Australia, Been There, recent post, WHV Australia
Comments 15

Tinggal di Australia, Yay or Nay?–(Balada WHV part 4)

Perkenalkan, saya adalah seorang anak kampung yang tinggal di sebuah kota kecil yang sampai sekarang nggak terjamah oleh sebuah peradaban bernama MALL. Ya, Saya lahir dan dibesarkan di kota yang begitu bersahaja sehingga nampaknya enggan berdandan kelewat wahh dan memiliki prinsip saklek “cintai aku apa adanya”. Oleh karena itu, karena terkungkung sekian tahun dalam ruang lingkup seadanya membuat saya menciptakan mimpi-mimpi yang demikian besar.

Salah satunya adalah minggat dari kota ini dan start earning my future somewhere out there, beneath the pale moonlight. Ya, saking jenuhnya belasan tahun “terpenjara” dalam rutinitas di area yang sama, rasanya saya pengen banget bisa kabur ke kota lain dan memulai hidup baru yang penuh dengan warna-warni kejutan yang bakalan nggak dinyana nggak diduga.

Tuhan mengabulkan doa saya. Saya nggak cuma diijinkan untuk mencicipi pahit-getirnya berjuang di ibukota negara tercinta Jakarta. Tuhan memberikan bonus super istimewa, saya memperoleh kesempatan untuk hijrah ke sebuah negara megapolitan yang wakwaw gemerlapnya. Ya, saya pindah dan bekerja di Sydney, Australia.

Meski nggak terlalu sulit beradaptasi dengan fenomena gegar budaya yang biasanya orang alami, awal mula mengadu nasib di benua terkecil namun juga merupakan salah satu negara terbesar di dunia ini turut memberikan tantangan luar biasa. Siapa sih yang nggak tahu betapa mahalnya biaya hidup di Australia? Siapa juga yang nggak tahu betapa serba teraturnya negara kangguru ini?

Saya teringat sebuah kutipan yang diposting oleh sebuah Fanpage Australia berbunyi “Kalau mau bertahan hidup di Australia, kamu harus bekerja keras!” Well, saya dan siapapun yang pernah merasakan betapa kerasnya survive di negara ini pasti menyetujui kutipan tersebut. Darimana coba uang untuk membayar biaya rental tempat tinggal, stok makanan mingguan, transportasi kesana-kemari, hingga pengeluaran tersier semacam ngopi-ngopi jelita atau belanja-belanja iseng kalau bukan dari penghasilan kerja?

Seperti yang saya posting sebelumnya di tautan Kerja di Australia itu…ritme kerja di Australia itu OMG my darling I hate you. You hate it yet you have to love it, or at least you have to do it. Mengutip istilah Britney, “You gotta work b*tch!” Kerja atau bye-bye, terbang balik ke negeri tercinta nusantara, pulang kampung.

Dan jujur, saya bukanlah tipe orang yang rajin bekerja keras. Saya cenderung sangat moody dan pemalas :p Setiap hari sebelum memulai kerja, tanpa saya sadari saya selalu melihat jam dinding dan menghitung berapa jam lagi saya akan pulang, hihi. Dan setiap mau tidur, saya selalu bergumam sebal, “Sialan, besok kerja lagi -_-“. Oleh karena itu, saya jadi sulit bekerja sepenuh hati, meski hati selalu terasa penuh begitu tiba gajian yang dinanti :p.

Lalu apakah lantas saya nggak betah tinggal di Australia? Yaaaa… faktor di atas sedikit mempengaruhi preferensi saya untuk menjawab yes, sih, hihi. Namun ada faktor-faktor esensial lainnya yang lebih membuat saya pro terhadap “live for good in my own country ketimbang menetap di negara yang satu ini”.

Susah nyari tukang gerobakan.

