Australia, Been There, recent post, WHV Australia
Comments 37

Kerja di Australia Itu… (Balada WHV di Australia part 2)

Merantau ke negara orang, terutama ke salah satu negara “muwaahall” di dunia itu tantangannya berasa dikuadrat berkali lipat! Terutama jika kamu bukan peraih beasiswa atau sedang tugas dinas yang disponsori orang lain. Nggak ada jatah bulanan yang mengalir cantik ke rekening pribadi untuk memenuhi kebutuhan harian. Kalau nggak kerja, ya nggak bisa makan atau bayar sewa tempat tinggal. Segala sesuatunya harus kamu afford sendiri.

Hari-hari awal di Sydney saya lalui dengan lumayan “nyesek di hati, nyesek di kantong”. Saat itu saya baru aja menuntaskan trip Spanyol-Roma-Maroko saya, sebelum kemudian langsung bertolak ke Australia untuk program WHV. Dengan nekad, saya berangkat ke Sydney, hanya berbekal uang 200 AUD.

Lo bukan lagi nekad, tapi lo udah gila cuyy!!

Bayangin aja, biaya sewa kamar paling murah di pusat kota itu berkisar antara AUD 120 seminggu (sekamar sharing dengan empat sampai enam orang loh! bukan private room of your own and just your self). Iya cuyy, cuma seminggu! Which is berarti sebulan kamu harus menyiapkan uang sebesar hampir lima juta rupiah hanya untuk tempat tidur kamu tiap malam. Belum  lagi untuk kebutuhan perut, sekali makan di luar bisa menghabiskan 8-12 AUD. Say bye-bye ke nasi warteg 15.000,- perak atau Mie ayam gerobakan 10.000-an.

Dan gue cuma bawa 200 dolar doang?? Ok, gue harus segera dapet kerjaan buat survive.

Cari kerja di Sydney ternyata gampang-gampang susah. Dibilang gampang ya karena kerjaan bertaburan dimana-mana. Juga saya anggap susah karena nggak semuanya menawarkan gaji sesuai dengan yang diharapkan. Tapi berhubung kondisi keuangan yang sangat menipis kala itu, mau nggak mau saya harus terima kerjaan dengan upah seberapapun demi menyambung hidup di bulan pertama.Guess what, gaji pertama yang ditawarkan pada saya adalah 13 AUD perjam, bayaran yang sangat minim untuk kota Sydney. Untungnya pak bos memberikan jam kerja 10 jam sehari (diselingin satu setengah jam break), jadi ya lumayan banget bagi saya–lumayan gajinya tapi lumayan capek mampus juga kerjanya.

Ya, dibanding Indonesia, ritme kerja disini sintingnya kelewatan! Ibaratnya, kerjaan dua-tiga orang dikerjakan sendirian. Saat itu saya melamar menjadi seorang kitchen hand alias babunya mas chef di sebuah Restoran Sushi.  Jobdesk saya hompimpahalaium segambreng, yakni mempersiapkan bahan yang diperlukan oleh mas chef, masak nasi dua gentong, bantuin mas chef masak, nyuci piring panci baskom container dan segenap perabot restoran, naik turun ke ruang storage untuk menyiapkan keperluan satu restoran dan nggak lupa buang sampah satu bin besar.

Rasanya nggak ada sedetikpun saya bisa leha-leha cantik atau minimal berhenti bergerak. Sambil nungguin masakan matang, saya cuci perabotan. Semua perabotan kelar dicuci tapi masakan belum juga matang, saya nyiapin stok dessert. Stok dessert kelar tapi masakan belum juga matang, saya nyiapin bahan-bahan lain. Bahan-bahan lain kelar disiapkan dan masakan matang, ya saya nyuci lagi karena cucian kembali numpuk. Dan seterusnya, dan seterusnya, siklusnya berputar begitu terus sampai 10 jam. Ketjeh ya? Tapi ya gitu deh, demi bisa makan ya mau nggak mau kerjaan seberat apapun kudu dijabani.

