All posts filed under: East Lesser Sunda

Air Terjun Cunca Wulang Sebelum Pulang (Pulang ke Flores, part 8-End)

Hari ini genap 10 hari saya bersama Biru bertualang di separuh tanah Flores. Dimulai dari Labuan Bajo, bermalam sejenak di Bajawa, merasakan kehangatan keluarga masyarakat lokal di Riung, kedinginan di Moni, mampir di Ende, dan akhirnya kembali ke Labuan Bajo untuk bersilahturahmi ke pulau Komodo. Dengan demikian, sudah saatnya kami meninggalkan Flores, sesuai jadwal yang tertera di itinerari kami. Namun sebelum pulang, kami ingin menutup perjalanan kami di Flores dengan mengunjungi air terjun Cunca Wulang, salah satu spot wisata wajib mampir. Untuk mengakses ke lokasi, kami sepakat untuk menyewa sebuah mobil pick up (bak terbuka) seharga IDR 150.000,-. Saya, Biru, bang Andi, mbak Anggi, Didi, dan Steve (kenalan Didi di hotel) dijemput oleh sopir pick up sekitar setengah tujuh pagi. Maklum, kami harus berangkat pagi-pagi sekali karena selain pagi-pagi biasanya lokasi wisata pasti tidak terlalu ramai pengunjung, penerbangan kami pada pukul 1 siang mewajibkan kami untuk tiba di bandara sebelum jam 12. Biru, Bang Andi, Didi dan Steve Kami sudah berada di atas bak belakang, sedangkan mbak Anggi duduk manis di samping pak sopir yang …

Sailing Komodo, a Simple Footprints (Pulang ke Flores, part 7)

Project: Sailing Komodo 2012 Time:  September, 19th-20th Target: Rinca Island Komodo Island Pink Beach Manta Point Bidadari Island Members: Itinerary: September, 19th 01.00 PM On the way from Kanawa Island to Rinca Waiting for the lunch served Lunch Time!! 02.30 PM Arrived at Rinca Island and Photo Session in front of the welcome gate Rawrrrr!! the Komodo Here comes the lazy lizard Gorgeous view behind me Leaving Rinca 07.30 PM Dinner Time!! 08.30 Nitey nite, everybody, sleep tight ^_^ (Sleeping on the boat) September, 20th 07.30 After short breakfast, we are so ready to explore Komodo island   Pssstt!! dont make any noise! The new Sulphurea Hill board… i still love the old one that i saw last January The old board of the Sulphurea Hill Trekking along the Savanna Taking the picture with the Komodo Handicraft vendors Say bye bye to the Komodo Island 11.oo AM Hunting Manta fish at Manta Point It’s hard to get a closer pic 01.00 PM Mba Anggi and Pink Beach Pink beach and the Pink sand (and the …

Escaping to Kanawa Island (Pulang ke Flores, part 6)

Setelah 8 jam perjalanan kami tempuh dari Ende menuju Labuan Bajo dan beristirahat cukup kemarin, pagi ini stamina kami kembali terisi penuh. Hari ini agenda kami adalah menginap di pulau Kanawa. Pukul 12 siang, bersama tamu-tamu bule lainnya, kami sudah stand by di teras kantor Kanawa Resort menunggu keberangkatan dengan kapal yang mereka sediakan tanpa dipungut biaya. Tak lama, salah seorang karyawan resort memanggil kami agar mengikutinya berjalan menuju pelabuhan. Jarak dari kantor resort menuju pelabuhan hanya memakan waktu 10 menit berjalan kaki. Di dermaga, sebuah kapal kecil telah menanti kami, bersama dengan beberapa awak yang sedang sibuk memasukkan beberapa bahan pokok untuk dikirimkan ke pulau. Kapalpun berangkat begitu semua penumpang dan barang-barang masuk ke dalam kapal. Kami menikmati 45 menit perjalanan kami diombang-ambingkan oleh ombak. Pemandangan di kanan kiri mengingatkan saya akan perjalanan ke pulau Komodo bulan Januari lalu. Pada saat itu pulau-pulau berbukit yang saya lihat sekarang tidak sekuning dan segersang itu. Pulau-pulau tersebut tampak sangat subur kehijauan dikarenakan oleh musim penghujan. Kapal melambat ketika sudah mulai dekat dengan pulau Kanawa. Dari jauh …

Taman Renungan Bung Karno, Ende (Pulang ke Flores, Part 5)

Pancasila!! Satu… Ketuhanan yang Maha Esa… Dua… Kemanusiaan yang adil dan beradab… Tiga… Persatuan Indonesia… Empat… Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan… Lima… Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia… Tentunya kita hafal dengan lima sila Pancasila yang saya sebutkan di atas. Kita masih ingat pada masa sekolah dulu, ke lima dasar negara kita ini nggak pernah absen digaungkan setiap upacara bendera. Sesuai prosedur tata laksana upacara, kita diwajibkan untuk menyerukan ulang satu demi satu sila yang diucapkan oleh pembaca Pancasila. Di sekolah, tepatnya pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ataupun pelajaran Sejarah, kita juga mempelajari bagaimana sejarah terbentuknya Pancasila, bagaimana Pancasila dirumuskan oleh kesepakatan beberapa tokoh seperti Ir. Soekarno, Muhammad Yamin, dan tokoh-tokoh dari Indonesia Timur (Sam Ratulangi, Latu Harhary dll), dan bagaimana Pancasila sempat mengalami beberapa kali revisi atas isinya. Namun jarang yang tahu bagaimana embrio Pancasila itu lahir, termasuk saya pada awalnya, sebelum saya mengunjungi sebuah taman bernama Taman Renungan Bung Karno di kota Ende. Yap, setelah hampir dua jam saya duduk manis di dalam bus yang meluncur ke Ende, dan beberapa …

