Africa, Been There
Comments 10

Wasswusss di Marrakesh (Maroko, Pintu Utara Afrika, part 1)

Plaza Jenna El Fna petang itu super hectic sehectic-hecticnya. Saya bersama seorang teman asal Korea Selatan bernama Minnie turun dari bus yang membawa kami meninggalkan bandara beberapa menit yang lalu. Padat, seolah alun-alun tersebut tumpah ruwah dengan manusia yang hilir mudik kesana-kemari. Baru sekian detik beralih dari tempat pemberhentian bus, beberapa orang dengan antusias merapat mendekatkan diri. Taxi? hotel? cheap food? Saharan tour? Semua berlomba-lomba menarik perhatian, para penumpang dijadikan ajang  rebutan.

“No, no, sorry no, no, I said no, please don’t follow me!” kerap kami lontarkan untuk membuat mereka berhenti mengikuti. But, yahh, meski demikian masih aja ada satu dua orang yang bandel kekeuh mengekor.

Saya dan Minnie berpisah sejenak di seberang masjid Koutoubia–masjid terbesar sekaligus menjadi landmark kota–untuk mencari penginapan masing-masing, sebelum nantinya kembali bertemu di spot kami turun dari bus. Dengan tampang galak, saya berusaha menghindari kerumunan para calo tadi, mencari penampakan polisi atau siapa aja yang kira-kira bisa dipercaya untuk ditanyai alamat penginapan saya. Seorang pemuda yang tampaknya warga asli yang dengan cueknya kebetulan lewat segera saya sapa. Beruntung banget dia bisa berbahasa Inggris, komunikasi tanya jawab berlangsung mulus dan saya langsung memperoleh informasi cukup jelas mengenai keberadaan quartier (area) yang saya cari.

Ya, nggak semua warga lokal berbahasa Inggris, selain bahasa Arab dan Berber (bahasa suku asli Maroko), bahasa Perancis lebih banyak digunakan disini. Untung deh saya sempat kursus intensif bahasa yang serak-serak seksi ini. Meski sedikit terbata-bata, seenggaknya untuk tanya ini itu dan transaksi masih lumayan lancar.

Memperoleh informasi yang lengkap tentang keberadaan sebuah quartier nggak serta merta membuat saya langsung sampai ke tempat yang dimaksud. Sebagai seorang yang mengidap disorientasi akut, saya lagi-lagi terpaksa nyasar dan berputar balik ke tempat yang sama berkali-kali. Saya coba kembali bertanya setiap kali bertemu polisi jalanan, penjual makanan, dan satu-dua orang lainnya hingga akhirnya saya temukan quartier yang dimaksud.

Quartiernya berada di dalam gang, literally gang yang lorongnya puanjangggg nan berbelok-belok. Sepanjang perjalanan, saya agak lumayan was-was mengingat gang tersebut lumayan sepi, hanya ada satu-dua orang yang berdiri di luar beberapa penginapan. Penerangan lorongnya pun remang-remang, membuat saya dagdigdugserr sendiri. Well, tidak bermaksud berburuk sangka dengan warga lokal. But you never know, anything could possibly happen in a deep alley, terutama ketika kamu berada di negara yang baru pertama kali kamu kunjungi. Jadi berjaga-jaga ekstra, buat saya nggak ada salahnya.

Hostel yang saya akan inapi ternyata berada di ujung gang, sempat membuat saya ragu, apakah saya sedang menyusuri lorong yang benar. Sebuah pintu kayu besar terbuka ketika kenopnya saya benturkan keras. Pria berwajah Arab tersenyum dari baliknya, mempersilahkan saya masuk dengan ramah. Begitu menjejakkan kaki ke dalam, terhirup aroma rempah dari dupa yang harumnya nggak terlalu menyengat.

“Saya sudah membuat reservasi”, kata saya, menunjukkan selembaran voucher. Pria tadi segera mengecek data di komputer sebentar, lalu meminta paspor saya.