Baru dua minggu kerja di restoran tersebut, saya memutuskan untuk berhenti setelah gajian karena sejumlah alasan teknis (seperti gaji yang ternyata menurut beberapa pakar sangat under-paid untuk bobot kerja yang sedemikian sehingga). Saya pun mencari pekerjaan baru yang ternyata nggak kalah menguras tenaga (untungnya gaji yang ditawarkan sangat manusiawi dan masuk kategori “wajar”). Seminggu menganggur, saya kemudian diterima di sebuah airport hotel dekat rumah.

Kerjanya? Ya standar sih, ganti seprei dan sarung bantal, bebersih dan rapi-rapi kamar plus ngosek wc–kurang hina apalagi coba, sarjana lulusan salah satu kampus ketjeh di Indonesia ngosek wc di negara orang T_T). Belum lagi kerjaan ekstra yang frequentif (seminggu tiga kali) saya lakukan seorang diri. Menyusun sprei, handuk, keset dan sarung bantal yang baru dikirim dari laundri dan jumlahnya berkarung-karung (kayaknya sekali nyusun bisa 40an karung).

Ah gampang, ngeluarin seprei dll dari karung ke rak doang kan? Weitsss, gue belom selesai ngomong cuyyy! Judulnya aja kerjaan “ekstra”, berarti ada hal ekstra yang harus saya lakukan. Yapp, saya  harus memindahkan separuh dari 40an karung itu dari gudang lantai bawah ke lantai dua secara manual! Dipanggul pemirsa! Ya, dipanggul naik tangga! 20an karung berat saya bopong bulak balik naik tangga tiga lajur sendirian. Siksa apalagi yang Kau limpahkan pada hamba-Mu ini ya Tuhan T_T

Hari-hari pertama rasanya mau mati, literally mau mati. Saya benar-benar kehabisan energi, padahal kerjaan bebersih dan rapi-rapi kamar baru saja akan dimulai. Untungnya seiring waktu, saya mulai terbiasa mengangkut-angkut seprei-seprei itu tanpa harus terancam opname karena super kelelahan–seperti kata orang-orang, ‘ala bisa karena biasa’. Hal positif yang selalu saya tanamkan saat itu cuma, “Itung-itung ngegym gratis :D”

Ritme dan alur kerja di negara baru ini memang menjadi culture shock buat saya yang terbiasa “kerja nyantai” di Indonesia. Maklum, namanya juga mantan pegawai kantoran, alih-alih angkut barang berat, jemari-jemari cantik saya cuma terbiasa menari-nari di atas keyboard. Kaki yang biasa hanya menggelayut manja saat duduk di atas kursi seharian pun dipaksa berdiri dan terus bergerak kesana-kemari. Yang biasanya setiap kali kerja di kantor saya bisa ngopi-ngopi jelita sambil bergosip ria dengan teman-teman atau kulik-kulik ponsel sambil chatting, disini mah boro-boro deh. Keliatan lagi bengong sebentar aja langsung dipelototin sama bos.

Pernah ada kejadian kocak. Suatu kali ada moment dimana kafe tempat saya bekerja (Pindah kerja lagi cuy, hihi) benar-benar super sepi, nggak ada satupun pengunjung yang datang. Semua kerjaan saya kebetulan sudah tuntas dan saya bingung mau ngapain lagi. Karena nggak enak diliatin bos, saya langsung mengambil handuk kecil untuk melap meja-meja yang beberapa menit lalu udah dilap oleh teman saya yang ternyata sebenarnya juga sudah dilap oleh teman lainnya setengah jam sebelumnya. Yapp, saking nggak ada kerjaan dan pengen “keliatan” lagi kerja, meja yang udah dilap berkali-kali pun saya lap lagi, hihi. Piring dan gelas yang bersih pun nggak luput dari sasaran “pura-pura kerja” saya. Saya cuci lagi mereka sambil sesekali melirik bos yang tampak puas saat mengetahui saya sedang “sibuk” hihi.

