recent post, Side Dish
Comment 1

My Bitter Sweet Couchsurfing Experience!

Kalian familiar dong sama yang namanya Couchsurfing, situs jejaring sosial yang memperkenalkan konsep hospitality exchange di dunia traveling itu. Ya, sederhananya para anggota diharapkan saling memberikan tumpangan tempat tinggal kepada anggota dari kota/ negara asing yang kebetulan sedang berkunjung ke kota tempat tinggalnya. Alih-alih membayar sejumlah uang sebagai wujud terima kasih atas tumpangan yang diberikan, kepercayaan dijadikan modal utama para anggota untuk membuka rumahnya lebar-lebar bagi satu sama lain.

Couchsurfing (CS) tidak hanya membantu menekan pengeluaran akomodasi saat traveling. Sebagai ajang silaturahmi, dengan menginap di rumah warga lokal yang tahu betul dengan situasi dan kondisi kota yang ia tinggali, tentunya para anggota bisa saling memperkenalkan budaya masing-masing. Tuan rumah alias host bisa memberitahukan apa saja yang harus dan tak boleh dilakukan oleh para surfer (sipenginap), apa yang wajib dicoba, tempat apa saja yang direkomendasikan untuk dikunjungi dan berbagai ‘local stuffs’ yang pantang terlewatkan.

capture-20180925-173509

Contoh referensi yang saya peroleh dari host yang saya tebengi

Sudah sekian kali saya menggunakan jasa CS ketika berpergian ke suatu negara. Berbagai karakter telah saya temui, dan beragam tempat tinggal sudah saya icipi. Sejumlah pengalaman yang mewajibkan saya untuk keluar dari zona nyaman juga untungnya nggak pernah memberikan saya rasa jera. I mean, siapa sih yang nggak mau ngetrip ke suatu tempat dan bersinggungan langsung dengan kearifan lokal? Mau nggak nyamannya kayak apa tempat yang saya inapi, selalu ada hal menarik yang sayang banget untuk dilupakan.

Yuk intip tiga pengalaman receh paling mengesankan yang saya alami bersama host-host CS tercinta di seluruh pelosok dunia:

Tasmania

David and Anne adalah host ketiga saya dalam sejarah per-CS-an. Sepasang kakek nenek bersahaja ini tinggal nggak jauh dari pusat kota Hobart, tepatnya di tepi sungai Derwent. Menghadap langsung ke gunung Wellington, rumah cozy tersebut mereka tinggali bersama dengan Golden Retriever tuanya yang bernama Samsung.

Saya nggak pernah berharap banyak ketika tiba di rumah mereka. Dalam benak saya, saya bakalan tidur di sofa ruang tamu seperti yang biasanya saya lakukan di rumah host-host sebelumnya. Saya bakalan belanja di grocery dan memasak keperluan pangan saya sehari-hari di dapur mereka. Dan saya bakalan nelangsa sendirian karena para host sibuk dengan rutinitas hariannya.

Ternyata saya salah besar pemirsa. Begitu tiba di rumah, Anne memeluk saya hangat sembari mengajak saya masuk ke salah satu kamar anaknya yang begitu nyaman. Saya langsung diajak ke ruang tamu untuk makan malam (berhubung saya tiba sekitar pukul enam sore). Dan makanan yang disajikan doooong, nasi putih dan sate ayam bumbu kacang! Ya, Anne seharian ternyata sibuk memasak nasi dan menyiapkan sate ayam tersebut khusus untuk menyambut saya. Katanya ia sengaja meng-Google salah satu resep Indonesia sebagai wujud apresiasinya terhadap tamu Indonesia pertamanya!

Nggak sampai disitu pemirsa, begitu David pulang dari kantornya, kami bertiga duduk di teras rumah menikmati tenangnya malam sambil mencicipi puding mangga yang Anne juga siapkan. Ditemani dengan secangkir teh herbal yang mengepul, kami mengobrol panjang lebar mengenai apa saja rencana saya selama di Tasmania hingga apa yang saya lakukan di Indonesia. Ya ampun, mimpi apa sih gueeee, ketemu host yang baik banget kayak mereka!

Iquitos, Peru

Perkenalkan Lali dan Jaker, sepasang suami istri yang tinggal di kota Iquitos, gerbang masuk untuk memulai petualangan sungai dan hutan Amazon. Saya beruntung berkesempatan untuk menginap di rumah mereka yang bersahaja, karena saya diijinkan tinggal di bekas kamar anaknya yang kini tinggal di ibukota Lima. Bukan soal kamarnya yang nyaman banget, rapi dan bersih atau keramah-tamahan Lali dan Jaker yang membuat pengalaman numpang kali ini luar biasa.

Begitu mengetahui saya bakalan menghabiskan waktu selama dua bulan di Amerika Latin, dan begitu mengetahui bahasa Spanyol saya masih sebatas apa kabar, terima kasih, berapa dan saya nggak punya uang, Lali dan Jaker—terutama Lali—langsung saja mewajibkan saya untuk berbahasa Spanyol selama lima hari saya tinggal di rumahnya. “No English at all! Try to speak, I will help you”, ujarnya galak.

