Australia, Been There, WHV Australia
Comments 28

Siapa Suruh datang Australia? (Balada WHV part 1)

Nggak terasa yah ternyata saya sudah tinggal selama tiga bulan di Sydney. Dengan berbekal visa bekerja sambil berlibur yang berhasil saya peroleh dari pemerintah Australia, maka secara resmi kurang lebih satu tahun saya bebas melenggang keluar masuk benua kangguru dan bekerja mendulang pundi-pundi dolar kapanpun saya mau.

Ok, Kenapa Australia? Kenapa bukan negara yang lainnya?

Well, alasan teknisnya adalah hingga saat ini baru Australia negara satu-satunya yang mengijinkan warga negara kita tercinta nusantara untuk mengajukan permohonan aplikasi visa bekerja dan berlibur. Negara yang lain mah hanya mengijinkan kita untuk either punya visa bekerja atau visa liburan, nggak bisa combo keduanya.

Tetapi alasan yang paling utama kurang lebih begini… Saya sendiri sejak lama memang kepengin banget merasakan tinggal di negara orang. Maklum, namanya juga orang kampung, terkungkung di sebuah kota kecil membuat saya membangun impian besar. Australia was never in my mind before. Saya lebih memilih untuk tinggal di Perancis dengan segala gemerlap Paris, romantisme berikut sejuta cahayanya. Saya mati-matian kursus bahasa Perancis selama tiga tahun. Saya mengejar beasiswa sebanyak dua kali–yang kemudian ditolak berturut-turut dan membuat saya mendadak ilfil sama Perancis #sakit hati hahaha (nasib  kurang cerdas dan kurang sajen :()

Penolakan tersebut nggak lantas mengubur impian saya untuk merasakan “What is like to live outside Indonesia”. Saya sempat berangan-angan bersama sahabat saya untuk kabur ke Singapura dan diam-diam bekerja disana selama beberapa bulan. Saya juga mencari beberapa kemungkinan pekerjaan kantoran yang akan mengirim saya dinas keluar negeri sesering mungkin. Namun sayang seribu kali sayang, kayaknya Yang di Atas belum mengijinkan. Seolah pintu-pintu itu tertutup rapat. Saya malah hengkang dari Jakarta, kembali ke kampung untuk mengemban tugas keluarga dan mengurus usaha orang tua.

Yet God has another plan! Tahun lalu saya berkesempatan menjelajah beberapa kota di Australia dengan status pemegang visa Turis. Melalui teman saya yang lebih dahulu menjadi pejuang WHV saat itu, saya memperoleh banyak informasi seputar visa ketjeh tersebut, berikut pengalaman manis dan getir selama tinggal di Australia.

Oh my God, saya langsung mupeng! Cita-cita untuk merasakan serunya tinggal di luar negeri itu pun sontak berapi-api kembali.  Saya pun awalnya iseng mendaftar–walau iseng, tetep aja dong tiap hari ngecek jadwal interview sambil berharap nama saya segera muncul, hihi). Persyaratannya pun nggak terlalu ribet buat saya dan so far masih bisa diusahakan untuk dipenuhi. Saya ikuti prosedur yang diminta sampai akhirnya voila, permohonan visa saya dikabulkan. One full year Multiple Entry permit to work and holiday meluncur cantik di paspor saya.

Nahhhh, sekarang udah sampai di Australia, udah terwujud dong impian tinggal di negara orangnya. What next?

Namanye juga manusia yee, kagak ade puasnya! Begitu rencana pertama tinggal dan bekerja di luar negeri, other plans come up in mind.

