Nha Trang
Comments 2

Menikmati Nha Trang, Kota Tepi Pantai (Xin Chao Vietnam, part 5)

Xin Chao Vietnam 😀

Kurang lebih 10 jam perjalanan darat meninggalkan Ho Chi Minh city, saya dan Enda tiba di Nha Trang, kota tujuan kami selanjutnya.  Kota ini terletak di sepanjang garis pantai Nha Trang yang sangat panjang. Untuk mengakses ke kota ini terdapat beberapa cara seperti public bus (ada yang bus duduk dan ada yang bus tidur. Kebetulan saya naik bus tidur alias sleeper bus), kereta, dan pesawat terbang.

CIMG3296

Suasana di dalam sleeper bus

Saya dan Enda bergegas mencari penginapan yang telah kami pesan via online untuk meletakan tas kami dan beristirahat. Well, senyaman-nyamannya sleeper bus, saat itu kami masih benar-benar ingin meluruskan badan selurus-lurusnya dengan kasur yang sebenar-benarnya. Dan benar, begitu tiba di penginapan, saya dan Enda langsung men-tag ranjang masing-masing dan tertidur pulas selama kurang lebih empat jam sebelum akhirnya perut kami mulai protes minta diisi.

Kami meninggalkan penginapan dengan motor yang kami sewa dari penginapan. Agenda kami hari itu adalah menuju dive center (Enda mau mencicipi spot diving di Nha Trang besok), mencari tour agent untuk island hopping di hari berikutnya, ke stasiun kereta api dan melakukan city tour keliling Nha Trang. Namun sebelumnya, kami berhenti di salah satu kedai di tepi jalan untuk sarapan. Saya dan Enda memesan Pho–seperti biasa.

CIMG3305

Mencari makan di Nha Trang pada khususnya dan Vietnam pada umumnya memang susah-susah gampang bagi teman-teman Muslim seperti Enda. Kesulitan bahasa juga turut menjadi kendala saat harus memesan makanan pada penjual yang seringnya jarang bisa berbahasa Inggris. Saat hendak memesan makanan, Enda bertanya apakah ada pork. Siibu penjual dengan semangat 45 menjawab “yes-yes, pork”. Dan tiba-tiba dengan gerak cepat, siibu memasukkan sebongkah daging pork ke dalam mangkuk Pho Enda. Tentu saja Enda langsung panik sambil memberi isyarat “no pork! no pork! I don’t eat pork!” Walhasil, Pho milik Enda dihibahkan kepada saya dan ia mengambil mangkuk baru untuk diserahkan pada si ibu. Kali ini ia tekankan sekali lagi pada si ibu dengan cara menunjuk si daging babi dan mendekatkan wajahnya pada si ibu, “No! No pork!”

Usai makan, kami berkeliling mencari dive center dan travel agent untuk agenda kami di hari berikutnya. Disini banyak tersedia dive center dan travel agent di ruko-ruko pinggir jalan. Harganya pun lumayan bersaing dan paket yang ditawarkan beragam. Saya sendiri memilih salah satu travel agent setelah membaca referensi dari buku Lonely Planets dan tertarik pada salah satu paket island hopping yang diterangkan.

Kemudian kami meluncur ke stasiun kereta api untuk membeli tiket. Rencananya di hari terakhir kami di Nha Trang, Enda akan pulang sendiri ke Ho Chi Minh dan kembali ke Indonesia, sedangkan saya akan melanjutkan perjalanan ke Hanoi. Seperti public bus, terdapat beberapa pilihan kursi di kereta berdasarkan tingkat kenyamanannya–mulai dari hard seat, soft seat hingga hard berth dan soft berth (ranjang). Berhubung Vietnam adalah negara pertama dalam serangkaian tur kecil Asia Tenggara saya, saya memilih tiket kereta yang soft seat berhubung harga tiketnya masih terjangkau dompet seorang backpacker.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pagoda Long Son, sebuah pagoda yang letaknya tidak jauh dari stasiun. Pagoda Long Son mirip dengan Ngong Ping di Hongkong. Disini terletak sebuah patung Buddha raksasa. Bedanya, rumah abu di Long Son berada di luar Patung (sedangkan di Ngong Ping, rumah abu terdapat di dalam patung Buddha) dan kami tidak perlu mendaki anak tangga yang terlalu panjang seperti jika harus menuju ke patung Buddha di Ngong Ping.

