East Lesser Sunda, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Comment 1

“Berjemur” di Riung, Surga 17 Pulau (Pulang ke Flores, Part 3)

I really mean it when i say “Berjemur”. Mulai dari Awal perjalanan, selama tinggal, hingga perjalanan saat meninggalkan Riung, sang surya tidak kenal lelah memancar membara.

Saya, Biru dan tiga teman baru kami, JJ, Andro dan Niuk sudah berada di dalam bus Gemini (IDR 20k), bus yang akan membawa kami ke Riung, kampung halaman Niuk (kisah tentang  bagaimana saya bisa mengenal Niuk bisa dibaca di Strangers + Traveling = Keluarga Baru?). Perjalanan akan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam (kabarnya bisa kurang dari itu apabila jalanannya mulus dan tidak rusak).

Begitu duduk di dalam bus, saya langsung mengatur posisi duduk yang ‘pewe’ tepat di samping jendela dan tidur, berhubung saya kekenyangan setelah menandas habis dua mangkuk mie ayam di samping masjid di Bajawa sebelum berangkat (Mie nya memang enak banget dan murah. Dan konon kata yang jual, dialah satu-satunya penjual mie ayam di Bajawa). Awalnya saya masih merasakan sejuknya sepoi-sepoi angin Bajawa yang membuat saya perlahan terlelap. Namun tak lama, saya terbangun dan menyadari sekujur tubuh saya sudah banjir oleh keringat. Saya tolehkan kepala saya ke jendela dan mendapati di luar sana menghampar sabana yang kering kecoklatan. Terik matahari membuat sekeliling terlihat silau dan gersang.

Benar saja, jalan berbatu yang tidak mulus membuat laju bus melambat. Beberapa kali, bus berhenti untuk tidak hanya menaik-turunkan penumpang, tetapi juga menaik-turunkan paket barang titipan hingga surat. Kata Niuk, bis ini memang multi fungsi. Sempat saya lihat ada ibu-ibu yang menitipkan sehelai amplop pada om sopir untuk diantarkan ke kerabatnya. Atau ada bapak-bapak yang menitipkan seperangkat alat berat untuk diantarkan ke sebuah bengkel yang letaknya sekitar 10km dari tempat ia berada. Kalau kata Niuk, bukan hal mustahil bila ada juga yang menitipkan ternak seperti babi, sapi atau kambing (biasanya diikatkan di atas bis).

Speaking of “di atas bis”, saya, JJ dan Andro mendapat kesempatan untuk mencicipi rasanya naik bis di atas bis (literally diatas bis). Ketika tiba di suatu daerah (entah daerah apa)  sang kondektur menawarkan beberapa orang yang ada di dalam bus untuk naik ke atap bis (entah karena alasan apa). Saat itu hanya saya, JJ dan Andro yang antusias keluar dari bis dan memanjat tangga di belakang.

Bagi orang yang belum pernah duduk di atas bus seperti saya, dibutuhkan kewaspadaan, keseimbangan dan pegangan erat yang ekstra. Apalagi dengan kondisi jalan berbatu dan berlubang, saya harus mengikuti irama gerak bis agar tubuh saya tidak terbanting kesana-kemari. Namun, di luar itu semua, duduk di atas bis memang sebuah pengalaman seru yang tidak tergantikan. Saya bisa menikmati pemandangan di sekitar saya tanpa harus menunduk dan mengintip-ngintip dari kaca jendela.

Sekitar setengah jam saya dan yang lainnya duduk terguncang-guncang di atap bis. Bis berhenti kembali dan kondektur meminta kami agar turun lagi. Kata pak kondektur, kalau sudah hampir memasuki jalan utama pemukiman, biasanya suka berkeliaran para polisi. Dan apabila ketahuan oleh polisi, siapa saja yang masih nekad nongkrong di atap bis akan dihukum (meski hukumannya terbilang ringan, mulai dari disuruh push up sampai ditampar-tampar).

Kembali, duduk di dalam bis, saya mengobrol panjang-lebar dengan Niuk yang kebetulan sekarang duduk di samping saya. Niuk banyak bercerita tentang dirinya yang berkuliah di Solo bersama JJ dan Andro. Ia juga bercerita tentang perjalanannya pulang dari Solo ke Riung dengan jalur darat. Petualangan “pulang” yang saya dengar dari Niuk membuat saya iri karena memang salah satu mimpi saya adalah melakukan perjalanan darat yang jauh melintasi pulau-pulau.

Asyik mendengarkan cerita Niuk, tidak terasa sampailah kami di Riung, sebuah kecamatan yang sangat tenang  dan asri. Bus berhenti di depan rumah Niuk dan kami turun semua, bersama dengan ransel-ransel kami. Bapak dan ibu Niuk sudah menyambut kami dengan senyuman hangat di dalam rumah. Saya dan yang lainnya meletakkan tas kami di kamar Niuk. Sambil bergantian ke kamar mandi untuk bersih-bersih, kami duduk melingkar di sebuah meja bundar. Bapak Niuk dengan ramah mengajak kami mengobrol. Seperti bukan sedang berhadapan dengan orang asing, obrolan kami dengan bapak dan ibu Niuk mengalir begitu saja.

Ketika senja menjelang, kami berpamitan menuju dermaga untuk berburu matahari tenggelam. Langkah kaki kami berderap berirama menyapu debu-debu tipis di jalanan beraspal mulus. Sesekali tentunya saya mengambil gambar suasana kecamatan Riung yang sederhana dan tenang.

