Ho Chi Minh
Leave a Comment

Nyasar Bersama Bule (Xin Chao Vietnam, part 2)

Xin Chao!!

Masih di Ho Chi Minh City, tepatnya di kawasan melting pot para backpackers, District 1 Pham Ngu Lao St, hari ini saya ditemani oleh seorang kenalan saya, Barnaby, pemuda kebangsaan Inggris yang tinggal di NZ. Barnaby baru saja tiba di penginapan kemarin malam, mendadak kami langsung akrab dan membahas “mau kemana kita besok” (maklum, sesama solo traveler, merasa mendapatkan angin segar begitu bertemu teman baru yang juga sendirian).

Hari ini kami sepakat untuk menonton pertunjukan wayang air yang konon katanya sangat terkenal di Vietnam. Namun berhubung pertunjukannya baru akan mulai pada malam hari, saya berbaik hati menemani Barnaby untuk napak tilas perjalanan saya kemarin, alias mengunjungi lagi Ben Thanh Market, Notre Damme, Post Office, plus Reunification Palace yang hanya saya lewati gerbangnya, berhubung hari itu saya memang tidak memiliki agenda apa-apa.

Kunjungan pertama kami adalah straightly menuju Post Office. Hal ini dikarenakan Barnaby tidak lagi memegang cash di tangannya setelah perjalanannya dari USA kemarin dan ATM HSBC yang kami ketahui keberadaannya hanya di gedung tersebut. Saya yang sudah lumayan hafal arah ke Post Office otomatis memimpin jalan.

Berjalan dengan bule tentunya membutuhkan kecepatan yang ekstra dari biasanya, berhubung kakinya yang jenjang, langkahnya menjadi panjang. Untungnya Barnaby cukup pengertian, ia memperlambat jalannya supaya saya tidak mati tersengal-sengal karena harus beradaptasi dengan kecepatannya.

Begitu tiba di Post Office, sama seperti saya kemarin, Barnaby melongo takjub. Ia ikut-ikutan kagum melihat penampakan dalam gedung tersebut. Dan sama seperti pertanyaan yang saya lontarkan ke Dang kemarin, Barnaby menanyakan apakah gedung ini masih berfungsi sebagai kantor pos pada umumnya. Saya mengangguk.

Puas mengambil foto dan mengambil sejumlah uang di ATM machine,kami berjalan menuju sebuah loket tempat penjualan tiket Water Puppets Show yang letaknya berada di sebelah kiri pintu masuk. Diberitahukan bahwa acara akan dimulai pukul 6.30 malam di sebuah gedung pertunjukan di belakang Istana Reunifikasi.

Setelah selesai berurusan dengan administrasi ticketing, kami beranjak meninggalkan Post Office. Kami berdiri sebentar di seberang Notre Damme untuk mengambil gambar. Ketika saya tanyakan apakah Barnaby berniat masuk ke dalam (kebetulan saya juga belum sempat masuk kemarin), Barnaby menunjukkan wajah sedikit ragu. Dapat saya mengerti bahwa tentunya di London tempat ia dibesarkan, ia sudah terlalu biasa melihat gereja-gereja tua seperti itu. Dengan demikian, kami melanjutkan perjalanan ke Istana Reunifikasi, sekaligus mencari gedung pertunjukan yang dimaksud.

Saat berjalan menuju Istana Reunifikasi, kami menemukan sebuah kafe. Entah apa nama kafenya saya lupa, tapi yang jelas bentuk bangunannya lumayan unik, dengan rerambatan batang pohon buatan dan suasana yang lumayan nyaman dan tenang. Kami masuk dan langsung memesan beverage favorit masing-masing.

CIMG3154

CIMG3156

Ini dia Barnaby

CIMG3157

Sepotong puding coklat, Capucinno something-something, dan es teh tawar gratis

Sekitar satu jam kami bermalas-malasan di kafe tersebut, mengobrol panjang lebar mengenai rencana perjalanan masing-masing. Baru saya ketahui bahwa ternyata, seperti kebanyakan bule-bule muda yang baru saja lulus high school, Barnaby juga sedang melakukan perjalanan super panjang dan lama. Vietnam adalah negara Asia pertama yang ia kunjungi begitu menyelesaikan tur USA dan Kanadanya. Dan setelah HCMC, ia akan meneruskan perjalanan ke utara Vietnam, dilanjutkan ke Lao dan Thailand.

Setelah stamina kami kembali pulih, kami siap untuk berjalan kaki lagi menuju istana Reunifikasi. Dengan peta di tangan, tidak sulit bagi kami menemukan istana ini, terlebih lagi memang kemarin saya baru saja melewati bangunan tersebut. Begitu tiba di depan Museum, ternyata loket ditutup sampai jam 1 siang, dan sekarang baru jam 12. Pikir saya, ok juga, istana ini ada jam makan siangnya segala.

Untuk membunuh waktu, saya mengajak Barnaby untuk ngadem sebentar di sebuah pusat perbelanjaan yang saya lihat kemarin malam di belakang Notre Damme saat menyetop taksi untuk pulang. Barnaby mengangguk setuju dan mengekori saya. Lagi-lagi kami menyusuri taman kota yang hijau tertata rapi. Siang itu, ada beberapa muda-mudi dan orang dewasa sedang duduk-duduk di bangku yang disediakan.

