Australia, Been There, recent post
Comments 9

First Timer (Balada Hitchhike di Tasmania, Part 1)

Sudah hampir satu setengah jam lebih aku berdiri di pinggir jalan kota Sorell, Tasmania, Australia. Tangan yang lumayan kelelahan memegangi sebuah potongan kardus bertuliskan “Bicheno” tetap sesekali terangkat setiap menjumpai lalu lalang mobil. Sempat pesimis, aku menimbang ulang rencana hitchhike ini. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dan belum ada satu mobilpun yang berhenti berbaik hati menawarkan tumpangan. Mau sampai jam berapa berdiri disini, pikirku saat itu.

Satu dua orang yang lewat berjalan kaki tersenyum padaku. Beberapa dengan tulus memberikan dukungan lewat kata “good luck”, menyuntikkan semangat baru kepadaku yang sudah mulai kehilangan mood. “Ah, baru juga satu setengah jam!” Namanya juga mengharapkan tumpangan gratis! Sesuatu yang gratis tentunya tidak bertandang serta-merta, kan?” ujarku pada diri sendiri.

Hitchhike, atau menumpang kendaraan orang, adalah hal lazim yang dilakukan oleh traveler manapun di muka bumi ini dengan berbagai tujuan, entah itu untuk berhemat, entah itu untuk lebih berbaur dengan kearifan lokal. Berbekal ibu jari yang terangkat, atau potongan kertas bertuliskan destinasi yang dituju, para pelancong haus petualangan ini menyandarkan sepenuh harapannya pada kemurahan hati pengemudi yang lewat untuk memberikan tumpangan secara cuma-cuma. Bila kebetulan pengemudi akan menuju lokasi yang sama, beruntunglah si hitchhiker karena tidak perlu naik-turun pindah dari mobil satu ke mobil lain. Namun bila tidak, maka pengemudi akan menurunkan hitchhiker di satu titik sebelum  bertolak ke arah yang berbeda. Hitchhiker akan kembali “berpose” di tepi jalan menanti kendaraan lainnya untuk melanjutkan perjalanan.

IMG_1457

Somewhere in Nowhere

Meski hitchhike bukan lagi sesuatu yang baru di dunia traveling, tapi pengalaman ini layaknya ujian “naik kelas” bagiku yang sama sekali belum pernah melakukannya. Aku yang selalu terbiasa dengan kendaraan umum seperti bis dan kereta api acap kali berpergian, kini dituntut untuk keluar dari zona nyaman. Tasmania yang minim bis-bis ber-budget murah memaksaku yang minim keuangan dan minim pengalaman untuk melakukannya.

Perjalanan dari Hobart, titik nol keberangkatanku, menuju Bicheno akan ditempuh sejauh kurang lebih 177 km. Awalnya rencana berlangsung mulus karena tidak sampai setengah jam berdiri di sebuah persimpangan highway di dekat jembatan Tasman, sebuah mobil berhenti dan memberikan tumpangan hingga ke tempatku berada sekarang. Dan kini aku merasa sedang terdampar di antah berantah tanpa kejelasan apakah aku akan mendapatkan tumpangan berikutnya. Bagiku yang masih merupakan hitchhiker pemula, ini adalah angka yang lumayan utopis. Butuh berapa kali pindah kendaraan dan butuh berapa jam untuk bisa mencapainya, aku sendiri tidak punya prediksi yang pasti. Plan B-nya adalah, bila sampai jam tiga sore tidak ada satupun kendaraan yang mengangkutku ke Bicheno, aku bakalan menyeberang dan mencari tumpangan untuk kembali ke Hobart.

Nihilnya pengalaman ber-hitchhike bukanlah satu-satunya tantangan yang harus kuhadapi. Kebetulan kala itu pemerintahan Indonesia dan Australia sedang sedikit bersitegang atas keputusan eksekusi mati para tahanan Bali Nine. Media massa yang kerap mendramatisir berita di kedua negara tentunya membuatku kian waswas. Keraguan yang timbul semakin menjadi, mengingat bisa saja hal tersebut mempengaruhi sentimen pribadi warga setempat.  Mana tahu mobil yang bermaksud memberi tumpangan akan serta merta menutup pintunya kembali ketika mengetahui diriku adalah orang Indonesia.

Nanar, aku menjatuhkan diri terduduk di atas ransel sembari menghela napas kesal. Namun tidak lama, sebuah minivan mendadak berhenti tidak jauh dariku, dan beberapa pemuda keluar memanggil-manggil seraya mengayun-ayunkan tangannya. Akhirnya, sebuah tumpangan! Segera kusampirkan ransel ke punggung, berlari antusias menghampiri mereka.

“Apakah kalian akan menuju Bicheno?” Aku memastikan sejenak begitu pintu minivan dibuka.

