All posts filed under: Phnom Penh

Tragedi Berdarah Khmer Merah (Hi Cambodia, part 2)

Bayangkan, kamu hanyalah seorang siswa biasa, atau mungkin kamu adalah seorang guru, dokter, atau profesi apapun. Suatu hari, kamu dipaksa ikut segerombolan tentara pemerintah, bersama dengan sanak saudara, teman-teman dan orang-orang yang mungkin tidak kamu kenal. Kamu dibawa ke sebuah sekolahan dan dipasung layaknya tahanan. Kamu dipanggil satu persatu ke sebuah kamar dan dipaksa mengakui hal yang tidak kamu ketahui dan tidak kamu lakukan. Dan pada akhirnya kamu beserta rombongan lain diangkut kembali dengan mobil militer dalam keadaan mata tertutup. Begitu kamu tiba, kamu dipaksa berjalan beriringan menuju sebuah lokasi dimana akhirnya kamu meregang nyawa… Good Morning Phnom Penh, Ini adalah hari pertama saya di Phnom Penh, sekaligus akan menjadi hari terakhir karena besok saya akan melanjutkan perjalanan saya ke Siem Reap. Di hadapan saya sudah hadir seorang pria yang akan menyewakan motornya kepada saya. Saya memang berencana akan melakukan city tour sendirian dengan berkendara motor. Nggak takut nyasar? Well, been there done that all the time, kenapa harus takut, hehe. Setelah selesai berurusan dengan administrasi sewa menyewa, saya tinggalkan paspor saya dan melaju manis …

On My Way to Phnom Penh (Hi Cambodia, part 1)

Setibanya di dermaga, seusai melakukan tur Halong Bay, saya diantar oleh minibus tur kembali ke penginapan. Setibanya di penginapan, saya langsung berkemas dan cek out karena malam ini saya akan terbang ke Ho Chi Minh City (HCMC) kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja keesokan harinya. Saya memilih menggunakan moda angkutan shuttle bus airport yang tersedia di kawasan Hoan Kiem district, tepatnya di seberang kantor Vietnam Airlines (Dekat Katedral San Joseph). Setelah membeli tiket di konter, saya bersama beberapa penumpang lainnya menunggu kedatangan shuttle bus.Β  Dan tidak sampai setengah jam, shuttle bus berupa minivan datang menurunkan para penumpang yang berasal dari airport dan menaikkan kami. Untungnya pesawat saya delay hingga jam delapan malam dari jadwal yang semestinya (pukul enam), kalau tidak, bisa-bisa saya harus menikmati perjalanan dua hari dua malam dengan kereta api–kembali–ke HCMC. Sore itu, lalu lintas dari Old Quarter menuju bandara Noibai nampak super macet. Kata pak supir, kami harus menggunakan jalan alternatif karena jalan yang biasa dilewati tidak bergerak sama sekali. Well, saya sih tenang-tenang saja, karena saya masih punya waktu …