Rumah Makan Padang is Every Where

Dan akhirnya pemirsa, setelah sekitar 15 menit kami berjalan kaki, tibalah kami di dermaga…

Boyben multikultur, ada orang lampung, Jawa, Sunda, dan Flores 😀

Hari mulai gelap dan kami harus kembali ke rumah Niuk melalui jalan yang sama. Sesampainya di rumah, saya melihat bapak dan ibu Niuk, bersama seorang teman Niuk sedang sibuk membuat ketupat. Mulanya saya dan yang lainnya bingung, apakah besok ada hari raya khusus atau acara adat tertentu yang diadakan oleh warga setempat sehingga mereka membuat ketupat. Ternyata, begitu JJ mengutarakan rasa penasarannya tersebut, kami baru tahu bahwa ketupat itu nantinya untuk bekal kami besok jalan-jalan ke taman laut.

Tidak hanya sampai disitu, ternyata selesai semuanya bersih-bersih, kami semua dipanggil ke ruang tamu lagi. Disana sudah terhidang masakan buatan ibu Niuk. Dari sup ikan, ikan goreng hingga tumisan sayur dan sambal khas Flores, semua tersaji. Kami pun makan bersama-sama, seraya sesekali bersenda gurau layaknya sebuah keluarga yang anak-anaknya baru pulang kampung dan lengkap berkumpul.

Bapak dan teman Niuk, dan tentunya, makan malam kami, hmmm…

***

Sekitar jam 5 pagi, kami semua sudah terbangun dan bersiap-siap untuk ke dermaga. Setelah selesai cuci muka dan gosok gigi, kami menyusuri jalan yang kami lewati kemarin sore. kecamatan Riung masih sangat senyap subuh itu, hanya terdengar lantunan jangkrik dan serangga pohon lainnya.

Di dermaga ada beberapa orang kenalan Niuk. Niuk dan temannya  berbincang-bincang dengan orang-orang tersebut (mungkin membicarakan tentang penyewaan boat dll), sedang saya, Biru, Andro dan JJ berjalan ke ujung dermaga untuk–lagi-lagi–berfoto-foto ^_^

Saya dan yang lainnya dengan sabar menanti terbitnya matahari…

Setelah sekitar satu jam, Niuk memanggil kami agar naik ke kapal. Kami bergegas menuju kapal dan mengisi bangku panjang yang kosong. Pelayaran kami hari itu juga turut diramaikan oleh teman-teman Niuk lainnya. Tentunya akan sangat menyenangkan beramai-ramai menjelajah taman laut Riung dengan teman-teman baru. Saya sendiri awalnya mengira bahwa saya hanya akan sharing sewa kapal berdua saja dengan Biru (dengan budget yang lebih bengkak pastinya).

Suasana di perjalanan

Perhentian pertama kami adalah pulau Kalong. Sebelumnya saya sempat ngengunjungi pulau Kalong yang ada di dekat pulau Komodo, tetapi berhubung saat itu sudah menjelang malam dan kamera saya adalah kamera saku yang night modenya agak abal-abal, saya tidak mendapatkan gambar-gambar yang bagus.

Perhentian berikutnya, kami bersnorkelling di sekitar perairan dangkal. Saya yang kebetulan tidak memiliki underwater casing terpaksa bermurah hati menarik-narik Biru atau JJ untuk memfoto saya dengan kameranya. Namun berhubung terumbunya lumayan sulit dijangkau (saya belum mengerti taktik jitu menyelam tanpa terus-menerus terdorong ke permukaan air)saya hanya bisa berpuas diri berfoto-foto melayang di dalam air.

Hayo, yang dirotate fotonya atau orangnya?

Perhentian terakhir, sebelum pulang, adalah pulau Tiga. Awalnya kami hendak mampir ke pulau Rutong. Tetapi oleh karena beberapa pondok di pulau Rutong terbakar (entah kemarin atau beberapa hari yang lalu, saya kurang jelas mengupingnya). Pasir di pulau Tiga sangat putih dan lembut. Begitu pula dengan airnya yang sangat jernih, dan terkadang saya melihat beberapa ikan kecil bermain-main di pinggiran pantai. Sambil menunggu makan siang kami siap saji (ikan bakar, hmmmm), kami bermain hingga ke belakang pulau, dilanjutkan dengan kembali snorkelling di sekitar pulau.

Niuk sedang handstand (mari tepuk tangan…)

Surga di balik pulau Tiga

Teman Niuk sedang membulak-balik ikan bakar

Mari makan ^_^

Usai makan siang, kami kembali bermain air menghabiskan waktu. Hingga akhirnya semua pada kelelahan, kami memutuskan untuk naik ke kapal dan pulang. Kapal bergetar saat mesin dihidupkan, pelan-pelan menjauh dari pulau Tiga. Kami semua terkulai kelelahan setelah bermain air. Seisi kapal hanya terdiam menyesap desauan angin dan suara kecipak ombak yang menampar-nampar badan kapal.

Sesampainya kami di dermaga, kami membayar sewa kapal berikut alat snorkelling kepada pemilik kapal (IDR 100k untuk sewa kapal dan IDR 50k untuk snorkle gearnya) dan berpamitan dengan teman-teman Niuk. Saya, Biru, JJ, Andro serta Niuk berjalan kaki pulang. Siang itu matahari bersinar sangat terik, seolah menggigit-gigit permukaan kulit. Walaupun temperatur kemarin juga cukup panas, tapi entah mengapa hari ini kulit kami rasanya terbakar hingga keringat terus mengalir bercucuran. Tidak sabar rasanya ingin cepat-cepat sampai rumah Niuk dan mandi untuk mendinginkan badan.

Wajar saja bila kami merasa seperti dipanggang di perapian. Saat tiba di rumah Niuk, Niuk melihat termometer ruangan dan angka 40 derajat terpampang jelas disana. Kami langsung berebutan untuk mandi, termasuk saya yang lebih dulu mendapat giliran.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s