Setibanya di mal yang saya maksud, kami langsung menghela napas lega. Maklum, setengah hari berjalan kaki di tengah-tengah cuaca yang lumayan gerah dan terik, tentunya hembusan AC di sekujur tubuh kami terasa super menyegarkan. Kami memang nggak punya tujuan apa-apa di mal selain ngadem dan menghabiskan waktu sampai istana kembali dibuka. Walau kami sempat tergoda dengan pakaian-pakaian maupun gadget yang terpajang apik di beberapa etalase, namun kami sepakat bahwa perjalanan kami masih sangat panjang dan nggak bijak apabila kami foya-foya berbelanja disini.

Usai kebosanan berputar-putar nggak jelas dari lantai dasar sampai lantai atas, kami keluar dari mal. Kami nggak sadar bahwa kami keluar dari pintu mal di sisi yang berlawanan dengan pintu masuk sebelumnya. Dengan santai kami berjalan lurus menyusuri jalan raya. Lebih dari 15 menit berjalan, kami baru menyadari, kenapa rasanya lama sekali, nggak sampai-sampai Istana Reunifikasi. Kami putuskan untuk bertanya kepada orang-orang yang kami jumpai.

Orang pertama menggeleng-geleng bahkan sebelum saya menyelesaikan pertanyaan saya, entah menggeleng karena nggak bisa berbahasa Inggris, atau karena nggak tahu dimana Istana Reunifikasi, atau karena kedua-duanya. Orang kedua memasang wajah super serius seraya memperhatikan peta yang ditunjukkan oleh Barnaby, sebelum akhirnya ia–juga–geleng-geleng. Orang ketiga sepertinya mengerti maksud kami dan dengan bersemangat menjelaskan rute dengan bahasa Vietnam yang membuat saya dan Barnaby melongo, berusaha menangkap maksud orang tersebut. Dan setelah mengikuti petunjuk orang ketiga, kami bertemu dan bertanya kepada orang keempat yang lancar berbahasa Inggris.

Jawaban orang keempat sangat memilukan hati kami, “You are going to the wrong way. The palace is over there”. Orang keempat menunjuk ke suatu arah yang berlawanan. Arah dimana kami bertemu dengan si orang ketiga.

What the ….

Saya dan Barnaby kembali ke jalan yang dimaksud si orang keempat. Sambil meraba-raba peta dan memperhatikan baik-baik setiap plang jalan yang kami temui. Percaya atau tidak, banyak orang lokal yang nggak tahu dimana keberadaan Istana Reunifikasi. Menurut tebakan saya, mungkin ada nama lokal untuk gedung tersebut, seperti Notre Damme yang memiliki nama lokal “Duc Ba Church”. Akhirnya saya putuskan untuk menanyakan dimana keberadaan “Duc Ba Church” pada setiap orang yang saya temui, karena akan lebih mudah menemukan istana dari sana (tinggal jalan lurus saja).

Benar saja, lebih mudah menemukan Duc Ba Church, dan dengan segera kami menemukan Istana Reunifikasi, fiuhhh…

Menurut info yang saya baca, istana ini adalah istana kepresidenan Vietnam Selatan saat Vietnam masih terpecah dua. Di dalam istana ini, nantinya akan kami jumpai beberapa ruangan kerja berikut tempat pertemuan sang presiden dan wakil presiden. Sebelum masuk, kami harus membeli tiket di sebuah ruangan yang langsung tersambung toko suvenir yang berujung pada pintu masuk utama.

CIMG3159

Halaman utama Reunification Palace

CIMG3161

Ruang kerja bapak Presiden

CIMG3165 CIMG3164

Beberapa ruang pertemuan

Puas berkeliling dan mengambil foto, saya dan Barnaby keluar dari Reunification Palace melalui pintu pelakang. Hal ini kami lakukan untuk mengambil jalur tercepat menuju gedung pertunjukan Water Puppet Show yang menurut peta memang berada tepat di belakang istana. Untuk menghindari kesialan yang sama–nyasar–saya bertanya pada seorang penjual minuman di dekat gerbang. Beruntungnya kami, orang tersebut sangat lancar berbahasa Inggris dan ia memberi kami petunjuk arah yang tepat.

Setelah menemukan gedung pertunjukan Water Puppet Show, saya dan Barnaby memutuskan untuk pulang dan beristirahat sebelum sorenya kembali ke gedung tersebut. Seperjalanan kami pulang, dengan pedenya kami melenggang lurus mengikuti jalan raya (berhubung gedung ini ada di belakang Reunification Palace, maka kami berpendapat bahwa untuk pulang pun kami hanya perlu berjalan lurus seperti saat kami berangkat). Dan perkiraan kami meleset.

