All posts filed under: Sumatra

Cultural Parade, Krakatau Festival 2013

23th Krakatau Festival which is held this year in Kalianda, South Lampung brings out the theme “The Mask of United Color”. Taking a place in South Lampung Regent office, the program iss started by the beating of Gamolan and Cetik (Lampung Traditional instrument), welcome dance, salutation fromΒ  some officials such as the Lampung governor, South Lampung Regent,Β  Tourism and Creative Economy vice minister. Tapis (Lampung traditional garment) fashion show, three colors king umbrellas parade, Tuping dance (mask welcoming dance) and cultural parade from each regency tone up the agenda of this year Krakatau Festival. These are some amateur shoots I took when watching the parade, please enjoy…

Enjoying Palembang Culinary

Local culinary is another perfect reason why people want to go back to a city. Its distinctive taste derives not only from its peculiar spices, but also from the local technique when cooking it. As we might know, Palembang is one of destination which is nationally recognized as culinary city. Not only Pempek (local fish cake) which attracts food hunters when visiting, but some unique cuisines also become famous as city’s signature dish like Mi Celor, Burgo, Laksa, Celimpungan and Model Gendum. One day, I dropped by at a roadside stall. We ordered some dishes like Mi Celor (Noddle with shrimp creamy sauce), Lenggang Panggang (Omelet filled with slices of pempek which are stirred together and grilled, served with local spicy sweet vinegar), Pempek Panggang (Fish cake which is grilled, halved, and then filled with dried and minced salty shrimp), fish fillet smeared by flour which is fried and served with spicy creamy sauce (I forget the name of this dish), and Gohyong (pork grilled, covered by beancurd skin and then fried). Palembang culinary, albeit …

West Sumatra’s Three Days Itinerary

Yepp I and some friends had so little time when visiting the province on last January. So sad, indeed, while there are a lot of sites to explore.Β  Luckily, we did really manage the time, so we can visit most of all touristic destination which becomes some province icons. Taken from http://www.oleholehminang.com/wp-content/uploads/2013/07/Peta-Propinsi-Sumatera-Barat.jpg Ok, what can we do in three days? This is the itinerary we had suddenly arranged once we touched down at Minang Kabau International Airport. We hired a car, shared the fare and discussed the possible itinerary with the driver. Therefore, considering the mapping and the time efficiency, here is the itinerary: Day One: – Breakfast at local restaurant you can find everywhere on the side road. Soto Padang can be a great option. The beef flavor mixed with local seasoning will be match combined with the special reddish and spicy sauce. Taken from http://beatmag.com/jak/wp-content/gallery/bofet-maknyus/soto-padang.jpg – Chilling at Singkarak Lake. You want to enjoy its scenery at the lakeside? Or hiring a boat and having small tour around the lake? or paddling bicycle …

Enjoying the Nature Interaction at Harau Valley

The gurgling waterfall at the foot of the hill, it flew down enthusiastically. The swinging leaves swarm on tree branches, they danced hand in hand. The wind blew away among the paddy shoot–which grain was still rare. That morning, in Harau valley, West Sumatra, accompanied by a glass of Teh Tahlua (traditional beverage made of tea mixed with half boiled egg and sugar) I yawned once in a while to hold the drowsiness. I did nothing but just sat enjoying this self isolation, away from anything. Electricity, technology and its products were paralyzed during the whole day, leaving us and the nature interaction…

