East Lesser Sunda, Lesser Sunda Islands, My Indonesia
Comments 2

Escaping to Kanawa Island (Pulang ke Flores, part 6)

Setelah 8 jam perjalanan kami tempuh dari Ende menuju Labuan Bajo dan beristirahat cukup kemarin, pagi ini stamina kami kembali terisi penuh. Hari ini agenda kami adalah menginap di pulau Kanawa. Pukul 12 siang, bersama tamu-tamu bule lainnya, kami sudah stand by di teras kantor Kanawa Resort menunggu keberangkatan dengan kapal yang mereka sediakan tanpa dipungut biaya.

Tak lama, salah seorang karyawan resort memanggil kami agar mengikutinya berjalan menuju pelabuhan. Jarak dari kantor resort menuju pelabuhan hanya memakan waktu 10 menit berjalan kaki. Di dermaga, sebuah kapal kecil telah menanti kami, bersama dengan beberapa awak yang sedang sibuk memasukkan beberapa bahan pokok untuk dikirimkan ke pulau.

CIMG2594 CIMG2592

Kapalpun berangkat begitu semua penumpang dan barang-barang masuk ke dalam kapal. Kami menikmati 45 menit perjalanan kami diombang-ambingkan oleh ombak. Pemandangan di kanan kiri mengingatkan saya akan perjalanan ke pulau Komodo bulan Januari lalu. Pada saat itu pulau-pulau berbukit yang saya lihat sekarang tidak sekuning dan segersang itu. Pulau-pulau tersebut tampak sangat subur kehijauan dikarenakan oleh musim penghujan.

Kapal melambat ketika sudah mulai dekat dengan pulau Kanawa. Dari jauh pun dapat saya saksikan betapa jernihnya air laut disekeliling kami. Saya bahkan bisa melihat karang-karang yang berada di dasar. Semakin merapat dengan dermaga, semakin banyak kami jumpai ikan-ikan berkeliaran disana sini. Wajar saja apabila–menurut artikel yang sempat saya baca–kita bahkan tidak perlu terjun langsung ke dalam air dan snorkelling.

CIMG2604 CIMG2608

Satu-persatu, para penumpang turun dari kapal, begitu pula saya dan Biru. Sebentar kami mengambil gambar sebelum berjalan mengikuti yang lainnya menuju resepsionis. Ruang resepsionis menyatu dengan sebuah kafe bernama Star Kafe yang letaknya agak ke tepian kanan dari jembatan. Setelah cek in, sala seorang karyawan resort mengantarkan kami menuju tenda yang kami sewa. Awalnya kami nggak terlalu berharap banyak dengan tenda seharga IDR 150.000,- untuk berdua. Tetapi begitu kami diperhadapkan dengan tenda kami, mata saya sedikit terbelalak. Ternyata tenda kami jauh dari yang saya perkirakan.

Tenda kami beratapkan ijuk, sehingga suasana di dalam tenda tetap sejuk (saya pikir kami akan kepanasan di dalam tenda). Di dalam tenda pun dilengkapi dengan bantal, matras empuk dan selimut. Saya membayangkan tidur malam nanti pasti lumayan nyenyak.

CIMG2613

Kamar mandi umum

Bergantian, saya dan Biru bersih-bersih di kamar mandi umum yang letaknya tidak jauh dari tenda kami. Kamar mandinya pun di luar perkiraan kami. Dalam pondok kamar mandi umum terdapat dua buah bilik kamar mandi dan 6 bilik toilet duduk. Mandi pun kami menggunakan pancuran dari bambu (kurang lebih seperti pancuran keran cuci tangan di depan, namun terletak agak tinggi).

Begitu Biru selesai mandi, kami meninggalkan tenda kami, berjalan menyusuri ruas pantai. Air laut yang sejernih kristal dan pasir pantai yang putih seolah menghipnotis kami untuk tidak bergeming memandanginya. Sesekali kami jumpai ikan-ikan kecil dan bintang laut yang bertebaran di beberapa tempat. Ombak berkali-kali menggelitik kaki kami, seakan menggoda kami untuk segera menghempaskan diri ke air.

CIMG2610 CIMG2637

Menjelang senja, setelah puas berenang dan bilas di kamar mandi, Biru berinistiatif untuk menikmati sunset dari atas bukit, sedangkan saya memilih untuk menikmatinya di tepian pantai. Senja yang cantik lagi-lagi membuat saya menahan napas dan berdecak mengaguminya…

CIMG2670

Mentari pun tenggelam dan langit kian gelap. Saya bergegas menuju ruang makan terbuka di tengah hamparan pasir pantai. Suasananya sangat romantis (sayangnya saya kemari dengan Biru saat itu T_T) karena meja dan kursi ditata mengelilingi sebatang pohon yang digantungi lampu-lampu lampion. Beberapa pengunjung sudah men-tag meja-meja kosong, dan sayapun kebagian salah satu meja yang tersisa.

CIMG2684 CIMG2688

Setengah jam kemudian Biru datang dan bergabung dengan saya di meja. Kami makan malam dan menghabiskan waktu mengobrol hingga pukul 21.00 dan beberapa lampu di sekitar pantai sudah mulai dimatikan. Beberapa tamu lain pun mulai meninggalkan ruang makan menuju ke bungalownya masing-masing, sedangkan kami kembali ke tenda kami yang walaupun kecil namun sangat nyaman.

Sebelum beranjak dari ruang makan (karena hanya di dekat ruang makan, saya bisa mudah mendapatkan sinyal telpon genggam), saya menghubungi salah satu teman saya, mba Anggi mengenai kepastian kedatangannya besok ke Labuan Bajo untuk bergabung bersama saya dan Biru bersama-sama melakukan Sailing Komodo. Saya meminta agar Mba Anggi mengatur temu janji dengan teman bule saya yang satu lagi (Bernama Didi yang kebetulan juga berminat untuk bergabung dalam trip Komodo esok) dan pemilik kapal sewaan kami di suatu spot.  Saya juga meminta mba Anggi agar menjemput saya dan Biru di pulau Kanawa sebelum memulai tur kami.

2 Comments

  1. andri says

    kereen pulaunya, by the way, bisa ngasih rincian dana untuk ke sana gak mas? (biaya paket traveling kalo start-nya dari labuan bajo). thx

    Like

    • believe it or not, kalo perginya berdua dan ngambil yg paket nenda, seorang cm prlu bayar 75rb kok, karena satu tenda dihargain 150rb. kl untuk brgkt ksananya gratististis, soalnya kita cm perlu ke kantornya sblm jam 11, dan nti bareng2 tamu lain, kita bakal dianter ke kapal menuju pulau kanawa. kapal anter jemput ini compliment dari resortnya. jd di luar makan yg emang rada mahal dsana, sehari ya cm keluar 75rb aja seorang hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s