Chipsy talks, recent post
Comments 8

Ada Drama di Bandara (Shit Happens, Part Two)

Bagi banyak orang, bandara mungkin hanya dijadikan tempat pertemuan dan perpisahan dimana kenangan yang berkutat biasanya nggak jauh-jauh dari lambaian tangan dan punggung yang beranjak pergi atau pelukan yang hangat menyambut dan tawa rindu yang lepas menggelak.  Selain itu banyak orang juga yang merasa nggak ada kisah istimewa yang terjadi di bandara karena bandara hanya pijakan singkat sambil lalu sebelum beranjak ke tujuan berikutnya.

Namun lain halnya dengan saya, bandara justru punya sejuta drama yang senantiasa mengakar di dalam ingatan. Lebih dari sekedar tempat mengucap selamat datang dan sampai ketemu lagi,  bandara merekam beragam kisah dan perasaan. Bandara menjadi setting tempat yang nggak kalah penting dibanding obyek wisata proper lainnya dalam petualangan yang saya lakukan.

Pengin tahu drama-drama apa aja yang sempat menjadi bumbu “pemanis” perjalanan saya?

Salah Bandara

Alkisah, saya adalah seorang traveler slordehh. Begitu cerobohnya saya, saya sering kepedean mempercayakan intuisi saya yang terkadang masih perlu dicek dan ricek keabsahannya. Begitulah, pada suatu ketika di sebuah kota bernama Bangkok, saya memesan shuttle bus bandara melalui travel agent. Karena terbiasa menggunakan maskapai Air Asia yang beroperasi di bandara Don Mueang, tanpa melakukan pengecekan tiket terlebih dahulu, saya langsung memesan shuttle bus ke Don Mueang Airport.

Singkat cerita, esok paginya, saya sudah berada di dalam minibus. Dengan santai saya melirik jarum jam tangan saya dan bergumam pelan “Duh mo ngapain dulu, ya. Masih dua jam lagi sebelum boarding”. Saya pun merencanakan untuk sarapan di salah satu kafe, lalu membeli sejumlah oleh-oleh di mini market sebelahnya, lalu baru cek paspor ke loket imigrasi.

Setibanya di bandara Don Mueang, saya baru merasakan firasat nggak enak. Entah kenapa, saya mendadak ragu. Eh beneran terbang dari Don Mueang apa Swarnabumi ya? Pesawat yang gue pakai Air Asia kan? Eh Air Asia apa bukan ya dulu mesennya? Duh kenapa baru sekarang kepikiran gini sih. Segera saya ambil dari tas, carikan kertas berisi reservasi tiket saya. Saya buka dengan peuh deg-degan, berharap saya memang sudah berada di bandara yang tepat.

Dan benar pemirsa, saya salah bandara!! Pesawat yang akan saya gunakan adalah Jetstars, dan Jetstars berangkat dari bandara Swarnabumi! Tergesa-gesa saya langsung keluar bandara, menyetop taksi sambil mengawasi detik demi detik yang berlalu. Waktu yang saya miliki tinggal satu setengah jam untuk segera tiba di Swarnabumi bro! Untunglah, meski sempat ketar-ketir karena terjebak macet, saya tiba di Swarnabumi dan masih diterima check in. Nggak kebayang apabila saya harus ketinggalan pesawat dan membeli tiket baru, padahal uang yang saya miliki sudah menipis walsekarat.

Saya mungkin “selamat” di Bangkok. Namun pengalaman salah masuk bandarapun terulang kembali beberapa tahun kemudian, meski kali ini bukan murni kesalahan saya. Jadi suatu sore di Rabat, Maroko, saya berencana ke bandara untuk melanjutkan perjalanan saya ke kota Roma, Italia. Berbekal info dari masyarakat setempat, sayapun terdampar di stasiun kereta menuju bandara. Pantang melakukan kesalahan yang sama seperti yang pernah saya lakukan dulu, sayapun mengecek segala sesuatu, mulai dari tiket kereta, sampai berkali-kali memastikan ke petugas kalau saya sedang menunggu kereta yang tepat di peron yang tepat.

Keretapun tiba. Dengan penuh keyakinan, sayapun menuju gerbong dan tempat duduk sesuai yang tertera pada tiket. Seketika kereta berangkat, dan dengan penuh rasa syukur saya ucapkan terima kasih pada Maroko yang telah memberikan pengalaman perjalanan yang luar biasa. Perjalanan kereta memakan waktu sekitar satu jam, namun yang ada dalam benak saya saat itu hanyalah, “Bandaranya jauh banget ya? Naik kereta aja satu jam. Gimana naik bus?”

