All posts filed under: Australia

Tinggal di Australia, Yay or Nay?–(Balada WHV part 4)

Perkenalkan, saya adalah seorang anak kampung yang tinggal di sebuah kota kecil yang sampai sekarang nggak terjamah oleh sebuah peradaban bernama MALL. Ya, Saya lahir dan dibesarkan di kota yang begitu bersahaja sehingga nampaknya enggan berdandan kelewat wahh dan memiliki prinsip saklek “cintai aku apa adanya”. Oleh karena itu, karena terkungkung sekian tahun dalam ruang lingkup seadanya membuat saya menciptakan mimpi-mimpi yang demikian besar. Salah satunya adalah minggat dari kota ini dan start earning my future somewhere out there, beneath the pale moonlight. Ya, saking jenuhnya belasan tahun “terpenjara” dalam rutinitas di area yang sama, rasanya saya pengen banget bisa kabur ke kota lain dan memulai hidup baru yang penuh dengan warna-warni kejutan yang bakalan nggak dinyana nggak diduga. Tuhan mengabulkan doa saya. Saya nggak cuma diijinkan untuk mencicipi pahit-getirnya berjuang di ibukota negara tercinta Jakarta. Tuhan memberikan bonus super istimewa, saya memperoleh kesempatan untuk hijrah ke sebuah negara megapolitan yang wakwaw gemerlapnya. Ya, saya pindah dan bekerja di Sydney, Australia. Meski nggak terlalu sulit beradaptasi dengan fenomena gegar budaya yang biasanya orang alami, awal mula mengadu nasib …

WHV di Australia itu Kudu… (Balada WHV di Australia part 3)

Korupsi Umur! Jangan pernah ngaku tua, karena kita sebagai ras Asia dikaruniai oleh muka yang lumayan awet muda ketimbang para bule (Kalo muke lo boros, errr… derita lo itu mah :p). Kadang bule suka bertanya pada saya, “Are you a student? Are you here with Student visa?” Yaaa, bukan salah gue dong ya, kalo saya iyain dan mereka percaya 😀 Sebagai WHV-ers berbudi pekerti luhur, umur saya yang berada di ambang batas ini suka merasa tuwir ketika melihat partner kerja saya kebanyakan berumur 20-25 (bahkan ada yang masih belasan tahun). Yaaa, saya akuin memang agak telat bagi saya untuk mengikuti program WHV. Bagi orang-orang di Australia kebanyakan, umur-umur saya harusnya udah buka usaha sendiri atau–at least–udah punya posisi ok di kerjaan, bukannya lagi nyuci piring atau sikat-sikat WC. Maka dari itu saya selalu mengaku “I’m 23 y/o” setiap kali ditanya umur karena pernah sekali saya jujur menjawab dan respon salah satu co-worker saya adalah “Seriously, you’re xx y/o and you still do the dishwashing?” —–Anyway, dua bos saya umurnya 27 tahun, bete nggak sih?—– Nilai …

Plesir Singkat ke Philip Island, Australia

Mungkin udah banyak teman-teman yang mengenal Phillip island sebagai salah satu spot sirkuit Grand Prix. Pulau terdekat dengan Melbourne ini kebetulan baru aja didaulat menjadi tuan rumah ajang balap Moto GP paling bergengsi di dunia pada bulan Maret 2016 lalu. Namun Phillip Island nggak cuma punya sirkuit balap loh. Banyak destinasi wisata yang nggak kalah ketjeh untuk disambangi. Tahun lalu, saat status saya masih seorang “turis” di Australia, saya berkesempatan mengunjungi pulau ini. Saya sengaja mereservasi paket tur satu hari, seharga 100 Dolaran berhubung keterbatasan waktu yang saya miliki, dan minimnya info kendaraan umum yang saya peroleh saat itu. Mahal sih, tapi mau gimana lagi… Akses situs wisata di Australia memang terkenal jarang terjangkau oleh kendaraan umum. Kalo kamu nggak punya kendaraan pribadi ya terpaksa membeli paket tur yang ditawarkan oleh sejumlah operator. Sebuah bus menjemput saya nggak jauh dari penginapan. Bersama dengan serombongan turis lainnya, kami siap meninggalkan daratan utama Australia, menyebrangi jembatan menuju pulau di selatan Australia ini. Trip ini akan memakan waktu kurang lebih 11 jam, terhitung dari keberangkatan kami, durasi di …

Kerja di Australia Itu… (Balada WHV di Australia part 2)

Merantau ke negara orang, terutama ke salah satu negara “muwaahall” di dunia itu tantangannya berasa dikuadrat berkali lipat! Terutama jika kamu bukan peraih beasiswa atau sedang tugas dinas yang disponsori orang lain. Nggak ada jatah bulanan yang mengalir cantik ke rekening pribadi untuk memenuhi kebutuhan harian. Kalau nggak kerja, ya nggak bisa makan atau bayar sewa tempat tinggal. Segala sesuatunya harus kamu afford sendiri. Hari-hari awal di Sydney saya lalui dengan lumayan “nyesek di hati, nyesek di kantong”. Saat itu saya baru aja menuntaskan trip Spanyol-Roma-Maroko saya, sebelum kemudian langsung bertolak ke Australia untuk program WHV. Dengan nekad, saya berangkat ke Sydney, hanya berbekal uang 200 AUD. Lo bukan lagi nekad, tapi lo udah gila cuyy!! Bayangin aja, biaya sewa kamar paling murah di pusat kota itu berkisar antara AUD 120 seminggu (sekamar sharing dengan empat sampai enam orang loh! bukan private room of your own and just your self). Iya cuyy, cuma seminggu! Which is berarti sebulan kamu harus menyiapkan uang sebesar hampir lima juta rupiah hanya untuk tempat tidur kamu tiap malam. Belum  lagi …

