East Lesser Sunda, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Comment 1

Kelimutu, Eksotika Danau Tiga Warna (Pulang ke Flores, part 4)

Alkisah pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Konde beserta istri dan kedua anaknya di sebuah kerajaan. Pada suatu ketika, Konde dan istrinya mengetahui bahwa ternyata kedua anaknya saling jatuh cinta. Dengan berang, raja Konde mengusir kedua anaknya karena membuat dewa-dewa murka. Konde menitahkan kedua anaknya untuk menggali dua buah lubang di luar kerajaan sebagai tempat perlindungan dari banjir bandang yang akan menyerang kerajaan mereka. Lubang pertama akan diisi oleh segala harta benda, sedangkan lubang kedua yang akan kelak dihuni oleh kedua anaknya tersebut. Raja beserta istrinya sendiri juga menggali lubang yang letaknya agak berjauhan dari dua lubang tersebut untuk mengawasi kedua anaknya. Tak lama dari itu, banjir bandang datang dan menenggelamkan kerajaan, termasuk ketiga lubang tersebut.

Hingga hari ini, dipercayai oleh masyarakat setempat, bahwa ketiga lubang yang terendam air dan berubah menjadi danau tersebut menjadi tempat persemayaman arwah-arwah orang yang telah meninggal. Lubang pertama, yakni lubang tempat penguburan harta benda menjadi Tiwu Ata Polo atau danau tempat persemayaman arwah-arwah orang yang tidak memiliki budi baik selama hidupnya. Lubang kedua, yakni lubang persembunyian kedua anak raja menjadi Tiwu Nua muri Koo Fai atau danau tempat persemayaman arwah-arwah yang mati muda (danau muda-mudi). Dan lubang terakhir tempat raja dan ratu berada menjadi Tiwu Ata Bupu atau danau tempat persemayaman arwah-arwah yang meninggal di usia senja (danau orang tua).

Demikianlah cerita yang saya peroleh dari bapak tua John, pemilik penginapan tempat saya tinggal selama di Moni.

Yap, danau Kelimutu, tempat persinggahan saya berikutnya, setelah berpamitan dengan keluarga Niuk dan meninggalkan desa Riung pagi tadi. Saya dan Biru menggunakan jasa bis Gemini yang mengantarkan saya ke kabupaten Ende untuk transit sebentar. Jarak dari Riung ke Ende ditempuh kurang lebih selama 3 jam dengan harga tiket sekitar IDR 40.000,-. Sedangkan untuk melanjutkan perjalanan ke Moni, kami menggunakan travel selama kurang lebih setengah jam seharga IDR 25.000,- (seharusnya sih 20 ribu juga bisa, tapi berhubung kami kira ini sudah harga paling murah, kami nggak pakai tawar-tawar lagi).

Pasar Pagi di Moni

Saya sempat membeli kopi Flores disini

Sesampainya di Moni, kami cek in di sebuah penginapan milik bapak John yang letaknya tepat di seberang pasar pagi. Penginapannya cukup murah, kami hanya perlu membayar sejumlah IDR 50.000,- untuk berdua. Kamarnya sendiri walaupun sangat sederhana namun lumayan bersih, nyaman dan yang paling utama, ada kamar mandi dalamnya. Kami beristirahat sebentar, meletakkan barang-barang kami sebelum kami keluar untuk makan siang di sebuah rumah makan di samping penginapan.

Hari pertama di Moni, kami habiskan hanya dengan berjalan-jalan di sekitar penginapan. Kami duduk-duduk santai di pinggir kebun sayur sambil memandangi seorang mama tua sedang menyirami sayurannya. Biru, entah mendapat ilham darimana, mendadak turun ke kebun dan menawarkan bantuan kepada mama tua. Tak lama setelah Biru membantu mengambilkan air dari pancuran pengairan, Biru menyeletuk, “Difoto kenapa??” Haha, ketauan deh maksudnya.

Hari menjelang malam dan Biru kembali ke kamar untuk beristirahat, sedang saya keluar sebentar membeli rokok dan cemilan. Sesampainya di penginapan, pak John sedang berdiri di luar sendirian. Kami pun mengobrol ngalor-ngidul berdua, hingga akhirnya pak John menceritakan legenda Danau Kelimutu yang saya paparkan di atas. Merasa sangat tertarik, tentunya saya mencatat poin-poin penting dari alur yang diceritakan oleh pak John, dengan harapan bisa saya bagikan ke teman-teman nantinya di blog saya.

