Australia, Been There, recent post
Comments 3

Good People is Anywhere (Balada Hitchhike di Tasmania, Part 6, End)

Indeed, good people is anywhere, kamu bisa bertemu dengan mereka tanpa kamu sangka dan duga. Mereka berkeliaran, mereka asing, mereka belum pernah kamu temui sebelumnya dan bisa tiba-tiba muncul in time of need.

Begitulah kira-kira yang bisa saya simpulkan selama melakukan perjalanan berhitchhike ria di daratan Tasmania. Nggak cuma 10-20km, tapi lebih dari 300an Km saya tempuh kesana-kemari di pulau kedua Australia ini tanpa mengeluarkan sepeserpun untuk transportasinya. Ya, gratis men!! gretongan, hanya mengandalkan iba dan welas asih dari para pengendara mobil yang seliweran.

Perjalanan super panjang yang pertama kalinya saya nekad tempuh–bukan di negeri sendiri, tapi malah di negara asing yang juga pertama kali saya injak–ini menyimpan banyak kenangan indah, meski sangat disertai oleh amal ibadah, sabar dan tawakal yang ekstra.

Dan perjalanan berhitchhike terakhir kalinya membawa saya ke Port Arthur dari Neck. Nggak jauh-jauh amat sih perjalanan kali ini ketimbang perjalanan sebelumnya yang biasanya membelah hampir seperempat pulau sendiri bulak balik. Namun demikian ada hal bego yang sempat saya lakukan disini, hihi.

Port Arthur adalah tujuan utama saya pagi itu. Oleh Phil, pemilik hostel tempat saya tinggal malam sebelumnya, saya diantar ke Tasmanian Devil Conservation yang letaknya di kota Teranna, nggak jauh dari Neck. Saya terlebih dahulu mengeksplor penangkaran satwa asli pulau ini sebelum kemudian kembali menggelar cardboard bertuliskan “Port Arthur” di pinggir jalan.

IMG_1875

Sebuah mobil nggak lama berhenti dan memberikan tumpangan. Sepasang suami istri muda yang langsung kegirangan mengetahui saya berasal dari Indonesia.

“Apa kabar??” Sapa si ibu hangat kemudian. “I love to travel to Indonesia!”

Dan begitulah, obrolan kami terus berlanjut. Mereka yang berencana untuk ke ujung peninsula Tasmania dengan sangat berbaik hati menurunkan saya tepat di depan pintu masuk gedung Port Arthur, bukan di pagar depan yang jauh banget, dan bukan pula di parkiran. Literally di depan pintu masuknya. Udah gitu nggak cuma saya yang berucap terima kasih, mereka malah dengan wajah tetap penuh keramahan berbalik ucap karena memperoleh teman ngobrol sepanjang perjalanan. Mereka baik banget!

Nah lalu apa yang saya lakukan begitu tiba di Port Arthur? Saya masuk dan mengecek harga tiket masuk. Glekk, harganya mahal juga ya! Berhubung uang saya saat itu sudah sangat pas-pasan karena Tasmania adalah the very last destination sebelum kembali ke Indonesia, yang saya lakukan hanya memfoto beberapa bagian gedung, plus ambians di sekitaran gedung. Then what? Pulang dong! ahaha.

IMG_1883

Sinting ya? ya mau gimana lagi, nggak punya uang lagi buat beli tiket masuk 😦 Udah jauh-jauh menempuh perjalanan dari Bicheno untuk tiba disini, ternyata cuma berakhir dengan sesi foto di pelatarannya aja. Nasib gembel ya gini deh 😦

Singkat cerita, saya kembali ke highway, menunggu nggak jauh dari sebuah restoran di depan gerbang Port Arthur. Kali ini saya menggelar cardboard bertuliskan “Hobart”, ibukota Tasmania yang berjarak 90an km. Saya pede aja, nggak mungkin deh jarak segini nggak bisa ditempuh. Kemarin aja Hobart-Bicheno yang hampir 200km bisa ditempuh dengan lancar jaya. Apalagi ini Hobart, pasti banyak orang yang akan berkendara ke ibukota hari ini.

Nyatanya kepedean saya berbuah penantian yang lumayan bikin encok. Saya harus menunggu sampai lebih dari 2 jam. Ternyata nggak ada satupun mobil yang berhenti. Mereka terus berlalu, meski sempat melirik cardboard saya. Duh, mampus deh udah mau sore, mana disini nggak keliatan ada penginapan murah, duit juga sangat paspasan.

1916925_854059218046588_1164219746210407578_n

Pucuk dicinta ulam guritno! Ketika saya tampak begitu menggenaskan dan desperate terduduk di pinggir jalan berkerikil dan berdebu, dari restoran di ujung sana berjalan seorang ibu-ibu menghampiri saya.

“Halo, saya lihat sejak tadi sepertinya kamu butuh bantuan? Kamu mau ke Hobart ya? Apakah kamu berkenan untuk menumpang di mobil kami? Saya dan suami juga akan menuju Hobart”. Ia tersenyum penuh harap.

Sumpah deh, saya nggak sedang mengada-ada, begitulah kira-kira kalimat tulus yang ia ucapkan setelah diterjemahkan dalam Bahasa. Ya ampun kenapa dia yang mau membantu tapi dia yang tampak memelas ya? Spontan saya langsung berdiri dan mengangguk kegirangan. Saya sampirkan tas saya dan mengekorinya ke mobil.

Sepasang suami istri ini nggak kalah ramah. Dengan sangat antusias mereka berbagi cerita dengan saya selama perjalanan kurang lebih satu jam tersebut. Dan you know what,Β mereka kembali membuat saya terenyuh! Seharusnya mereka nggak akan benar-benar ke kota Hobart karena harus ke Bandara. Saya pun sudah memberitahukan agar menurunkan saya di stasiun bus terdekat aja supaya saya bisa menyambung dengan bus keΒ downtown. Tapi alih-alih mencari bus station, mereka memaksa saya untuk memberitahukan alamat jelas hostel yang saya tuju dan menurunkan saya tepat di depan gedungnya!Β Astaga, saya sampai bingung harus gimana, saking bingungnya.

Tiba di Hobart kembali berarti petualangan Hitchhike saya berakhhir, kembali ke kota besar dimana saya hanya perlu berjalan kaki kesana kemari, menghabiskan sisa liburan saya sebelum bertolak ke tanah air.Β Thank you is not soooo enough untuk membalas kebaikan orang-orang yang saya temui sepanjang perjalanan. Mungkin hanya iringan doa yang bisa saya lantunkan sebagai balasan, dengan harapan kebaikan mereka akan kembali berlipat ganda.

Australia indeed one of Hitchhiker friendliest country menurut beberapa situs yang saya baca, dan saya telah membuktikannya. Terlalu banyak orang baik yang bersedia dengan tulus mensupport para pejalan minim dana–seperti saya contohnya–untuk mewujudkan impiannya mengeksplor benua.

So, kalo saya bisa, kamu juga dong? Ayo nikmati juga seru bin degdegannya berhitchhike ria πŸ˜€

Baca juga kisah-kisah sebelumnya saat berhitchhike di Australia:

  1. First Timer
  2. Penguin!!!
  3. Aki-aki the Explorer
  4. Si Tajir dari Coles Bay
  5. Si Leher Cantik

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s