  1. Hal utama yang membuat saya tertarik untuk tinggal sementara di Australia awalnya adalah mengeksplor negara-negara pulau di Pasifik (Fiji, Vanutu, Tonga, dll dkk). Kan kebetulan tetanggaan tuh Australia sama negara-negara tersebut. Tapi saya baru sadar, betapa ribetnya mengurus visa masing-masing negara–kecuali Fiji yang menerapkan VOA alias Visa on Arrival alias bisa bikin visa langsung di tempat dengan hanya membayar fee sejumlah tertentu. Belum lagi transportasi antar negara yang biayanya juauuuh lebih mahal ketimbang pindah-pindah negara di Eropa. Masa iya udah sampai di jantung Pasifik cuma mengunjungi satu negara. Duhh, this project terancam batal 😦
  2. Kepengin menulis buku ketiga tentang Australia (Berhubung saya kebetulan menulis serial perjalanan “I’m Not a Backpacker”, saya berniat mempersembahkan sebuah buku untuk pengalaman setahun di rantau orang ini). Tapi entahlah apakah bakalan terwujud nggak. Australia is a huge island. It’s a continent! Banyak hal menarik yang bisa dieksplor dan sayangnya destinasinya jauh-jauh dan minim transportasi murah.
  3. Selama tinggal di Australia, seperti para WHV-ers pada umumnya, saya bekerja gono-gini untuk mengumpulkan peser demi peser dolar. Nah begitu masa tinggal di Australia berakhir, rencananya saya kepingin ngetrip ke Amerika Selatan (Ini adalah my other biggest passion. Sudah lama banget saya  berangan-angan untuk mengunjungi negara latino-latina yang super seksi ketjeh ini.)

IMG_0023Parap Market di Darwin

So, kurang lebih demikianlah dirty little thing yang membuat saya pada akhirnya nyangsang terdampar di daratan kangguru sampai tahun depan. Intinya adalah, YOLO, You Only Live Once, dan WHV cuma bakalan hadir sekali seumur hidup elo–kecuali ada negara lain di masa mendatang yang juga membuka kesempatan WHV yah, hihi. Saya nggak mau ketika tua nanti impian “kampung” saya untuk tinggal di luar negeri nggak sempat terwujud dan membuat saya menyesal seumur hidup. Mumpung ada kesempatan, why not giving a try?

Ps. Baca juga yuk tulisan ketjeh teman-teman pejuang WHV lainnya disini:

  1. Irham Faridh Trisnadi, 5 Alasan Kenapa WHV di Australia
  2. Efi Yanuar, Merantau ke Australia
  3. Halil Abu Dzar Nahdi, Kenapa ke Australia, Lal?
  4. Rijal Fahmi Muhammad, Kenapa Saya Memilih Work and Holiday ke Australia
  5. Meidiana Kusuma Wardhani, Kenapa Pilih Tinggal 1 Tahun di Australia

28 Comments

  1. Semoga kerasan ya disana. Kali- kali aja bisa dapet kerja yg ok trus bisa menetap disana. Aku mau jg ke negara Amerika selatan. Dulu pernah ke Brazil seminggu tp ada kerjaan dan jalan sama bos pula. Mana bebas??!! 😂 aku mau ke costa rica atau argentina kayaknya keren.

    Like

  2. Semangaaaat!

    duhhh aku ngiri lhooo sama blogger2 yang berani WHV-an ke sana….aku kebanyakan mikir sihh, pas giliran udah mantep ehhh umurnya lewat dikit hahaha *robek2 KTP*

    Like

    • Hihi gpp, visa turis menantimu kaka 😀 tapi ya nggak bisa kerja sih… tapi nggak usah kerja deh disini, bengek bisa-bisa. KErja rodi binggo hihi 😦

      Like

  3. Pengen nyoba, kendala di bahasa. Plus, mesti tes IELTS. Nabung buat persiapan dlu deh, moga2 kesampean sblm 30.

    Like

  4. aulia says

    Hai, terima kasih atas tulisannya, sungguh inspiratif 🙂 anyway, saya mau nanya dong, syarat buat WHV itu apa saja ya? dan bila kita belum punya pekerjaan disana, gimana cara nyari kerjaan disana? (maaf kalo pertanyaannya agak bodoh)
    terima kasih, semoga sudi menjawab.

    Like

  5. lina burhan says

    katanya sekarang, WHV bisa diperpanjang 1 tahun lagi ya???
    mohon pencerahannya

    Like

  6. Susi_shia says

    Hallo,sy mo tanya,utk apply WHV kita perlu bli asuransi dan punya ticket pp.? Thx

    Like

    • halo mba, duh maap bgt baru ngecek blog karena ngetrip luamaaa kemarin. untuk WHV nggak perlu asuransi dan tiket PP kok, bahkan tiket pun sebenernya belom perlu punya, visanya dulu keluar baru beli tiket 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s