Siapa Suruh datang Australia? (Balada WHV part 1)

Nggak terasa yah ternyata saya sudah tinggal selama tiga bulan di Sydney. Dengan berbekal visa bekerja sambil berlibur yang berhasil saya peroleh dari pemerintah Australia, maka secara resmi kurang lebih satu tahun saya bebas melenggang keluar masuk benua kangguru dan bekerja mendulang pundi-pundi dolar kapanpun saya mau. Ok, Kenapa Australia? Kenapa bukan negara yang lainnya? Well, alasan teknisnya adalah hingga saat ini baru Australia negara satu-satunya yang mengijinkan warga negara kita tercinta nusantara untuk mengajukan permohonan aplikasi visa bekerja dan berlibur. Negara yang lain mah hanya mengijinkan kita untuk either punya visa bekerja atau visa liburan, nggak bisa combo keduanya. Tetapi alasan yang paling utama kurang lebih begini… Saya sendiri sejak lama memang kepengin banget merasakan tinggal di negara orang. Maklum, namanya juga orang kampung, terkungkung di sebuah kota kecil membuat saya membangun impian besar. Australia was never in my mind before. Saya lebih memilih untuk tinggal di Perancis dengan segala gemerlap Paris, romantisme berikut sejuta cahayanya. Saya mati-matian kursus bahasa Perancis selama tiga tahun. Saya mengejar beasiswa sebanyak dua kali–yang kemudian ditolak berturut-turut dan membuat saya …

Apply Work and Holiday Visa di Australia

Kamu masih berumur di bawah 30 tahun, segar dan kinyis-kinyis? Kamu pengen ngerasain suka duka tinggal dan bekerja di luar negeri selama satu tahun dengan legal? Kamu pengen ketjeh maksimal mosting foto ngopi-ngopi cantik di Australia kayak akoh? Yuk cus diintip info berikut ini 😀 Pemerintah Australia bekerja sama dengan Indonesia menawarkan sebuah program ketjeh bagi siapa aja yang pengen banget nyicipin hidup di rantauan. WHV alias Work and Holiday Visa, sebuah kesempatan yang diberikan buat kamu-kamu nggak sekadar untuk liburan di Australia selama setahun (kabarnya bakalan dieksten menjadi dua tahun), tetapi juga untuk bekerja secara legal! Kurang ketjeh apa coba, sambil nyelam minum koktail, sambil liburan mendulang dolar! Setiap tahunnya sekitar 1000 peluang dibuka, which means kamu-kamu dan kamu emang bisa banget berangkat ke Roo continent, dengan catatan kamu memenuhi segenap persyaratan yang telah ditetapkan. Syaratnya nggak ribet kok, sumpih dih! Syarat umum yang kudu diperhatikeun cuma: Saat apply visa, kamu belum berumur 30 tahun. Kamu punya endapan uang sejumlah AUD 5.000,- selama 3bulan atau lebih Kamu punya sertifikat IELTS dari lembaga tertunjuk dengan skor …

Good People is Anywhere (Balada Hitchhike di Tasmania, Part 6, End)

Indeed, good people is anywhere, kamu bisa bertemu dengan mereka tanpa kamu sangka dan duga. Mereka berkeliaran, mereka asing, mereka belum pernah kamu temui sebelumnya dan bisa tiba-tiba muncul in time of need. Begitulah kira-kira yang bisa saya simpulkan selama melakukan perjalanan berhitchhike ria di daratan Tasmania. Nggak cuma 10-20km, tapi lebih dari 300an Km saya tempuh kesana-kemari di pulau kedua Australia ini tanpa mengeluarkan sepeserpun untuk transportasinya. Ya, gratis men!! gretongan, hanya mengandalkan iba dan welas asih dari para pengendara mobil yang seliweran. Perjalanan super panjang yang pertama kalinya saya nekad tempuh–bukan di negeri sendiri, tapi malah di negara asing yang juga pertama kali saya injak–ini menyimpan banyak kenangan indah, meski sangat disertai oleh amal ibadah, sabar dan tawakal yang ekstra. Dan perjalanan berhitchhike terakhir kalinya membawa saya ke Port Arthur dari Neck. Nggak jauh-jauh amat sih perjalanan kali ini ketimbang perjalanan sebelumnya yang biasanya membelah hampir seperempat pulau sendiri bulak balik. Namun demikian ada hal bego yang sempat saya lakukan disini, hihi. Port Arthur adalah tujuan utama saya pagi itu. Oleh Phil, pemilik …