Hanoi
Comments 4

Fresh Report from Old Quarter, Hanoi (Xin Chao Vietnam, part 8)

Xin Chao Vietnam!

This is Hendra, reporting you, live from Old Quarter, Hanoi. Pagi ini badan saya remuk redam setelah berkereta tiga puluh jam lebih dari Nha Trang ke Hanoi. Rasanya hari ini saya ingin full tidur saja seharian tanpa diganggu oleh siapa-siapa. Namun saya sudah terlanjur janjian dengan teman saya yang bernama Hung yang tinggal di kota ini. Kebetulan jadwalnya kosong dari pagi hingga siang nanti, ia memberitahu sama bahwa setengah jam lagi ia akan sampai di penginapan saya.

tvsr_2012_2

Peta diunduh dari http://www.intrepidtravel.com/node/89949/printtripnotes

Hanya beristirahat sebentar, saya langsung mandi dan bersiap-siap. Selesai berpakaian, saya menunggu di lantai limaΒ  yang berupa ruang rekreasi (ada billiard pool, home theatre, beberapa buah PC untuk internetan,Β  mini bar dan balkon untuk bermalas-malasan). Sekitar 15 menit, sms Hung masuk ke ponsel saya. Ia sudah berada di depan penginapan.

CIMG3474 CIMG3472

Suasana Old Quarter

Benar saja, Hung yang saya kenal dari sebuah grup ASEAN Community dan pernah menjadi admin di grup tersebut menyambut saya dengan tersenyum. Setelah bersalam-salaman, Hung membawa saya menuju halte bus terdekat. Katanya, kita akan berkunjung ke Museum Etnografi Vietnam.

CIMG3477

This is Hung

Selama di Bus, Hung menjelaskan kepada saya tentang kota Hanoi. Hanoi pada awalnya hanyalah kawasan Old Quarter dan beberapa daerah di sekitarnya. Namun setelah diresmikan menjadi ibu kota negara, Hanoi mengalami perluasan. Distrik-distrik di luar Hanoi lama pun digabungkan sehingga menjadi seluas Hanoi yang sekarang.

Saya sempat bertanya pada Hung, mengapa Hanoi menjadi ibukota Vietnam, sedangkan segala aktivitas bisnis dan pembangunan infrastruktur modern terlihat berpusat di Ho Chi Minh. Kata Hung, ibukota memang sengaja diperuntukan hanya untuk kegiatan pemerintahan dan pusat pelestarian peninggalan budaya saja (Old Quarter contohnya).

Tak terasa, kami berhenti di sebuah halte dan Hung mengajak saya keluar. Kami berjalan kurang lebih sepuluh menit sebelum akhirnya tiba di museum. Museumnya lumayan besar dan nampak modern. Setelah membayar tiket, kami pun berjalan masuk bersama pengunjung lainnya ke dalam.

CIMG3481

CIMG3483

Hung sedang menerangkan keaneka ragaman suku yang tersebar di Vietnam

CIMG3485

Imagine how they ride the bike?

CIMG3488

Saya lupa, ini apa ya?

CIMG3491

Contoh rumah adat di Vietnam

CIMG3492

Tampak dalam rumah adat

CIMG3494

Kuburan adat

Selesai berkeliling museum, kami pun kembali ke penginapan–kebetulan siang itu Hung ada kelas di kampusnya sehingga ia tidak dapat menemani saya terlalu lama. Setelah Hung berpamitan, saya melanjutkan perjalanan saya mengeksplorasi Old Quarter sendirian, berhubung mood jalan-jalan saya membara lagi. Berbekal peta di tangan dan penjelasan singkat dari Hung, kaki saya melangkah menuju danau Hoan Kiem. Dari sekian banyak danau di Hanoi, danau Hoan Kiem adalah spot wisata favorit tidak hanya bagi turis-turis, tapi juga bagi warga sekitar.