“Kami akan menurunkanmu tidak jauh dari kota tersebut. Ayo naik!” Semua mempersilahkanku masuk, kira-kira ada tujuh penumpang di dalam, termasuk sang sopir. Wajah-wajah asing yang hangat menyapaku sesaat mobilnya kembali melaju. Beberapa tangan disodorkan dan nama-nama merentet di udara, mereka tidak kalah antusiasnya menyambut keberadaanku. Tujuan para pemuda lokal ini adalah kota Launceston di utara Tasmania, kota terbesar kedua setelah Hobart, dan rencananya aku akan diturunkan di Swansea, kota yang paling dekat dengan Bicheno.

“Apa yang akan kamu lakukan di Bicheno?” tanya salah satunya. “Err… Entahlah. Chilling di tepi pantai mungkin?” Aku tersenyum ragu sambil memamerkan deret gigiku.

“Ah, tepat sekali, Bicheno memiliki salah satu pantai terbaik di Tasmania!” Seru pria yang duduk tepat di belakangku.

“Jangan lupa ke Teluk Wineglass. Oh, dan pantai Nine Miles!” timpal sebelahnya.

“Aku memang berencana untuk trekking di Freycinnet. Tapi entahlah, apakah waktunya cukup. Lusa aku harus kembali ke Hobart.” Kataku kemudian.

“Sayang sekali kalau tidak mampir ke Freycinnet, kamu sudah sampai sejauh ini.”

Saya hanya meringis. Aku tahu, Wineglass Bay adalah alasan utama kenapa aku rela jauh-jauh ber-hitchhike ke utara. Tapi mengingat masih banyak agenda yang harus kukejar dalam waktu dua hari ke depan, aku cuma bisa bilang lihat saja nanti. Aku masih harus ke tenggara untuk mengunjungi Port Arthur dan menyapa para Tasmanian Devil si fauna lokal nan menggemaskan di pusat konservasinya. Tidak ada kepastian waktu yang dijanjikan saat ber-hitchhike membuat para pelakonnya hanya memiliki dua opsi, antara menyediakan waktu ekstra fleksibel atau berimprovisasi dengan rencana perjalanan.

Sayangnya waktuku terbatas, terpaksalah aku harus menerima opsi kedua. Aku hanya bisa pasrah dengan waktu dan hibahan tebengan orang-orang. Serasa tidak berhak untuk menyusun itinerari yang saklek, akupun mengandalkan insting. Jika baru mendapat tumpangan di waktu tertentu, aku harus perkirakan jam berapa aku akan tiba dimana dan berapa lama waktu yang kumiliki sampai akhirnya aku harus kembali ke pusat kota Hobart.

Kesalahan terbesarku saat itu adalah, sedari awal sebelum berangkat ke Tasmania aku sudah kepedean mereservasi penginapan di Hobart di tiga hari terakhir kunjunganku ke Tasmania. Dengan demikian aku serasa berkejar-kejaran dengan waktu harus tiba di Hobart tepat di hari aku semestinya check in hotel tersebut. Dengan demikian rencana perjalananku jadi agak berantakan, harus skip kesini skip kesitu.

Ok, kembali ke mobil van bersama para pemuda tadi. Seperti yang sebelumnya kuungkapkan, hitchhike ibarat ajang ramah-tamah, dimana kita bisa menghabiskan waktu betukar cerita. Sebagai pihak yang diberi tebengan tentunya aku nggak bisa hanya terdiam menikmati pemandangan di luar jendela, mengacuhkan sipemberi tumpangan. Sebuah aturan main tak tertulis berupa “Temani mengobrol sipemilik kendaraan” berlaku tanpa harus diberi pengarahan terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, Aku dan seisi mobil larut dalam obrolan ringan yang menyenangkan. Mulai dari pertanyaan standar pembuka seperti apa pekerjaanmu, hal apa saja yang menarik di negaramu, hingga topik mendalam seputar rencana perjalanan masing-masing. Salah seorang menyodorkan sebotol Vodka Berry dingin padaku seraya terus saja berceloteh. Ya, hanya dalam hitungan menit, kami mendadak dekat layaknya sahabat yang lama tak bertemu sedang melepas rindu berbagi cerita. Perasaan keterasingan di tengah orang-orang yang tidak dikenal maupun kekhawatiran akan penolakan menguap begitu saja.

Meski demikian, di tengah-tengah asyiknya bercengkerama, ada sekian menit kusempatkan terpekur akan panorama yang tersuguh di luar jendela. Merupakan pulau terbesar kedua di Australia setelah sang “daratan utama”, Tasmania dianugerahi lanskap yang luar biasa. Sejauh mata memandang, permandani sabana hijau tergelar. Bukit-bukit menjulang membingkai horison dengan anggunnya. Perkebunan anggur bersulur-sulur siap petik. Semak-semak Berry hitam liar sering ditemui memagari jalur highway yang kami lewati. Sapi-sapi juga domba-domba gemuk sedang merumput bermunculan di beberapa area. Sungguh sebuah potongan countryside view yang menakzimkan.