Singkat cerita lagi, saya sampai di bandara. Saya keluarkan kertas bookingan penerbangan saya dan menuju layar pemberitahuan penerbangan untuk mencari tahu pesawat yang saya tumpangi ada di terminal berapa. Saya cek dengan teliti satu persatu daftar penerbangannya di salah satu terminal dan saya nggak menemukan jadwal keberangkatan saya. Masih berusaha stay positive,  saya berjalan menuju layar yang lain lagi di ruangan lain.

Masih nggak ada! Saya bahkan nggak menemukan keberadaan konter maskapai yang akan saya gunakan. Nah loh kok bisa, sih? Kian gusar, saya segera menuju meja informasi dan bertanya pada petugas disana. Dengan seksama mereka mengecek kertas reservasi saya sebelum kemudian salah satunya mengernyit dan melempar tatapan heran.

“Loh, bapak ngapain kemari? ujarnya.

“Loh, kok nanyanya gitu?” Saya ikutan bingung.

“Penerbangan bapak kan dari Rabat, ngapain kemari?”

“Loh, ini dimana emangnya?”

“Ini Casablanca, Pak?”

JDENGGGGG! Otak saya ngeblank. Saya berusaha mencerna ucapan simbak. Casablanca? kenapa saya bisa sampai di Casablanca? Saya tadi kan beli tiket keretanya dari kota Rabat, kenapa saya malah dikasih tiket menuju bandara Casablanca? Ibaratnya elo beli tiket bus damri dari stasiun Gambir dengan tujuan Bandara ya logikanya elo bakal naik bus either ke Bandara Soekarno-Hatta atau ke Halim Perdanakusuma, bukannya tiba-tiba naik bus ke Hussein Sastranegara yang jelas-jelas ada di kota yang berbeda.

Saya tahu, mengomel habis-habisan ke si mbak nggak akan berguna karena ini bukan kesalahan mereka. Oleh karena itu saya coba menenangkan diri dan menanyakan apa alternatif tercepat untuk tiba di Rabat dan mengejar penerbangan saya. Si mbak hanya bisa memasang muka menyesal. Katanya, perjalanan dari Casablanca ke Rabat memakan waktu paling cepat satu jam dengan menggunakan taksi. Saya hanya punya waktu satu jam sebelum boarding, yang berarti mustahil bagi saya untuk mengejar penerbangan karena saya belum check in sama sekali.

Solusi satu-satunya hanyalah beli tiket baru!

Kaki saya melemas, perlahan saya tinggalkan meja informasi, duduk dengan wajah kusut masai penuh depresi membayangkan berapa harga tiket yang harus saya bayar untuk penerbangan berikutnya. Bayangin betapa nyeseknya, elo punya waktu satu jam sebelum terbang, tapi elo bahkan nggak bisa terbang karena elo berada di bandara yang salah berkilo-kilo meter jauhnya.

Tiket termurah untuk angkat kaki dari daratan Afrika Utara ini baru ada dua hari ke depan. Sedangkan tiket-tiket lainnya bertahan di atas angka dua jutaan. Saya nggak punya pilihan selain eksten tinggal di Maroko. Dengan segenap rasa kesal tercurah, sayapun kembali ke kota Rabat, mencari losmen yang paling murah dan menghabiskan extra time yang harus saya terima.

Ps. Sampai saat ini saya masih bingung kenapa petugas kereta tersebut meng-issued tiket kereta dengan tujuan bandara Casablanca.

Salah Jadwal Terbang

Pagi itu, bandara domestik Tulamarine Melbourne sarat akan hiruk-pikuk manusia. Nggak cuma para penumpang dan pengantar, petugas darat bandara dan awak pesawatpun hilir mudik memadati ruangan. Itu seharusnya menjadi pagi terakhir saya di Melbourne sebelum bertolak ke Tasmania, pulau terbesar kedua di Australia. Ya, “seharusnya!”, sebelum akhirnya kecerobohan saya kembali berbuat ulah.

Karena kepagian, saya harus menunggu sekitar empat jam sebelum jadwal keberangkatan. Dengan tenang, saya duduk di lantai sambil mengisi daya baterai ponsel dan mengecek sosial media untuk membunuh waktu. Menunggu sambil menahan kantuk selama empat jam menjadi waktu lumayan lama, terlebih lagi setelah malam sebelumnya saya nggak beristirahat dengan nyenyak karena takut telat ke bandara dan ketinggalan pesawat.

Perlahan tapi pasti, akhirnya waktu menunjukkan tinggal dua jam lagi sebelum boarding. Saya bangkit berdiri setelah mencabut charger ponsel dan menuju antrian menuju loket maskapai yang saya akan tumpangi. Santai, saya ambil kertas reservasi dan saya siapkan paspor saya untuk pengecekan dokumen.