Begitu tiba, saya sudah melihat begitu banyak orang yang berkerubung di setiap sisi danau. Ada yang hanya duduk-duduk santai, ada yang berfoto-foto, bahkan ada yang foto pre-wed disini! Wajar tempat ini menjadi spot favorit, dengan pepohonan rindang yang sesekali tertiup angin yang berhembus sejuk, tata taman yang teratur dan bersih, disertai bangku-bangku taman yang memanjakan pengunjung, dan tentunya pemandangan danau yang permukaannya biru kehijauan dan tampak tenang, semuanya saya nikmati seraya duduk di salah satu bangku taman sebentar.

CIMG3500 CIMG3504 CIMG3498 CIMG3506

Kemudian, saya lanjutkan perjalanan saya menuju katedral ST. Joseph. Kebetulan saya adalah map reader yang sangat amatir. Masih ingat, kan, saya sempat berkali-kali nyasar di Ho Chi Minh? Nah disini saya juga sempat beberapa kali nyasar untuk menemukan Katedral tersebut. Sampai akhirnya, setelah saya bertanya pada polisi yang sedang berpatroli, baru saya menemukan direction yang tepat.

CIMG3522

CIMG3517

Saat berada disana, gereja yang dibangun pada tahun 1886 tersebut sedang ditutup, entah mungkin gereja ini hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu atau jam kunjungan telah berakhir. Sayapun harus berpuas diri berfoto-foto di luar bersama turis-turis yang lain.

Hari semakin sore dan saya putuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan pulang, saya menemukan banyak bangunan-bangunan tua yang masih terlihat megah dan kokoh. Dibandingkan dengan kawasan kota tua di Indonesia, Old Quarter terbilang sangat konsisten melestarikan bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial ini. Semua bangunan pun masih aktif dipakai untuk berbagai kegiatan usaha.

CIMG3526

CIMG3508

CIMG3527

Satu hal yang sangat saya sukai dan saya rindukan sampai sekarang dari Old Quarter adalah suasana sore harinya. Setiap sore hari, kawasan Old Quarter selalu diramaikan oleh hilir-mudik kendaraan bermotor di jalanan yang sempit, lalu-lalang turis yang berjalan kesana-kemari, dan tentunya–my most favorite thing–tempat nongkrong + beer time!

Dengan bangku pendek alias dingklik yang dijajarkan di luar kafe maupun kedai sederhana, para turis begitu santai menikmati bir di tangannya sambil menonton padatnya kemacetan di jalanan kecil yang hampir menyerupai lorong tersebut. Entah mengapa, baik mereka maupun–bahkan–saya sendiri betah duduk lama disana hanya dengan suguhan tontonan kemacetan tersebut.

2012-10-17 17.43.29

2012-10-17 17.43.39

This entry was posted in: Hanoi

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

4 Comments

  1. ooo..museum etnografi itu isinya begituan ya ndra, itu kuburan adat sama rumahnya hampir mirip kayak yang di Indonesia ya. Semoga tahun depan deh bisa ke sini.

    Like

    • aminnnn, Vietnam cm sepelemparan batu kok mba jaraknya dr Indo (tp hanoi lumayan jauh si haha.) kl bs disimpulin sih, emang smua yg ada di SEA itu ada semua di Indo, yg ngebedain cm pengelolaannya hehe. Bayangpunn, museum aja bs laku jd obyek wisata. Di Indo mah boro2 ada yg mau tur ke museum hehe

      Like

  2. Vietnam itu memang salah satu negara ASEAN yang jago ngelola pariwisata ya…Ho Chi Minh, Hanoi, Hoi An, semuanya hidup…sepertinya indonesia harus belajar dari vietnam untuk yg satu ini πŸ™‚

    Like

    • bener banget mba, mereka packaging pariwisatanya ok banget, ditunjang dgn infrastruktur dan pengelolaan yg luar biasa konsisten. Aku baru sadar, di pusat kota kyk di distrik 1 Ho Chi Minh, aku jarang (hampir ga prnh kyknya) ngeliat ada sampah bserakan. bahkan mau ngerokok di jalan pun aku liat2 dulu, ada puntung rokok bertebaran ala di indonesia ga. dan jarang bgt ada.

      Yang lebih ok lg gimana mereka menjual keterbatasan situs pariwisata mereka. Kantor Pos aja bisa jadi tempat wisata, bayangkan πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s