Kelimutu, Eksotika Danau Tiga Warna (Pulang ke Flores, part 4)

Alkisah pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Konde beserta istri dan kedua anaknya di sebuah kerajaan. Pada suatu ketika, Konde dan istrinya mengetahui bahwa ternyata kedua anaknya saling jatuh cinta. Dengan berang, raja Konde mengusir kedua anaknya karena membuat dewa-dewa murka. Konde menitahkan kedua anaknya untuk menggali dua buah lubang di luar kerajaan sebagai tempat perlindungan dari banjir bandang yang akan menyerang kerajaan mereka. Lubang pertama akan diisi oleh segala harta benda, sedangkan lubang kedua yang akan kelak dihuni oleh kedua anaknya tersebut. Raja beserta istrinya sendiri juga menggali lubang yang letaknya agak berjauhan dari dua lubang tersebut untuk mengawasi kedua anaknya. Tak lama dari itu, banjir bandang datang dan menenggelamkan kerajaan, termasuk ketiga lubang tersebut. Hingga hari ini, dipercayai oleh masyarakat setempat, bahwa ketiga lubang yang terendam air dan berubah menjadi danau tersebut menjadi tempat persemayaman arwah-arwah orang yang telah meninggal. Lubang pertama, yakni lubang tempat penguburan harta benda menjadi Tiwu Ata Polo atau danau tempat persemayaman arwah-arwah orang yang tidak memiliki budi baik selama hidupnya. Lubang kedua, yakni lubang persembunyian kedua …

“Berjemur” di Riung, Surga 17 Pulau (Pulang ke Flores, Part 3)

I really mean it when i say “Berjemur”. Mulai dari Awal perjalanan, selama tinggal, hingga perjalanan saat meninggalkan Riung, sang surya tidak kenal lelah memancar membara. Saya, Biru dan tiga teman baru kami, JJ, Andro dan Niuk sudah berada di dalam bus Gemini (IDR 20k), bus yang akan membawa kami ke Riung, kampung halaman Niuk (kisah tentang  bagaimana saya bisa mengenal Niuk bisa dibaca di Strangers + Traveling = Keluarga Baru?). Perjalanan akan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam (kabarnya bisa kurang dari itu apabila jalanannya mulus dan tidak rusak). Begitu duduk di dalam bus, saya langsung mengatur posisi duduk yang ‘pewe’ tepat di samping jendela dan tidur, berhubung saya kekenyangan setelah menandas habis dua mangkuk mie ayam di samping masjid di Bajawa sebelum berangkat (Mie nya memang enak banget dan murah. Dan konon kata yang jual, dialah satu-satunya penjual mie ayam di Bajawa). Awalnya saya masih merasakan sejuknya sepoi-sepoi angin Bajawa yang membuat saya perlahan terlelap. Namun tak lama, saya terbangun dan menyadari sekujur tubuh saya sudah banjir oleh keringat. Saya tolehkan kepala saya …

Kampung Bena dan Wogo (Pulang ke Flores, part 2)

“Bapak calon Frater?” Tanya bapak-bapak yang sempat duduk di sebelah saya dalam perjalanan menuju Ruteng dari Bajo Saya bengong, “Eh?? Bukan, Pak, hehe. Saya cuma menumpang  saja di Biara” Yup, agenda saya sesampainya di Bajawa adalah menginap di Bruderan sebuah Biara bernama ST. Yosef Bogenga. Saya mendapatkan referensi ini dari teman jejaring sosial saya yang kebetulan tahun lalu pernah menginap di kesusterannya. Tidak dipungut biaya apapun untuk menginap disini berhubung memang Biara ini tentunya bukan merupakan penginapan umum, tetapi mereka membuka tangan bagi siapa saja yang membutuhkan tumpangan menginap (tentunya pada saat berpamitan saya memberikan sekedar ungkapan terima kasih berupa sejumlah tertentu untuk mendukung pelayanan para Pater dan Frater yang tinggal disini). Dan sebelum menginap pun saya mengontak terlebih dahulu salah satu Pater untuk meminta ijin menginap. Bruderan ST Yosef Bogenga sangat tenang dan sejuk. Karena letaknya berada di dataran yang lebih tinggi daripada daerah lainnya di Bajawa, temperatur baik malam mapupun pagi tidak jauh berbeda dinginnya. Air di kamar mandi pun terasa menusuk tulang sehingga malam seketika saya sampai, saya hanya memberanikan diri untuk …