Africa, Been There, recent post
Leave a Comment

Susur Pegunungan Atlas bersama ibu-ibu Sosialita (Maroko, Pintu Utara Afrika, part 2)

“Jadi, gue cowok sendiri gitu?” Saya melahap suapan terakhir yoghurt dari cangkir plastik mungil.

Nina sang tour leader mengangguk. “Isinya tante-tante cadas nan berisik semua, sama ada satu yang seumuran elo”.

Angan saya sejenak melayang, wihhh baru kali ini ngetrip sekompi isinya tante-tante heboh. Selama kurang lebih lima hari ke depan, bersama Ceria Tour yang diorganisir oleh teman saya Nina, saya akan menjelajah spot-spot wisata keceh di Maroko. Ini pertama kalinya saya ikutan trip organizer lebih dari sehari, setelah biasanya saya selalu memutuskan untuk eksplorasi sendiri tanpa bantuan operator lokal terkecuali untuk one day trip ke tempat yang memang agak sulit dijangkau oleh kendaraan umum.

Nah bagi saya yang maha awam soal Afrika, terutama Maroko, dan berhubung menurut saya bakalan agak sulit ke depannya untuk mencapai banyak tempat wisata tertentu dengan kendaraan umum, dan untuk mempersingkat waktu yang sangat sedikit sekali saya miliki selama di utara benua waka-waka e-e ini, daaaan berhubung saya juga sedang malas searching info-info ataupun menyusun itinerari Maroko, maka saya putuskan untuk ambil solusi pintas yang paling aman. Ambil paket tur 5hari 4malam yang ditawarkan oleh teman saya.

Jadi pagi itu saya sudah berpindah dari kamar dormitory di hostel dalam gang menuju Riad (rumah ala Maroko yang disulap keceh menjadi penginapan) tempat para peserta tur menginap malam sebelumnya. Semuanya sudah bersiap berkemas, koper-koper sudah diangkut ke dalam minivan, para tante baru saja selesai sarapan. Kami akan bertolak ke pegunungan Atlas setelah ini.

Saya berkenalan dengan para tante terlebih dahulu sebagai pemanasan, berhubung kami bakalan menghabiskan beberapa hari bersama-sama. Benar saja, mereka semua sangat berisik, kocak dan rempong, hihi. Celetukan-celetukan yang sesekali mereka lontarkan membuat seisi mobil riuh sepanjang waktu. Bakalan seru nih kayaknya tiap hari 😀

Said, guide lokal kami memberi tanda bahwa kami sudah siap berangkat. Semuanya lantas masuk ke dalam mobil, menempati kursi favorit masing-masing. Saya sendiri duduk di depan bersama pak sopir dan Said yang nggak kalah ramah dan riang. Satu injakan pedal gas, maka mobilpun perlahan meninggalkan Riad.

Perkenalan saya bersama pak sopir yang minim berbahasa Inggris dan Said yang lancar lima bahasa berlangsung dengan lancar. Basa-basi tentang tinggal dimana, kerjanya apa, kenapa mau jalan-jalan ke Maroko mengalir dengan ringan, meski sesekali Said meraih mic untuk sejenak menjelaskan agenda perjalanan ke depan dan sekilas info mengenai spot menarik yang baru saja dilewati mobil.

IMG_3627

Pegunungan Atlas membentang di tiga negara, Maroko, Aljazair, dan Tunisia–wajar aja, soalnya pegunungan ini berderet hingga 2500 kilometer! Puncaknya yang setinggi lebih dari 13.000 kaki ini kebetulan terletak di barat daya Maroko. Selayaknya melintasi pegunungan, perjalanan berkelok dan mendaki. Lereng-lereng dan jurang di kanan-kiri, gunung batu yang menjulang begitu tinggi, rumah-rumah lempung berbentuk kotak khas Afrika yang seragam kecoklatan warnanya silih berganti terpampang di luar jendela.

IMG_3662

Pemandangan dari High Atlas

Suku Berber adalah masyarakat asli dataran Maroko. Mereka banyak mendiami wilayah di sekitar Atlas. Saya sempat mengobrol dengan satu dua penjual souvenir yang lumayan fasih berbahasa Inggris. Yang menariknya, meski hampir sebagian besar Maroko didominasi oleh bangsa Arab, kebanyakan orang Berber nggak bisa berbahasa Arab. Instead of speaking Arabic, mereka lebih fasih berbahasa Inggris dan Perancis.

