Australia, Been There
Leave a Comment

Si Leher Cantik (Balada Hitchhike di Tasmania, Part 5)

“Makan malamnya luar biasa!” Ujar Marie, seorang wanita paruh baya yang juga diundang oleh Phil dan Marion, pemilik hostel yang sedang saya inapi. Saya pun mengangguk mengiyakan, meski lidah ini sangat nggak terbiasa dengan salad Raddish, wortel dan sayuran segar lainnya yang hanya dibaluri minyak zaitun dan perasan lemon–Untung aja fish and chips yang saya beli tadi sore lumayan membantu menelan semangkuk besar sayuran mentah tadi.

“Jadi Hendra, good luck dengan auroranya. Kabarnya kalau bukan malam ini, besok ia akan muncul! Sangat cantik loh!” Marion menyodorkan secarik kertas bertuliskan informasi ISO, speed dan bukaan yang harus saya atur untuk memperoleh foto aurora Australis yang nggak kalah melegenda dibanding Borealis di Utara.

Ah, mimpi apa saya bisa ngeliat aurora? Nggak direncanakan sebelumnya saya akan berburu aurora dalam perjalanan saya mengeksplor Tasmania, well meski akhirnya saya memang nggak berhasil menjumpai si aurora hingga hari terakhir berada di pulau terbesar kedua di benua kangguru ini.

Anyway, perberhentian saya berikutnya ini bernama Eaglehawk Neck, atau akrab disebut the Neck. Disebut the Neck alias si Leher karena lokasinya yang berada di titik pertemuan antara daratan utama dan peninsula Tasmania. Jadi semacam daratan mungil yang menyempit di tengah-tengah gitu.

IMG_1672 IMG_1611

Namun meski hanya berupa area mungil yang luasnya sekitar 400×30 meter, Neck merupakan persinggahan strategis yang dikelilingi oleh beberapa obyek wisata alam yang cakep banget! Ada Tessellated Pavement yang luar biasa cantik dan unik. Sekilas kita akan mengira bahwa fenomena alam ini nggak lebih dari sisa-sisa benteng pertahanan di tepi pantai. Namun perlu diketahui bahwa bebatuan ini terkikis alami oleh alam sehingga membentuk kotak-kotak sempurna permukaannya, Keren banget, kan? Nah yang lebih keren lagi, disinilah spot terbaik untuk menyaksikan aurora Australis!

Adapula Pirate Bay yang nampak di kejauhan dari Tessellated pavement, teluk cantik yang membusur membingkai perairan. Dari sini biasanya orang-orang akan menyewa kapal untuk melakukan bird watching alias mengamati ekosistem berbagai jenis burung di Tasmania.

IMG_1634

 

Selain itu, saya juga sangat beruntung karena bertemu dengan pemilik hostel sebaik Phil. Nggak hanya mengundang saya makan malam, Phil sore hari juga mengajak saya berkeliling seputar Neck. Saya diajak berkunjung ke Tasmanian Arch, “jembatan karang” raksasa yang terbentuk alami oleh alam, Devil’s Kitchen yang lebih menyerupai lubang besar bergemuruh setiap kali ombak berdebur mengikis permukaannya dan angin bertiup di dalamnya.

IMG_1699

Tasmanian Arch

IMG_1707 IMG_1714

Devils Kitchen

Dan nggak usah jauh-jauh, hostel yang sedang saya inapi sekarang letaknya tepat di tengah-tengah hutan Eukaliptus yang rindang dan asri. Berada nggak jauh dari tepian dermaga kayu tua yang tenang, tempat ini sempurna banget untuk menghabiskan waktu dengan tenang. This really reminds me of Breaking Dawn’s hut dimana mas Edward sama mbak  Bella lagi honeymoon–sayangnya saya lagi sendirian berteman sepi T_T

IMG_1675 IMG_1718 IMG_1723

Jam 2 pagi sudah, udara makin dingin dan saya masih duduk di teras pondok hostel. Langit gelap berbintang nggak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda keberadaan si Aurora. Mata saya semakin berat dan menyerah pada kantuk. Akhirnya dengan langkah gontai, saya masuk ke dalam kamar dan berbaring di kasur. Mungkin hari ini belum peruntungan saya bertemu dengan si Aurora.

Saya harus segera tidur karena besoknya saya akan bertolak ke Port Arthur sebentar, sebelum kemudian meluncur ke Hobart. Ya, waktu saya nggak begitu banyak untuk bisa menginap semalam lagi di Neck dan menanti kemunculan si Aurora beberapa hari lagi. Sedih sih… tapi yaa namanya juga nasib babu cuci gosok, nggak bisa cuti lama-lama  😦

Nb. Yang ngeselin banget. Keesokan harinya, ketika meninggalkan Neck dan kembali ke Hobart, malamnya aurora Australis muncul!! ya, hanya berselang satu hari doang! Kenapa juga munculnya nggak sewaktu saya masih di Neck aja sih! higs T_T

Nb 2. Jika kamu tertarik untuk menghabiskan waktu semalam di Neck, kamu bisa banget stay di Blue Gum Hostel, penginapan yang menyatu banget sama alam, terletak di dalam hutan Eukaliptus yang tenang dan dengan harga budget (mulai dari AUD 30). Yuk cek di mari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s