Antrian demikian panjang, sayapun iseng membaca-baca ulang isi kertas reservasi penerbangan saya. Dan saat itulah tenggorokan saya mendadak tercekat. Keringat dingin mengalir di pelipis seiring dengan gemetar tangan saya saat meraih ponsel untuk memastikan sesuatu. Sejurus kemudian mata saya tertuju pada tanggal hari itu.

Astaga! gue baru berangkat besok! gue salah tanggal!

Andai saya adalah warga Melbourne, saya bisa dengan mudah kembali ke kota dan kembali ke bandara esok harinya. Sayangnya saya adalah turis, dan saat itu uang yang miliki nggak mengakomodir plan B untuk tinggal semalam lagi di Melbourne (Berdasarkan pengalaman saya beberapa hari sebelumnya, sangat sulit untuk go show dan memperoleh kamar dorm termurah. Biasanya mereka hanya akan menawarkan kamar-kamar privat yang harganya suangatt muwahalll–kamar dorm aja seorang 30 Dolar bung, apa kabar kamar privat?). Belum lagi perjalanan Bandara-pusat kota memakan waktu sekitar satu jam lebih, dengan tiket bus yang nggak kalah bikin gondok (18 dolar sekali jalan Bro!).

Dengan berat hati saya akhirnya putuskan untuk stay di bandara sampai esok hari. Saya habiskan 24 jam yang saya miliki dengan berbagai kegiatan nggak jelas, mulai dari tidur, online, tidur, keliling-keliling cuci mata, tidur, keliling lagi, makan, online, tidur dan seterusnya. Beberapa teman menyarankan agar saya kembali ke kota aja dan menginap di tempat mereka. Tapi membayangkan saya harus balik lagi ke pusat kota dan bangun pagi lagi besok untuk berangkat ke bandara, saya langsung mual. Ok, mendingan di bandara aja sampai besok…

Diusir Tengah Malam Buta

Bandara adalah my other home sweet home. Dalam setiap perjalanan saya, hampir bisa dipastikan nggak pernah ada satu kalipun saya nggak menyempatkan diri untuk menginap disana–entah di bandara dalam negeri ataupun di bandara negara lain. Selalu ada satu malam saya luangkan untuk menghabiskan malam panjang terlelap setengah hati di atas deret bangku panjang ruang tunggu kedatangan, ataupun di atas lantai di pojok lorong tertentu. Biasanya hal ini saya lakukan setiap kali saya memiliki jadwal penerbangan pagi. Selain untuk menghemat pengeluaran penginapan ataupun taksi, tentunya saya bakalan terhindar dari keterlambatan sampai di bandara atau bahkan ketinggalan pesawat.

Demikianlah, di bandara salah satu pulau paling ngeheits di dunia bernama Ibiza, saya tiba sekitar jam delapan malam. Saya bermaksud untuk menginap disana karena saya harus terbang ke Madrid keesokan harinya jam tujuh pagi. Saat itu bandara masih riuh oleh manusia-manusia yang akan berangkat dan yang baru saja tiba. Sejenak, saya berkeliling cuci mata melihat-lihat beberapa toko yang menjual souvenir khas Ibiza. Saya beli beberapa helai kaus dan magnet kulkas yang sedang diobral di salah satu toko.

Usai berbelanja, saya berburu tempat tidur yang aman dan nyaman, bebas dari keramaian. Saya memutuskan menjadikan deretan bangku panjang di salah satu ruang tunggu kedatangan sebagai “kamar mungil” saya malam itu. Saya atur ransel menjadi bantal kepala dan syal sebagai selimut. Mata terpejam dan dalam hitungan menit sayapun terlelap.

Lagi enak-enaknya tidur, saya merasa ada orang yang mengguncang-guncang tubuh saya. Dengan masih mengantuk, saya memaksakan diri membuka mata. Ada apa sih?!

“Que tal–Ada apa ini?” Seorang satpam berkumis dan berbadan tegap melotot di hadapan saya.

Dengan sempoyongan, saya mengambil paspor dan boarding pass dari tas, sambil berusaha menjelaskan dalam bahasa Inggris. “Saya ada jadwal penerbangan besok pagi. Saya mau menginap semalam saja disini.”

Satpam itu memperhatikan tiket yang saya sodorkan. Masih dengan ekspresi galak, dia meninggikan suara. “Kamu nggak bisa menginap disini. Bandara sudah tutup. Kamu datang lagi saja besok pagi!”

Maksud loe???

“Saya harus tidur dimana? Kota kan, jauh banget dari sini. Jam segini sudah nggak ada bus,” sahut saya dengan suara nggak kalah kencang.

“Kamu bisa pergi ke kedai kopi di luar sana. Tunggu disana sampai pagi!”