***

Simak juga cerita-cerita ketjeh sesama pejuang WHV dengan topik “Culture Shock” nya masing-masing di mari:

Efi Yanuar dengan Menjadi Ratu di Negeri Orang

Hilal Abu Dzar Nahdi dengan Iiiiiih Tempat Pipisnya kok Gitu sih; Gegar Budaya (Culture Shock) di Australia

Meidiana Kusuma Wardhani dengan 10 Hal yang Kamu Perlu Tahu tentang Sydney-Australia

 

 

 

37 Comments

  1. Dinda says

    Aduhhg, ngakakk aku baca blog mu :’D superrr sekalii, bahasanya ringan, gampang dipahami tp menghibur jg 😉 keep writing yaa, doakan segera menyusul kesana 😉

    Like

    • amiiin, semoga cepet nyusul dan bisa ngerasain pedih getirnya juga di mari 😀 such an incredible experience yg harus dicoba sekali seumur idup pokoke hehe

      Like

    • hehe namanya juga mencoba beradaptasi dengan hal-hal baru di negeri orang, lumayan kaget sih. Tapi lama-lama terbiasa kok. thanks juga udah mampir ya 😀

      Like

  2. Berat juga ya kerja di negeri orang. Tapi gapapa, bang, banyak kok orang sukses yang awalnya tertatih-tatih dahulu sebelum dia jadi orang yang memiliki banyak uang. Ya anggap aja ini sebuah ujian bang 😀

    Like

  3. waduh, kepengennya pas ke Ostrali itu bisa kerja duduk tsantik juga.
    Semangat terus, bang! Seru banget ceritanya 😀

    Like

      • Really?! tapi gk apa-apa lah… nyari kerja gimana aja, asal dapet uang buat bertahan hidup! BTW, ini blog selera saya banget (kayak makanan aja!! 😀 hehe ). Udah explorasi berapa wilayah kang?! Luarr biasa, itu impian saya banget loh! 🙂 Saluttt! Do’ain saja supaya lebih bisa bereksplorasi ke seluruh penjuru dunia. Aminn…

        Like

      • hihi makasi banget loh udah mampir ke blog newbie ini 😀 Untuk eksplor sih masih baru-baru aja kok, belom banyak kemana-mana. Moga-moga tiap tahun bisa nambah destinasi. Sama-sama saling ngedoain aja biar rejeki travelingnya mengalir lancar amiiin

        Like

  4. wah menarik banget nih blognya! kebetulan visaku udah granted, sekarang lg cari2 kerjaan. rata2 kok mintanya experienced ya. piye iki 😦

    Like

    • hi mba lia. Nggak semuanya minta yg experienced kok. Kayak saya waktu apply housekeeping saya zero exp hehe. dan tetep aja diterima. toh nantinya bakal dikasih training bberapa jam gitu. 😀 btw dah rencana mau ke kota mana mba

      Like

  5. Keren ceritanya, kaya nano-nano lengkap seneng, sedih n kocaknya :)) *twothumbsup
    Mau tanya kalo disana kerja casual gajiannya per minggu ya?
    Terus gapake kontrak2 kah, Jadi anytime abis gajian bisa resign?
    Thanks for sharing ^^

    Like

    • mungkin ada beberapa kerjaan yang pake sistem kontrak karena ga mau ribet nyari org pganti dlm waktu dekat. tp kebanyakan yang saya apply sih so far ga ada kontrak-kontrakan, paling 2weeks notice aja kalo mau berhenti biasanya hihi.

      Gaji sih biasanya tergantung state sama jenis pekerjaannya. Biasa sih normalnya start dari 15/16 dolar perjam untuk di Sydney/ Melbourne. Kalo di Northern Territory bisa sampai 17-21 dolar katanya, hehe

      Semoga bermanfaat yah

      Like

      • Sippp, bermanfaat bang infonya ^^
        Oh iya kalo gajinya tuh dibayarkannya per minggu langsung ke rekening bank kita kah? Terus untuk pajaknya apakah udah langsung dipotong sama si boss?
        Thanks again

        Like

      • Untuk gaji bisa dua-duanya, tergantung bos biasanya. Ada yang langsung dikasih cash in hand, ada yang dikiim ke bank 😀 tergantung negosiasinya sih gmn. Dan untuk pajak biasanya memang langsung dipotong sama bosnya hehe.

        Semoga bermanfaat yah

        Like

  6. Sriwidya says

    Huahahahajaj…lucu amat ya bercerita. Sp nangis bacanya saking lucu…kaya baca novel lupus waktu sekolah dulu..hahahah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s