Travel Gastronomy
Comments 12

Berburu Kuliner Unyu-Unyu (season 2)

Setelah sukses membuat readers penasaran dan pengen uji coba makanan unyu yang saya perkenalkan di posting sebelumnya (Berburu Kuliner Unyu-Unyu), kali ini saya bermaksud mempersembahkan tulisan season dua saya mengenai berburu kuliner unyu-unyu.

Seminggu lalu saya baru saja berpetualangan selama 3 minggu di empat negara tetangga, yakni Vietnam, Cambodia, Thailand dan Singapura. Dan tentunya, yang namanya traveling, selalu diisi dengan ajang berburu makanan khas setempat. Bagaimana dengan saya? Lagi-lagi saya terpancing untuk iseng hunting makanan-makanan unik yang agak lebih menantang daripada makanan kaum awam pada umumnya.

1. Baby Egg

Alias telur hampir jadi. Nah kalau di filipina, telur ini bernama balut. Sebelum saya mulai small ASEAN trip saya, saya sudah terlebih dulu penasaran dengan keberadaan telur ini di salah satu postingan di sebuah grup. Sesampainya di Vietnam, saya langsung bertanya pada teman saya (orang lokal), dimana saya bisa mencicipi baby egg ini? Langsung teman saya menggiring saya ke sebuah pasar tradisional di dekat penginapan saya. Kami tiba di sebuah warung tenda pinggir jalan. Teman saya menghampiri pemilik kedai, berbicara dalam bahasa Vietnam dan kembali ke meja tempat saya duduk. Tak lama kemudian, voilaaaa… datanglah dua butir telur yang saya incar tersebut. Bicara soal rasa? Well, menurut saya, nggak jauh beda dengan telur bebek biasa. Apalagi, telurnya disuguhkan dengan racikan bumbu berupa merica, garam, perasan jeruk nipis dan cabai giling. Believe it or not, saya nambah satu. Dan believe it or not, saya jadi ketagihan, sampai-sampai di Siem Reap saya makan dua kali (dua butir setiap kali kesempatan) ^_^

2. Kalajengking dan Jangkrik

Kalau yang ini, saya cukup setuju apabila dinamakan “makanan ekstrim”. Meski kata teman-teman saya, mengonsumsi jangkrik bukan hal yang aneh di Indonesia, namun saya tetap merasa “amazed” melihat penampakan camilan  tersebut. Awalnya, saya hanya membeli seplastik kecil jangkrik  di Khao Sarn road, Bangkok, dan mencoba mengunyah senormal mungkin. Rasanya sih not bad. Persis seperti udang kering (berhubung si penjual menaburkan merica bubuk dan menyemprotkan kecap ikan). Tak lama kemudian saya makin penasaran dengan si kalajengking. Saya pandangi terus si kalajengking seraya terpancing untuk membeli setelah ada satu bule cilik dibelikan seekor kalajengking oleh ayahnya (masa bule piyek begitu berani mencoba, saya nggak?). Akhirnya saya beranikan membeli dua ekor sekaligus. Yang satunya dine in alias makan di tempat, yang satunya lagi take away alias dibawa pulang untuk diupload di facebook, hehe. Bagaimana rasanya? semua anggota tubuhnya rasanya normal-normal saja, terkecuali bagian perutnya yang agak kembung dan sedikit pahit bagian dalamnya.

Bagaimana menurut teman-teman? ada yang mendadak ngiler?

This entry was posted in: Travel Gastronomy

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

12 Comments

  1. wah dari dulu belum kesampean makan balut..
    kalo belalang juga rasanya kayak udang kering 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s