Duh saya teh orangnya demen banget ngemil. Makanya begitu mengetahui di Australia nggak ada gerobakan sate, mie ayam, siomai maupun gorengan, saya suka sedih. Saya selalu kangen teriak-teriak di pinggir jalan supaya abang baksonya mendorong mundur gerobaknya ke arah saya. Saya juga kangen banget melipir cantik ke gerobakan tukang tahu isi tatkala hujan melanda. Di Aussy nggak bisa euyy! Springrolls lagi, springrolls lagi, sushi lagi sushi lagi, pizza lagi pizza lagi. Duh lidah ndeso saya nggak bisa terakomodir dengan paripurna 😦

I hate keteraturan

Saya teringat ketika sedang di suatu negara bersama teman saya, saya mengumpat kesal sejadinya. Seharusnya kami tinggal nyebrang untuk mencapai bangunan yang kami tuju. Namun karena jalan rayanya terhalang semacam pembatas dan memang nggak diperkenankan untuk menyebrang sembarangan, jadilah kami berjalan sejauh lebih dari setengah kilometer hanya untuk mencapai zebra cross -_-. Mengetahui bahwa Australiapun merupakan negara yang kaya akan aturan, saya langsung ilfil. Ih, sejelek-jeleknya negara saya, saya bisa nyebrang kapan aja dan dimana aja saya mau, hihi

Saya orangnya nggak betahan

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, saya orangnya sangat moody dan impulsif. Saya bisa berubah pikiran hanya dalam waktu sepersekian menit. Saya bisa tiba-tiba memutuskan sesuatu hal sekehendak hati saya dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya. Dengan demikian, saya bisa mendadak boring sama kerjaan, atau mendadak boring dengan suasana yang ditawarkan, atau mendadak boring dengan ritme keteraturan,

Gampang Homesick 🙂

I love my family so much that I cant leave them way way too long. Saya mah orangnya homsik-an. Baru dua minggu pindah ke Aussy aja saya udah kangen rumah. Yap, meski saya rajin ngebolang kesana sini, saya juga masih sering dihantam homsik yang terkadang membuat saya mellow ataupun kehilangan mood buat eksplor kesana-kemari. Oleh karena itu, kayaknya saya nggak cocok ninggalin rumah terlalu lama, hihi.

Jadi intinya, Yay or Nay untuk stay di Australia semisal program WHV saya selesai, hal ini benar-benar pilihan yang subyektif buat saya. It’s not about the country, siapa sih yang nggak mau kerja di negara dimana kamu digaji belasan sampai puluhan dolar perjamnya? Siapa juga yang nggak mau kerja di negara yang infrastruktur dan transportasinya begitu modern sehingga menunjang kinerja kerja? Dan siapa sih yang nggak tergoda untuk nggak riyak di sosial media, memposting segala sesuatunya dari negara tetangga, hihi.

Call me kampungan dan nggak punya potensi untuk memajukan diri. But hey, I have my own way to live my life to the foolest 😀 Nggak ada yang bisa menyetarakan alasan kebahagian tiap-tiap orang, kan? Intinya, Australia is a great place buat kamu-kamu yang pengen mencoba sesuatu yang baru dan memajukan wawasan kamu. Australia bisa menempa nggak cuma keahlian, tapi juga kepribadian kamu nantinya. Saya pribadipun mengakui, banyak hal yang saya pelajari dan saya adaptasi selama tinggal disini.

But again, it’s just not so me hihi. Not really place to be for me 😀


Baca juga artikel yang ditulis dengan tema serupa oleh teman-teman WHV-ers lainnya:

Hilal-Sapa Suruh datang Australia

Irham-Thank You Renmark, Goodbye Australia, Bhay!

Efi-Australia, Antara Ya dan Tidak

Meidiana-Tinggal di Australia Setelah WHV, Kenapa Ngga?

15 Comments

  1. Vicky Kurniawan says

    Sebuah pengakuan penuh kejujuran. Tapi menurut aku, itu udah prestasi hebat banget. Perkara kamu sukses atau tidak menjalaninya yah benar seperti pendapatmu. Semuanya tergantung pada kepribadian masing-masing.

    Like

  2. Di australia ga ada tukang ojek! Kerasa banget pas suami opname dan gw harus bolak balik RS, karena gak bisa nyetir jadi haruslah naik train/bis. Bis sih enak haltenya dekat rumah, masalahnya hari minggu bis terbatas terpaksa naik kereta, dan stasiunnya jauh. Jalan kaki gempor benerr…disitulah saya bersyukur hidup di indonesia mau kang gojek atau ojek konvensional ada, kang bajaj juga ada.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s