Ho Chi Minh
Comments 6

Greeting Uncle Ho (Xin Chao Vietnam, part 1)

Xin Chaoooo!!

Hari ini adalah hari pertama dimana saya memulai Small South Asian Trip saya.  Setelah semalam saya mendarat dengan sukses di bandara Tan Son Nhat, pagi ini saya sudah duduk cantik di depan sebuah meja pendek milik  penjual sarapan khas Vietnam di sebuah gang di bilangan Pham Ngu Lao Street, Ho Chi Minh City (HCMC). Yang unik dari penjual-penjual makanan di pinggir jalan, baik di gang-gang maupun di pinggir jalan raya, bangku-bangku yang disiapkan menyerupai dingklik alias bangku pendek nan mungil. Jadi orang-orang berbadan “wow” seperti saya harus berhati-hati tidak jatuh tergelempang saat duduk.

Dengan lahap saya menikmati masakan yang menyerupai bihun goreng. Yang khasnya lagi dari masakan mie khas Vietnam (survei saya dari hari pertama sampai hari terakhir), mereka menyediakan sepiring khusus sayuran segar seperti selada, kol, kecambah dan sayuran lainnya , tidak seperti yang yang saya jumpai biasanya (sayurnya turut dimasak dan disajikan dalam mangkuk yang sama dengan mie).

CIMG3048 CIMG3050

Usai sarapan, saya berjalan keluar gang tempat penginapan saya berada. Dengan berbekal peta yang diberikan oleh pemilik hostel, saya memutuskan untuk memulai perjalanan hari pertama saya dengan berkunjung ke distrik 5, alias China Town. Dengan menyewa cyclo, saya diantarkan ke sebuah gereja. Saya lupa apa nama gerejanya, tetapi gereja ini terletak tidak jauh dari taman kota di deretan Pham Ngu Lao St. Begitu masuk, saya menemukan sebuah ruangan dimana terdapat sebongkah kotak kaca yang di dalamnya terdapat patung Yesus sedang berbaring. Tepat di hadapan kotak kaca, terdapat sebuah nekara tempat dupa-dupa disematkan untuk berdoa.

CIMG3053 CIMG3056

Keluar dari ruangan, saya berjalan ke sisi lain sebuah taman yang menarik perhatian saya, taman dimana terdapat sebuah Gua Maria (gua untuk berdoa bagi umat Katholik). Yang unik dari gua ini, saya menemukan banyak sekali plakat-plakat warna-warni dengan tulisan berbahasa Vietnam yang tidak saya mengerti. Plakat-plakat tersebut menempel mempercantik dinding-dinding gua. Tidak hanya itu, di setiap bangku-bangku yang terdapat di taman tersebut, terdapat sejumlah nama-nama yang mungkin merupakan nama donatur pembangunan gereja tersebut.

CIMG3059

Gua Maria yang unik

CIMG3060

Bangku-bangku di gereja

CIMG3065

Uniknya HCMC dengan pemandangan kabel menjuntai disana-sini

CIMG3067

Satu pemandangan khas HCMC, motorcycle is every where

CIMG3083

Salah satu pagoda di China Town

CIMG3070

Hongkong Market

Perjalanan berlanjut mengelilingi kawasan China Town. Cyclo rider membawa saya ke Hongkong Market (pasar yang menjual aneka pakaian yang mirip dengan Mangga Dua) dan beberapa vihara-vihara (mereka menyebutnya Pagoda). Salah satu Pagoda yang saya kunjungi adalah pagoda tertua di HCMC. Pagoda ini dikenal dengan nama pagoda of thousands Budha karena kita bisa melihat di atas atapnya terdapat ratusan (atau mungkin ribuan? saya nggak ngitung :D) patung dewa-dewi yang merefleksikan keadaan nirwana

CIMG3086\

CIMG3095 CIMG3093

Setelah puas berkeliling China Town, saya diantar menuju salah satu rumah makan sebelum pulang. Untuk makan siang pertama saya, saya memesan sepiring mi goreng. Perlu diketahui, menurut teman saya yang asli Vietnam, Vietnam memiliki lebih dari 30 jenis mie-mie an dengan resep masakan yang juga berbeda-beda. Dan untuk mie yang sekarang saya pesan, sepertinya lebih mirip mie instan keriting yang digoreng. Well, bon appetite….

