Australia, Been There, recent post
Comments 12

Si Tajir dari Coles Bay (Balada Hitchhike di Tasmania, Part 4)

Sebuah mobil nggak kalah kece dari mobil si aki-aki Hawai berhenti nggak jauh dari titik dimana saya menunggu tumpangan seraya mengangkat tinggi-tinggi cardboard bertuliskan “SORRELL”. Wah rekor! Nggak sampai 15 menit si aki-aki Hawai menurunkan saya di antah berantah ini, langsung dapat tumpangan lagi aja! Kayaknya keberuntungan emang sedang berpihak pada saya.

“Are you going to Sorrell?” tanya saya begitu kaca jendela mobil tersebut diturunkan.

“Yup, masuk aja.” Ujar seorang pria… kayaknya sekitar 40-an, matang, prima berwibawa tetapi tetap ramah.

Segera saya masuk ke dalam mobil, berjabat tangan berkenalan basa-basi seperti biasa. Namanya Don dan ia berasal dari New Zealand yang juga memegang paspor Australia (saya baru tau kalau mereka bisa berkepribadian berkewarganegaraan ganda alias memegang dua paspor aktif sekaligus). Dari penampilannya, isi mobilnya, cara dia bertutur kata, bisa saya simpulkan, oke, mas-mas ini pasti tajir melintir!

Benar saja, ia bercerita bahwa ia adalah seorang fire fighter alias pemadam kebakaran taman nasional Freycinnet. He has his own house di Coles Bay, tinggal bersama anak dan istrinya, dan yang terutama, he has his very own Yacht!” Dia nggak sedang bokis, karena logically thinking sih wajar aja pekerja beresiko tinggi seperti dia berpenghasilan “Oh Wow Magic”  dan bisa membeli private Yacht.

“Wow, Indonesia! I love Indonesia!!” katanya bersemangat ketika saya sebutkan asal saya. “I love diving in Indonesia! Saya pernah diving di Tulamben, Bali. Lalu Bunaken, dan pulau Weh di Aceh! Incredible banget dunia bawah laut Indonesia!”

Gantian saya yang ber-WOW ria. Ini orang fasih banget menyebutkan spot-spot menyelam yang memang populer di Indonesia. Dia sempat menunjukkan fotonya di ponsel sedang ber-wet suit ria melayang-layang diantara karang-karang cantik.

“Saya ingin sekali berkunjung ke Papua.. apa itu namanya saya lupa, Rempat? Rejapat?” Ia mengernyit sebentar.

“Raja Ampat! Ya, one of world best under water paradise! Saya pernah kesana, tapi cuma island hopping karena nggak punya pengalaman diving” ujar saya. “Katanya diving disana harus punya licence karena arusnya sangat kuat”.

“Kamu pernah kesana? Lucky you!”

“Kebetulan waktu itu dapat tiket murah aja. Kalau nggak, mungkin sampai hari ini saya belom berkesempatan pergi kesana”. Saya meringis.

Don lalu banyak bercerita tentang masa mudanya yang juga ia habiskan dengan ber-traveling ria. Hitchhiking adalah makanan sehari-harinya dulu saat hendak berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu ia dengan tenangnya menghentikan mobil dan mengangkut saya naik.

“Kamu nggak khawatir atau curiga saya bakalan macam-macam?” Iseng saya bertanya. “Toh saya kan ceritanya orang asing yang nggak kamu kenal.”

“Karena dulu saya juga seperti kamu. Saya suka sekali berhitchhike ketika ngetrip ke suatu tempat. Jadi saya mengerti rasanya terdampar di antah berantah mengharap tumpangan dari mobil-mobil yang lewat”. Ia tersenyum.

Perasaan pernah senasib-sepenanggungan ini menyelamatkan saya hari ini, gumam saya dalam hati.

“Jadi, ada rencana kembali ke Indonesia dalam waktu dekat?” tanya saya kemudian.