Memasuki pelataran, kami disuguhkan pemandangan sebuah kuli besar. Seperti layaknya kuil Buddha pada umumnya, di dalam kuil terdapat banyak sekali patung dewa-dewi kepercayaan umat Buddha. Kami juga diijinkan untuk bersembahyang dengan menggunakan dupa dan diperkenankan untuk memberikan sumbangan seikhlasnya untuk pengembangan kuil.

CIMG3312

CIMG3345 CIMG3342

Berjalan lebih ke dalam area pekarangan, kami menemukan anak tangga yang mengantarkan kami ke sebuah pelataran Buddha tidur. Sepanjang anak tangga, ada beberapa penjual dupa dan bunga-bunga untuk sembahyang. Orang-orang yang datang berziarah tampak membeli sebungkus dupa dan bersembahyang di altar Budha tidur. Sedangkan saya dan Enda? foto-foto dong, hehe.

CIMG3322

Naik lagi hingga ke puncak, akhirnya kami bertemu dengan si Giant Buddha. Walaupun ukurannya lebih kecil dari yang di Ngong Ping, namun ia tetap tampak menjulang di atas sana. Kami menaiki anak tangga lagi (yang ini tidak terlalu banyak tangganya, ketimbang yang pertama), dan mengambil foto-foto disana.

CIMG3329CIMG3337

CIMG3340

Tempat peristirahatan terakhir

Kelelahan berkardio mendaki anak tangga, kami beristirahat di sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari si Buddha raksasa. Dari sana nampak jelas pemandangan kota Nha Trang dari ketinggian. Ternyata dari atas, baru saya ketahui bahwa Nha Trang lumayan besar dan padat juga. Saya pikir sebelumnya Nha Trang hanyalah kota mungil di tepi pantai yang tidak terlalu ramai.

CIMG3332

Saya dan Enda mengobrol cukup lama di warung tersebut, seraya memperhatikan orang-orang yang lalu lalang hendak berziarah. Sama seperti kami, beberapa dari mereka juga kemudian duduk beristirahat di beberapa warung di sisi yang lain. Suasana yang tenang dan angin yang berhembus malas membuat kami betah berjam-jam duduk disana, walau sesekali ada beberapa penjual dupa mendekat dan menawarkan dagangannya.

Hari semakin sore, kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Sebelumnya, kami mampir sejenak ke sebuah sisi pantai yang lumayan ramai. Sama seperti di HCMC, Nha Trang di sore hari penuh dengan aktivitas warga yang sedang berolahraga. Mulai dari jogging, sepak bola, bulu tangkis, hingga memanfaatkan sarana olahraga yang disediakan. Pantas saja, di HCMC jarang saya jumpai orang gemuk.

Dengan perpaduan deburan ombak tepi pantai, taman yang ditata begitu apik, dan backdrop berupa bangunan- perhotelan dan gedung-gedung tinggi, membuat saya merasa sedang berada di Miami. Apalagi ditambah dengan kerumunan beberapa turis bule yang asik bersantai di hamparan pasir pantai. Well, meski saya belum pernah ke Miami, minimal saya pernah menonton film-film berlokasikan kota pantai tersebut.

CIMG3350

CIMG3449

Well, demikianlah agenda hari ini. Saya dan Enda kembali ke penginapan untuk beristirahat. Malamnya, kami hanya keluar sebentar untuk dinner di kafe terdekat (coba tebak, kami makan apa? yappp, tepat sekali, Pho–lagi-lagi, hehe). Enda harus mempersiapkan stamina dan beristirahat cukup karena besok ia akan diving, sedangkan saya punya cukup waktu hingga tengah hari menunggu Enda selesai sambil bermalas-malasan.

This entry was posted in: Nha Trang

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s