Chipsy talks
Comments 27

Backpacker Kere??

Saya teringat beberapa tahun yang lalu, saat saya masih menjadi seorang pegawai kantoran dengan rutinitas membosankan dan liburan yang cuma mentok di Bandung-Anyer-Bandung-Palembang-Anyer. Saya hobi sekali mangkal (baca: nongkrong) bersama teman-teman di sebuah kopitiam bernama KL Village di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Dalam seminggu kami bisa tiga sampai empat kali nongkrong, entah untuk menikmati masakannya, atau hanya ngobrol menghabiskan waktu.

Kala itu, saya suka sekali memperhatikan bule-bule berseliweran kesana-kemari. Beberapa tampak ribet dengan backpacknya yang begitu besar menggantung di punggungnya, beberapa tampak berjalan santai melihat berkeliling, dan beberapa masuk ke kopi tiam lalu duduk memesan makanan serta fokus dengan Lonely Planet yang ia bawa.

Teman saya berceletuk, “Tuh, lihat tuh, bule-bule kere. Bisanya nginep di Jaksa”. Saya pun bertanya, “Kok bisa?”

Di jaksa kan penginapan dan makanannya murah-murah.

Saya pun mengangguk-angguk dan mulai mem-brainwash otak saya dengan pemikiran sederhana namun sempit. Bule tajir menginapnya di Le Meredian atau Aston atau Saripan Pacific atau Hotel Indonesia, sedangkan bule kere menginapnya di Jaksa ataupun Cikini. Bule tajir bawa suit case, bule kere bawa ransel. Bule tajir pakaiannya necis dan high class, bule kere pakaian santai ala kadarnya.

CIMG5016

Pemandangan turis-turis beransel di kapal menuju Lombok, dari Bali

Sampai akhirnya saya tenggelam dalam dunia perminggatan a.k.a traveling, pola pikir lama saya dibongkar habis-habisan. Saya nggak lagi mengklasifikasi bule dalam dua kelas, bule tajir dan bule kere. Seiring dengan seringnya saya bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru selama melakukan perjalanan ke beberapa tempat, saya mendapati satu pelajaran penting, nggak semua bule menggendong ransel itu kere dan nggak semua bule dengan travel bag itu tajir.

Contohnya saja pertemuan saya dengan seorang mahasiswa summer course dari Kanada bernama Renaud. Dilihat dari penampilan luarnya, bisa dibilang Renaud tampak seperti bule jalan Jaksa pada umumnya dengan kaus oblong, celana pendek, sepatu dan tas ransel 50 liter di pundaknya. Namun siapa yang mengira dia baru saja menyelesaikan tur keliling Asia Tenggara dan saat ini dia sedang mengambil magister di Kanada. Atau Barnaby dari New Zealand yang saya temui di HCMC, hampir 11-12 dengan gaya santai Renaud dan ia baru saja tiba dari tur Amerika Utaranya (Kanada sampai USA).

Dari kisah-kisah yang saya dengar dari bule-bule yang saya kenal, mereka memilih bergaya hidup sederhana bukan berarti mereka tidak punya cukup uang. Didier dari Belgia memilih tinggal di rumah orang yang dia kenal melalui Couch Surfing bukan berarti ia tidak punya uang untuk membayar penginapan bintang lima di Indonesia (Dia bekerja di bidang IT, dan kita tahu, berapa gaji IT-ers di Eropa sana). Atau Jesu dan pacarnya yang berasal dari Spanyol memilih untuk naik kendaraan umum dari Bali sampai Labuan Bajo, bukan berarti ia tidak bisa membeli tiket pesawat PP langsung dari Bali-Labuan Bajo.

Itu cuma masalah preference, bagaimana seseorang mensiasati rencana perjalanannya. Saya sendiri mengalami dan memahami hal ini ketika saya melakukan trip ke empat negara di Asia Tenggara, dimulai dari Vietnam, Cambodia, Thailand dan Singapura. Mungkin mendengar rencana saya tersebut, orang-orang berpikir bahwa saya orang kaya, bisa jalan-jalan sampai sedemikian jauh dan lamanya. Namun orang-orang akan mendadak berubah pikiran waktu tahu saya hanya mengeluarkan kocek yang nggak wajar murahnya untuk tiket pesawat, atau hanya menginap di penginapan seharga IDR 60.000,- sampai IDR 70.000,- permalamnya.Β  Teman-teman saya bahkan nggak percaya kalau saya hanya menghabiskan uang tidak sampai IDR 60.000,- untuk makan seharinya (Lha wong, tiap hari makan Pad Thay yang harganya nggak lebih dari IDR 15.000,- sepiringnya hehe). Mereka juga nggak pernah tahu betapa dashyatnya naik kereta, duduk 30 jam dari Nha Trang ke Hanoi. Atau bagaimana saya yang tidak pernah mengeluarkan kocek sedikitpun untuk membeli air minum di Singapura dan bulak-balik toilet untuk minum (air kerannya drinkable disini).