“Err… mungkin belum. Rencananya saya dan istri akan mengambil cuti panjang untuk berlayar ke Pasifik dua bulan lagi. Pulang sebentar ke NZ, kemudian lanjut berlayar ke Kaledonia Baru, Solomon, Vanuatu, Fiji. Saya ada teman di Nadi.”

Woww, dia menyebut  tempat-tempat tersebut begitu enteng, serasa cuma sedang mengatakan  “saya bakalan jalan-jalan naik angkot ke Bogor, Bandung dan Tasik.”

With your Yacht?” mata saya terbelalak. Ia mengangguk

“Sebentar…” Ia memelankan laju kendaraannya, lalu membuka kembali layar ponselnya dan mencari-cari sesuatu. “Nah ini dia, kamu slide aja foto-fotonya ke kanan.”

Terpampang di layar ponselnya, foto-foto ia bersama seorang wanita sedang berada di atas Yacht di tengah lautan. Nggak terlalu besar Yachtnya, tetapi cukup terlihat fancy.

“Itu yacht saya. Nggak terlalu besar sih, yang penting cukup untuk membawa satu keluarga kecil kami bertualang.” Katanya lagi.

 “Wow! Saya kepingin banget bisa ngetrip ke Pasifik! Tapi kayaknya transportasi antar negara mahal-mahal.” Saya tetap menikmati foto-foto di ponselnya.

“Kenapa kamu nggak coba Yacht-hiking?”

“Eh?” istilah baru nih, pikir saya.

“Ya, Yacht-hiking. Kamu bisa mencari-cari info Yacht yang akan berpergian ke salah satu negara di Pasifik. Lalu kamu melamar menjadi kru, entah bagian teknisi atau bagian dapur, atau apalah. Nanti setibanya di negara tersebut, kamu juga bisa meminta rekomendasi dari pemilik kapal untuk diperkenalkan dengan pemilik Yacht lain yang akan melanjutkan perjalanan ke negara berikutnya. Mulai banyak kok yang melakukan hal tersebut.”

“Oh ya?” Saya baru dengar ada hal seperti itu.

“Kalau kamu beruntung, kamu bisa menjumpai Yacht yang meluncur ke beberapa negara sekaligus. Yang penting kamu memiliki skill yang dibutuhkan mereka, mereka akan dengan senang hati menampungmu.”

This yacht-hikingthing mulai meracuni saya. Wah, bisa juga ya nebeng yacht-yacht mahal begitu untuk hopping dari satu ke lain negara di Pasifik. Saya nggak pernah kepikiran sebelumnya.

“Dan yang penting waktu yang kamu miliki fleksibel aja. Karena mungkin bakalan lama di suatu negara karena harus menunggu yacht berikutnya yang akan membawamu ke destinasi baru.” Tambahnya.

Don banyak mencekoki saya dengan hal-hal yang menurut saya sangat asing namun menarik untuk dicoba. Don membuka mata saya, hitch-hike dengan nebeng-nebeng mobil yang sekiranya sudah menjadi “ujian kelas berat” bagi saya ternyata belum apa-apanya. Masih banyak cara-cara menarik lainnya yang bisa dilakukan secara ekstrim untuk menekan berbagai pengeluaran. I learn a lot that day.

Mobil tiba-tiba berhenti di tepian jalan, masih di antah berantah. Nah lho, sibule kebelet pipis kali ya. Ternyata nggak di Indonesia, nggak di luar negeri kalo lagi nyetir dan kebelet pipis, tinggal melipir ke pinggir jalan toh, pikir saya saat itu. Namun sesaat setelah ia mematikan mobil, ia mengajak saya serta untuk keluar. Lho, pipis kok ngajak-ngajak? Maksud loooo??

“Disini banyak tumbuh Blackberry liar, kita panen dulu yuk.” Ia membuka pintunya.

“Oh…” Kirain ngajak pipis, hahaha.

Kami keluar, jalan menyusuri pinggiran jalan yang dirambati oleh semak-semak tinggi. Benar saja, ratusan butir Blackberry liar siap petik bersebaran di ranting-ranting mungilnya.