IMG_1586

IMG_1579

Setelah kurang lebih satu setengah jam berkendara, akhirnya mereka menurunkanku di kota Swansea. Akupun berpamitan, memeluk mereka satu persatu dan kemudian mencari tebengan baru yang akan mengantarku ke tujuan akhir. Mobil berikutnya yang mengangkutku disetir oleh seorang bapak-bapak yang pernah lama tinggal di beberapa kota di Indonesia. “Apa kabar!” meluncur dengan penuh semangat dari mulutnya ketika kuberitahukan darimana asalku. Ah, dia masih ingat banyak sekali kosakata bahasa…

Orang baru, topik obrolan baru. Bapak-bapak ini berceloteh tentang belasan tahun yang ia habiskan dengan berpindah-pindah kota di Indonesia. Pekerjaan menuntut masa mudanya meninggalkan negeri Kangguru cukup lama. Sejumlah kota di daratan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan tentunya Jawa dengan fasihnya ia sebutkan untuk meyakinkanku betapa Indonesia tampak menguasai hampir seperempat usianya. Kisah-kisah menarik ia sampaikan, tentang keindahan alam Indonesia, keramah-tamahan warganya, serta berbagai keunikan yang membuatnya angkat topi. Kami juga sempat bertukar pikiran tentang kebijakan masing-masing negara menyikapi isu hukuman mati tanpa disertai adu urat saraf yang tidak perlu.

Belum sempat kutanya nama sipemilik kendaraan, dan belum sempat pula ceritanya usai diperdengarkan, mobil berhenti di tepian jalan. Sebuah kota kecil yang bangunannya terletak agak berjauhan satu sama lain membentang di depan mata. “Selamat datang di Bicheno”, ujarnya. Ah, cepat sekali, sudah sampai rupanya. Ingin rasanya tinggal sedikit lebih lama di dalam mobil untuk meneruskan pembicaraan yang sempat terpotong. Apa daya aku memang harus turun dari mobil.

Menjelang masuk musim gugur, temperatur di beberapa kota bermain tidak menentu, terkecuali angin yang setia berhembus kapan saja dimana saja. Udara Bicheno sejuk, terlampau sejuk sehingga aku harus menutupi tengkuk dengan kapucong jaket. Bergegas kucari penginapan terdekat dan termurah untuk melepas penat sesaat sebelum mengeksplor kota mungil tersebut di sore hari.

IMG_1514

Berbicara soal mengeksplor, aku sendiri tidak tahu apa yang harus dieksplor disini. Sampai saat ini aku bahkan belum sempat mencari tahu di internet, ada apa dengan Bicheno. Maklum, kota ini muncul begitu saja ketika aku meminta saran “Things to do in Tasmania” pada seorang yang baru kukenal di sebuah kamar dormitory dua hari lalu di Melbourne. “Kamu harus ke Coles Bay, ke taman nasional Freycinet dan trekking ke arah teluk Wineglass. Kamu bisa beristirahat sejenak di Bicheno, tidak jauh dari Coles Bay. Kotanya cantik dan tenang, kamu pasti suka.” Kira-kira begitu petuah yang orang itu wariskan sebelum kami berpisah.

Barulah kepalaku terisi secercah pencerahan begitu check in di salah satu hostel dan mengorek semua informasi kota dari resepsionis. “Ada Blowhole yang bisa kamu kunjungi di dekat sini. Atau kamu juga bisa bushwalking di taman nasional Douglas-Apsley. Jangan lupa untuk bertemu dengan penguin-penguin mungil di tepian pantai malam nanti, mereka sangat menggemaskan.” Si resepsionis menutup dengan seolas senyuman termanisnya.

Ah Penguin!! Aku mau lihat penguin!!

(To be Continued)

IMG_1487

9 Comments

  1. Hebat Panda! Salut euy!

    Terpengaruh film2 gore, gw kayaknya gak berani coba hitch-hiking deh, takut diculik, disekap, dijadikan budak nafsu..

    #eh

    Like

    • Ih imajinasimu berlebihan bang. Gw yang masih perawan gress gini aja masih aman sentosa tersegel selamat sampai Indonesia haha. Err… tapi part “dijadikan budak nafsu” sebenernya pengen sih, tapi sayang belum ada kesempatan #eh

      Like

    • Bukan bang. Kebetulan emang rute yang aku tuju jarang ada yg ksana. Soalnya lmayan jauh jg. Paling yg lewat yang emang niatnya keluar kota. Kalo rutenya populer biasanya pasti banyak yg ngasih tumpangan kok hrhe

      Like

  2. Pingback: Penguin!!! (Balada Hitchhike di Tasmania, Part 2) |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s