warga lokal yang kami lewati rumahnya. Trip hari itupun berakhir sudah dan kami harus bergegas kembali ke pasar Bajawa agar tidak ketinggalan bis. Saya dan Biru terlebih dahulu berpisah dari JJ dan yang lainnya karena  mereka pulang menggunakan angkot.

Kampung Bena dan Wogo adalah salah satu wujud nyata keperdulian pemerintah setempat yang berkomitmen untuk melestarikan warisan budaya turun-temurun tersebut. Dengan kemudahan akses yang ditunjang dengan infrastruktur yang mendukung, wajar saja bila jumlah wisatawan selalu meningkat tiap tahunnya.

8 Comments

    • hehehe, salam kenal jg mas 😀 makasih dah difollow blognya 😀 Iya, dua kampung itu masih natural dan terpreserved banget sampe sekarang. mas kudu ksana someday

      Like

    • hehehe, salam kenal jg mas 😀 makasih dah difollow blognya 😀 Iya, dua kampung itu masih natural dan terpreserved banget sampe sekarang. mas kudu ksana someday

      Like

  1. salut sama pemda yang sudah memperhatikan infrastruktur jalannya,,, wah gak rela juga wisman yang lebih banyak berkunjung kesitu dibanding dengan wisdom, siapa tahu suatu saat nanti bisa main kesitu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s