18316_705654226220422_758769782922910684_n

IMG_1598

“Ini… aman?” Saya ragu.

Sure. Saya sering mampir kemari untuk sekadar memetik sekeranjang penuh dan membawanya pulang.” Ia terus melahap butiran demi butirannya.

Pelan-pelan saya masukan sihitam mungil itu ke dalam mulut. Ketika tergigit, serasa muncrat jus manis meleleh di sisi-sisi lidah. Enak banget!!  Saya pun memetik banyak sekali, seraya terus melahapnya. Sibule tertawa melihat saya yang kegirangan menikmati sehamparan Blackberry for free tersebut.

“Saya pernah melihat di Kuala Lumpur…” kata Don, “Berry-berry ini dijual mahal sekali… Padahal disini saya tinggal petik kapan saja saya mau, hahaha.”

“Serasa kebun Blackberry pribadi ya?” Saya ikutan tertawa. “Btw, memangnya nggak ada yang marah, ya? I mean, ini nggak ada yang punya gitu?”

Don menggeleng, “Pohon-pohon ini ibarat semak-semak liar, tumbuh sendiri begitu saja di tepian jalan. Nggak ada yang memiliki. Jadi siapa aja bisa memetik.”

“Enak banget ya”, Mulut saya nggak berhenti mengunyah.

Puas berlama-lama disitu, saya dan Don kembali ke mobil. Ketika berada di dalam, Don tiba-tiba menyerahkan serenceng penuh Blackberry yang ia ambil tadi padaku. “Buat bekalmu, mana tahu kamu akan kemalaman tiba di tujuan nanti.”

11034309_705658192886692_4430155918301431041_n

Ya ampun ini bule baik banget. Udah ngasih tumpangan gratis, masih aja mikirin bekal buat saya. Sumpah, saat itu saya bingung mau berterima kasih dengan cara apa untuk membalas kebaikan sibule.

“Anggap saja hadiah perkenalan,” Ia kembali tersenyum.

(to be continued)

Nb:

Berikut saran dari Don buat saya dan mungkin para hitchhiker pemula lainnya:

  1. Selalu tersenyum pada mobil yang lewat, baik ia memberikan tumpangan atau tidak. Tunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang menyenangkan sehingga pengemudi tertarik untuk memberikan tumpangan
  2. Gunakan pakaian berwarna cerah. Pakaian gelap bakalan menimbulkan kesan sedikit jelek sehingga pengemudi berpikir ulang untuk menghentikan mobilnya

 

12 Comments

  1. Ciye dapat bule ciyeeee…
    ciyusan aku juga baru denger ada yacht hitchiking,,, duh mau ah besok besok… gileeeeee blekberi coiiiiiiiiii…

    Hukum Indonesia tidak mengijinkan warganya punya dua kepribadian ganda memang hiks 😀

    Like

    • lumayan Lid dapet bulay, ngebayarin ongkos pulang. Yaa balik modal lah #eh

      Nah yuk cus kita ngeYacht kemana nih enaknya #ngangkat jempol di pelabuhan tanjung priok

      Like

    • nah loh aku malah blm prnh denger buah Talok ato ciplukan haha. Beneran mahal banget ya? itu yg difoto tak buang separo ke semak semak loh pdhl saking ga kuat ngabisinnya #sombongnya buang blekberi T_T

      Like

  2. Selvie says

    Sebagai masukan, kalau mau yacht hiking di Indonesia, jangan lupa jadwalnya disesuaikan dengan musim atau arah angin, apakah lagi musim angin barat atau angin dari tenggara. Biasanya skipper mengharapkan para penumpang melakukan apa saja, misalnya masak, bersih2, dan yg penting gantian jaga arah kapal siang malam spy tdk ada tabrakan. Salam.

    Like

    • wihhh kyknya ada yg pernah Yacht Hiking nih 😀 boleh dong ngobrol-ngobrol kaka. Mana tau bisa diseriusin plannya bwt taun depan bwt meluncur ke Chile via Pasifik #amiiin

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s