Saya memandang berkeliling. Layaknya bangunan rumah di Maroko, penginapan saya memiliki sebuat teras di ruang tengah dengan atap terbuka. Beberapa bangku dan meja disusun untuk para tamu nongkrong cantik disana. Jendela-jendela melengkung tampak menyerupai celah-celah raksasa, berikut keramik-keramik cantik warna-warni di sisi-sisi tembok memperkuat suasana Timur Tengah.

“Silahkan ke ruang tengah, saya akan menyajikan sepoci teh dan camilan sebagai wujud keramah-tamahan kami, warga Maroko”, ujar si pria setelah selesai berurusan dengan administrasi dan tetek-bengeknya. Ia menggiring saya ke salah satu meja kosong, lalu meninggalkan saya sejenak. Ada sekitar tiga-empat orang asik bercengkrama nggak jauh dari meja saya.

Si pria tadi pun tak lama kembali dengan nampan di tangannya. Sepoci teh Mint, berikut sepiring kue kering almond siap dihidangkan di meja saya. Hmmm, penyambutan ini pelan-pelan meluluhkan kebetean saya akan betapa rush-nya kesan pertama Marrakesh tadi. Sang pria dengan setia menunggui saya menghabiskan gigitan terakhir kue Almond saya, dan menawarkan refill teh pocinya sebelum kemudian mengantarkan saya ke kamar.

WIFI terconnect, saya segera mengontak Minnie, menanyakan apakah ia sudah menemukan penginapannya. Tidak sampai lima menit, Minnie pun membalas. Sama seperti apa yang saya alami, Minnie juga agak kesulitan menemukan penginapannya di tengah-tengah labirin lorong-lorong Marrakesh. Kami kemudian janjian bertemu kembali satu jam kemudian, setelah bebersih diri dan istirahat sejenak.

——————————————————————————————————-

Minnie melambaikan tangannya dari kejauhan, mengenakan pakaian yang lebih tertutup ketimbang pertama kalinya kami bertemu. Well, it was my idea. Saya menyuruhnya untuk mengenakan pakaian yang nggak terlalu memancing perhatian orang-orang karena sebelumnya yang ia pakai berupa rok ketat di atas lutut dengan legging hitam yang lumayan transparan. Udah pake coat plus jeans panjang kayak gini aja masih digoda-godain orang!

Kami memulai “saturday night dating”  kami dengan terlebih dahulu membaurkan diri dengan kerumunan masyarakat di Plaza Jenna El Fna. Ya, a huge crowd, kalo boleh saya sebut. Ratusan, atau mungkin ribuan orang berkumpul memadati alun-alun selayaknya sedang menonton konser artis ternama. Mereka rela berdiri berjam-jam terpaku, nggak beranjak dari posisinya. Plaza Jenna El Fna disetting menjadi area pertunjukan. Panggung besar, dengan layar putih raksasa, beberapa speaker-speaker menggemakan alunan musik yang begitu kencang.

Bole chudiyan, bole kangna…
Haai main ho gayi teri saajna
Tere bin jiyo naiyo lag da main te margaiya…

IMG_3594 IMG_3601

Nah lho, lagu India! Saya kenal banget sama soundtrack film Kabhi Kushi Kabhi Gham yang satu ini. Muncul sosok Kareena Kapoor menari dalam balutan Sari. Berputar meliuk-liuk memainkan gelang-gelangnya yang bergemericing di kedua tangannya, dirinya disambut oleh mas Hrithik Rooshan yang tersenyum flirtatiously.

Kontan seisi plaza berjoget mengikuti irama lagu. Meski ada beberapa yang hanya mematung, entah kepalanya yang mengangguk atau kakinya yang bergoyang, pasti ada aja anggota badan yang digerakkan. Wajah-wajahnya yang kelihatan sumringah, begitu menikmati suguhan tontonan tersebut.

Saya baru mengetahui, ternyata kedatangan saya ke Marrakesh saat itu bertepatan dengan diadakannya Festival Film Internasional Marrakesh. Oleh karena itu, di Plaza Jenna El Fna diadakan acara nonton berjamaah seperti sekarang. FYI, juga baru saja saya ketahui dari kenalan saya, ternyata kebanyakan orang-orang Maroko begitu tergila-gila akan film dan musik India.