Begitu kami menemui sebuah kompleks pusat perbelanjaan dengan beberapa persimpangan, kami bingung harus mengambil jalan yang mana. Dan lagi-lagi, beberapa orang yang kami temui hanya terdiam dan meracau dalam bahasa Vietnam ketika kami tunjukan peta yang kami bawa dan arah yang hendak kami tuju. Kami pun mengandalkan insting kami, yang pada akhirnya membawa kami–kembali–nyasar.

_____________________________________________________________

Sore sekitar pukul 5, saya dan Barnaby berjalan keluar penginapan menuju gedung pertunjukan Water Puppet Show. Di pertengahan jalan, kami makan malam sejenak di sebuah kedai di pinggir jalan. Duduk di sebuah bangku kecil, sambil menunggu pesanan tiba, datang seorang pemuda yang memaksa untuk membersihkan sepatu Barnaby. Dengan halus, Barnaby menolak maksud pemuda tersebut. Namun si pemuda tetap memaksa dan terus saja membersihkan sepatu Barnaby. Agak kesal, saya pun membentak si pemuda agar menghentikan ulahnya.

Sayangnya, si pemuda terlalu gesit dan kedua sepatu Barnaby sudah selesai dibersihkan. Si pemuda meminta imbalan sebesar 100k,- Dong (sekitar 50k rupiah). Tentu saja saya dan Barnaby naik pitam. Dengan wajah galak, saya marahi pemuda tersebut. Namun ia tetap berdalih bahwa ia telah membersihkan sepatu Barnaby. Saya pun beradu argumen dengan pemuda tersebut, hingga akhirnya–karena si pemuda tetap kekeuh, Barnaby pun mengalah dan bermaksud memberikan sejumlah uang. Saya larang Barnaby dan saya katakan pada si pemuda “10k Dong or no money!” Si pemuda meminta tambahan, dan saya semakin memasang wajah galak. Akhirnya si pemuda mendumel tidak jelas, mengambil uang yang diberikan oleh Barnaby dan pergi meninggalkan meja kami.

CIMG3173

Usai makan malam singkat dengan semangkuk Pho, saya dan Barnaby melanjutkan perjalanan kami. Perjalanan menuju gedung pertunjukan tidak terlalu menemui kesulitan. Tidak sampai setengah jam, kami sudah berada di depan gedung pertunjukan. Disana sudah ramai orang-orang yang hendak menonton Water Puppet Show dan kami harus mengambil nomer bangku dengan cara menunjukan tiket kami ke sebuah loket sebelum masuk kedalam.

Begitu memperoleh nomer bangku, kami bergegas masuk ke dalam ruangan pertunjukan yang ternyata sangat nyaman. Ruangannya cukup luas dan ber ac. bangkunya pun nyaman selayaknya menonton di bioskop. Kami harus menunggu sekitar 20 menit sebelum pertunjukan wayang air ini di mulai.

Pertunjukan wayang air adalah salah satu pertunjukan khas Vietnam yang sudah sangat terkenal di dunia Internasional. Pertunjukan ini–tentunya–dimainkan di atas sebuah kolam air yang disetting sedemikian rupa. Pemainnya sendiri berada di balik layar, sedangkan ceritanya sendiri diiringi oleh pemusik dan penyanyi folklore yang duduk di kanan-kiri panggung pertunjukan.

Lampu meredup dan kedua host, dalam balutan Ao Dai (busana khas Vietnam), membuka acara dalam dua bahasa, Vietnam dan Inggris. Tidak lama, terdengar alunan musik riuh, tanda pertunjukan telah dimulai. Walaupun acara ini tidak disertakan subtitle bahasa Inggris, namun atraksi-atraksi boneka air yang melakukan adegan-adegan kocak seperti berkejar-kejaran cukup membuat para penonton mengerti alur cerita yang dimaksudkan. Adapun pada malam itu, pertunjukan yang disuguhkan berupa atraksi anak-anak kecil yang sedang bermain dengan kerbau air, sepasang naga yang sedang bermesraan, singa-singa yang berebut bola, rombongan anggota istana yang sedang berparade, dan tari-tarian para gadis.

CIMG3175

Panggung dan para pemusik yang mengiringi pertunjukan

CIMG3197

CIMG3200

Para pemain yang muncul dari balik layar setelah pertunjukan selesai

CIMG3201

Tampak luar gedung pertunjukan

Pertunjukan yang berdurasi kurang lebih satu jam tersebut akhirnya selesai. Saya dan Barnaby pun langsung pulang ke hotel, berhubung Enda, teman kuliah saya malam ini tiba di Ho Chi Minh dan meminta saya untuk menunggunya di depan gang penginapan kami. Dan guess what, saya dan Barnaby dengan suksesnya kembali nyasar saat hendak mencari jalan pulang. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja kami berbelok ke  jalan yang salah, dan berjalan menjauhi jalan yang seharusnya kami ambil. Beruntung, kami bertemu dengan dua orang siswi yang dengan antusias menerangkan pada kami cara untuk kembali ke jalan yang benar. Lagi-lagi kami hanya bisa tertawa ketika menelusuri jalan pulang.

Astaga, ternyata bukan saya saja yang buta arah…

This entry was posted in: Ho Chi Minh

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s