CIMG5025

Dan nggak cuma saya, banyak juga teman-teman saya yang melakukan hal-hal lebih patriotis ketimbang saya. Seperti ada yang rela menginap di bandara karena penerbangan subuhnya, atau demi mengejar bus pagi. Atau ada yang sampai dua hari terombang-ambing di atas kapal. Dan ada pula yang membawa makanan kering dari rumah untuk menghemat budget makan harian. Apabila kita menyempatkan diri ke toko buku, tersebar disana buku-buku bertemakan tips jalan-jalan murah ke luar maupun dalam negeri.

Pertanyaannya, apakah kami benar-benar kere?

Well, saya percaya, bisa saja teman-teman yang saya kenal memilih untuk tinggal di penginapan dengan harga selangit dengan fasilitas penunjang yang mewah dan lengkap. Tapi buat apa? toh hotel hanya dihinggapi pada malam hari dan berfungsi sebagai tempat penitipan tas saja. Atau bisa saja teman-teman saya memilih untuk makan di restoran bintang lima dengan set course lengkap dari appetizer sampai dessert, tapi toh dengan harga yang jauh lebih rendah bisa puas makan dengan variasi makanan yang lebih berwarna, dan ditunjang dengan resep asli khas lokal yang mungkin saja tidak diketahui oleh restoran-restoran besar.

Saya teringat kata teman saya, backpacker is smart traveler. It’s how they can manage their money wisely while traveling. Uang bisa saja ada, tapi bagaimana seseorang berpikir cermat untuk membuang–menghabiskan–uang pada tempatnya. Natalie dari Jerman (kita tau nilai mata uang Euro berapa) bersumpah nggak akan mengambil uang di ATM walau uangnya habis karena ia sudah menetapkan budget selama perjalanannya di suatu tempat ya segini. Biru, teman travel saya sewaktu di Flores mati-matian tawar menawar dengan ojek selama hampir setengah jam untuk mencapai kesepakatan harga yang diinginkan. Bahkan traveler sekaliber Trinity–penulis Naked Traveler–pun masih hobi tinggal di hostel (di tengahnya pake “S”, bukan hotel, which is harganya tentunya jauh lebih terjangkau).

So, masihkah kamu menganggap backpacker itu kere?

This entry was posted in: Chipsy talks

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

27 Comments

  1. Setuju om, pola pikir masyarakat kita emg begitu, bahwa org yg ke luar negeri itu udah pasti kaya dan bule yg nginep di jalan jaksa itu kere. Nice post om!

    Like

    • setuju banget. dah bukan saatnya ngejudge traveler by its cover. gaya boleh gembel, sapa yg tau paspornya isinya visa semua hehe

      Like

  2. kiki says

    Travelling sebenernya yang lebih berkesan itu journey-nya. yg lebih memorable itu justru perjalanan2 yang harus dilalui utk mencapai suatu destinasi wisata. dan kesusahan2 yang ditimbulkan.mulai dari gak kebayang sama kehidupan sosial ditempat yang dituju, Nyasar, kelaperan,Ngitung duit apa masih cukup ato nggak..smuanya bakal teringat seumur hidup dan yg bikin hidup lebih berwarna drpd hanya ‘stay in our comfort zone’ kayak temen2 sy yang cuma bs tinggal dihtl berbintang tanpa eksplore bnyak tempat sementara selalu berusaha menjelajah tiap sudut dengan rasa penasaran πŸ™‚

    Like

    • setuju bgt mas kiki (eh mas apa mba ya hehe). nyasarnya itu juara bgt d, walo peta smpe dibolak balik, nanya org sana sini, tetep aja ngga nemu2 tempatnya tuh bikin gedeggg tapi suka bkin senyum sndiri kl diinget2. ato pas duit udah paspasan di hari hari trakhir, sampe mblusuk2 masuk gang buat nyari makanan murah. ato badan abis bentol2 digigitin bedbugs krn tidur di pgnapan super sederhana haha. itu smua jstru jd cerita seru ketimbang “oh, gw nginep di hotel mewah, bangun tidur sarapan enak, trus sopir travel agent jemput, kita tour, trus mlm dinner di resto tenar, trus pulang d”. ya walo kadang2 saya jg kl dah cape bnr ato emang gada pilihan laen jg prnh pake tur, wkwkw. tp srius, rasanya tuh ga segreget kl prgi sndiri hehe

      Like

  3. bener sekali , setelah mebaca tulisan diatas meneguhka saya bahwa “the journey is the most iportant than the journey “…….hehehehe salut….Backpacker bukan orng tidak punya uang , tp orang yg smart mengatur kemana lari nya uang hehee…

    Like

  4. travel tight dan travel light, yah… sebenernya klo dipikir2, modal traveling itu kan cuma badan yang sehat karunia dari Tuhan, yang lain bisa menyesuaikan lah, hehehe.

    Like

    • setuju banget, viva travel light, hehe. mau dua minggu, sebulan, dua bulan, tetep tas nggak boleh lebih dari 7 kilo dan harus masuk kabin wkwkw

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s