Elephant Trekking di Way Kambas, Lampung

Sebagai salah seorang penduduk provinsi Lampung, saya termasuk orang yang sangat jarang menikmati indahnya panorama alam Lampung (dan patut diakui, ini sedikit memalukan, ketika banyak orang luar kota yang sebenarnya ingin mengunjungi banyak tempat pariwisata di Lampung). Begitu pula dengan Taman Nasional Way Kambas. Saya baru 3 kali seumur-umur berkunjung kesana. Pertama saat dulu sekali saya masih kecil (baru mencicipi atraksi gajah dan naik kereta yang ditarik gajah berkeliling-keliling), kemudian saat saya beranjak memasuki bangku perkuliahan dimana saya sudah mulai nekad melakukan “elephant trekking” pertama saya, dan yang terakhir saat liburan lebaran kemarin, dimana saya mulai berani melepaskan pegangan saya dari sang pawang gajah dan menikmati ayunan langkah si mamalia besar itu. Perjalanan dari kota tempat saya tinggal–Metro–menuju Way Jepara (lokasi Way Kambas) memakan waktu sekitar satu setengah jam mengendarai mobil pribadi. Saya sendiri belum pernah menggunakan kendaraan umum berhubung akses ke Way Jepara memang agak sulit menggunakan kendaraan umum (tidak setiap saat ada). Begitu sampai di depan gerbang Taman Nasional pun kita masih harus menyusuri jalan yang sedikit berbatu (waktu itu beberapa bagian jalan …

Chinese New Year @ Selat Panjang, FOAM FIGHT!!

Pernah mendengar kota Selat Panjang? Awalnya saya juga merasa asing akan nama kota ini. Kalo saja sepupu saya nggak menikah dengan orang Selat Panjang, mungkin sampai sekarang saya tidak akan pernah tahu akan keberadaan kota ini (maklum, geografi saya nggak pernah bagus untuk soal hafal menghafal nama kota) Begitu diberitahukan oleh kakak saya bahwa tahun 2011 lalu kami akan merayakan Imlek di Selat Panjang, dengan penasaran saya langsung googling segala informasi mengenai kota kelahiran suami sepupu saya tersebut. Well, first impression, it is just a small island, part of Kepulauan Riau, yang letaknya sekitar 3 jam lebih berkapal Ferry dari pelabuhan Batam. Saya tidak terlalu antusias awalnya, berhubung yang saya temukan di website, suasana kotanya tidak berbeda dengan suasana kota kecil dimana saya tinggal sekarang. Namun karena saat itu kami akan berangkat ramai-ramai, mungkin akan ada cerita tersendiri nantinya. Perjalanan dimulai dari Batam dan sempat berhenti di Tanjung Balai Karimun untuk menaik-turunkan penumpang. Saya duduk santai, bermain bersama keponakan-keponakan saya untuk menghabiskan waktu. Di dalam kapal sendiri, dapat saya lihat hampir 90 persen penumpangnya adalah …

Cap Go Meh ala ala Pulau Kemaro, Palembang

Pada jaman dahulu kala, datanglah seorang putra raja negeri Cina yang bernama Tan Bun Ann ke Sumatera Selatan untuk mencoba peruntungan dagang. Tak lama tinggal disana, ia berjumpa dengan Siti Fatimah, putri raja setempat dan jatuh hati. Tan Bun Ann pun memberanikan diri menghadap ayah Siti Fatimah, raja Sriwijaya, untuk meminang putrinya tersebut. Raja Sriwijaya menyetujui permintaan Tan Bun Ann, dengan syarat Tan Bun Ann harus membawa 9 guci berisi emas ke hadapan sang raja. Tan Bun Ann menyanggupi permintaan raja dan bergegas mengirimkan kabar kepada ayahnya di seberang lautan sana. Mendengar berita tersebut, raja Cina segera memenuhi permintaan anaknya dan mengirimkan guci-guci berisi emas tersebut. Namun tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, ayahnya menyembunyikan batangan-batangan emasnya di bawah tumpukan sawi agar terhindar dari bahaya bajak laut. Begitu kapal kiriman dari Cina sampai di pelabuhan, Tan Bun Ann bersama Siti Fatimah langsung memeriksa guci-guci yang Tan Bun Ann butuhkan untuk melamar pujaan hatinya itu. Ia terkejut dan marah besar mengetahui isi guci-guci tersebut hanyalah tumpukan sawi-sawi yang telah membusuk. Dengan kesal ia membuang semua guci itu …