Benar saja, setiap kali nongkrong bareng di teras rumahnya, Lali kerap menggunakan bahasa Spanyol berbicara dengan saya. Saya yang kewalahan berusaha untuk mencerna satu demi satu kata yang dilontarkannya secara perlahan. Lali juga sering mengajak saya ke pasar untuk menemaninya belanja. And you know what, sayalah yang ia paksa maju menghadapi sang penjual untuk membeli apa saja yang ia butuhkan. Saya harus berinteraksi dengan mbok-mbok penjual sayur, tawar menawar dengannya hingga Lali menganggap latihan saya cukup untuk hari itu.

Alhasil, bahasa Spanyol saya memang berkembang pesat. Lali dan Jaker membuat saya memperkaya kosakata dan membangun kalimat-kalimat sederhana. Sayapun semakin pede menghabiskan sisa waktu ke depan di kota-kota lainnya di Amerika Selatan—ya minimal saya bisa memahami percakapan singkat seperti memesan makanan atau sekadar menanyakan arah dan menyimak penjelasan orang.

Oslo, Norwegia

Pagi itu saya dan dua teman saya baru tiba di depan apartemen host kami di Oslo. Namanya Kerling, seorang pria berdarah latin yang sudah lama tinggal daratan Norwegia. Pagi itu Kerling agak buru-buru dan terpaksa meninggalkan kami karena harus berangkat ke kantor. Sebelum ia berangkat, Ia menunjuk salah satu sudut ruang tamu pada saya dan yang lainnya seraya berkata, nanti malam kalian akan tidur di airbed di sisi yang ini. Sofa sudah di-occupied oleh empat orang asal Perancis yang sudah tiba sedari kemarin, sedangkan lantai sebelah sana bakalan dihuni oleh dua orang asal Jerman. Kalau jadi bakalan ada dua orang tambahan yang tiba larut malam dan mereka akan tidur di dapur.

Wait, wait, wait….

Saya dan dua teman saya saling melirik. Kami memandang berkeliling sembari menahan napas. Ruang tamu yang sempit ini bakalan dihuni oleh berapa orang tadi katanya?

“Ok, sampai sore nanti jika kalian ingin beristirahat, kalian bisa tidur-tiduran di sofa. Geng Perancis bakalan pulang tengah malam. Saya berangkat dulu ya guys. See you…”

Dan Kerling meninggalkan saya dan yang lain dengan muka syok. Membayangkan apa yang bakalan terjadi dengan ruangan mungil ini nanti malam saja membuat saya bergidik. Ya ampun, bagaimana mungkin ruangan ini dihuni lebih dari sepuluh orang!

Tanpa dikomando, saya dan yang lainnya segera menghidupkan ponsel dan membuka hotel search engine dan mencari kemungkinan penginapan murah untuk malam ini, walaupun dalam hati saya sangat pesimis kita bakalan memperolehnya. I mean, Man, Oslo gitu loh! Salah satu top three kota termahal di dunia. Kami mati-matian mencari host CS disini kan karena penginapan disini mahal jadah tarif permalamnya. Dari jauh-jauh hari saja kami kesulitan menemukan harga bersahabat, apalagi yang untuk menginap di hari yang sama?

Benar saja, penginapan termurah tarifnya sudah di atas dua jutaan untuk lebih dari dua orang. Melihat tarif yang tertera di layar ponsel, kami bertiga tertegun. Masalahnya saat itu Oslo adalah perhentian terakhir dari rangkaian trip sebulan kami berkeliling Eropa. Pundi-pundi keuangan kami sudah super menipis dan nampaknya sudah mustahil diperas lagi khusus untuk membayar penginapan di Oslo dua hari itu. Dengan tegar dan pasrah akhirnya kami memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Kerling sambil berharap agar salah tiga atau salah lima dari surfer-surfer lainnya bakalan angkat kaki hari itu dan kami bisa tidur lebih leluasa.

Doa jelek memang nggak sudi Tuhan jabah, satu-persatu semua surfer tiba di ruang tamu. Kerling yang tentunya bakalan tidur nyaman di kamarnya sendiri mulai mengatur peletakkan air bed, karpet, dan bantal-bantal yang akan tamunya gunakan. Ruang tamu disulap layaknya barak pengungsian. Sofa panjang bersiku dijejali oleh empat orang sekaligus, area sempit lantai terdekat sofa digelari karpet dan dihuni langsung oleh dua gadis remaja, sebuah airbed berukuran queen size melembung syahdu dan dialasi seprei untuk dibaringi oleh saya dan dua teman saya. Plus satu lagi airbed single dan satu sleeping bed digelar di ruang dapur menanti kedatangan dua tamu lainnya.

Malam itu, seisi kamar nggak henti-hentinya tertawa dan mengabadikan momen bersejarah tersebut. Kelihatannya sih bukan cuma grup kami yang pertama kalinya menginap dengan jumlah surfer tiada tara seperti ini. Yang lainnya juga syok mendapati kenyataan getir yang kami alami tengah malam itu.

This entry was posted in: recent post, Side Dish

by

A writer, Traveler, Culinary seeker, and for sure, a short minded guy who won't think further to decide to confirm cheap flight when the fare goes on promo :D

1 Comment

  1. Seru ih. Iri sekaligus salut sama dirimu. Eh itu siapa yang manggil dirimu Hendes?
    Btw, jadinya di Oslo malam itu seru atau ngebetein?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s