Pantesan aja mereka begitu antusias dan ogah berpindah. Berasa lagi nonton konser Ariana Grande kayaknya yee…

Saya dan Minnie kemudian memutuskan untuk beranjak, cukup acara nonton Indianya. Kami berjalan ke arah Souk alias pasar tradisional yang nggak kalah ramai. Kami blusukan ke lorong-lorong pasar yang menjual rupa-rupa barang khas Maroko. Pakaian-pakaian tradisional seperti Djellaba yang bergantungan di depan toko, hiasan dinding ukiran kayu ataupun kriya logam berbentuk Tangan Fatima dipajang di dinding-dinding, lampu-lampu patri warna-warni ditebar begitu saja di atas jalanan menyemarakan seisi pasar. Belum lagi aksesoris lainnya seperti pasmina, sepatu berujung lancip, gantungan kunci, barang-barang antik berbau Timur-Tengah magnet kulkas, tas, dll dkk dengan mudah ditemui di setiap sudut.

IMG_3611

IMG_3614

Lampu-lampu cantik khas seribu satu malam

Keluar dari Souk, kami kembali ke pusat alun-alun untuk mencari makan malam. Warung-warung tenda menyajikan aneka rupa masakan begitu riuh. Para pelayan warung berteriak-teriak memanggil calon pembeli yang lewat, tamu-tamu yang berisik mengobrol, suara gemuruh kompor dan dentingan logam peralatan masak, semua bertumpuk di telinga.

Makanan yang disajikan juga beragam. Saking beragamnya, kami sampai bingung mau memilih yang mana, karena kami berdua sama-sama buta akan pengetahuan kuliner setempat. Pokoknya ada yang prasmanan siap dipilih ala-ala warung nasi padang, ada pula yang tinggal digoreng atau dipanggang.

IMG_3607

“Mau makan dimana?” Tanya saya.

“Err terserah…” Minnie juga kebingungan. Begitu banyaknya deretan warung tenda, dan begitu ramainya isi tiap tenda, seolah nggak ada satu tendapun yang sepi. Kayaknya bangku-bangku kosong letaknya ada di tengah-tengah kerumunan orang, dan kita harus nyelip-nyelip melewati orang yang sedang makan untuk menggapainya.

Riweuhhhh….  Belum lagi ditambah keriweuhan lalu lalang orang-orang, suara-suara musik kencang dari panggung, suara musik folklore para seniman jalanan, orang-orang yang gigih mengikuti sambil menawarkan paket tur Sahara, restoran enak, massage, penginapan, mental kami benar-benar diuji.

Makan malam kami berakhir di sebuah rumah makan di salah satu jalanan yang nggak kalah padatnya, duduk bersama kerumunan pembeli lainnya, mencoba menikmati ritme wasswuss Marrakesh. Shock?  Ya, saya sangat shock. Ini pertama kalinya saya merasakan suasana hectic yang berkolaborasi berbaur satu pada kesempatan yang sama, sehingga saya butuh sedikit waktu untuk beradaptasi.

Yaa, seperti orang-orang bilang, welcome to Africa, saatnya ketahanan diri saya sebagai traveler newbie diuji 😀

IMG_3609

Makan malam pertama saya, Tajine. Kuliner khas Maroko yang dimasak dengan tungku, dalam sebuah piring bertutup kerucut


Next, on Maroko, Pintu Utara Afrika:

2.Susur Pegunungan Atlas bersama Ibu-Ibu Sosialita

3.Incredible Sahara

10 Comments

  1. Wuih menarik. Itu Tajine kayak pempek lenggang yang belum dibakar ya Pandah haha. Kayak adonan telor mentah gitu. Menarik banget jauh-jauh ke Maroko ya nemu lagu India 🙂 Ditunggu part selanjutnya.

    Like

    • mereka hafal lagu lagu india yang filmnya ngeheits omnduut, haha. jadi ngakak sndiri jauh-jauh ke afrika malah nobar film India.

      Tajine itu cara memasaknya, jd isinya bisa telur dimasak orak arik daging, bisa isinya tumis sayuran, dll dkk.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s