Australia, recent post
Comments 9

Aki-Aki the Explorer (Balada Hitchhike di Tasmania, Part 3)

Memang bener ya, anak soleh rejekinya nggak kemana. Perjalanan ber-hitchhike di daratan Tasmania ini sepertinya mengalir begitu aja setiap harinya, seolah nggak ada hambatan berarti yang bikin agenda perjalanan runyam. Yaa… meski ada satu-dua hal yang harus diimprovisasi, satu-dua hal yang harus dikorbankan, tapi seenggaknya rencana  perjalanan senantiasa berjalan mulus hari demi hari.

Pagi ini, sesuai rencana, saya akan menumpang mobil yang dikendarai kakek yang saya temui semalam di ruang makan. Usai berbenah, memeriksa semua barang bawaan dan siap-siap cek out, si kakek nggak lama muncul dari kamarnya. Ransel mungil yang ia sampirkan menunjukkan bahwa ia juga siap berangkat.

“Ok, Maverick, this is it! Good luck hari ini. Semoga lekas dapat tumpangan juga ke Launceston”, ujar saya berpamitan pada Maverick yang baru mengenakan sepatunya.

“See you dude! Enjoy Tasmania, ya!” Ia menjabat tangan saya. “Glad to meet you”.

Saya tersenyum, membalas jabatannya, lalu balik badan, mengikuti si kakek yang baru saya ketahui namanya Alex dan berasal dari Hawai. ALOHAAA!! Alex berusia 70-an tahun, bisa saya tebak dari keriput-keriput dan napas senin-kamisnya. Menurut cerita yang saya dengar semalam, ini adalah kesekian kalinya ia injakkan kaki di benua Kangguru.

“I love Tasmania! Saya selalu ingin kembali kemari” akunya berbinar saat itu.

Kami berdua berjalan menuju sebuah sedan merah yang terparkir di halaman. Woww, dia menyewa Peugeot! Aki-aki tajir ini pasti! Lucky me!, mimpi apa semalam dapat tumpangan mobil oke!

Euforia berlangsung sesaat. Antusiasme saya mendadak menguap seketika membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Jok belakang penuh dengan barang dan sisa makanan. Seplastik ikan dan cumi-cumi entah dibeli kapan menebar bau amis yang bikin mual, langsung menusuk hidung. Kemasan-kemasan dan kaleng bekas berhamburan di lantai.

“Sorry for the mess”, ia meringis di balik kumis dan jenggotnya yang sama berantakannya dengan isi mobilnya.

No worry”, saya ikut senyum, basa-basi sambil menahan nafas. Kaki saya pijakkan hati-hati, takut  kalau-kalau menginjak barang berharga yang tertumpuk-tumpuk di bawah sana.

“Kita buka saja jendelanya supaya udara segar masuk”, tambahnya.

Syukurlah…. saya menghela lega.

Kami nggak langsung ke Triabunna. Alex terlebih dahulu mengajak bushwalking alias trekking ke taman nasional Douglas-Apsley yang berada di sekitar sana. Nggak sampai 15 menit berkendara, kami tiba di tempat. Pekarangan yang dijadikan lahan parkir masih kosong. Nampaknya kami adalah pengunjung pertama di pagi ini.

IMG_1516

Douglas-Apsley merupakan sehamparan hutan Eukaliptus yang sangat luas. Sebelum menjadi hutan lindung, taman nasional ini kerap dijadikan area pertambangan dan perburuan binatang liar. Kawasan ini kemudian diresmikan menjadi taman nasional pada tahun 1989, berhubung hidup diversifikasi berbagai spesies hewan yang kebanyakan hampir punah. Tercatat, ada sekitar 11 spesies endemik burung yang hanya bisa dijumpai no where in the world but here loh!

Alex menyusul saya keluar dari mobil begitu mematikan mesin. Ia hanya membawa ransel kecil yang ia isi dengan sebotol air minum, sedangkan saya tampak ribet sendiri membawa tas kamera berikut gadget dan berbagai barang berharga lainnya di dalam. Well, mana tau tiba-tiba si Alex kabur diam-diam, hihi.

Untuk ukuran aki-aki, semangat Alex begitu tampak membara. Walaupun berjalan sangat pelan-pelan dan sesekali berhenti untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, hanya dalam beberapa detik, ia melanjutkan perjalanannya. What a tough guy!

Kami mengikuti petunjuk arah, terus menyusuri jalur bushwalk yang sesekali mendaki. Benar saja, taman nasional ini masih benar-benar asri dan dipenuhi banyak binatang liar yang seenaknya berkeliaran. Tiap berapa menit, kami menjumpai satu-dua Wallaby berlompatan melarikan diri dari keberadaan kami. Ada pula burung-burung berkicauan di ranting-ranting pepohonan seraya mengamati kami dari ketinggian. Ah, I really love this ambiance!

IMG_1523

Do you spot the Wallaby?

IMG_1563

Langkah kami terhenti di sungai Apsley sebuah sungai yang airnya sangat jernih. Saking jernihnya, bebatuan di dasar begitu jelas terlihat. Bagi yang ingin sekedar piknik singkat bisa duduk-duduk di bebatuan besar di pinggiran atau berenang  menikmati sejuknya air yang mengalir lembut tersebut. Namun yang menyukai tantangan, bisa menyebrangi sungai dan melanjutkan beberapa jam trekking ke dalam hutan.  Saya dan Alex memilih bersantai di tepian.