CIMG3099

Dengan berakhirnya makan siang saya, tur setengah hari sayapun turut berakhir. Cyclo mengantar saya kembali ke kawasan Pham Ngu Lao. Saya menuju penginapan sebentar untuk beristirahat sebelum sorenya melanjutkan acara city tour saya ke daerah pusat dimana terdapat Notre Damme dan Post Office yang konon “must visit”. Kebetulan malamnya saya memang ada janji bertemu dengan kenalan saya yang tinggal di HCMC.

Sorepun tiba. Sekitar pukul 4, saya–masih dengan petunjuk peta dari penginapan–berjalan menyusuri taman kota Pham Ngu Lao menuju Notre Damme. Sekitar 15 menit melangkah, tiba-tiba saya berhenti. Senyum saya langsung sumringah karena saya menemukan Ben Thanh market, pasar tempat menjual suvenir-suvenir khas Vietnam. Mumpung waktu temu janji saya masih lama, saya mampir sebentar ke Ben Thanh market untuk melihat-lihat.

CIMG3103 CIMG3104

Keluar dari Ben Thanh, saya menjinjing dua kresek berisi kaos-kaos Vietnam dan beberapa suvenir lainnya sambil berjanji dalam hati, ini adalah suvenir pertama dan terakhir yang saya beli di Vietnam (akhirnya di Hanoi janji ini saya langgar begitu tergoda salah seorang teman yang sedang berbelanja). Kantong belanjaan saya masukan ke dalam ransel dan saya meneruskan perjalanan saya.

Satu hal yang saya sukai dari HCMC, banyak saya jumpai taman hijau di tengah kota  yang membuat saya sesekali berhenti hanya untuk duduk dan beristirahat. Tidak hanya itu, jalan-jalannya pun terbilang sangat bersih dan jarang sekali saya jumpai jejumputan sampah berserakan. Pejalan kaki juga turut dimanjakan dengan trotoar yang lumayan lebar.

CIMG3111

Namun demikian, satu hal yang selalu membuat saya was-was adalah ketika menyebrang. Apabila di Indonesia berlaku hukum “toleh kanan-kiri sebelum menyebrang”, disini berlaku hukum “toleh kanan-kiri-depan-belakang saat menyebrang”. Kamu nggak akan pernah tahu kapan ratusan motor dari segala arah berkeliaran, ditambah mobil-mobil yang turut memadati jalan. Traffic di HCMC terbilang gila, kamu bisa menjumpai seolah warga seisi HCMC memiliki motor dan sedang tumpah ruah turun ke jalan raya (saya nggak berusaha membuatnya terkesan lebay, but you might try by your self if you dont believe ^_^).

Tak lama, saya tiba di Notre Damme–orang lokal menyebutnya Duc Ba Church. Sebenarnya saya ingin masuk ke dalam. Sayangnya waktu sudah menunjukan pukul lima lebih dan menurut yang saya baca, Notre Damme ditutup untuk umum setelah jam 5. Saya pun mengambil foto-foto di seberang Notre Damme saja sambil memandangi lalu lalang orang sebelum berlanjut ke Post Office yang berada tidak jauh dari Notre Damme.

CIMG3120

Notre Damme dan patung St. Regina Pacis

CIMG3123

Post Office tampak depan

Dari awal saya menyusun itinerari sampai saya berdiri di depan Post Office, di kepala saya menyangkut satu pertanyaan, what makes this Post Office so special? Mengapa bisa dipromosikan sedemikan rupa sehingga menjadi spot wisata wajib kunjung dan menarik perhatian banyak wisatawan. Begitu saya masuk ke dalam bangunan, saya menganga. Saya baru menemukan jawabannya…

CIMG3124

Penampakan dalam Post Office yang mengingatkan saya akan Gringots Bank di Harry Potter

CIMG3127

Hingga kini Post Office masih memfungsikan dirinya sebagai kantor pos, walau di sekitarnya berdiri kios-kios yang menjual suvenir

CIMG3126

Believe it or not, booth ini adalah ATM machine

Yang menariknya lagi, disini disediakan bangku-bangku panjang bagi para pengunjung yang ingin beristirahat. Saya duduk sebentar disana, setelah melihat berkeliling (hampir saja terbuai untuk membeli suvenir tambahan). Banyak saya jumpai pengunjung berfoto di berbagai sudut Post Office yang katanya berdiri sejak 1886-1891 tersebut. Bangunan ini menurut saya merupakan kantor pos tercantik yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya, dan memang sangat layak untuk dijadikan salah satu spot wisata yang wajib kunjung.