***

Pagi-pagi sekali, sekitar jam 3, Biru sudah membangunkan saya. Rencana kami hari ini adalah berburu sunrise di danau Kelimutu. Kemarin kami sudah bernegosiasi dengan seorang pemilik motor agar menyewakan motornya (plus bensin) seharga IDR 80.000,-. Udara pagi yang super dingin (maklum, Moni kan daerah dataran tinggi) membuat saya melek semelek-meleknya. Saya hanya menggunakan celana jeans panjang dan jaket (seharusnya saya juga membawa sarung tangan saat itu, karena hembusan anginnya sangat terasa di kepalan tangan).

Menembus malam gelap, jalanan yang kanan kirinya hutan belantara dan sesekali jurang, saya turunkan kecepatan acap kali harus melewati tikungan yang super berkelok-kelok dan mendaki. Setelah sekitar 45 menit berkendara motor, kami tiba di gerbang masuk. Biru dan saya masuk ke sebuah pos untuk mengisi data diri dan membayar tiket masuk (saya lupa tiketnya berapa, sekitar IDR 20.000,- kalau nggak salah). Kami melanjutkan perjalanan lagi sekitar 5 menit untuk menuju parkiran sebelum akhirnya melakukan pendakian (baca: naik tangga).

Pendakian tangga berlangsung sekitar 45 menit. Tangganya tidak terlalu curam dan pola tangganya nggak membuat cepat lelah karena setiap beberapa langkah anak tangga disertai dengan sekitar 1-2 meter jalanan yang mendatar. Namun demikian, dengan bobot badan saya yang sedemikian rupa ini, tentunya mau jalan mendaki, jalan mendatar, jalan menurun, tetap saja cepat capek. Alhasil saya selalu tertinggal di belakang dan tersusul oleh pengunjung-pengunjung lainnya.

Puji Tuhan, walaupun jalan saya terbilang sangat lambat, saya sampai di puncak Kelimutu, berbaur dengan pengunjung-pengunjung lainnya sebelum matahari terbit…

Sebuah monumen yang berdiri di puncak Kelimutu

Tiwu Ata Bupu (Danau Orang Tua), hari itu berwarna hitam

Tiwu Nua Muri Ko’o Fai (danau muda mudi) berwarna biru toska, sedangkan di sebelahnya, Tiwu Ata Polo sedang berwarna biru kehijauan

Nggak Sengaja bertemu dengan Panji Triatmaja

Dan berkenalan dengan teman-teman baru tentunya

Danau-danau hari itu berwarna biru, hijau dan hitam, berbeda dengan sebulan lalu yang–kata pak John–ketiga-tiganya berwarna merah muda. Belum diketahui dengan pasti apa penyebab dan bagaimana siklus perubahan warna pada danau yang awalnya berwarna merah, biru dan hijau ini. Tetapi menurut kepercayaan setempat, perubahan warna danau mencerminkan sebuah keadaan yang akan terjadi di masa kini dan kedepan.

Setelah matahari cukup terik bersinar, suasana sudah mulai sepi dan jarum jam menunjukkan pukul delapan, saya dan Biru berinisiatif untuk kembali ke penginapan, mengingat kami harus melanjutkan perjalanan kembali ke Ende untuk tinggal satu malam disana. Perjalanan kami berlangsung mulus, walau sempat sekali jatuh dari motor dan kaca spion patah satu .Kami tiba di penginapan kembali, bertemu dengan orang yang menyewakan motor dan memberi sejumlah uang ganti rugi atas spion yang patah.

Kamipun berkemas dan kemudian berpamitan pada pak John. Menaiki sebuah mini bus, kami meninggalkan Moni yang sejuk dan tenang, menuju Ende untuk mengeksplor kota dan menginap sehari disana (berhubung kemarin kami hanya transit sejenak). Tarif bus dari Moni ke Ende tentunya lebih murah daripada tarif menggunakan jasa mobil pribadi yang dikelola oleh travel agent. Kami hanya perlu membayar sebesar IDR 15.000,- perorang.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s