IMG_1540

Tak lama duduk-duduk, tiba-tiba Alex berdiri, melucuti semua pakaiannya. Lho, lho, lho, apa-apaan ini?? Dengan santai, seolah nggak ada siapa-siapa kecuali dia disana, ia berjalan bugil mendekati air. Ah, dia mau berenang! Perlahan dan berhati-hati, ia tenggelamkan satu-persatu kakinya ke dalam sungai, terus berjalan ke tengah.

“Huaaa!!!” Dia memekik histeris. Nah lho ada apa lagi ini? Ia terus aja berteriak-teriak saat mengayuh kedua lengannya menyebrangi sungai.

“Are you ok?” Saya sedikit panik, berteriak dari pinggir.

“SSSooooo ccccooollld!!” ia mendesis. badannya tampak menggigil.

“Err… I think… kayaknya mendingan kamu keluar dari air, kalau nggak tahan sama dinginnya”. Duh, jangan sampe ini aki tenggelem di tengah sungai gara-gara nggak kuat kedinginan!

“Wait, satu lap  lagi aja”. Ia tetap nekad melintasi sungai, menuju ke ujung yang satu lagi dan kemudian baru kembali berenang ketepian. Sesekali dari mulutnya terlontar lenguhan-lenguhan kayak orang sekarat. Sesekali pula gerakannya terhenti, ia terdiam mengapung seraya memandang berkeliling.

Setibanya di tepian, berhati-hati ia menapaki bebatuan yang terendam air. Saya sedikit waswas, ia berjalan sempoyongan, menggigil, sambil nggak berhenti melenguh huh hah huhh keras. Jangan disini ya, aki, jangan sekarat disini! Not here and not beside me 😦

Ia menarik handuknya dari tas, mengeringkan tubuhnya sejenak lalu menyelimuti diri supaya agak hangat. Sorot matanya kosong menembus arak-arak awan di langit. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengajak ngobrol. “When I was your age, saya sering bulak-balik melintas sungai seperti ini. Bahkan lebih luas lagi.

“Saya juga suka traveling sedari muda. Sudah banyak negara saya kunjungi. Termasuk negaramu.” Ia tersenyum bernostalgia.

“Oh ya? kemana aja?” tanya saya.

“Ke Bromo, Ijen, Bali… Semua lewat jalur darat! Dulu tahun 80-an Bali masih sangat tenang. Terakhir saya kesana lima tahun lalu, banyak yang berubah.”

Saya ikutan tersenyum. Aki-aki ini, meski fisiknya nggak seprima dulu, semangatnya untuk menjelajah dunia masih aja membara. Darinya kuketahui, ia akan mengeksplor Tasmania dengan menyetir seorang diri dari utara ke selatan, barat ke timur. Kemudian ia akan terbang kembali New Zealand untuk another solo trip sebelum terbang pulang ke Hawaii.

Ia terdiam lagi, terdiam bersama kenangan masa mudanya.

Kami hanya sebentar menikmati tenangnya pemandangan di sekitar sungai Apsley, sebelum Alex memutuskan untuk kembali ke mobil. “Sudah cukup  sesi bushwalking-nya. Sekarang kita meluncur ke Triabunna supaya kamu nggak kemalaman tiba di Port Arthur”, ujarnya. Ih si aki perhatian pisan!

Kami kembali ke parkiran mobil. Sudah mulai ramai mobil lainnya yang berjejer disana. sekelompok anak muda dan beberapa keluarga saling menyapa satu sama lain, termasuk kami. Dengan humble, Alex menceritakan apa aja yang bisa dilihat dan aktivitas apa yang baru ia lakukan di dalam taman nasional tadi. Basa-basi antar traveler, hihi.

Mobilpun kemudian meluncur meninggalkan Douglas-Apsley, melewati rute yang kulalui kemarin. Mengobrol panjang lebar seraya melempar pandangan keluar jendela, kunikmati setiap kilometer perjalanan tersebut. Bau amis campur aduk  sudah mulai menghilang, meski sempat tercium beberapa kali.

“Saya mau mampir lagi ke Nine Miles beach. Kamu mau ikut atau bagaimana?” Tanyanya.

“Err…” kulirik jam di layar ponsel. Hari sudah menunjukkan pukul 11 siang. Rencananya hari ini aku harus segera tiba di Port Arthur, lalu bergegas ke Hobart kalau nggak kemalaman.  “I think I’ll go straightly to Port arthur, deh. Soalnya harus ngejar waktu”.

“Ah, no problem. Berarti saya akan turunkan di persimpangan depan aja. Kamu bisa mencari tumpangan lanjutan dari sana.” ia menerangkan.

(To be continued)

This entry was posted in: Australia, recent post

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

9 Comments

    • Sekarang udah banyak tiket promo dari Bali-Melbourne atau KL-Melbourne kok. Dari Melbourne, naik pesawat ke Tasmania nggak terlalu mahal 😀 Ayo diburu tiket murahnya 😀

      Like

  1. hahaha…lucu sekaligus seru..
    enak ya kalau bertemu teman seperjalanan yang penuh kejutan, perjalanan rasanya jadi ramai dan tidak sepi. 🙂

    keep the good work mas!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s