Agenda utama ngetrip bareng ibu-ibu sosialita itu cuma ada dua. Yang pertama adalah sesi foto-foto. Jadi sepanjang perjalanan, ada beberapa kali mobil kami berhenti sejenak untuk mengambil gambar baik pemandangannya aja, selfie, sampai wefie. Ada gugusan gunung keren langsung foto. Ada lembah yang beralur cantik juga foto, ada pemukiman warga yang unik tentunya nggak boleh nggak foto. Well, bisa dimaklumi sih, Afrika kan memang benua yang super fotogenik di setiap jengkal kakinya. Adaaaa aja spot tertentu atau frame tertentu yang bikin lensa kamera gatel pengen ngejepret. Saya sendiri berasa super click-gasm alias puas banget mengambil foto disini-disitu, siini dan siitu.

IMG_3635

Foto dulu cyynnn

Agenda kedua adalah–yang nggak kalah penting–berbelanja! Nah yang satu ini juga terkadang membuat saya nggak tahan godaan. Di sejumlah kota, banyak terdapat toko souvenir yang memanjakan mata. Mulai dari magnet dan gantungan kunci,  aksesoris gelang-kalung khas Maroko, perabotan gerabah, karpet-karpet bercorak menarik, smpai hasil olahan alam seperti krim-krim dari kacang-kacangan yang tumbuh di pegunungan Atlas dan aneka produk kecantikan beraroma mawar. Saya yang bawa uang pas-pasan pun terpaksa gigit jari menahan nafsu belanja ketika para tante menenteng kantong-kantong belanjaan dengan wajah sumringah puas, hihi.

IMG_3630

It’s Shopping tiiime!!

Yesyou don’t need to explain too many things,shopping and selfie are two most understandable words for women :p

Percaya nggak percaya, itulah yang terjadi sepanjang perjalanan. Said sering kali tiba-tiba berhenti menerangkan informasi seputar spot-spot yang akan kami tuju karena para tante keasikan ngegosip di bangku belakang. Biasanya saya cuma bisa tersenyum meledek saat ia menoleh pada saya sambil merengut sebal, “Oh my God, they are not listening.”

Hal itu juga kemudian terjadi saat kami akan mengunjungi Ksar Ait Ben Haddou, salah satu kompleks pemukiman tertua di Maroko. Ketika tourguide lokal menggiring kami berkeliling situs tersebut sambil menjelaskan sejarah dan hal-hal menarik di dalamnya, hanya beberapa yang mendengarkan. Yang lainnya sibuk berfoto dan melihat-lihat toko souvenir. Ketika seharusnya kami berkumpul mengikutinya, beberapa orang memilih memisahkan diri, berpencar menyebar mencari spot-spot foto favorit masing-masing. Saya benar-benar nggak bisa menahan tawa setiap melihat raut muka sang tourguide yang merasa serba salah.

IMG_3738

 

Suasana di Ksar Ait Ben Haddou, kota tua yang dibangun sekitar abad ke 17. Kabarnya film The Mummy dan Gladiator mengambil gambar disini

IMG_3704

Sang Tourguide lokal dalam balutan jubah Djellabanya: Saya mah cuma bisa pasrah #sambil melirik para tante yang bubar kesana-kemari, hihi

Benar-benar pengalaman kocak, tapi begitu menyenangkan. Trip bersama para tante benar-benar menjadi trip privat “Semau Kite”. Itinerari yang dirancang baik oleh Said dan tourguide lokal lainnya terpaksa bubarr karena semua memilih menikmati dan menjalani gaya tripnya masing-masing. Said yang awalnya sangat strict dengan durasi waktu pun akhirnya mengalah. Agenda perjalanan jadi sedikit berimprovisasi karena agak molor dari waktu yang telah dijadwalkan, dan para tourguide harus pasrah karena nggak berkutik saat melirik para tante yang asik sendiri, hihi.

IMG_4064

Meet the Tantes


See also:

1. Wasswusss di Marakesh

3. Incredible Sahara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s