Saya mengernyit kesal. Mendengar kata kafe, saya membayangkan akan tidur dalam posisi duduk, berbantal tangan yang dilipat di meja. Saya lagi pengin rebahan. Tidur dalam posisi wajar, bukan sambil duduk!

“Nggak bisa tidur sebentar disini? Sudah jam setengah satu dini hari juga. Sebentar lagi kan pagi, Pak?” bujuk saya.

Si bapak menggeleng datar. “Tidak bisa!”

Dengan perasaan kesal dan mengantuk, saya kemasi barang-barang dan mengikuti satpan itu keluar. Saya menunjuk halte bus yang masih terletak di area bandara sambil memohon untuk terakhir kalinya.”Bagaimana kalau disana?”

“Tidak boleh tidur di area bandara!” Si bapak nggak kalah kekeuh.

Bak tereliminasi dari kontes nyanyi di TV, saya melangkah gontai meninggalkan pelataran bandara. Dengan terkantuk-kantuk, saya seret kaki ini sambil menggerutu sebal. Satpam sialan! Niat hati pengin berhemat biaya penginapan, malah apes diusir keluar tengah malam buta. Saya terus berjalan sambil celingak-celinguk mencari spot yang memungkinkan untuk tidur. Tapi setelah berjalan jauh lebih dari satu kilometer, saya makin jarang menemukan bangunan. Semua hanyalah lahan gelap dan sunyi. Kota terasa begitu jauh, cahaya lampu keramaian juga sama sekali tidak terlihat. Benar-benar seperti terdampar di antah-berantah.

“Ibiza! elo jahat banget sih sama gue!” umpat saya untuk kesekian kalinya… (tobe continued)

Mau tahu kelanjutan kisahnya? Yuk temukan di buku HOLA SPANYOL yang sudah beredar di toko-toko buku terdekat di kotamu  #ujung-ujungnya jualan, hihi :p

Holla Sepanyol_C_R (1)

8 Comments

  1. Ini jelek, tapi kok ya aku ngarep pandah nemu kejadian “seru” lagi di bandara biar bisa aku baca ya hahaha.

    Tapi ya gak parah2 banget. Mungkin ketemu artis siapaaa gitu di bandara. Trus diajakin ngupi2 ganteng. Ye kan ye kan?

    Like

    • haha bad news is good news for reader ya omnduut. Tapi amit-amit deh jangan sampe ada drama yg lebih parah dr itu -_-

      btw aku pernah dua kali ketemu artis haha. kayaknya sih artis. pertama di Hanoi, kyknya entah aktor apa penyanyi apa gmn gt. Heboh banget sampe dikawal bbrp orang dan fansnya rame banget teriak-teriak heboh nyambut dari arrival gate smpe pintu keluar. Pas di Arrival gate Soetta juga pernah ada band bule gt brondi2, aku nggak kenal siapa, cardboardnya cuma nulis2 nama personilnya gitu. Tapi yaaa berhubung aku nggak kenal ya tak melengos aja nggak ikutan heboh hahaha

      Like

  2. yawlaaaa yang ke Casablanca itu parah sihhh…kebayang kalo sampe kejadian kayak gituuu, pening kayaknya aku kak…mana cuti dikit kaaan *lahh curhat*

    Like

  3. Hahahaha aku cuma sekali ngerasain dramah di bandara.. Pas di Clark phillipines, kita udah siap mau balik JAkarta, pagi2 buta, tp cm nemuin counter airasia yang sepi. Untung ada staffnya. Dan dia bilang penerbangan hr itu ditunda jd selasa. Kamprett.. Ga ada notifikasi apapun di hp ato emailku. Seenaknya aja. Aku g mungkin nunggu selasa, krn senin ada meeting di kantor. Terpaksalah kita hrs beli penerbangan manila jakarta hr itu juga yg harganya bikin nangis :D. Dan sialnya tiket garuda KL – jakarta yg udah telanjur aku beli tp ga bisa dipake, ga mau mereka ganti krn bukan under maskapai yg sama. Pelajaran banget deh itu..

    Tp begini doang mah ga bikin kapok traveling kan yaa :D.

    Like

    • Wah itu sih bs claim asuransi tuh. Seenaknya mendadak ngebatalin pnerbangan buset dah. Lgsg dituntut aja bkin surat keluhan pembaca gt. Biasanya sih berhak dpt kompensasi gt.

      Dan pkara apes bkali2 mah kyknya kita ga akan bs kapok ya hihi

      Like

  4. udah saya baca bukunya 😉

    saya sekali salah kereta, cuma kereta lokal sih, ufdah gak punya uang jadinya ngemis sama ibuk2 di stasiun, hiks.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s