Waktu telah menunjukan pukul 6.30 dan teman lokal saya mengirimkan pesan bahwa ia sudah sampai di seberang Notre Damme. Saya keluar dari Post Office, menuju tempat yang dimaksud untuk menemui teman saya. Dari kejauhan, teman saya yang bernama Dang melambai-lambaikan tangannya. Dang adalah seorang mahasiswa HCMC yang saya kenal dari sebuah grup bernama ASEAN Community. Ia adalah salah seorang perwakilan admin dari Vietnam. Kebetulan saya memang berencana untuk mengunjungi HCMC, maka saya berinisiatif untuk berkenalan dengannya dan bertanya banyak seputar HCMC.

Dang mengajak saya menongkrong ala anak-anak muda HCMC sambil menunggu waktu makan malam tiba. Kami duduk di pinggir pedestrian street di sebuah taman di seberang Notre Damme. Menurut Dang, di taman ini adalah tempat favorit para remaja menghabiskan malam bersama teman-temannya, entah sekedar nongkrong dan mengobrol, entah sekedar menikmati jajanan-jajanan jalanan dan segelas es kopi.

CIMG3143

CIMG3141

Saya dan Dang

Bicara soal es kopi, ini juga menjadi salah satu agenda wajib yang harus saya coba di Vietnam. Kata teman-teman saya yang sudah pernah berkunjung, sangat disarankan untuk mencoba es kopi susu Vietnam setidaknya sekali. Saya pun memesan dua gelas es kopi susu dan membeli cemilan-cemilan yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Sambil ngemil, saya dan Dang mengobrol panjang lebar.

Ketika es kopi susu dan cemilan kami habis, Dang mengajak saya untuk pergi ke suatu tempat tidak jauh dari Notre Damme untuk makan malam. Hanya dengan sekitar 10 menit berjalan kaki, kami tiba di sebuah rumah makan. Karena saya nggak mengerti apa yang harus saya pesan, Dang menyarankan saya untuk memesan Broken Rice with Grilled Pork. Kata Dang, broken rice adalah sejenis nasi yang ukurannya lebih kecil dari nasi pada umumnya. Penasaran dengan namanya, saya mengiyakan pesanan tersebut.

Dan benar, ketika hidangan kami tiba, saya mendapati ukuran butir nasinya seperti patahan-patahan beras. Walaupun rasanya nggak jauh berbeda dengan rasa nasi pada umumnya. Dang mengajarkan saya cara menyantap nasi ala orang lokal. Ia menuangkan kecap ikan ke nasinya (hal yang menurut saya nggak pernah terjadi di Indonesia, menuangkan kecap ikan ke atas nasi langsung).  Dan, after all, selamat makan teman-teman…

CIMG3150 CIMG3147

This entry was posted in: Ho Chi Minh

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

6 Comments

  1. misi misi 🙂 mau bagi info vietnamnya dong 🙂 by email boleh ga? April ini rencana ke vietnam-kamboja

    Like

  2. Bang, dari banyak artikel traveling yg saya baca, di sana emang banyak banget motor, tapi nggak usah takut nyeberang (apalagi sampai tengok kiri-kanan-depan-belakang haha). Motor-motor akan otomatis berhenti begitu kita mulai melangkah, ada etikanya katanya. Semacam “teknologi” membunyikan klakson atau apalah. Malah bisa kena marah kalau nyeberang kelamaan lihat-lihat haha.

    Like

    • hahaha iya, tetep aja, parno kalo nyebrang di HCMC, ga cuma saya ternyata yang juga ngerasain sensasi panik nyebrang, banyak bule dan temen-temen lain yang saya kenal selalu sujud sukur kalo berhasil nyebrang dengan selamat haha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s